Sinopsis:
Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.
Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34: Bayang Rahasia yang Mulai Terbuka
Kemenangan di ruang rapat minggu lalu sempat membawa ketenangan bagi Nara, meski tidak sepenuhnya menghapus rasa waspada di hatinya. Ia mengira, setelah tuduhan soal kinerja dan keuangan terbukti tidak berdasar, Dinda akan mundur dan berhenti mengganggunya. Namun ia lupa: bagi orang yang sudah terlanjur memendam kebencian, kekalahan bukanlah akhir—melainkan alasan untuk mencari celah yang lebih dalam, celah yang selama ini dijaga rapat-rapat agar tidak tersentuh siapa pun.
Pagi itu, suasana di gedung Adhitama Group tampak kembali seperti biasa. Namun bagi Nara, ada sesuatu yang berbeda di udara. Tatapan rekan-rekan kerjanya bukan lagi berisi keraguan soal kejujuran kerja, melainkan penuh rasa ingin tahu yang samar, bercampur bisik-bisik yang segera terhenti saat ia lewat. Hal ini membuat hatinya berdebar—ia tahu betul perubahan suasana ini bukan terjadi begitu saja.
Di ruang istirahat, percakapan kini beralih dari data dan berkas, menuju hal yang jauh lebih pribadi. Dinda kembali berada di pusat lingkaran itu, berbicara dengan nada rendah namun sengaja terdengar oleh orang-orang yang lewat. Kali ini ia tidak membawa berkas atau angka, melainkan potongan informasi yang dirajut sedemikian rupa hingga terdengar seperti fakta yang lama disembunyikan.
"Memang soal pekerjaan semuanya terlihat rapi," ujar Dinda sambil mengaduk minumannya perlahan, seolah sedang berbagi pengamatan yang sangat hati-hati. "Tapi ada hal lain yang membuatku berpikir... bagaimana mungkin seseorang yang baru bekerja beberapa bulan saja, bisa begitu dekat dengan Pak Arkan? Bahkan izin-izin khusus dan fleksibilitas waktu yang ia dapatkan, tidak pernah diberikan pada karyawan lain meski sudah bertahun-tahun di sini."
Salah satu rekan yang mendengar itu segera bertanya dengan penasaran, "Maksudmu apa, Din? Apa ada hubungan khusus di antara mereka?"
Dinda mengangkat bahu, wajahnya dibuat tampak ragu seolah enggan melanjutkan, namun matanya berkilat puas. "Entahlah. Yang jelas, tidak ada yang tahu asal-usul keluarganya secara pasti, tidak ada yang pernah melihat kerabatnya datang ke kantor, dan yang paling mencolok: ia mengandung, tapi tidak pernah berbicara sama sekali tentang ayah dari anak itu. Padahal hal seperti itu biasanya dibicarakan dengan santai, kan? Kalau semuanya jelas dan terang, kenapa harus ditutup-tutupi begitu rapat?"
Kalimat-kalimat itu menyebar lebih cepat daripada tuduhan sebelumnya. Kali ini serangannya menyasar titik paling lemah yang selama ini dijaga: hubungan pribadi Nara dan Arkan yang memang belum diumumkan di lingkungan kerja. Dinda tidak menuduh secara langsung, namun ia menanamkan dugaan yang paling buruk: bahwa kedekatan itu bukan karena ikatan yang sah, melainkan sesuatu yang tersembunyi, sesuatu yang membuat posisi Nara di kantor ini menjadi tidak wajar.
Tak lama kemudian, kabar itu telah menjalar ke seluruh bagian gedung. Ada yang berbisik bahwa Nara mendapatkan perlakuan istimewa karena alasan tertentu, ada yang menduga kehamilannya adalah rahasia yang berusaha ditutupi agar tidak menimbulkan masalah besar, bahkan ada yang mulai beranggapan bahwa kemenangan di rapat evaluasi kemarin pun bukan karena fakta, melainkan karena perlindungan dari orang yang berkuasa.
Nara merasakan perubahan ini dengan perih. Ia bisa mempertahankan kinerjanya dengan berkas dan data, tapi bagaimana cara membela diri dari dugaan terhadap hal-hal yang bersifat pribadi? Hal yang sengaja tidak diungkapkan demi menjaga ketenangan pekerjaan dan nama baik perusahaan.
Siang itu, saat ia sedang menyusun laporan di mejanya, seorang staf administrasi datang dengan nada bicara yang dingin dan berbeda dari biasanya.
"Nara, ada beberapa hal yang perlu diperjelas terkait kehadiranmu di acara pertemuan mitra minggu depan," ujarnya sambil meletakkan jadwal di meja. "Biasanya, peserta yang ditunjuk adalah mereka yang posisi dan latar belakangnya sudah dikenal jelas oleh pihak luar. Mengingat banyaknya pertanyaan yang muncul belakangan ini, apakah ada hal yang perlu kami ketahui lebih lanjut mengenai statusmu agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dengan tamu perusahaan?"
Nara terdiam sejenak. Pertanyaan itu disampaikan dengan sopan, namun maknanya sangat tajam: keberadaannya kini mulai dianggap membawa risiko karena ketidakjelasan yang diciptakan oleh orang lain.
"Saya bekerja sesuai tugas yang diberikan, dan status saya sebagai karyawan di sini sudah sah sejak awal masuk," jawab Nara dengan tenang meski hatinya terasa sesak. "Segala hal yang berkaitan dengan pekerjaan dapat dipertanggungjawabkan. Hal pribadi saya tidak ada hubungannya dengan tugas yang saya emban."
"Semoga begitu," jawab wanita itu singkat, lalu pergi meninggalkan ruangan.
