menceritakan tentang perjalanan seorang wanita yang mencari cinta sejatinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Elita Septiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
romansa kampus
Nama : mawar Lahir : 14 februari 1999Kota : surabayaPekerjaan : mahasiswaTepat satu tahun dari sarjana saya mengambil magister lalu tampak seorang lelaki dan embak-embak datang untuk mengadakan kerjasama Belajar bersama
Tika : Kamu hari ini dosen yang mengajar siapa?
Mawar : Pak jefran, dy lulusan universitas semarang
Kenzo : Saya dulu mengantuk di pelajaran beliau, jangan khawatir 😊 santai orangnya
Tika : Iya paling, disuruh ujian ujungnya
Mawar : Yee emang biasa gitu lu mah tukang molor Tiba -tiba ada cowok ganteng datang namanya briyan Briyan: Bryan godain mawar, kata Bryan “ Mau jadi volunteer aceh sama Sumatera gak? ”Mereka bilang nanti aja soalnya ada kisi-kisi ujian pak jafranMawar bilang : Bryan kok lu anak bru gak Kenalan kesemua orang? Bryan : Iya sabar coy “ Gw lagi megang buku sama laptop gw, jadi anak baru itu kan hrus rajin ”
Tika: Kapan ini jam pak jafran?
Mawar : Kek sebentar lagi, kan hri ini jadwalnya sama Tika dan mawar bergandeng tangan dan berbisik jika mereka akan mengerjai anak baru menulis materi pak jafranMira mengucek mata dan bangun : Hoaammm udah mulai ya?
Chika : Belom ye, btw gw jual parfume, binder, alat tulis lucu, takut kalian gak bawa alat tulis Si susi sama si Jody datang yudah beli Chik Gak lama Bryan datang dan mengenalkan diri : “Perkenalkan nama saya Bryan asal surabaya, kamu boleh panggil ib ” Kata Bryan Mereka bilang waduh kek nama duit wkwkwkkwHujan hari itu turun dan pak jafran tidak datang, karena terhalang macet Jadinya Bryan masih perkenalan namaa, alamat, hobi dan status dy Dikampus ada beberapa matkul dan beasiswa serta kegiatan ekstrakurikuler diluar mata kuliahKebanyakan lelaki di kelas ambil mapala (mahasiswa pencinta alam) Terus yang wanita ambil jurusan theater, volly, dan beberapa mngambil kegiatan organisasi Senat Mahasiswa Ada juga lelaki yang ikut futsal Kirain dosen tadi gk jdi datang, ternyata datang lalu dia bilang “maaf ya anak-anak saya terlambat datang ” Kata pak jafran Lalu ada yg masih tidur mohon untuk dibangun kan, iya denger kokTrus mereka membuka buku, notebook nya Chika dengan suara lantang : Pak pake kuis gk? “Ya tentu dong, trus yang lain gedabak gedebuk ”Mahasiswa bilang : “ Iya gak apa -apa” kita udah baca, pling si Bryan pak krena dy mahasiswa bru Hari -hari berlanjut,lalu seperti biasa semua dihari off mengerjakan ekstra diluar mata kuliah pergi ke tempat rekreasi bersama keluarga,ada yang Biasa yang megang organisasi kakak kelas Bryan dan mawar ambil mapala beserta rombongan yang lain, tapi yang lain ancang-ancang pergi ke dinding panjat sebagai pelatihan awal naik gunung Salak atau gunung gedeBryan dan mawar pergi membeli peralatan tapi, kapur untuk panjat dinding di kampus latihan naik gunung, beserta peralatannya seperti tas gunung, tenda dan lainnya Disisi lain chika dan kenzo lebih memilih theater Theater hri ini bagus ya?
Cerita nya tentang wanita yang kesepian, iya seru sih mereka pun ikut pelatihan drama itu sampai larut malam, yang nonton dari mahasiswa studi lain tentunya Lalu kelas semester ke 2 dimulai lagi dan semua sibuk mengerjakan proposal skripsi yang akan dibuat karena untuk menggapai magister itu sebentar
Chika : Hari ini kamu bawa bekal apa? “ Biar pikiran jernih kita makan dulu ges”
Kenzo : Iya gw traktir minum le mineral 1 box gw beli Makasih ya Fren “Judul buku nya apa ya? ”Kata mawar ke chikaKenzo : Iya bagusnya apa? “ Coba kita tanya meta ” Wkwkwkkwk Cerita lain di Fakultas lain : Ternyata, kesetiaan selama 2.920 hari kalah dengan restu yang datang dalam s e m a l a m. Ida Bagus Maha Indra adalah 'Tuan' sekaligus kekasih yang kutemani m a l a m-m a l a m sepinya.
Namun, saat ibunya menelepon memintaku menyiapkan pesta pertunangannya, aku sadar, selama ini aku bukan sedang membangun masa depan, tapi sedang menjaga jodoh orang lain.*“Anya, buka pintunya…”Nada suara itu tak lagi terdengar me n g a n c a m. Bukan perintah, tapi semacam permohonan yang terlambat.“Kalau kamu nggak buka… jangan salahin aku kalau aku d o b r a k pintu ini. Kamu kenapa sih?”Hening.Lalu dari balik pintu, terdengar jawaban pendek, datar, tapi cukup dingin untuk membuat siapa pun membeku.Terserah.Indra terdiam.Bukan karena kalimat itu k a s a r.
