NovelToon NovelToon
Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Kultivasi
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: Girenda Dafa Putra

Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.

Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.

Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertarung Sendiri, Tapi Tidak Sendirian

...Chapter 32...

Ia melesat ke kiri, menghindari tebasan pedang energi biru, lalu memutar tubuhnya ke kanan untuk menangkis serangan tombak berujung tiga, sementara di sudut matanya, ia melihat Huan Zheng—yang sedetik tadi masih berdiri di dekat pohon kering—kini sudah duduk bersila di atas batu besar dengan tangan di pangkuan, mata terpejam, dan mulut yang sedikit menganga karena sedang menguap dengan sangat santai di tengah-tengah dua puluh musuh yang siap membunuh rekannya. 

"ZHAO WEI!" teriak Ling Xu, suaranya setengah marah setengah putus asa, sambil melepaskan tiga puluh jarum beracun sekaligus ke arah musuh yang paling mendekat, 

"BISA KAU BANTU?!" 

Huan Zheng tidak menjawab—ia hanya menguap lagi, lalu berguling sedikit ke samping untuk menghindari setitik cahaya matahari yang tiba-tiba menyorot matanya, seperti seekor kucing malas yang sedang mencari tempat tidur yang paling nyaman di tengah kebakaran hutan. 

"Kau tahu, Liu Xin," ucapnya dengan suara malas yang terdengar jelas meskipun pertempuran di sekeliling mereka memekakkan telinga.

“Aku pikir kau bisa menangani dua puluh orang ini sendirian. Mereka hanya satu tingkat di atasmu. Tidak terlalu mengerikan." 

Ling Xu hampir meludahi wajah Huan Zheng dari jarak lima puluh meter—tetapi ia tidak sempat, karena serangan berikutnya datang dari tiga arah sekaligus, memaksanya untuk berguling di tanah yang basah oleh darah dan debu, jubah biru tuanya yang dulu rapi kini robek di bahu kiri dan kanan, memperlihatkan kulit putihnya yang mulai memar karena benturan.

Namun di dalam hatinya, di sela-sela rasa kesal yang membara seperti api di bawah abu, Ling Xu tahu—ia tahu dengan pasti, dengan keyakinan yang tidak perlu dipertanyakan lagi—bahwa Huan Zheng tidak akan pernah membiarkannya mati. 

Bukan karena ikatan kontrak budak yang dulu mereka sepakati di gua yang gelap dan lembap itu, bukan karena racun yang masih bersemayam di tubuh pria pemalas itu, melainkan karena sesuatu yang lebih dalam, lebih tua, lebih sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Kepercayaan yang tumbuh dari sekian banyak maut yang mereka lewati bersama, dari sekian banyak malam di mana mereka saling membalut luka tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dari sekian banyak pertempuran di mana Huan Zheng—dengan segala kemalasannya—selalu muncul di saat yang paling kritis, tepat ketika nyawa Ling Xu benar-benar berada di ujung tanduk. 

"Dasar pemalas," gumam Ling Xu dalam hatinya sambil menangkis serangan seorang kultivator yang mencoba menusuk dadanya dari samping.

“Tapi setidaknya kau pemalas yang bisa diandalkan." 

Dan ia pun bertarung dengan lebih ganas, lebih lepas, lebih berani—karena ia tahu bahwa di belakangnya, ada seorang pria yang duduk di atas batu dengan mata setengah terpejam, yang tidak akan bergerak selama Ling Xu masih bisa berdiri, tetapi akan mengubah dunia menjadi debu dalam sekejap jika Ling Xu jatuh. 

Para musuhnya, yang awalnya tertawa melihat seorang gadis sendirian melawan dua puluh orang, mulai merasakan keanehan—karena setiap kali mereka hampir berhasil melukai Ling Xu, sesuatu terjadi.

Sebuah batu kecil melesat dari arah yang tidak jelas dan mengubah arah pedang mereka, sebuah akar pohon tiba-tiba menjulang dari tanah dan membuat mereka tersandung, sebuah angin yang tidak wajar berembus dan mengganggu keseimbangan Qi mereka. 

Semua itu dilakukan oleh Huan Zheng tanpa pernah bangkit dari duduknya, tanpa pernah membuka matanya lebih dari sekadar celah tipis, tanpa pernah menggerakkan tangan lebih dari sekadar sentuhan kecil yang tidak akan pernah disadari oleh siapa pun kecuali Ling Xu yang sudah hafal dengan gaya "bantuan" pria pemalas itu.

