NovelToon NovelToon
Trigger Between Us

Trigger Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Luo Aige

Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.

Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.

Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.

Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.

Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebocoran Markas

Aveline tetap berdiri tenang di depan meja logam yang sudah penyok itu. Napas tawanan di hadapannya terdengar berat dan kacau setelah tubuhnya sempat terhimpit brutal beberapa detik lalu. Darah masih menetes tipis dari sudut mulut pria itu ke dagunya sebelum jatuh ke permukaan meja besi.

Namun anehnya, wanita itu sama sekali tidak terlihat puas ataupun marah. Tatapannya justru bergerak santai ke samping, ke arah William, atau lebih tepatnya ke bungkus rokok yang berada di dekat tangannya. Tanpa meminta izin, Aveline mengambil satu batang rokok dari sana. Gerakannya tenang, seolah sedang melakukan sesuatu yang biasa. Beberapa prajurit langsung saling melirik pelan, sementara William tidak menghentikannya sedikit pun.

Klik.

Api kecil menyala dari pemantik logam. Aveline mendekatkan ujung rokok ke bibirnya lalu menghisap pelan. Asap tipis langsung keluar perlahan dari bibir pucatnya sebelum menyebar samar di ruangan interogasi yang pengap itu. Tangannya yang lain bergerak santai menyeka rambut hitamnya ke belakang telinga.

Sementara di depan sana, tawanan itu mulai mengatur napas dengan susah payah. Matanya masih penuh kebencian, tetapi kini ada sedikit kewaspadaan yang muncul saat memperhatikan wanita di depannya.

Aveline melangkah mendekat lagi. Tumit sepatunya berhenti tepat di sisi meja yang retak. Ia menatap pria itu beberapa detik tanpa bicara sebelum akhirnya menghembuskan asap rokok tipis ke samping.

“Kau tahu bagian paling lucu dari orang sepertimu?” Suaranya rendah dan tenang. “Mulut kalian selalu paling kotor saat merasa masih memegang kendali.”

Pria itu menyeringai samar meski napasnya masih berat. “Dan kau pikir sekarang aku takut?”

“Tidak.”

Aveline kembali menghisap rokoknya sebentar sebelum menurunkan tangan perlahan.

Lalu ....

Cess.

Ujung bara merah itu langsung ditekan pelan ke sisi luka lebam di dekat leher pria tersebut.

“Aghh—khh!”

Tubuh sang tawanan langsung menegang keras. Kedua tangannya refleks menarik rantai borgol sampai bunyi besi berdenting nyaring memenuhi ruangan. Rahangnya mengeras menahan suara sakit sementara aroma kulit terbakar mulai tercium samar.

Namun Aveline tidak mengangkat rokoknya. Tatapannya tetap lurus. Ekspresinya datar.

“Kalau ingin menyiksa orang,” ucapnya pelan. “Ini bukanlah apa-apa!”

Pria itu mulai bernapas lebih cepat sekarang. Keringat tipis muncul di pelipisnya meski udara bawah tanah terasa dingin.

Aveline baru menarik rokoknya beberapa saat kemudian. Bara merah kecil itu meninggalkan bekas hitam kemerahan di kulit pria tersebut.

“Aku akan bertanya sekali lagi,” katanya sambil memiringkan kepala sedikit. “Jalur perdagangan manusia itu menuju ke mana?”

Pria itu tertawa serak meski suaranya mulai goyah. “Kau pikir aku akan bicara hanya karena ini?”

“Bukan.” Aveline kembali mendekat. “Aku hanya ingin melihat seberapa lama kau masih bisa berpura-pura kuat.”

Ia mengangkat rokoknya lagi. Kali ini bukan ke leher, melainkan tepat di bawah rahang pria itu.

“ARGHH—!”

Suara kursi bergesek kasar langsung menggema saat tubuh pria itu memberontak refleks. Napasnya tampak memburu. Matanya mulai memerah bukan karena marah, tapi karena tubuhnya mulai kehilangan ritme.

Dua prajurit di belakangnya berdiri makin tegang. Bahkan Bram sempat mengernyit tipis melihat cara Aveline berbicara. Tidak ada ancaman berlebihan ataupun emosi meledak-ledak. Namun justru itu yang membuat suasana terasa semakin menekan.

Aveline menatap pria itu lurus. “Kau bukan tipe orang yang tahan sakit.”

“Persetan!”

“Kau hanya terbiasa melihat orang lain kesakitan.”

