NovelToon NovelToon
Takdir Kaisar Bintang

Takdir Kaisar Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Langit Azure, kekuatan bela diri dan kedalaman Qi menentukan segalanya. Ye Chen, seorang jenius dari keluarga cabang klan Ye, dikhianati dan "Akar Roh" miliknya dicuri oleh saudara sepupunya sendiri demi ambisi klan utama. Menjadi cacat dan dibuang ke pinggiran desa, nasibnya berubah ketika sebuah meteorit hitam jatuh di dekatnya. Meteorit tersebut menyimpan warisan dari "Kaisar Kekosongan" dari era kuno, memberikannya seni kultivasi terlarang yang tidak membutuhkan Akar Roh, melainkan menyerap energi bintang. Ye Chen kini harus merangkak dari bawah, bersembunyi dari musuh-musuh kuat, dan menapaki jalan kultivasi untuk membalas dendam serta mencari kebenaran di balik hancurnya para Dewa Kuno

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Dantian yang Hancur dan Malam Tanpa Bintang

​Angin malam berhembus dingin menyapu pelataran belakang Kediaman Keluarga Ye di Kota Awan Merah. Di bawah cahaya bulan yang redup, terdengar suara napas terengah-engah dan kepalan tinju yang menghantam udara kosong.

​Bugh! Bugh! Bugh!

​Seorang pemuda berusia lima belas tahun dengan pakaian abu-abu usang terus mengayunkan tinjunya hingga buku-buku jarinya berdarah. Keringat membasahi rambut hitamnya yang sedikit panjang, menetes melewati mata tajam yang menyiratkan keteguhan sekaligus keputusasaan yang mendalam.

​Pemuda itu adalah Ye Chen.

​"Lagi... aku harus mencoba lagi," gumam Ye Chen dengan suara serak.

​Ia menghentikan gerakannya, duduk bersila di atas tanah yang dingin, dan mulai mempraktikkan Seni Pernapasan Awan Mengalir, teknik dasar pengumpulan Qi milik Keluarga Ye. Perlahan, benih-benih energi spiritual di udara—Qi Surgawi—mulai tertarik dan memasuki pori-pori kulitnya. Sensasi hangat menjalar di sekujur meridiannya.

​Namun, tepat ketika energi itu mencapai perut bagian bawahnya—tempat Dantian berada—rasa sakit yang luar biasa menusuk bagai ribuan jarum.

​Pfttt!

​Ye Chen memuntahkan seteguk darah hitam. Qi yang baru saja ia kumpulkan bocor keluar, lenyap tak berbekas ke udara seperti air yang dituangkan ke dalam keranjang bambu. Dantiannya kosong melompong, retak, dan mati.

​Tangan Ye Chen mencengkeram tanah hingga kuku-kukunya kotor oleh lumpur. Ingatan dari tiga bulan lalu kembali berkelebat di benaknya seperti kutukan. Ia ingat senyum dingin sepupunya dari klan utama, tawa sinis para tetua, dan rasa sakit yang merobek jiwa ketika Akar Roh Guntur miliknya dicabut secara paksa dari tubuhnya menggunakan formasi terlarang.

​"Akar Roh tingkat tinggi terlalu berharga untuk disia-siakan pada keluarga cabang di kota terpencil ini, Ye Chen. Berikan padaku, dan klan utama akan membiarkanmu hidup sebagai manusia fana yang damai."

​Kata-kata itu terus menggema, membakar hatinya. Dari seorang jenius nomor satu di Kota Awan Merah yang telah mencapai tahap puncak Pengumpulan Qi di usia muda, ia jatuh menjadi sampah cacat yang tak bisa lagi menampung setetes pun Qi.

​"Manusia fana yang damai?" Ye Chen tertawa sumbang, menyeka darah dari sudut bibirnya. "Di Benua Langit Azure, yang lemah hanya akan menjadi pijakan bagi yang kuat. Tanpa kekuatan, bahkan anjing liar pun bisa menggigitmu sampai mati."

​Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah gerbang pelataran.

​"Hei, Sampah! Kau masih belum tidur dan malah mengotori pelataran belakang dengan darahmu?"

​Seorang pemuda berpakaian sutra biru berjalan masuk, didampingi dua pelayan. Dia adalah Ye Mang, putra dari salah satu tetua keluarga cabang. Di masa lalu, Ye Mang selalu menunduk dan memanggilnya "Kakak Chen" dengan nada menjilat. Kini, tatapannya penuh dengan penghinaan.

