Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.
Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Baru
Keesokan paginya, Azizah melangkah menuju kamar Ezra. Semalam, setelah makan malam yang terasa cukup hangat itu, Ezra langsung pamit menuju ruang kerja untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kali ini, Azizah memberanikan diri untuk datang ke kamar pria itu untuk menyiapkan keperluannya sebelum berangkat ke kantor.
Namun ketukannya tidak mendapat sahutan. Rasa khawatir seketika menjalar di dadanya. Takut jika suaminya jatuh sakit lagi seperti kemarin. Tanpa berpikir panjang, ia membuka pintu kamar yang ternyata tidak terkunci. Kamar itu kosong, dan suasana kamar mandi pun senyap tanpa suara air.
Azizah bergegas menuju ruang kerja pria itu di koridor kiri. Dan benar saja, Ezra ada di sana. Pria itu tertidur dengan posisi membungkuk. Kepalanya menelungkup di atas tumpukan berkas. Laptopnya juga masih terbuka di sampingnya, walaupun layarnya sudah padam. Bukti bahwa Ezra telah menghabiskan malamnya di meja itu.
Azizah menghela napas panjang. Ada rasa kasihan yang menyeruak melihat guratan kelelahan di wajah Ezra. Ia mendekat, lalu dengan lembut menggoyangkan lengan pria itu.
Ezra mengerang pelan, lalu membuka mata dengan menyipit karena cahaya pagi yang mulai masuk. Ia menegakkan tubuhnya dan merasakan punggungnya yang kaku.
“Jam berapa ini?” tanyanya serak, disusul dengan kuapan lebar.
Azizah segera merogoh ponsel di kantung celemeknya.
‘Setengah tujuh. Kau ke kantor hari ini?’
“Tentu saja,” balas Ezra, lalu bangkit dan melangkah gontai menuju kamarnya.
Azizah pun mengekor di belakang.
Merasa diikuti, Ezra memutar tubuhnya dengan tajam, “Kenapa kau mengikutiku?”
Azizah kembali mengetik.
‘Aku akan menyiapkan pakaian kerjamu.’
“Tidak perlu. Aku bisa sendiri.”
Namun Azizah justru menggeleng tegas. Ia langsung melangkah melewati tubuh Ezra begitu saja dan masuk ke dalam kamar.
“Ck, dasar wanita itu,” geram Ezra, namun ia tetap masuk ke dalam kamar mengikuti Azizah.
Begitu Ezra sampai di tengah kamar, Azizah sudah berdiri di sana sambil menyodorkan handuk bersih. Tanpa membiarkan Ezra menolak, Azizah segera beralih menuju lemari untuk memilihkan kemeja dan setelan jas.
Ezra terdiam sejenak, menatap handuk di tangannya dengan perasaan mengganjal, sebelum akhirnya ia memilih berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah beberapa menit menghabiskan waktu untuk mandi, pria itu pun keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya. Kamarnya berubah hening dan Azizah juga menghilang. Namun pemandangan di atas tempat tidur menghentikan langkahnya. Kemeja, celana kain, jas, dasi, hingga arloji sudah tertata dengan posisi yang sempurna.
Ia tertegun. Selama Mbak Ida bekerja di sini, wanita tua itu hanya berurusan dengan urusan rumah tangga, tanpa pernah menyentuh urusan pribadinya. Ezra menarik napas pendek dan tanpa pikir panjang langsung meraih pakaian yang telah disiapkan Azizah. Ia memakainya, lalu berdiri di depan cermin.
“Pilihan wanita itu tidak terlalu buruk,” gumamnya sambil menarik ujung kemeja untuk memastikan jatuhnya pas di tubuhnya. Ia segera mengenakan jas, mengancingkan arlojinya, dan merapikan rambut hingga tampak klimis.
Tepat saat ia meletakkan sisir, pintu terbuka dan Azizah masuk dengan tas kerjanya. Mata mereka bertemu sejenak di cermin. Azizah melangkah maju, meletakkan tas itu di tempat tidur, lalu menyodorkan ponselnya.
‘Aku memasukkan berkas-berkasmu yang ada di meja kerja. Coba kau cek, apa ada yang kurang?’
Ezra terdiam, ada rasa asing yang mengganjal di dadanya.
“Azizah, kau memang bertanggung jawab dalam urusan rumah tangga. Tapi untuk urusan ini, aku bisa mengurusnya sendiri.”
Azizah menarik sudut bibirnya, sebuah senyum tipis yang sarat akan kesabaran.
‘Kau khawatir aku kelelahan?’
“Bukan begitu!” Ezra membuang muka, merasa frustrasi, “Aku hanya tidak terbiasa. Itu saja. Mana mungkin aku mengkhawatirkanmu. Jangan berharap hal mustahil seperti itu.”
Azizah menghela napas, sorot matanya redup sekejap, namun ia kembali mengetik dengan gestur memohon.
‘Kalau begitu, izinkan aku tetap melakukannya. Aku mohon.’