Kalimat itu membuat pria itu mendadak diam sejenak. Dan Aveline langsung menangkap perubahan kecil itu. Sudut bibirnya terangkat tipis.

“Benar, kan?”

Pria itu langsung tertawa keras untuk menutupi reaksinya. “Kau tidak tahu apa-apa.”

“Kalau begitu jelaskan.”

“Pergi ke neraka.”

Aveline kembali menghisap rokoknya pelan sebelum berbicara datar. “Orang yang benar-benar siap mati biasanya tidak banyak bicara.”

Kalimat itu membuat wajah pria itu berubah sedikit. Cukup jelas untuk dilihat oleh William di sana. Tatapannya mulai bergerak tidak tenang sekarang. Dadanya naik turun lebih berat, sementara rantai borgol terus berbunyi pelan akibat jemarinya yang menegang.

Aveline memiringkan kepala sedikit sambil memperhatikan reaksinya.

“Pelabuhan Grimhaven,” ucapnya tiba-tiba.

Mata pria itu langsung bergerak naik.

“Ada jalur keluar dari sana.” Tatapan Aveline tidak lepas sedikit pun darinya. “Untuk wanita dan anak-anak.”

Pria itu tidak menjawab. Namun rahangnya menegang. Dan itu sudah cukup.

“Ada yang menerima mereka di kota lain,” lanjut Aveline tenang.

Ruangan langsung sunyi. Salah satu prajurit refleks menoleh pelan. Sedangkan napas tawanan itu mulai terdengar kacau.

“Kau mulai takut sekarang?” tanya Aveline pelan.

“Diam ...!”

“Karena aku benar?”

Pria itu mendadak mengangkat kepala kasar. “Kalau kalian pikir bisa menyentuh jalur itu, kalian bahkan tidak tahu siapa yang menjalankan pengiriman dari Grimhaven ke V—”

Dor!

Ledakan tembakan langsung memecahkan ruangan. Kepala pria itu tersentak keras ke samping. Darah segar muncrat ke meja logam dan mengenai lantai semen di bawahnya. Tubuhnya langsung jatuh miring bersama kursi yang berderit kasar. Semua terjadi terlalu cepat.

“SIALAN!”

Bram langsung mencabut pistolnya sementara dua prajurit refleks berteriak panik. Salah satu lampu ruangan bahkan bergoyang akibat gerakan mendadak para anggota militer yang langsung bersiaga.

William berdiri cepat. Tatapannya langsung bergerak tajam ke arah ventilasi kecil di sisi atas ruangan.

Dan di sana ... sosok berjubah hitam baru saja turun dari lorong sempit bagian atas.

“KEJAR DIA!” bentak Kellan keras.

Ruangan langsung kacau. Dua prajurit berlari keluar lebih dulu sementara Bram langsung mengejar pria berjubah itu ke lorong bawah tanah. Langkah sepatu bot menggema keras memenuhi koridor semen yang sempit.

Sementara itu, sosok tersebut berlari cepat melewati tikungan lorong tanpa menoleh sedikit pun.

William ikut bergerak keluar. Sedangkan Aveline berjalan di belakangnya dengan langkah jauh lebih tenang dibanding semua orang di sana. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun. Seolah ia memang sudah memperkirakan ini akan terjadi.

Di ujung lorong, suara baku hantam mendadak terdengar keras.

Brak!

Bram berhasil menerjang tubuh yang ia yakini adalah seorang pria, sampai keduanya menghantam dinding semen. Pistol mereka terlepas ke lantai sementara Kellan langsung datang dari arah samping membantu menahan tubuh penyusup tersebut.

“Pegang tangannya! Jangan biarkan dia kabur!”

Pria berjubah itu memberontak brutal. Siku dan lututnya menghantam tanpa pola sampai salah satu prajurit sempat terjatuh keras ke lantai. Namun jumlah mereka terlalu banyak. Dalam hitungan detik, tubuhnya berhasil ditekan ke bawah.

Bram langsung menarik penutup wajahnya dengan kasar.

Dan tepat saat itu.

“Berhenti!” bentak William tajam.

Namun terlambat.

Darah hitam tiba-tiba keluar dari sudut mulut sang pria. Tubuhnya langsung menegang keras.

“Dia menggigit sesuatu!” teriak salah satu prajurit panik.

William langsung mencengkeram rahang lelaki itu dan memaksanya membuka mulut. Pecahan kecil kapsul terlihat hancur di sela giginya.

Racun.

