Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Menjebak Sang Saksi Kunci
Malam merayap cepat, menggantikan hiruk-pikuk dunia korporat dengan gemerlap lampu neon yang penuh intrik. Di dalam ruang rias rahasia The Butterfly, Renata kembali bertransformasi. Gaun kerja abu-abu yang kaku digantikan oleh gaun malam berbahan satin warna biru dongker yang memeluk tubuhnya dengan anggun. Di atas meja rias, topeng renda hitam bermotif sayap kupu-kupu yang menjadi lambang identitas malamnya telah terpasang rapi, menyembunyikan wajah "Nona Renata" sang asisten analis keuangan.
Mami Sandra masuk ke dalam ruangan dengan wajah tegang, membawa sebuah tablet kecil. "Renata, rencana kalian sangat berbahaya. Rendra sudah tiba di bar. Dia berada di meja bar nomor 5 sudah menghabiskan tiga gelas wiski dan terlihat sangat frustrasi setelah kalah taruhan judi bola sore tadi."
Renata berdiri merapikan lipatan gaunnya. Di balik topeng hitam itu matanya berkilat dingin. "Jangan khawatir Mami, Adrian sudah menempatkan orang-orangnya di seluruh penjuru bar. Rendra tidak akan bisa lolos malam ini."
Melalui alat earpiece yang tersembunyi di balik telinga dan rambutnya yang terurai, suara berat Adrian terdengar. "Aku mengawasimu dari ruang monitor CCTV, Renata. Begitu dia mulai terdesak, aku akan masuk. Tetap tenang dan pancing dia ke ruang VIP 4."
"Dimengerti," bisik Renata lirih sebelum melangkah keluar.
Rendra, seorang pria bertubuh kurus dengan guratan kecemasan di wajahnya sedang menatap kosong gelas wiskinya yang kosong. Saku kemejanya tampak kusut, mencerminkan kekacauan finansial yang sedang melilitnya. Hutang judi sebesar lima ratus juta rupiah harus dilunasi besok pagi atau nyawanya akan menjadi taruhan.
Sebuah aroma melati yang samar dan menenangkan tiba-tiba menyapa indra penciumannya. Sebuah jemari lentik dengan kuku merah marun yang rapi meletakkan segelas wiski baru yang masih beruap dingin di atas meja bar di depannya.
Rendra mendongak matanya yang memerah melebar saat melihat sosok wanita bertopeng yang sangat legendaris di bar ini. "K-Kau... Papillon?"
Renata tersenyum manis di balik topengnya lalu duduk di kursi bar kosong di sebelah Rendra. "Kulihat Anda sedang membawa beban yang sangat berat malam ini, Tuan Rendra. Mengapa asisten pribadi dari Tuan Muda Arsen yang hebat bisa terlihat begitu frustrasi di tempat seindah ini?"
Rendra menelan ludah terkejut karena wanita malam ini mengetahui identitasnya. "D-Dari mana kau tahu namaku?"
"Di tempat ini tidak ada rahasia yang tidak bisa terbang ke telinga seekor kupu-kupu," bisik Renata dengan nada suara yang rendah dan menggoda. Ia memajukan tubuhnya sedikit. "Kudengar... Anda sedang membutuhkan suntikan dana cepat untuk menyelamatkan leher anda dari para penagih hutang jalanan? Lima ratus juta... bukankah itu angka yang sangat kecil bagi seseorang yang mengelola 'Papillon Holding' bersama Arsen Dirgantara?"
Mendengar nama perusahaan cangkang rahasia itu diucapkan oleh seorang hostess bar, wajah Rendra seketika memucat seputih kertas. Ia langsung berdiri, memundurkan kursi barnya hingga berdecit keras. "K-Kau... siapa kau sebenarnya?! Jangan lancang menyebut nama itu!"
Renata ikut berdiri ekspresi wajahnya berubah menjadi sangat tenang namun menekan. "Tuan Rendra, jika Anda membuat keributan di sini para penagih hutang di luar sana akan dengan senang hati menjemput Anda sekarang juga. Mari kita bicara di tempat yang lebih privat... di mana saya bisa menawarkan solusi untuk menghapus semua hutang Anda dalam sekejap."
Rendra menatap ke sekeliling bar yang remang-remang, menyadari beberapa pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam sedang memperhatikannya dengan tatapan mengunci. Sadar dirinya tidak memiliki pilihan lain dan terdesak oleh rasa takut akan kematian, Rendra akhirnya mengangguk pasrah. "Baik... kita bicara di dalam."