Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.
Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.
Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marry Me Chicken Pasta
Hujan awal musim kini hanya menyisakan rintik tipis di balik jendela. Kegelapan perlahan turun, membungkus mansion dalam suasana dingin yang tenang.
Di ruang duduk pribadinya, Lilly duduk bersandar di sofa dengan beberapa katalog dekorasi dan makanan pernikahan terbuka di pangkuannya. Madam Elish baru saja mengirimkannya beberapa jam lalu.
Halaman demi halaman dipenuhi gambar bunga, lokasi pernikahan, hingga berbagai pilihan menu lengkap dengan tampilannya.
Sesekali jemari Lilly membalik lembar katalog itu dengan tatapan serius.
Namun jelas—
fokusnya tidak benar-benar berada di sana.
Sorot matanya beberapa kali berhenti terlalu lama pada halaman yang sama tanpa benar-benar membaca isinya.
Suara langkah kaki pelan terdengar mendekat.
“Lady Lillyane.”
Ruth muncul sambil membawa tablet kecil di tangannya.
“Sebuah email baru saja masuk dari Sekretariat Istana.”
Lilly langsung mengangkat pandangan.
Dadanya berdesir tidak nyaman begitu mendengar nama itu.
“Apa isinya?”
Ruth membaca cepat beberapa baris di layar sebelum akhirnya menjawab,
“Mereka akan melakukan penataan ulang daftar tamu undangan pernikahan kerajaan.”
Lilly tidak langsung bereaksi.
Tatapannya hanya tertahan beberapa detik pada Ruth sebelum ia perlahan berdiri dari sofa.
“Penataan ulang?” ulangnya pelan.
Ruth menganggukkan kepala.
“Benar, Lady.”
Tanpa banyak bicara lagi, Lilly segera berjalan keluar menuju koridor utama mansion.
Langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya.
Gaun rumah berwarna krem yang dikenakannya bergerak lembut mengikuti langkahnya.
Tak lama kemudian, ia berhenti di depan ruang kerja Noah.
Namun begitu pintu dibuka—
ruangan itu kosong.
Gelap.
Meja kerja Noah tampak ditinggalkan begitu saja dengan beberapa dokumen yang masih terbuka di atasnya.
Lilly mengernyit kecil.
“Tidak seperti biasanya…”
Ia kemudian menoleh pada salah satu pelayan yang kebetulan melintas di koridor.
“Di mana Yang Mulia?”
Pelayan itu segera membungkuk hormat sebelum menjawab hati-hati,
“Pangeran pergi ke istana sejak tadi siang, Lady.”
Jantung Lilly berdesir pelan mendengar jawaban itu.
Dan tanpa perlu diberitahu lebih jauh pun—
ia sudah bisa menebak alasan Noah pergi ke istana.
Malam turun perlahan di mansion.
Udara di luar terasa semakin dingin setelah hujan sore tadi, menyisakan kabut tipis dan aroma tanah basah di tengah kegelapan.
Namun suasana di dapur mansion Putra Mahkota justru terasa hangat.
Aroma bawang putih dan mentega memenuhi udara.
Lilly berdiri di depan kompor sambil mengaduk saus perlahan menggunakan sendok kayu di tangannya. Krim hangat bercampur tomat kering mendidih lembut di dalam panci.
Sesekali ia menambahkan lada hitam dan sedikit parutan keju sebelum kembali mencicipinya pelan.
Beberapa pelayan sempat menawarkan bantuan.
Namun Lilly menolaknya dengan halus.
Alasannya sederhana.
Ia hanya ingin memasak sendiri malam ini.
Tak jauh darinya, pasta yang baru direbus sedang ditiriskan perlahan. Dua potong ayam fillet yang telah di-pan-seared tampak matang sempurna dengan warna cokelat keemasan yang cantik.
Aroma creamy bercampur rempah memenuhi seluruh dapur.
Salah satu koki bahkan beberapa kali melirik saus di panci Lilly dengan penasaran.
“Lady menggunakan resep baru?”