Napas sang pria berjubah itu mulai putus-putus sekarang. Tatapannya kabur, tetapi sudut bibirnya perlahan tetap terangkat tipis seolah puas karena tugasnya selesai.

“Katakan siapa yang mengirimmu,” Suara William berubah dingin.

Pria itu terkekeh lemah. Darah hitam semakin banyak keluar dari mulutnya. Lalu tak lama kemudian, tubuhnya benar-benar berhenti bergerak.

Lorong bawah tanah langsung dipenuhi suasana tegang. Tidak ada yang bicara. Beberapa prajurit masih berdiri dengan napas berat dan wajah pucat, sementara Bram menatap mayat di bawahnya dengan rahang mengeras.

Dua orang mati dalam waktu kurang dari lima menit. Dan itu berarti satu hal, ada seseorang yang berhasil menyusup sampai ke dalam markas militer tanpa diketahui siapa pun.

Beberapa prajurit mondar-mandir membawa laporan, sementara suara langkah sepatu dan perintah singkat terus terdengar bersahutan dari berbagai arah. Tubuh pria berjubah itu masih tergeletak di lantai dengan darah hitam mengering di sudut mulutnya. Tidak jauh dari sana, beberapa anggota militer mulai memeriksa ventilasi sempit tempat penyusup tadi masuk.

William berdiri di dekat dinding lorong dengan rahang mengeras. Salah satu tangannya masih memegang pecahan kecil kapsul racun yang baru saja dikeluarkan dari mulut pria tersebut beberapa menit lalu. Namun sebelum sempat mengatakan apa pun, langkah cepat terdengar mendekat dari arah tangga atas.

Seorang prajurit datang tergesa sambil membawa laporan di tangannya, napasnya sedikit tidak stabil setelah berlari menuruni tangga.

“Tuan Kolonel!” serunya.

William langsung menoleh.

“Prajurit Leren sudah sadar, Tuan. Rumah sakit militer baru saja menghubungi markas beberapa menit lalu.”

Tatapan William langsung berubah tajam.

“Sejak kapan?”

“Baru saja, Tuan. Dokter meminta Anda segera datang karena kondisinya belum stabil.”

William tidak menjawab lagi. Ia langsung bergerak melewati prajurit itu tanpa membuang waktu sedikit pun, langkahnya cepat dan tegas menyusuri lorong sebelum menaiki tangga menuju lantai atas.

Di sisi lain lorong, Bram dan Kellan masih sibuk bersama beberapa perwira lain. Suara percakapan mereka makin keras membahas bagaimana penyusup bisa masuk sampai ruang interogasi tanpa ketahuan.

“Periksa seluruh akses bawah tanah!”

“Cari siapa yang berjaga sebelum pergantian shift!”

“Jangan ada yang keluar dari markas tanpa izin!”

Perintah demi perintah terdengar cepat memenuhi ruangan.

Namun di tengah kekacauan itu, Aveline justru kembali melangkah masuk ke ruang interogasi tadi. Tatapannya jatuh pada mayat tawanan yang masih terkulai miring bersama kursi besi yang patah sebagian di lantai, darah segar masih mengalir tipis dari sisi kepalanya menuju sela lantai semen yang dingin.

Ia berdiri diam sejenak.

Tatapannya tak berubah sedikit pun.

Lalu tanpa sepatah kata pun, Aveline berbalik dan berjalan keluar.

Langkahnya tak menuju arah William maupun pintu utama. Wanita itu justru berjalan sendiri menyusuri koridor di sisi timur bangunan. Sepanjang jalan, beberapa prajurit sempat memberi hormat singkat saat melihatnya lewat, tapi Aveline sama sekali tak memperlambat langkah.

Matanya bergerak sekilas mengamati ruangan-ruangan di sekitar.

Ruang arsip, ruang komunikasi, administrasi logistik.

Semua masih terbuka lebar karena seluruh markas dalam keadaan siaga.

Hingga akhirnya ia berhenti di depan sebuah ruangan kecil di ujung koridor. Tanpa mengetuk pintu, Aveline langsung memutar kenop dan masuk begitu saja.

Di dalam, Adrian dan Kael yang sedang memeriksa dokumen langsung menoleh kaget bersamaan.

“N-Nona Aveline?”

Keduanya refleks berdiri tegak lalu memberi salam hormat cepat.

Ruangan itu penuh tumpukan map, buku laporan, dan daftar pergantian shift yang berserakan di meja kayu panjang, jelas mereka sedang membantu pemeriksaan administrasi pasca insiden.

