NovelToon NovelToon
Young Master & Secret Wife

Young Master & Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.

Celestine setuju.

Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.

Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 25 : Perjamuan diatas tebing maut

Langit di atas Valley berubah menjadi warna ungu keemasan saat pesta pertunangan dimulai. Lapangan terbuka di depan istana telah diubah menjadi taman megah yang dipenuhi lampion alkimia yang melayang di udara. Ribuan tamu dari berbagai penjuru benua hadir, mengenakan pakaian terbaik mereka. Namun, di balik kemegahan itu, George bisa merasakan ketegangan yang merayap di setiap sudut bayangan.

George berdiri di depan cermin besar di ruang ganti, mengenakan seragam kebesaran berwarna biru tua dengan aksen perak. Di pinggangnya, dua pedang bersilang; satu pedang hitam murni dan satu pedang baja hitam cadangan yang disiapkan Julian.

"Kau terlihat sangat kaku untuk seseorang yang akan bertunangan, Kak." Julian masuk sambil membetulkan letak kerah bajunya.

"Aku hanya merasa zirah ini terlalu berat untuk sebuah pesta dansa, Julian." jawab George sambil menyesuaikan sarung pedangnya.

"Itu bukan zirah biasa, Kak. Eldric menyisipkan benang konduktor di dalamnya untuk membantu meredam listrikmu jika sewaktu-waktu bocor." Julian mendekat dan berbisik. "Unit pengintai sudah melapor. Ada sekitar lima puluh tanda energi asing yang bersembunyi di balik perbukitan Timur. Mereka benar-benar datang."

'Lima puluh orang. Orde benar-benar serius kali ini,' batin George sambil menatap bayangannya sendiri. "Pastikan Celestine tidak pernah jauh dari jangkauan pandanganku, Julian."

"Tenang saja, Kak. Theodore sudah menempatkan sepuluh penyihir fajar terbaik untuk mengawal Putri secara diam-diam." jawab Julian.

Pintu terbuka, dan Theodore masuk dengan senyum lebar yang terlihat sedikit dipaksakan. "Ayo, Jenderal! Rakyat sudah tidak sabar melihat pahlawan mereka. Ingat, tetaplah tersenyum meskipun kau ingin menebas leher seseorang."

"Aku akan mencoba, Theodore." sahut George singkat.

Saat George melangkah keluar ke balkon utama, sorak-sorai rakyat membahana. Di ujung tangga, Celestine sudah menunggunya. Ia tampak luar biasa cantik dengan gaun emas yang seolah-olah ditenun dari cahaya matahari langsung. George turun perlahan, menyambut tangan Celestine dan mencium punggung tangannya.

"Kau terlihat sangat gelisah, George. Tangannya terasa sangat dingin, bahkan untuk ukuran pengguna es." bisik Celestine saat mereka mulai berjalan menuju tengah lapangan untuk dansa pembuka.

"Mereka sudah di sini, Celestine. Aku bisa merasakan statis di udara mulai meningkat." jawab George dengan suara yang hanya bisa didengar oleh kekasihnya itu.

"Jangan biarkan mereka merusak momen ini. Gunakan aku sebagai penyeimbangmu, seperti yang selalu kita lakukan." kata Celestine sambil tersenyum manis ke arah para tamu, meskipun matanya tetap waspada.

Musik mulai mengalun, sebuah melodi lembut yang dimainkan oleh orkestra alkimia. George dan Celestine mulai berdansa di tengah lingkaran para bangsawan. Gerakan George sangat anggun, setiap langkahnya presisi dan cepat, ciri khas seorang Master Pedang tingkat dua belas yang bahkan dalam dansa pun tidak bisa menyembunyikan bakat alaminya.

"Gerakanmu terlalu cepat untuk dansa ini, George. Kau membuatku sedikit kewalahan." protes Celestine dengan nada bercanda.

"Maaf, refleksku sedikit terlalu sensitif malam ini." jawab George.

Tiba-tiba, lampu lampion di udara berkedip serentak. Suhu udara turun drastis dalam hitungan detik. George segera menarik Celestine ke belakang punggungnya. 'Ini dia,' batin George.

"Theodore! Sekarang!" teriak George.

Seketika, ledakan asap hitam muncul di tengah-tengah tamu undangan. Puluhan ksatria berjubah kelabu dengan zirah kristal muncul dari balik sihir kamuflase. Para tamu berhamburan panik, namun kavaleri Valley yang menyamar sebagai pelayan segera mengeluarkan senjata mereka.

"Hadirin sekalian, mohon maaf atas interupsi ini! Tapi pesta ini baru saja menjadi latihan tempur!" teriak Theodore dari atas podium sambil menghunus pedang emasnya.

Seorang pria dengan zirah kristal merah darah maju ke depan. "Jenderal George! Berikan mawar salju itu dan kami akan membiarkan rakyatmu tetap hidup!"

George menghunus pedang hitamnya. Percikan listrik biru mulai menari di sepanjang bilah pedangnya, bercampur dengan uap dingin yang membeku. "Kau datang ke rumahku, mengganggu pestaku, dan mengancam rakyatku. Kau pikir kau punya hak untuk meminta apa pun?"