Tapi karena kalimat itu… kosong. Tidak peduli.Dan selama delapan tahun mengenal Anya, ini pertama kalinya ia merasakan dit o l a k dengan cara yang begitu halus—tapi me m a t i k a n.Anya selalu tenang.Selalu tahu cara menjaga jarak.Tak pernah menuntut, tak pernah mem b e n t a k. Bahkan saat s a k i t hati, ia lebih memilih diam daripada menunjukkan a m a r a h.Dan Indra menyukainya karena itu—karena Anya tidak pernah menjadi beban.Ia hanya ada.
Diam, lembut, dan... mirip.Mirip dengan satu-satunya perempuan yang pernah mengisi hatinya sepenuhnya.Bukan cinta.Tapi bayangan dari cinta lama yang tak pernah ia genggam.Malam itu, Indra pulang.Tanpa kata. Tanpa denting pintu.Meninggalkan suara di balik tembok tipis yang tiba-tiba tak lagi bisa ia baca.---Pagi harinya, meja kerja Anya sudah ditempati sebuket mawar merah segar dan sebuah kotak kecil berbalut pita emas.Tanpa membuka, ia sudah tahu isinya.Gelang. Lagi.Indah. Mewah.Tapi seperti biasa, tak pernah cukup untuk menyembuhkan.Selama ini, hadiah datang sebagai ganti kata cinta yang tak pernah terucap.Sebagai pengganti p e l u k a n yang selalu sembunyi-sembunyi.
Sebagai penghibur setelah m a l a m-m a l a m yang seharusnya sakral… tapi justru membuatnya merasa makin tak berarti.Anya membuka kotak itu.Sebuah gelang emas putih berhiaskan berlian kecil.Cantik.Tapi tidak seindah harga dirinya yang pelan-pelan r u n t u h.Tanpa banyak pikir, ia melangkah ke meja Kania—sekretaris Director of Sales di ruangan Sales Department di ujung gedung ini.Aku mau kasih kamu sesuatu.Kania mengerutkan alis. “Loh, gelang ini… dari pacar kamu itu?”Anya tersenyum kecil. Bukan senyum bahagia. Tapi senyum dari hati yang sudah terlalu sering p a t a h dan belajar tak bersuara.“Iya. Tapi kami udah p u t u s.”Kania melongo. “P u t u s? Lah, sayang banget, Nya. Aku aja belum sempat lihat orangnya.”Anya hanya mengangguk pelan, lalu kembali ke mejanya.Masih seperti biasa.Hanya kali ini, kopi pagi untuk Indra tak lagi dipesan dengan hati.Tangannya nyaris meraih gagang telepon saat ponselnya bergetar.Sebuah panggilan telfon dari Mirna, asisten pribadi Bu Dayu Basmiari—ibu dari pria yang selama delapan tahun ia panggil “Tuan”.Selamat pagi, Mbok.“Selamat pagi, Anya. Maaf ya, dadakan.
Bisa bantu atur satu venue untuk pesta pengumuman pertunangan Pak Bagus Indra? Tiga hari lagi. Nggak usah mewah, ibu cuma mau yang rapi dan private. Kemarin udah mesedek di rumah calon mempelai perempuan, di Kerobokan.”Kalimat itu… m e n u s u k.Kata demi kata dari Mbok Mirna seperti b e l a t i yang meng h u j a m perlahan tapi tepat sasaran.Tiga hari lagi.Pengumuman pertunangan.Dengan calon mempelai perempuan—seolah semua orang sudah tahu dan sudah sepakat.
Seolah... dirinya memang tak pernah masuk hitungan. Dan memang siapa yang tahu keberadaannya sebagai kekasih Indra?“Akan tiang urus, Mbok,” jawabnya akhirnya.Pelan. Nyaris berbisik.Telepon ditutup.Anya memejamkan mata.Tangannya masih menggenggam ponsel, tapi hatinya sudah j a t u h ke titik paling dalam.D i n g i n. M a t i rasa.Inilah akhirnya.Delapan tahun bersama.Delapan tahun berharap.Delapan tahun percaya bahwa kesetiaan bisa mengubah takdir.Bahwa menjadi ‘yang selalu ada’ akan membuatnya dipilih.Tapi ternyata, keberadaan tidak pernah menjamin keberhargaan.Ia tak pernah cukup.
Tidak untuk ibunya.Tidak untuk pria itu.Mengapa bukan aku?Pertanyaan itu bukan lagi tangisan. Tapi pernyataan l u k a yang tak bisa ditawar.Tapi pesta itu akan ia urus dengan sempurna. Seperti biasa. Karena bahkan p a t a h hati pun tak bisa membuatnya berhenti profesional.Dan saat ia masih membungkam tangis di tenggorokannya, pintu kantor terbuka.Indra masuk.Rapi. Tenang. Seolah tak ada badai di belakangnya.Anya berdiri. Selamat pagi, Pak."Senyap.
Indra hanya mengangguk, dan hampir menutup pintu ruangannya saat tiba-tiba ia menoleh.Tatapannya t a j a m. Suaranya rendah.“Kenapa Kania pakai gelang yang aku kasih buat kamu?” mungkin dia capek butuh istirahat tidur.