NovelToon NovelToon
SISTEM PANGERAN AUTO PILOT

SISTEM PANGERAN AUTO PILOT

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Sistem
Popularitas:481
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

"Saat pedang musuh hampir mencabut nyawaku, sebuah suara mekanis mengambil alih kendali tubuhku dan mengubahku menjadi mesin pembunuh yang sempurna."

​​Jacob adalah pangeran kedua kerajaan Helios yang selalu berlindung di balik punggung kakaknya, George. Namun, sebuah pengkhianatan di medan perang membuat George lumpuh dan pasukan mereka terbantai. Di tengah keputusasaan, sebuah Sistem Auto Pilot aktif di dalam kesadaran Jacob. Sistem ini tidak memberikan misi atau hadiah cuma-cuma, melainkan mengambil alih kendali saraf otot Jacob untuk melakukan gerakan bertarung yang mustahil dilakukan manusia biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Dentuman Pertama dan Tamu Misterius

​Suara decit roda besi raksasa beradu keras dengan bebatuan tebing perbatasan Helios. Ratusan prajurit Nightmare menarik Meriam Api Naga menuju titik tembak yang telah ditentukan secara presisi oleh Jacob.

​"Pastikan moncong meriam ini menghadap tepat ke arah bukit batu kosong di seberang jurang itu," perintah Jacob dengan tatapan mata yang sangat tajam dan fokus.

​"Sumbu mesiu sudah terpasang sempurna dan siap untuk disulut, Baginda Raja," lapor Veldora dengan napas memburu dan senyum buas yang tak bisa disembunyikannya sama sekali.

​"Bakar sumbunya sekarang juga," ucap Jacob tanpa ragu sedikit pun.

​Api kecil menyambar tali mesiu dengan sangat cepat, membakar bahan kimia tersebut dalam hitungan detik menuju ruang bakar utama.

​"Tutup telinga kalian semua!" teriak Natali sambil melompat mundur untuk berlindung di balik batu karang besar.

​Dentuman sangat dahsyat memecah kesunyian alam liar siang itu. Tanah tempat mereka berpijak bergetar hebat saat bola baja panas melesat keluar dari moncong meriam dengan kecepatan yang membutakan mata.

​Gelombang kejut dari tembakan tersebut menyapu debu di sekitar tebing hingga membentuk badai kecil yang berputar sangat kencang.

​[Analisa Panca Indra: Suhu inti meriam mencapai ambang batas stabil. Kecepatan proyektil memecah gelombang suara. Tingkat akurasi lintasan mencapai sembilan puluh sembilan persen.]

​{Daya tolak meriam ini ternyata jauh lebih kuat dari perkiraanku. Sistem auto pilot benar-benar memberikan desain senjata pemusnah yang paling sempurna untuk menghancurkan musuh dari jarak jauh.}

​Bukit batu di seberang jurang hancur berkeping-keping dalam satu kedipan mata. Asap hitam pekat membubung tinggi menutupi langit siang itu, menyisakan lubang raksasa di tempat bukit itu sebelumnya berdiri gagah.

​"Hahaha! Bukit itu hilang tanpa sisa sama sekali, Baginda!" tawa Veldora dengan gairah tempur yang meluap-luap melihat kekuatan destruktif di depan matanya.

​"Bagaimana dengan getaran tolak baliknya, Veldora? Apakah roda kayunya mampu menahan tekanan sebesar itu?" selidik Jacob sambil memeriksa bagian bawah dudukan meriam.

​"Roda bajanya sedikit bengkok, Baginda. Kami harus mempertebal lapisan besinya lagi agar tidak hancur saat tembakan kedua nanti," jawab Veldora sambil menunjuk roda yang sedikit penyok akibat hentakan keras.

​"Perbaiki roda itu secepatnya. Aku ingin senjata ini bisa ditembakkan puluhan kali berturut-turut tanpa mengalami kerusakan struktural sedikit pun," perintah Jacob dengan nada menuntut kesempurnaan.

​"Ini adalah akhir bagi era perang pedang dan tameng tradisional," ucap Jacob sambil mengamati asap ledakan dengan kepuasan mutlak.

​"Satu tembakan ini sudah cukup untuk meruntuhkan gerbang baja istana kerajaan mana pun di seluruh benua ini," tambah Natali yang berjalan mendekat dengan wajah takjub bercampur ngeri.