Di balik kaca ruang kerjanya, Arkan mengikuti perkembangan ini dengan perasaan yang makin gelisah. Ia tahu persis arah permainan Dinda: jika dulu ia menyerang kinerja untuk mengeluarkan Nara dari kantor, kini ia menyerang hubungan pribadi untuk merusak wibawa Nara sekaligus nama baik Arkan sendiri. Dinda sadar betul bahwa selama rahasia ini belum terungkap sepenuhnya, ruang untuk dugaan dan fitnah akan tetap terbuka lebar.
Sore harinya, Dinda sengaja datang ke ruang arsip tempat Nara sedang bekerja. Ia berdiri di ambang pintu dengan senyum yang sulit diartikan—campuran kemenangan dan ancaman halus.
"Kau pikir kemarin adalah akhir segalanya, Nara?" ucapnya pelan, cukup terdengar oleh keduanya. "Ternyata tidak. Masih ada hal yang jauh lebih besar yang bisa membuat posisimu di sini runtuh seketika. Kau dan Arkan sama-sama tahu, rahasia itu belum selesai sepenuhnya. Dan selama itu masih ada, aku punya banyak cara untuk membuatmu merasa tidak tenang."
Nara berdiri tegak, menatap lurus ke arah wanita itu. "Yang kau sebar hanyalah dugaan tanpa bukti, Dinda. Rahasia yang kami jaga bukan karena ada yang salah, tapi karena kami ingin hal pribadi tetap terpisah dari urusan kantor. Namun jika kau terus memaksakan diri mencampuradukkannya, kau sendiri yang akan terjerat oleh perkataanmu."
"Lihat saja nanti," balas Dinda sambil berbalik pergi. "Banyak orang yang mulai bertanya-tanya, dan lama-kelamaan kebenaran yang sebenarnya atau yang mereka percayai—akan sama saja bagi nasibmu di sini."
Sepulang kerja, di dalam mobil, keheningan menyelimuti mereka berdua lebih lama dari biasanya. Nara menatap keluar jendela, pikirannya penuh dengan bisikan yang didengarnya seharian ini.
"Semakin lama rahasia ini disimpan, semakin banyak ruang yang ia miliki untuk menebar kebohongan," ujar Nara pelan, memecah keheningan. "Mas, apakah sebaiknya kita menjelaskan semuanya sekarang? Agar dugaan-dugaan ini hilang dan berhenti."
Arkan menghela napas panjang, tangannya menggenggam kemudi dengan sedikit tegang. "Aku pun memikirkan hal yang sama, Nara. Tapi pengumuman di lingkungan kerja bukan hal yang bisa dilakukan tergesa-gesa. Jika kita melakukannya saat suasana sedang panas begini, orang-orang akan mengira kita hanya bereaksi karena terdesak—seolah ada hal yang ingin ditutupi. Dinda justru akan menggunakan momen itu untuk berkata bahwa ia benar sejak awal."
Ia menoleh sejenak ke arah istrinya, sorot matanya tampak serius namun lembut.
"Namun aku sadar satu hal: strategi kita harus berubah. Selama kita hanya diam membela diri, Dinda akan terus menggali hal-hal baru untuk diserang. Ia kini sudah berani menyentuh batas antara urusan pribadi dan pekerjaan. Artinya, ia sudah tidak peduli lagi dengan aturan atau batasan yang ada. Ia sedang berjalan menuju langkah yang lebih berisiko, dan kita harus bersiap menghadapinya."
Malam itu di rumah, keduanya duduk berdiskusi lebih lama dari biasanya. Nara menyampaikan semua perkataan dan dugaan yang ia dengar, sementara Arkan mencatat titik-titik yang menjadi fokus serangan Dinda. Di tengah pembicaraan itu, tangan Nara tanpa sadar mengusap perutnya yang makin membesar—seolah mencari kekuatan dari nyawa yang tumbuh di dalam sana.
"Yang paling membuatku khawatir," ujar Nara pelan, "jika hal ini terus menyebar, nanti anak ini pun akan tumbuh di tengah bayang-bayang dugaan buruk itu. Aku tidak ingin ia mendengar hal-hal yang tidak benar tentang ibunya atau ayahnya."
Arkan memegang bahu istrinya dengan lembut. "Itulah alasan utama kita tidak boleh terburu-buru, tapi juga tidak boleh menunda terlalu lama. Kita harus memilih waktu dan cara yang tepat, sehingga saat kebenaran disampaikan, ia datang sebagai fakta yang utuh dan tak terbantahkan—bukan sekadar pembelaan diri. Saat itu terjadi, semua dugaan yang ditanamkan Dinda akan runtuh sendirian."
Namun di sisi lain kota, malam itu juga Dinda sedang berbicara dengan seseorang yang tak disangka-sangka: mantan kenalan lama Arkan yang kini bekerja di bagian lain perusahaan, orang yang ia yakini mengetahui sedikit banyak latar belakang masa lalu Arkan serta alasan di balik kerahasiaan hubungan ini.
"Jika kita bisa mendapatkan bukti yang lebih nyata, sesuatu yang bisa mengaitkan keduanya secara jelas namun terlihat melanggar aturan..." ujar Dinda pelan di ujung telepon, matanya berkilat penuh rencana baru. "Maka kali ini, tidak ada rapat evaluasi atau audit internal yang bisa menyelamatkan mereka. Aku akan pastikan, rahasia itu terungkap dengan cara yang paling merusak."
Bagi Nara dan Arkan, tantangan kini berubah bentuk: bukan lagi sekadar mempertahankan nama baik di tempat kerja, melainkan menjaga agar ikatan suci mereka tidak dijadikan senjata untuk saling menjatuhkan. Dan mereka sadar, langkah selanjutnya yang diambil Dinda kemungkinan besar akan menjadi yang paling berbahaya sejauh ini.
Bersambung ke Episode 35...