Aveline langsung ke inti tujuan.

“Tunjukkan daftar petugas markas.”

Kael tampak bingung.

“Maaf, Nona ... daftar yang mana?”

“Yang hadir dan tidak hadir hari ini.”

Adrian dan Kael saling melirik cepat, perasaan ragu terlihat di wajah mereka.

“Nona, daftar itu termasuk dokumen internal markas,” jawab Adrian hati-hati. “Kami tak bisa memberikannya sembarangan tanpa perintah Tuan Kolonel.”

Tatapan Aveline beralih padanya, masih datar dan tenang.

“Barusan ada penyusup masuk ke ruang interogasi bawah tanah dan membunuh tawanan tepat di depan seluruh anggota militer. Kalau kalian masih sibuk memikirkan prosedur sekarang, pantas saja orang itu bisa masuk semudah tadi.”

Ruangan langsung hening seketika.

Kael menelan ludah pelan, sementara Adrian menegang diam-diam.

Aveline tak mengalihkan pandangannya sedikit pun.

“Atau kalian ingin menunggu sampai William sendiri datang dan menanyakan kenapa ordonans markas lebih sibuk menjaga kertas dibanding membantu mencari kebocoran di dalam sini?”

Kalimat itu membuat Adrian mengembuskan napas pendek. Akhirnya ia membuka salah satu map besar di meja lalu menarik beberapa lembar kertas.

“Baik, Nona.”

Kael ikut membantu menyiapkan dokumen lain di atas meja.

Aveline menarik kursi tanpa izin lalu mulai membuka lembar demi lembar, matanya bergerak pelan membaca nama satu per satu. Prajurit jaga, petugas gudang, jadwal patroli, rotasi lorong bawah tanah.

Beberapa nama tertanda hadir, sisanya tercatat izin, cuti, atau tidak bertugas sementara. Prajurit Henric Loar cuti dua hari karena ibunya sakit di distrik selatan Valdoria. Prajurit Milo Vern izin sehari untuk urusan keluarga di Silvercrest. Petugas gudang Edrik Hale sedang rotasi luar markas ke penyimpanan suplai dekat Grimhaven.

Suasana ruangan hanya diisi suara kertas yang dibalik perlahan.

Hingga akhirnya pandangannya tertahan agak lama di bagian daftar perwira.

“Ini?”

Jemarinya mengetuk satu nama di atas kertas.

Kael mendekat melihat.

“Kapten Roland Krüger, Nona.”

“Kenapa dia tidak aktif?”

“Kapten Roland sedang cuti sementara karena cedera kaki,” jawab Adrian cepat. “Beberapa hari lalu beliau ikut pemeriksaan lapangan bersama tim inspeksi jalur suplai.”

Aveline diam sejenak.

“Kakinya cukup parah?”

“Tak sampai lumpuh atau semacamnya,” sahut Kael. “Tapi kaki kanannya cedera cukup serius, dokter menyarankan untuk tidak turun ke lapangan sementara waktu.”

Aveline mengangkat satu alis tipis, tapi tak berbicara apa-apa. Ia kembali membalik halaman dan berhenti lagi pada nama lain.

“Kalau yang ini?”

Adrian dan Kael kembali menengok.

“Oh ... Mayor Darius.”

Aveline menatap tulisan itu lekat-lekat.

“Kenapa cuti?”

“Kami sebenarnya belum sempat lapor ke Tuan Kolonel karena situasi markas kacau sejak pagi,” jawab Adrian hati-hati. “Mayor Darius ajukan cuti tiga hari untuk urusan keluarga.”

“Urusan apa?”

Kael menjawab pelan, “Katanya ingin menemui adiknya di kawasan Eldervale, Nona. Permohonannya sudah masuk beberapa hari lalu dan disetujui administrasi.”

Ruangan kembali hening cukup lama.

Aveline masih menatap daftar di tangannya tanpa mengubah ekspresi sedikit pun.

Adrian dan Kael mulai saling pandang lagi, mereka penasaran.

“Nona ....” Adrian memberanikan diri bertanya, “Sebenarnya untuk apa Anda mencari daftar ini?”

.

.

.

Bersambung

1
Norris Yuniarty
seru2 cerita y😍😍😍
Norris Yuniarty
seru cerita y😍😍😍
Saelyn: Mksh😺
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjut.......
Dede Dedeh
aku suka karakter cewek yg kuat....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!