​"Kekuatan penghancur ini akan menjadi mimpi buruk paling kelam bagi mereka yang berani menentang keberadaan kita," tegas Jacob sambil mengepalkan tangannya.

​"Tarik kembali meriam ini ke dalam benteng perbatasan. Rahasiakan keberadaan senjata ini sampai ada kerajaan bodoh yang berani menantang takhta mutlak Helios," perintah Jacob dengan suara menggelegar kepada seluruh prajuritnya.

​||||||||||||||

​Jacob duduk di atas takhta emasnya dengan postur tubuh yang sangat santai namun terus memancarkan wibawa seorang pembunuh berdarah dingin.

​"Bagaimana laporan dari Scolar? Apakah Gareth sudah mulai menjalankan tugasnya dengan benar?" tanya Jacob sambil memutar sebuah koin emas di sela jemarinya.

​"Gubernur baru itu bekerja dengan sangat gila, Baginda. Dia memenggal tiga bangsawan korup di hari pertamanya bekerja dan menyita seluruh harta mereka untuk kas perbaikan kota," lapor Natali dengan nada suara yang penuh kekaguman.

​"Bagus. Berarti aku tidak salah memilih anjing penjaga untuk membereskan wilayah kekacauan itu," ucap Jacob dengan senyum puas yang tipis.

​"Berapa banyak meriam yang sudah selesai diproduksi hingga hari ini, Veldora?" tanya Jacob mengalihkan pembicaraan pada fokus utamanya.

​"Sudah ada lima unit yang berdiri tegak di pabrik peleburan, Baginda. Kami hanya kekurangan bahan baku belerang untuk memproduksi mesiu padatnya dalam skala besar," jawab Veldora sambil menunduk hormat.

​"Kirim pasukan elit untuk merampas belerang dari tambang liar di wilayah netral barat. Jangan bayar sepeser pun kepada para penambang pemberontak itu," instruksi Jacob dengan nada yang sangat dingin.

​"Pasukan Nightmare akan menyapu bersih area tambang itu besok pagi, Baginda," ucap Veldora sambil meninju dada kirinya dengan bangga.

​Pintu ruang takhta tiba-tiba terbuka dengan sangat kasar. Seorang prajurit pengintai masuk dengan napas tersengal-sengal dan wajah pucat pasi akibat berlari terlalu kencang.

​"Ampun, Baginda Raja! Ada pergerakan besar yang sedang mendekati gerbang utama ibu kota kita!" teriak prajurit itu sambil bersujud ketakutan di atas lantai marmer.

​"Apakah ada sisa pasukan pemberontak Scolar yang mencoba melakukan serangan bunuh diri ke sini?" tanya Jacob sambil menyipitkan mata birunya.

​"Bukan, Tuanku! Mereka tidak membawa senjata pengepungan sama sekali. Mereka membawa panji putih perdamaian dan bendera sutra berlambang teratai perak!" jawab prajurit pengintai itu dengan suara bergetar.

​{Teratai perak? Itu adalah lambang sakral kerajaan Evlenian. Kerajaan misterius yang selalu menutup diri dari dunia luar dan menolak semua bentuk perang selama ratusan tahun lamanya.}

​||||||||||||||

​"Berapa jumlah pasukan yang mereka bawa ke sini?" selidik Natali sambil menyentuh gagang belati peraknya dengan insting waspada yang sangat tinggi.

​"Hanya sekitar lima puluh ksatria pengawal, Nona Natali. Mereka mengawal sebuah kereta kuda berlapis emas murni yang sangat mewah dan tertutup rapat," lapor prajurit itu.

​"Ksatria yang mereka bawa bahkan tidak bersenjata berat, Baginda. Mereka hanya membawa pedang upacara yang tumpul," tambah prajurit tersebut untuk melengkapi laporannya.

​"Ini sangat mencurigakan, Baginda. Evlenian tidak pernah menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan mana pun, apalagi mengunjungi wilayah yang baru saja menyelesaikan perang besar," ucap Veldora dengan kening berkerut curiga.

​"Sebuah kerajaan yang tidak tahu cara berperang tiba-tiba datang ke pusat militer paling mematikan. Mereka sangat bodoh atau memiliki keberanian yang tidak masuk akal," cibir Veldora sambil mendengus kasar.

