Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.
Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."
Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Dug Dug Dug
Biru tetap turun membantu Selena dengan ditemani tim penyelamat, tanpa menghiraukan teriakan Cakra.
Sepuluh menit kemudian...
Biru membanting pintu kamar dengan tenaga yang tersisa, napasnya masih tersengal dan dadanya terasa panas seperti terbakar bara.
Tubuh mereka berdua basah kuyup, meneteskan air laut ke lantai marmer yang dingin. Biru meletakkan Selena di sofa dengan kasar, meski tangannya tetap gemetar saat melepaskan dekapannya.
"Apa yang ada di dalam pikiranmu, Selena?!" bentak Biru, suaranya parau dan bergetar karena amarah yang bercampur dengan rasa takut yang luar biasa. "Kau ingin mati? Kau ingin membuat kontrak ini berakhir dengan pemakaman?!"
Selena tersentak. Alih-alih merasa bersalah, rasa sakit di pergelangan kakinya dan tumpukan emosi sejak pagi tadi meledak. Ia melihat Biru—pria yang menyuruhnya berpakaian seperti ibu-ibu, pria yang ia lihat bersama wanita seksi di balkon—kini sedang memarahinya.
"Ya! Mungkin itu lebih baik daripada mati perlahan karena sesak napas di rumah ini!" balas Selena, suaranya melengking meski parau. ia mulai terisak, air mata bercampur air laut mengalir di pipinya. "Kenapa Mas Biru peduli? Bukannya Mas Biru lebih suka kalau aku hilang saja supaya bisa bebas mengobrol intens dengan wanita-wanita cantik itu?"
Biru terpaku, rasa nyeri di dadanya mendadak terasa berbeda. "Apa maksudmu?"
"Aku dengar semuanya di pantai! Gadis-gadis itu bilang aku gembel, aku tidak pantas untukmu! Dan benar saja, pas aku balik, Mas sedang asyik dengan wanita seksi yang 'standar'-nya selevel denganku!"
Selena memukul dada Biru dengan tangan mungilnya yang dingin, menangis tersedu-sedu. "Aku benci Mas Biru! Aku benci kontrak ini! Aku benci karena aku harus merajuk seperti orang bodoh hanya karena melihat Mas dengan wanita lain!"
Biru tertegun melihat Selena yang merajuk hebat hingga sesenggukan. Tangisan Selena bukan lagi sekadar akting dalam novelnya; itu adalah luapan kecemburuan yang murni.
Jantung Biru berdegup kencang—kali ini bukan karena rasa sakit fisik, tapi karena kenyataan bahwa wanita di depannya ternyata peduli. Ia mengabaikan peringatan Cakra yang baru saja masuk ke kamar dengan tas medis.
Biru justru menarik Selena ke dalam pelukannya, menenggelamkan wajah wanita itu di dadanya yang masih bergemuruh liar.
"Dia bukan siapa-siapa, Selena... dia hanya masa lalu yang mencoba mengusik," bisik Biru di sela napasnya yang pendek. "Aku menyuruhmu ganti baju bukan karena kau memalukan. Justru karena kau terlalu cantik... dan aku tidak sanggup melihat pria lain menatapmu seperti aku menatapmu."
Selena terhenti dari tangisnya, mendongak dengan mata sembab. Keheningan mendadak merayap di antara mereka, menyisakan suara detak jantung Biru yang terdengar sangat keras dan tidak beraturan di telinga Selena.
"Mas... detak jantungmu..." gumam Selena mulai panik saat menyadari irama jantung Biru yang seolah ingin melompat keluar.
"Tuan Biru! Lepaskan Nyonya sekarang!" Cakra menyela dengan nada mendesak, langsung memisahkan mereka. "Anda sudah melampaui batas aman. Segera berbaring!"
Di tengah kepanikan Cakra dan tangis Selena yang belum reda, Biru hanya bisa tersenyum tipis. Ia baru menyadari bahwa ramuan Wayan benar; jantungnya memang tidak sakit karena fisiknya, tapi karena ia sedang berjuang menampung perasaan yang jauh lebih besar dari nyawanya sendiri.
Biru meminta Cakra keluar dan meninggalkan mereka berdua. Cakra patuh meskipun sedikit khawatir.
Biru menatap Selena yang masih basah seperti dirinya dengan tatapan intens. Gairahnya terpancing hanya karena melihat cetakan tubuh Selena pada pakaian yang basah itu.
"Biarkan aku membantumu mengganti pakaianmu..."
Ketegangan di dalam kamar itu mendadak berubah arah. Keheningan yang menyusul setelah kepergian Cakra terasa jauh lebih menyesakkan daripada suara badai di luar. Biru berdiri hanya beberapa sentimeter di depan Selena, napasnya yang berat terasa hangat di wajah Selena yang masih basah.
Mata Biru menggelap. Ia tidak bisa lagi berbohong pada dirinya sendiri. Pakaian maxi yang tadi ia anggap aman, kini justru menjadi bumerang paling mematikan. Kain yang basah kuyup itu melekat sempurna pada lekuk tubuh Selena, mencetak siluet yang seharusnya tidak boleh ia lihat jika ia ingin tetap hidup.
"Mas... tidak perlu. Aku bisa sendiri," bisik Selena, suaranya bergetar bukan karena dingin, melainkan karena tatapan Biru yang seolah sedang menelanjangi jiwanya.
"Kau sedang terluka, Selena. Pergelangan kakimu bengkak," potong Biru dengan suara serak yang sangat rendah.
Biru berlutut di depan Selena, jemarinya yang dingin menyentuh kain basah di bahu Selena. Setiap sentuhan itu mengirimkan sengatan listrik yang langsung menghantam pusat sarafnya—dan yang paling parah—langsung menuju katup jantungnya yang sudah rapuh.
Deg. Deg. Deg.
Suara jantung Biru berdentum di dalam rongga dadanya seperti genderang perang. Rasa sakit yang tajam mulai merayap di ulu hati, namun Biru mengabaikannya. Keinginannya untuk menyentuh Selena, untuk memastikan wanita ini miliknya dan bukan sekadar tulisan dalam kontrak, jauh lebih kuat daripada rasa takutnya akan kematian.
"Mas Biru, wajahmu makin pucat," Selena mencoba mendorong bahu Biru, namun pria itu justru menarik Selena lebih dekat.
"Diamlah..." Biru bergumam, tangannya mulai bergerak membuka kancing gaun itu dengan gerakan yang sangat pelan namun pasti.
Intensitas seksual yang meluap di antara mereka membuat suhu ruangan yang ber-AC itu terasa membara.
Biru tahu, setiap kancing yang ia buka adalah satu langkah lebih dekat menuju serangan jantung yang fatal. Namun, melihat rona merah di wajah Selena dan binar cemburu yang masih tersisa di matanya, Biru merasa ini adalah cara mati yang paling indah.
"Kalau ini akan menghentikan jantungku, biarlah..." batin Biru nekat.
***
jin ouch jin sentuh itu selena...