Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
Namun, setiap baja memiliki titik retak.
Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Kecil
Suara mesin mobil sport Adrian yang menderu pelan di pelataran parkir menandakan keberangkatan Stella. Nora tetap bergeming di balik pintu kamarnya yang terkunci. Ia mendengar tawa renyah adiknya yang tertiup angin, suara pintu mobil yang tertutup, dan kemudian keheningan yang kembali menyelimuti koridor mansion. Ia tidak memiliki keinginan sedikit pun untuk sekadar mengintip dari balik tirai. Baginya, setiap inci kemewahan yang dibawa Stella pergi adalah potongan-potongan harga dirinya yang selama ini ia kira telah ia bangun bersama Adrian.
Sore pun merayap masuk dengan warna keemasan yang sendu. Nora masih duduk di kursi dekat jendela, mematung seperti patung marmer. Ketukan lembut di pintu memecah lamunannya. Ia tahu itu bukan Adrian; ketukan Adrian biasanya tegas dan menuntut. Ketukan ini ragu-ragu dan penuh kelembutan.
Nora berdiri, membuka kunci pintu, dan menemukan Martha berdiri di sana. Wanita tua itu tidak datang dengan tangan kosong. Ia membawa sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas kado sederhana berwarna krem, jauh dari kesan glamor seperti kotak-kotak oranye yang memenuhi ruang tamu tadi siang serta sebuah berkas hasil pemeriksaan pagi tadi.
"Nona... boleh saya masuk?" tanya Martha pelan.
Nora mengangguk, membiarkan Martha duduk di tepi ranjang. Suasana kamar itu terasa sangat tenang, kontras dengan gejolak emosi yang tersimpan rapat di dada Nora.
"Saya tahu hari ini sangat berat untuk Anda," ujar Martha, suaranya parau. "Melihat Tuan Adrian memperlakukan Nona Stella seperti itu... saya tahu itu menyakitkan."
Martha menyerahkan kotak kecil itu ke tangan Nora. "Ini bukan tas mewah atau perhiasan mahal. Ini adalah sesuatu yang saya beli diam-diam saat saya pergi ke kota tadi siang. Saya harap Nona menyukainya."
Nora membuka bungkusan itu dengan jemari yang masih terasa dingin. Di dalamnya terdapat dua pasang sepatu bayi berbahan rajutan wol yang sangat lembut—satu berwarna putih gading dan satu lagi berwarna biru pucat. Di bawahnya, terdapat dua pasang sarung tangan mungil yang senada.
Nora menggenggam benda-benda mungil itu. Kelembutan benangnya terasa nyata di kulitnya. Ia membawa sepatu kecil itu ke dekat wajahnya, menghirup aroma khas kain baru yang bersih. Untuk sesaat, rasa sesak di dadanya sedikit mengendur, digantikan oleh kehangatan yang menjalar dari telapak tangannya.
"Terima kasih, Martha," bisik Nora, suaranya bergetar. "Terima kasih untuk segalanya. Untuk perhatianmu, untuk kasih sayangmu... dan untuk menjadi satu-satunya orang di rumah ini yang melihatku bukan sebagai tameng."
Nora menatap Martha dengan mata yang berkaca-kaca. "Sekarang aku sadar, hanya kau yang menyayangiku dengan tulus tanpa mengharapkan apa pun dariku. Kau mencintaiku sebagai Nora, bukan sebagai putri Leone atau sekadar penghuni rumah ini."
Martha mengusap bahu Nora dengan sayang. "Nona adalah wanita yang luar biasa. Anak-anak ini... mereka sangat beruntung memiliki ibu seperti Anda."
Keheningan kembali menyergap saat sebuah bunyi ping yang tajam terdengar dari ponsel Nora yang tergeletak di atas nakas. Notifikasi dari akun Instagram muncul di layar. Nama "Stella Leone" terpampang di sana.
Dengan gerakan mekanis yang sulit ia cegah, Nora membuka aplikasi tersebut. Sebuah unggahan baru muncul di urutan teratas. Itu adalah rangkaian foto (carousel) dari pesta ulang tahun Stella yang berlangsung dua hari lalu—hari di mana Nora tergeletak tak berdaya di tempat tidur dengan demam tinggi.
Foto pertama memperlihatkan Stella yang tertawa lebar, duduk di sebuah meja panjang penuh dekorasi bunga mawar hitam dan merah. Di sampingnya, Adrian berdiri tegak, tangannya melingkar posesif di bahu Stella. Adrian tidak menatap kamera; ia menatap Stella dengan binar yang selama ini Nora kira hanya miliki dirinya.
Foto berikutnya menampilkan detail hadiah-hadiah dari Adrian. Tas-tas branded yang dijajakan, perhiasan emas yang berkilau di bawah lampu kristal, dan sebuah kue ulang tahun mewah dengan tulisan 'For My Dearest Stella'.