Ezra menatap layar ponsel itu lama. Entah kenapa, ketegasan yang biasa ia gunakan untuk menolak Azizah seolah menguap begitu saja.
“Terserah kau saja!” ketusnya, lalu meraih dasi yang masih tergeletak di tempat tidur, lalu melingkarkannya ke leher.
Azizah segera mendekat untuk mengambil alih dasi itu.
“Minggir! Jangan menyentuhku!” Ezra menepis tangan Azizah.
Namun Azizah justru menarik ujung dasi itu dengan tegas, memaksa Ezra untuk merangsek maju agar tidak kabur.
“Kau mencekikku!” protes Ezra.
Azizah memelototi Ezra, memberi peringatan diam agar pria itu berhenti melawan.
Ezra akhirnya diam, membiarkan jemari Azizah yang terampil mulai menyimpul dasinya. Dalam jarak yang sedekat ini, Ezra tidak punya pilihan selain menatap wajah Azizah dari atas karena perbedaan tinggi mereka. Ia baru menyadari. Dari sudut pandang ini, raut wajah Azizah memiliki ketenangan yang unik. Sesuatu yang selama ini selalu ia abaikan karena kebenciannya.
Setelah dasi itu terpasang rapi, Azizah menepuk jas Ezra pelan, lalu mundur beberapa langkah.
Ezra segera berdehem, berusaha menyembunyikan detak jantungnya yang sedikit tidak beraturan. Takut jika Azizah menyadari bahwa ia baru saja memperhatikan wanita itu.
Azizah merogoh ponselnya kembali.
‘Turunlah. Sarapan sudah siap.’
Tanpa menunggu balasan, Azizah berbalik dan melenggang keluar.
Begitu pintu tertutup, Ezra merutuki dirinya sendiri.
“Dasar bodoh!” umpatnya pelan.
Ia meraih tas kerjanya dan membuka kancing tas itu untuk memeriksa berkas-berkasnya. Dan mau tidak mau, ia harus mengakui bahwa Azizah sudah menyusun semuanya dengan sangat teliti, bahkan tidak ada satu dokumen pun yang tertinggal.
Tanpa berniat untuk memuji wanita itu lebih lanjut, Ezra memilih langsung menuju meja makan. Di mana Azizah langsung sigap menyajikan sarapan begitu ia tiba.
Saat mereka mulai sarapan, Azizah mencoba berbasa-basi. Ia menyodorkan ponselnya ke arah Ezra.
‘Pukul berapa kau akan pulang hari ini?’
Ezra menelan makanannya sejenak sebelum menjawab dengan datar, “Seperti kemarin. Jangan menungguku.”
Setelah itu, percakapan mereka terhenti. Keduanya terperangkap dalam diam. Azizah bingung harus memulai topik apa lagi, sementara Ezra tampak tidak memiliki niat untuk membuka obrolan. Begitu sarapan usai, pria itu langsung beranjak pergi tanpa sepatah kata pun.
Melihat punggung Ezra yang menjauh, Azizah merasakan ada sesuatu yang belum tuntas. Ia segera bangkit dan mengejar Ezra yang sedang sibuk mengenakan sepatu di dekat pintu.
“Ada apa?” tanya Ezra dengan alis tertaut, bingung melihat istrinya terburu-buru.
Azizah tidak menjawab dengan ketikan. Ia justru meraih tangan kanan Ezra dengan lembut, lalu menunduk dalam untuk mencium punggung tangan pria itu.
Ezra membeku. Tubuhnya seolah kaku seketika. Ia tidak pernah membayangkan akan diperlakukan selembut ini, bahkan dalam imajinasinya tentang pernikahan, hal seperti ini tidak pernah terlintas di benaknya. Sensasi hangat dari sentuhan Azizah seolah merambat masuk ke dalam dadanya.
Azizah segera menegakkan tubuh dan mengetik sesuatu di layar ponselnya dengan cepat.
‘Hati-hati di jalan, Mas. Aku selalu berdoa kepada Allah, agar segala urusan dan pekerjaanmu dilancarkan.’
Ezra tertegun membaca tulisan itu.
“Mas...?” ulangnya lirih.
Azizah mengangguk pelan, lalu kembali mengetik dengan sorot mata yang tulus.
‘Kita sudah menikah. Tidak baik jika aku langsung memanggil namamu.’
Ezra meremas erat tas kerja di tangannya. Ada gelenyar aneh yang menyusup ke hatinya. Rasa yang membuatnya merasa benar-benar menjadi seorang suami, seorang kepala keluarga yang diharapkan pulang ke rumah. Namun ia segera menepis perasaan itu agar tetap tampak acuh.
“Terserah kau saja,” jawabnya singkat dan menyembunyikan kegugupan di balik nada dinginnya, lalu melangkah lebar keluar dari pintu.
Azizah tidak langsung masuk. Ia melangkah keluar ke teras dan berdiri di sana untuk mengantar kepergian pria itu. Ia terus memandang ke arah mobil Ezra hingga kendaraan itu menghilang dari pelataran rumah.