​"Pelataran ini adalah tempat para pelayan memotong kayu. Jika kau ingin memuntahkan darah, lakukan di luar tembok kediaman," cibir Ye Mang sambil melipat tangan di dada. "Besok utusan dari Sekte Pedang Awan akan datang untuk menyeleksi murid. Jangan sampai keberadaanmu menyinggung pandangan mereka."

​Ye Chen berdiri perlahan, menepuk debu dari pakaiannya. Ia menatap Ye Mang dengan sorot mata sedingin es. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, hanya ketenangan yang mencekam.

​Melihat tatapan itu, Ye Mang secara refleks mundur selangkah, merasakan hawa dingin merayap di tengkuknya. Namun, menyadari bahwa ia baru saja terintimidasi oleh seorang yang cacat, wajah Ye Mang memerah karena malu dan marah.

​"Kau berani menatapku seperti itu?! Kau pikir kau masih jenius keluarga kita?!" Ye Mang mengangkat tangannya, berniat mengumpulkan Qi di telapak tangannya untuk memberi pelajaran.

​WUUUSSSHHHH!

​Tiba-tiba, sebelum Ye Mang sempat menyerang, udara malam menjadi sangat berat. Suara gemuruh yang sangat dalam dan menggetarkan jiwa terdengar dari atas langit, seolah-olah surga itu sendiri sedang terkoyak.

​Ye Chen, Ye Mang, dan kedua pelayan itu mendongak secara bersamaan.

​Di atas sana, langit malam yang tanpa bintang tiba-tiba terbelah oleh sebuah cahaya hitam yang pekat—sebuah anomali di mana cahaya tampak menelan kegelapan di sekitarnya. Itu adalah sebuah meteorit raksasa, terbakar dengan api hitam yang tidak mengeluarkan panas, melainkan hawa dingin yang membekukan tulang.

​Meteorit hitam itu melintasi Kota Awan Merah dengan kecepatan luar biasa, meninggalkan jejak kekosongan di langit, sebelum akhirnya jatuh menghantam Hutan Kematian—hutan terlarang yang terletak di punggung gunung tepat di belakang Kediaman Keluarga Ye.

​BUMMMMMM!

​Bumi bergetar hebat. Gelombang kejut menyapu kediaman, membuat Ye Mang dan pelayannya jatuh terduduk dengan wajah pucat pasi.

​Hanya Ye Chen yang tetap berdiri tegak melawan angin kencang yang menerpa wajahnya. Entah mengapa, di saat semua orang ketakutan melihat fenomena langit tersebut, darah di dalam nadinya—yang sudah mendingin sejak Dantiannya hancur—tiba-tiba mendidih. Ada sebuah panggilan aneh yang menggema di dalam kepalanya, berdenyut seirama dengan detak jantungnya, berasal dari arah jatuhnya meteorit hitam itu.

​Ye Chen menoleh ke arah punggung gunung yang kini diselimuti debu dan kegelapan pekat. Tanpa memperdulikan Ye Mang yang masih gemetar di tanah, pemuda itu melangkah pergi, menembus bayang-bayang malam menuju Hutan Kematian.

1
nanonano
kapan gelutnya nih
Arinto Ario Triharyanto
joss gandozzz 💪
Gege
mantabb...💪👍
Gege
hancurkan lawan, sita harta rampasan, pergi...💪🤣
Gege
biar nambah kosakatanya "dan tak lupa cincin ruang penyimpanan segera diamankan" lumayan buat genapin 10k kata Thor...🤣
Arinto Ario Triharyanto
mantaappp... ga usah malu-malu, yg pamer sok kuat sok keras, tenggelam kan saja, ga pake lama 😎
Arinto Ario Triharyanto
Yoi joss gandozzz💪
Arinto Ario Triharyanto
joosss Thor 💪👍
Arinto Ario Triharyanto
bagus 👍👍👍
Arinto Ario Triharyanto
lanjut ya Thor, jangan berhenti di tengah jalan 😎
Arinto Ario Triharyanto
bagus bagus, sekalian biji nya di cabut 🤭
Arinto Ario Triharyanto
cabut aje, ambil lagi
Arinto Ario Triharyanto
bantai... kagak usah basa-basi
Gege
mantap Thor... gass teroos 10k kata tiap update
Nanik S
Keren sekali Tor👍👍👍
Nanik S
Bijih Api Surgawi
Nanik S
Akhirnya naik menjadi penunggu Api
Nanik S
Lin Chen.... menarik sekali dengan kekuatan Fisiknya
Nanik S
Shiiiiiip
Nanik S
Masuk Sekte pedang awan walau sebagai murid Luar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!