Namun yang paling menghancurkan hati Nora adalah foto terakhir. Sebuah foto candid di mana Stella sedang mengecup pipi Adrian, sementara Adrian tersenyum tipis—senyum tulus yang sangat jarang ia tunjukkan. Keterangan foto (caption) di bawahnya tertulis dengan nada yang sangat mematikan:
"The best birthday ever with the man who always puts me first. Thank you for making me feel like a queen, even when the world tries to overshadow me. My protector, my Adrian. ❤️ #LeoneThorne #RealLove"
Martha, yang berada di dekat Nora, sempat melirik layar ponsel itu sebelum Nora sempat mematikannya. Ia melihat raut wajah Nora yang mendadak berubah menjadi sangat pucat, lebih pucat daripada saat ia demam kemarin.
"Nona..." Martha mencoba menghibur, suaranya penuh keprihatinan. "Tuan Adrian... mungkin beliau hanya ingin menyenangkan Nona Stella sebagai bentuk tanggung jawab pada keluarga Leone. Nona tahu sendiri betapa manipulatifnya Tuan Antonio. Saya yakin Tuan Adrian tidak bermaksud apa-apa dengan pose-pose itu. Itu hanya formalitas pesta."
Nora hanya tersenyum tipis. Sebuah senyum yang tidak mencapai matanya, namun penuh dengan kepahitan yang sudah mencapai puncaknya. Ia tidak membantah ucapan Martha. Ia tidak ingin berdebat atau mencari pembenaran.
"Selalu mendahulukanku," kutip Nora di dalam benaknya. Kalimat Stella di Instagram itu seolah menjadi palu hakim yang menjatuhkan vonis terakhir bagi harapan Nora.
Hatinya terasa nyeri, seolah-olah ada ribuan jarum yang menusuk jantungnya secara bersamaan. Ia teringat kembali pada malam-malam yang mereka lalui di kamar ini. Saat Adrian menutup matanya dengan kain sutra hitam, saat Adrian mencumbunya dengan liar... sekarang ia tahu pasti bahwa saat itu, di dalam kepala Adrian, wajah yang ia bayangkan adalah wajah yang ada di foto Instagram tersebut.
Nora mematikan layar ponselnya dan meletakkannya dengan posisi menghadap ke bawah. Ia kembali menatap dua pasang sepatu bayi pemberian Martha yang masih ada di pangkuannya.
"Tidak apa-apa, Martha," ujar Nora pelan. "Aku sudah paham sekarang. Aku benar-benar sudah paham."
"Nona, jangan biarkan ini mempengaruhi kesehatan Anda," Martha memperingatkan. "Ingat ada dua nyawa di dalam sana. Mereka membutuhkan Anda."
"Aku tahu," jawab Nora, suaranya kini terdengar lebih kuat, meski ada nada kedinginan yang membeku di dalamnya. "Justru karena mereka, aku tidak akan membiarkan diriku hancur lagi. Adrian boleh memberikan seluruh perhiasan di dunia ini pada Stella, tapi dia tidak akan pernah memiliki apa yang aku miliki sekarang."
Nora menggenggam sepatu bayi itu erat-erat. Ia tidak menceritakan pada Martha betapa hancurnya ia saat melihat tulisan 'Real Love' di postingan adiknya sendiri. Ia memilih untuk menyimpan sendu itu di dalam kotak kayu rahasianya, bersama dengan testpack dan kain sutra hitam.
Bagi dunia, Stella adalah ratu yang dipuja Adrian. Bagi Adrian, Nora adalah tameng yang berguna. Namun bagi dua detak jantung kecil di rahimnya, Nora adalah segalanya. Dan mulai detik ini, Nora memutuskan bahwa itu sudah lebih dari cukup. Ia tidak membutuhkan cinta dari seorang pria yang menjadikannya pengganti, karena ia memiliki cinta yang jauh lebih murni untuk diperjuangkan.
"Kau boleh keluar, Martha. Aku ingin beristirahat," kata Nora lembut.
Setelah Martha keluar, Nora bangkit dan berjalan menuju lemari. Ia mengambil kotak kayu yang berisi hasil testpack. Ia memasukkan sepatu, sarung tangan bayi dan hasil USG kehamilannya ke dalamnya. Ia menatap kamar mewah itu untuk terakhir kalinya dengan pandangan asing. Kamar ini bukan lagi rumahnya; ini hanyalah sebuah sel yang sangat indah.
Di luar, malam mulai turun, dan mawar-mawar yang ia tanam bergoyang tertiup angin dingin, seolah-olah sedang ikut meratapi sebuah hati yang baru saja mati rasa demi kehidupan yang baru.