​"Mereka terkenal sebagai kerajaan yang memiliki kekayaan alam berlimpah namun sangat pandai menyembunyikan diri," tambah Natali menanggapi komentar sang jenderal.

​"Biarkan mereka masuk ke halaman utama istana. Aku ingin tahu apa yang membuat kerajaan penyendiri itu berani menginjakkan kaki di wilayah kekuasaanku," perintah Jacob sambil menyandarkan punggungnya ke takhta.

​"Apakah saya harus menyiapkan barisan penuh pasukan Nightmare untuk menyambut kedatangan mereka, Tuanku?" tawar Natali dengan senyum tipis yang meremehkan.

​"Tentu saja. Tunjukkan pada mereka bahwa Helios bukan tempat untuk bermain-main atau bertukar salam perdamaian palsu," jawab Jacob dengan sorot mata yang menyala tajam.

​Suara terompet kerajaan menggema nyaring di luar istana, menandakan tamu asing yang tidak diundang itu telah melewati gerbang utama dengan selamat.

​"Buka pintu aula utama sekarang juga," perintah Jacob sambil memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegap.

​||||||||||||||

​Daun pintu raksasa terbuka secara perlahan dan berderit nyaring. Puluhan prajurit Nightmare berdiri mematung di sisi kanan dan kiri karpet merah, memancarkan aura membunuh yang sangat pekat untuk menekan mental siapa pun yang masuk.

​Rombongan tamu asing itu berjalan masuk dengan sangat tenang tanpa terpengaruh oleh tekanan aura mengerikan dari pasukan Jacob sama sekali.

​Zirah perak yang dikenakan oleh para ksatria Evlenian itu memantulkan cahaya obor istana dengan sangat indah menyilaukan mata.

​"Derapan langkah kaki mereka sungguh aneh, Baginda. Zirah besi seberat itu bahkan tidak mengeluarkan suara berderit sedikit pun saat mereka berjalan," bisik Natali dari belakang takhta dengan penuh kewaspadaan.

​"Tetap waspada, Natali," tegur Jacob tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok yang berjalan tepat di tengah rombongan tersebut.

​Seorang wanita muda melangkah maju memisahkan diri dari barisan ksatria Evlenian. Gaun sutra putihnya menyapu lantai marmer istana dengan sangat anggun dan percaya diri.

​Wajah wanita itu tertutup oleh cadar tipis, namun matanya memancarkan ketegasan yang sangat luar biasa untuk ukuran seorang bangsawan asing yang berani masuk ke sarang musuh.

​"Salam hormat untuk penguasa baru Helios yang menaklukkan lembah kematian, Raja Jacob," sapa wanita itu dengan nada suara yang sangat merdu namun tidak menyembunyikan kewibawaannya.

​"Sebutkan namamu dan tujuan aslimu datang ke kerajaanku tanpa undangan resmi," tuntut Jacob tanpa membalas salam penghormatan tersebut.

​"Saya adalah Putri Diana, pewaris tunggal takhta kerajaan Evlenian," jawab wanita itu sambil membuka cadar penutup wajahnya secara perlahan.

​Kecantikan Diana seketika membuat Veldora menahan napas sejenak, namun Jacob tetap menatap wajah wanita itu dengan ekspresi yang sangat dingin dan tidak terbaca.

​[Analisa Panca Indra: Detak jantung target sangat stabil. Tidak ada fluktuasi emosi takut atau cemas. Modul pendeteksi kebohongan tidak menemukan satu pun anomali pada raut wajah maupun gelombang suara target. Target berbicara dengan kejujuran mutlak.]

​{Sistem sama sekali tidak bisa mendeteksi kebohongan dari raut mukanya. Wanita ini benar-benar tidak memiliki rasa takut sedikit pun saat berdiri di hadapanku.}

​"Kerajaanmu selalu bersembunyi dari peperangan berdarah. Apa yang membuat seorang putri mahkota berani datang langsung ke sarang singa?" tanya Jacob dengan nada meremehkan.

​"Singa ini baru saja membakar seluruh wilayah Scolar hingga menjadi abu. Saya datang ke sini bukan untuk bersembunyi, melainkan untuk memberikan sebuah penawaran dan kenyataan yang belum pernah Anda ketahui," ucap Putri Diana sambil menatap langsung ke dalam mata biru Jacob.