"Aku adalah Komandan Malphas dari Orde Tertinggi! Es tingkat tujuhmu tidak akan mempan melawan zirah kristal merah ini!" teriak Malphas sambil menerjang maju dengan gada besarnya.

George tidak menghindar. Ia bergerak begitu cepat hingga tampak seperti kilat biru yang membelah kegelapan malam. "Aku tidak pernah bilang aku akan menggunakan es."

"Apa?! Kecepatannya... ugh!" Malphas terhenti di tengah jalan. Sebuah goresan dalam muncul di dadanya sebelum ia sempat menyadari George sudah berada di belakangnya.

"Satu." ucap George dingin.

Para ksatria Orde lainnya mulai menyerang secara serentak. Julian dan kavaleri Valley bertempur dengan sengit di sisi lapangan. Celestine segera mengangkat tangannya, menciptakan kubah cahaya raksasa untuk melindungi para tamu yang belum sempat melarikan diri.

"George! Jangan biarkan mereka mendekati pintu paviliun!" teriak Celestine.

"Mereka tidak akan pernah sampai ke sana!" jawab George. Ia mengalirkan mananya ke dalam tanah. "Lantai Kilat!"

Seketika, aliran listrik bertegangan tinggi merambat di permukaan tanah yang sudah ia lapisi dengan es tipis. Para ksatria Orde yang mengenakan zirah logam langsung bergetar hebat dan tumbang di tempat.

"Brengsek! Kau menyembunyikan elemen petir?!" Malphas bangkit dengan susah payah, luka di dadanya mulai mengeluarkan uap panas.

"Kau terlalu fokus pada buku sejarah lamaku, Malphas. Kau lupa kalau badai selalu membawa kilat." George menyerang lagi. Kali ini ia menggunakan teknik pedang tingkat dua belas. "Tarian Sembilan Langit!"

Dalam satu detik, sembilan tebasan kilat menghantam Malphas dari berbagai sudut. Zirah kristal merah yang dibanggakannya hancur berkeping-keping. Malphas jatuh berlutut, matanya membelalak tidak percaya.

"Tingkat... dua belas... Master Pedang..." gumam Malphas sebelum akhirnya pingsan.

Namun, pertempuran belum berakhir. Dari kegelapan hutan, ratusan panah sihir meluncur ke arah istana. Theodore segera memberikan perintah pada para pemanah Valley. "Balas serangannya! Jangan biarkan satu pun dari mereka mencapai tembok!"

George menatap ke arah paviliun mawar. Ia bisa merasakan mawar di bawah tanah mulai beresonansi dengan amarahnya. 'Tenanglah. Aku bisa mengatasinya tanpa membuatmu meledak,' batin George mencoba menenangkan aliran energinya.

"George, awas! Di belakangmu!" teriak Julian.

Seorang penyihir Orde mencoba menusuk George dengan tombak es hitam. George menangkap tombak itu dengan tangan kristalnya dan langsung meremukkannya. Ia kemudian menghantamkan sikunya ke wajah penyihir itu dengan kecepatan petir.

"Julian! Bawa unitmu ke gerbang samping! Mereka mencoba melakukan pengalihan!" perintah George.

"Siap, Kak! Tetaplah fokus pada komandan mereka!" jawab Julian sambil berlari menjauh.

Celestine mendekati George, napasnya sedikit tersengal karena mempertahankan perisai besar. "George, energinya terlalu besar. Mawar itu... dia mulai menyedot cahaya dari perisai buatanku!"

"Sial, resonansinya terlalu kuat karena aku menggunakan petir di dekatnya." George menatap Celestine. "Bisakah kau mengubah frekuensi cahayamu menjadi lebih lembut? Aku akan mencoba mengalihkan listrikku ke menara pemantul."

"Aku akan mencobanya! Tapi kau harus melindungiku, aku tidak bisa bergerak saat melakukan sinkronisasi!" kata Celestine.

George berdiri di depan Celestine, membentuk perimeter pertahanan yang tak tertembus. Setiap ksatria Orde yang mencoba mendekat langsung ditebas sebelum mereka sempat mengayunkan senjata. 'Aku tidak akan membiarkan satu orang pun menyentuhnya,' batin George dengan mata yang berkilat biru tajam.

"Hampir selesai, George! Tiga... dua... satu... Sekarang!" teriak Celestine.

George mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Seluruh aliran listrik di tubuhnya ia arahkan ke ujung pedang, lalu ditembakkan ke arah menara pemantul di puncak paviliun. Menara itu bersinar sangat terang, membiaskan energi petir George ke seluruh area pertempuran, melumpuhkan sisa-sisa pasukan Orde dalam sekejap.

Keheningan kembali menyelimuti lapangan pesta yang kini hancur berantakan. George jatuh berlutut, napasnya tersengal-sengal. Beban menggunakan teknik tingkat dua belas dikombinasikan dengan petir mulai merusak otot-otot lengannya.