Lilly tersenyum kecil tanpa menghentikan tangannya yang terus mengaduk saus.
“Saya menemukannya beberapa waktu lalu.”
“Baunya sangat harum.”
Lilly terkekeh pelan.
“Katanya makanan ini cukup terkenal.”
Tatapannya turun sekilas pada saus di depannya sebelum kembali melanjutkan dengan santai,
“Beberapa orang bahkan menyebutnya Marry Me Pasta.”
Salah satu pelayan hampir tersedak napasnya sendiri.
Sementara koki tua di dekat meja dapur tampak berusaha keras menjaga ekspresinya tetap tenang.
Dan beberapa detik kemudian—
suara langkah kaki terdengar mendekat dari pintu dapur.
Lilly bahkan tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang.
Noah berhenti beberapa langkah dari pintu.
Tatapannya jatuh pada Lilly yang masih berdiri di depan kompor dengan lengan gaun yang digulung rapi dan apron yang melingkar di tubuh kecilnya.
Lalu perlahan berpindah pada makanan yang baru saja ia tata di atas piring.
Aroma creamy yang hangat memenuhi udara di antara mereka.
Noah menghirupnya pelan sebelum berdecak samar.
“Ck.”
Lilly menoleh sesaat sebelum kembali fokus pada masakannya.
“Mereka membiarkanmu mengambil alih dapur sekarang?”
Nada datar Noah justru membuat Lilly tersenyum kecil.
Dari sudut matanya, ia bahkan bisa melihat beberapa pelayan langsung menundukkan kepala lebih dalam.
“Saya hanya memasak pasta.”
Noah kembali mengamati panci dan piring di depannya.
“Baunya terlalu serius untuk sekadar pasta.”
Lilly nyaris tertawa mendengarnya.
Ia kemudian mengambil sedikit pasta menggunakan garpu sebelum menyodorkannya ke arah Noah.
“Coba saja dulu.”
Noah menerima garpu itu dengan ekspresi tenang sebelum mencicipinya perlahan.
Beberapa detik berlalu.
Lalu pria itu menganggukkan kepala samar.
Keheningan kecil muncul di antara mereka.
Lilly menatap Noah dengan binar penasaran yang nyaris terlalu jelas.
Apakah enak?
Namun Noah justru memandanginya balik.
“Apa namanya?”
Lilly memalingkan wajah sedikit, seolah berusaha terlihat biasa saja.
“Marry Me Chicken Pasta.”
Noah mengernyit kecil.
Tatapannya perlahan kembali jatuh pada Lilly.
“Nama yang unik.”
Lilly terkekeh pelan.
“Tentu saja.”
Ia menurunkan pandangannya sesaat pada piring pasta di tangannya.
“Karena konon jika seseorang memasaknya untuk kekasihnya…”
Lilly berhenti sejenak sebelum melanjutkan lebih pelan,
“…maka kekasihnya akan segera melamar karena rasanya terlalu enak.”
Ia berusaha tertawa kecil setelah mengatakannya, meski terdengar sedikit dipaksakan.
Beberapa pelayan langsung menahan napas.
Menyadari Noah tidak menunjukkan perubahan ekspresi apa pun, Lilly buru-buru menambahkan dengan nada jauh lebih ringan,
“Meski itu hanya mitos.”
Noah meletakkan garpu di tangannya perlahan.
Netra gelapnya tetap tertuju pada Lilly.
“Kita bahkan hampir menikah.”
Jawaban itu keluar begitu datar.
Begitu tenang.
“Jadi apa masih perlu melamar?”
Lilly langsung kehilangan kata-kata selama beberapa detik.
Dan di tengah keheningan dapur itu—
beberapa pelayan buru-buru menundukkan kepala lebih dalam demi menahan tawa mereka.
Sementara Noah sendiri tetap terlihat setenang biasanya.
Seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sepenuhnya normal.
Dan entah kenapa—
kehangatan kecil di dapur malam itu justru terasa jauh lebih mematikan.
****