Dan ketika kultivator terakhir dari dua puluh orang itu akhirnya jatuh—bukan oleh tangan Ling Xu, melainkan oleh sebuah akar pohon yang tiba-tiba tumbuh dari tanah dan melilit lehernya hingga ia mati kehabisan napas dengan mata masih terbuka lebar karena tidak percaya—Ling Xu berdiri di tengah tumpukan mayat dengan napas tersengal-sengal, jubahnya robek di tujuh belas tempat, rambut putihnya yang tersembunyi di balik tudung mulai terlihat karena kain penutupnya sudah hampir terlepas, dan di matanya yang redup, ada sesuatu yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun selain pada pria pemalas yang masih duduk di atas batu dengan pose malas yang sama seperti satu jam yang lalu. 

"Dua puluh orang, Zhao Wei," ucapnya, suaranya masih terdengar kesal tetapi di sudut bibirnya, senyum kecil mulai merekah—senyum yang hanya muncul ketika ia tahu bahwa ia tidak benar-benar sendirian, "dan kau tidak membantu sama sekali." 

Huan Zheng membuka matanya, menatap Ling Xu dengan ekspresi datar yang khas, lalu menjawab dengan suara malas yang membuat Ling Xu ingin melempar batu ke kepalanya meskipun ia tahu bahwa tanpa pria ini, ia mungkin sudah mati sepuluh kali hari ini saja. 

"Aku membantu," ucapnya, sambil menguap lebar, "aku mengirim angin. Angin itu penting untuk sirkulasi Qi. Kau tidak tahu apa-apa tentang strategi pertempuran tingkat lanjut." 

Ling Xu tertawa—tertawa yang tulus, tertawa yang lepas, tertawa yang membuat beberapa tentara bayaran di kejauhan menoleh karena mereka belum pernah mendengar suara tawa seperti itu di medan perang Fengdu—lalu berjalan mendekati Huan Zheng, duduk di sampingnya di atas batu yang sama, dan menghela napas panjang seperti orang yang baru saja selesai berlari sejauh seribu li.

Di dalam hatinya, Ling Xu menyadari satu hal yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.

Bahwa kemalasan Huan Zheng bukanlah kelemahan, melainkan pilihan—pilihan untuk tidak menunjukkan kekuatan sejatinya kecuali benar-benar diperlukan, pilihan untuk tetap berada di tingkat yang sama dengannya meskipun ia bisa melesat ke ranah yang jauh lebih tinggi kapan pun ia mau. 

Sebab Ling Xu tahu, meskipun Huan Zheng belum pernah menjelaskan secara detail, bahwa di atas Pondasi Lintang—yang terdiri dari Lintang Bawah, Lintang Umum, Lintang Esa, dan Supranatural Lintang—masih ada ranah-ranah lain yang namanya tidak pernah ia dengar, yang hanya diketahui oleh para kultivator yang telah menembus batas Langit Terang, yang hanya bisa diakses oleh makhluk-makhluk seperti Huan Zheng yang sampai saat ini masih menjadi salah satu dari 3 Roda Kultivasi. 

Dan jika Huan Zheng benar-benar melepaskan kekuatan itu, jika ia berhenti berpura-pura menjadi pemalas dan mulai menunjukkan apa yang ia miliki, maka dua puluh kultivator Supranatural Lintang Tingkat ke-33 itu mungkin akan mati hanya dengan satu tatapan, satu helaan napas, satu kedipan mata—tanpa perlu angin, tanpa perlu akar pohon, tanpa perlu bantuan palsu yang membuat Ling Xu kesal tetapi juga membuatnya tersenyum setiap kali mengingatnya. 

"Zhao Wei," panggil Ling Xu tiba-tiba, matanya menatap langit Fengdu yang merah kecoklatan, di mana awan-awan bergerak lambat seperti darah yang mengalir di pembuluh nadi raksasa, "suatu hari nanti, kau harus menjelaskan apa yang ada di atas Supranatural Lintang." 

Huan Zheng yang sedang berbaring di atas batu dengan tangan dijadikan bantal, hanya berguling sedikit ke samping, lalu menjawab dengan suara yang nyaris tidak terdengar karena ia sudah setengah tertidur. 

"Suatu hari nanti, Liu Xin. Tapi tidak hari ini. Hari ini aku ingin tidur." 

Ling Xu menggelengkan kepala, tersenyum, lalu membiarkan pria pemalas itu beristirahat—karena ia tahu bahwa meskipun Huan Zheng tampak tidak melakukan apa-apa, di balik matanya yang terpejam, di balik napasnya yang teratur, di balik kemalasannya yang menggemaskan sekaligus menyebalkan, ada kewaspadaan yang tidak pernah padam, ada kesiapan yang tidak pernah tidur, ada kekuatan yang tidak pernah ia gunakan karena ia memilih untuk tidak menggunakannya, hanya untuk memastikan bahwa Ling Xu bisa berdiri di sampingnya, bukan di belakangnya, sebagai rekan, bukan sebagai beban.

Bersambung….

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!