​"Kau pikir aku butuh penawaran dari kerajaan penyendiri setelah memiliki senjata yang bisa meratakan gunung dalam satu kedipan mata?" balas Jacob menguji nyali sang putri.

​"Senjata Anda memang menakutkan bagi kami yang berada di sini, Baginda. Namun percayalah, kekuatan meriam baja itu hanyalah mainan anak-anak jika dibandingkan dengan apa yang ada di luar sana," bantah Diana dengan nada yang sangat tenang.

​"Jaga bicaramu di hadapan Raja Jacob! Kau berani merendahkan senjata penakluk dewa ciptaan kami?" geram Veldora sambil mencengkeram gagang kapaknya dengan kuat.

​"Tenanglah, Veldora. Biarkan wanita ini menyelesaikan omong kosongnya," perintah Jacob sambil mengangkat sebelah tangannya untuk menahan sang jenderal.

​"Ini bukan omong kosong, Baginda Raja. Jika diibaratkan, kerajaan Helios yang Anda banggakan ini hanyalah seekor katak di dalam tempurung," jelas Diana tanpa mengedipkan matanya sedikit pun.

​"Kau mencari mati dengan menyebut kerajaanku seperti itu," desis Jacob dengan aura membunuh yang mulai memenuhi aula istana.

​"Saya hanya menyampaikan kebenaran yang tidak pernah Anda ketahui. Benua tempat kita berpijak saat ini bernama Bessara. Benua ini sangatlah kecil, terisolasi, dan tidak ada apa-apanya di mata dunia luar," ungkap Diana membeberkan fakta yang sangat mengejutkan.

​Jacob terdiam sejenak mencerna kalimat tersebut. Catatan sejarah peradaban Helios memang tidak pernah mencatat atau menyebutkan apa pun tentang wilayah geografis di luar lautan yang mengelilingi mereka.

​"Ada daratan lain di seberang lautan sana?" tanya Jacob dengan kening yang berkerut tajam menuntut kejelasan.

​"Banyak sekali, Baginda. Terdapat wilayah para raja, kerajaan raksasa, dan kekaisaran kuno di benua luar yang memiliki kekuatan jauh lebih mengerikan daripada gabungan seluruh prajurit Nightmare dan meriam baja milik Anda," jawab Diana dengan kejujuran yang menusuk langsung ke kesombongan Jacob.

​{Benua luar? Kekaisaran yang lebih mengerikan dari seluruh pasukanku? Jika apa yang dia katakan ini benar, maka penaklukanku di daratan Bessara ini belum ada apa-apanya sama sekali.}

​"Kemudian apa hubungannya kenyataan pahit itu dengan penawaran yang kau bawa ke istanaku hari ini?" tuntut Jacob menginginkan penjelasan yang lebih konkret.

​"Kerajaan Evlenian memiliki pengetahuan berharga dan arsip kuno tentang geografi benua luar yang belum pernah Anda sentuh, Baginda. Kami juga memegang rahasia kesuburan wilayah yang bisa memakmurkan tanah Helios dan Scolar tanpa henti," tawar Diana dengan suara yang sangat meyakinkan.

​"Pengetahuan dunia luar dan kesuburan tanah tanpa batas. Apa yang Evlenian inginkan sebagai bayaran atas semua itu?" selidik Jacob tanpa menurunkan tingkat kewaspadaannya sedikit pun.

​"Perlindungan absolut dari pasukan Anda, Baginda. Kami sedang berada dalam tekanan Tiga kerajaan besar Bessara, Hamond, Luga dan Airis. Evlenian hanya ahli dalam pengetahuan alam, kami tidak memiliki prajurit penakluk untuk bertahan," jelas Diana membeberkan tujuan utamanya.

​"Sebuah penawaran aliansi yang saling menguntungkan. Namun aku tidak akan pernah mudah percaya pada janji manis yang keluar dari mulut seorang putri," ucap Jacob menatap tajam ke mata wanita itu.

​"Oleh karena itu saya datang untuk menyerahkan diri saya sendiri sebagai tawanan sukarela di istana Helios ini, Raja Jacob. Sebuah jaminan hidup demi kesepakatan yang akan mempersiapkan Anda menghadapi ancaman dan kekuasaan sesungguhnya dari benua luar," pungkas Putri Diana dengan suara mantap bergema di aula utama.

1
Dania
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!