"George! Kau tidak apa-apa?" Celestine segera memeluknya, menyalurkan energi penyembuh ke tubuh George.

"Aku... aku baik-baik saja. Lenganku hanya sedikit mati rasa." jawab George sambil tersenyum tipis.

Theodore berjalan mendekat sambil menyeka darah di pipinya. "Yah, sepertinya pesta pertunangan ini akan diingat sebagai pembantaian paling efisien dalam sejarah. Kerja bagus, Master Pedang."

"Maafkan aku karena merusak pestamu, Theodore." sahut George.

"Merusak? Kau bercanda? Rakyat justru akan semakin memuja kalian setelah melihat pertunjukan tadi. Pelindung Fajar yang menguasai petir dan es... itu akan menjadi legenda baru." kata Theodore sambil tertawa kecil.

Julian kembali dengan wajah kotor penuh debu. "Semua sudah bersih, Kak. Sisa-sisa Orde melarikan diri ke hutan. Kita mendapatkan banyak tawanan untuk diinterogasi."

George menatap mawar salju di kejauhan yang kini sudah kembali tenang. 'Terima kasih telah membantuku sekali lagi,' batinnya.

"Mari kita kembali ke dalam. Aku butuh segelas anggur yang sangat besar dan tidur selama tiga hari." kata George yang disambut tawa oleh yang lainnya.

................

Debu pertempuran perlahan turun menyelimuti pelataran istana yang kini retak-retak. Meskipun musuh utama telah dipukul mundur, suasana waspada masih terasa sangat kental. Para prajurit medis mulai berlarian memberikan pertolongan kepada kavaleri yang terluka, sementara George masih terduduk di atas bongkahan marmer yang hancur, mencoba menstabilkan napasnya yang terasa panas terbakar.

"George, jangan terlalu banyak bergerak dahulu. Aliran petirmu meninggalkan residu yang sangat tajam di jaringan ototmu." Celestine berlutut di depannya, tangannya yang bersinar keemasan ditempelkan pada lengan kiri George yang masih mengeluarkan percikan listrik kecil.

"Aku bisa merasakannya, Celestine. Rasanya seolah ribuan jarum es sedang menusuk pembuluh darahku secara bersamaan." George mengerang pelan, wajahnya memucat namun matanya tetap waspada menatap sekeliling.

"Itu adalah risiko menggunakan tingkat dua belas, Kak. Tubuh manusia normal tidak dirancang untuk menampung tegangan sebesar itu tanpa persiapan matang." Julian datang mendekat, ia membersihkan bilah pedang baja hitamnya yang kini terlihat sedikit melengkung akibat tekanan panas.

Theodore berdiri di tengah lapangan, menatap mayat-mayat ksatria Orde yang masih mengeluarkan uap dingin. "Malphas dan pasukannya hanyalah pion, George. Mereka dikirim untuk menguji batas kekuatanmu. Dan sayangnya, sekarang mereka tahu bahwa kau adalah seorang Master Pedang tingkat dua belas."

"Biarkan saja mereka tahu, Theodore. Semakin banyak yang mereka ketahui tentang kekuatanku, semakin besar rasa takut yang akan menghantui mereka." George menjawab sambil berusaha berdiri dengan tumpuan pedang hitamnya.

'Namun, aku harus segera menguasai sinkronisasi petir dan es ini. Jika tidak, tubuhku sendiri yang akan hancur sebelum sempat melindungi mawar itu,' batin George sambil menatap tangan kristalnya yang kini berpendar biru elektrik.

"George, lihat ke arah paviliun!" seru Celestine tiba-tiba.

Dari celah-celah ventilasi ruang bawah tanah paviliun, muncul cahaya putih yang sangat menyilaukan. Bukan cahaya terang yang menyakitkan, melainkan pendaran lembut yang sejuk. Mawar salju itu tampaknya sedang melakukan 'pembersihan' energi pasca-ledakan petir George yang dialirkan ke menara pemantul.

"Dia sedang memproses sisa energimu, Jenderal." Master Eldric muncul dari balik reruntuhan dekorasi pesta, napasnya tersengal namun matanya penuh kegembiraan ilmiah. "Bunga itu bertindak sebagai katup pengaman. Tanpa mawar itu, ledakan petirmu tadi mungkin sudah meratakan separuh istana ini."

"Jadi, secara tidak langsung, bunga itu yang menyelamatkan kita dari kehancuran total?" tanya Theodore dengan nada tidak percaya.

"Tepat sekali, Yang Mulia. Hubungan simbiosis antara Jenderal George dan mawar itu telah mencapai tahap yang belum pernah tercatat dalam sejarah alkimia manapun." Eldric menjelaskan sambil mengusap kacamatanya yang berdebu.

"Apakah ini berarti George harus terus berada di dekat mawar itu untuk tetap stabil?" tanya Celestine dengan nada khawatir.

"Untuk sementara, ya. Sampai inti mananya benar-benar pulih dari beban tingkat dua belas tadi." jawab Eldric.

Julian menatap ke arah gerbang istana yang hancur. "Kak, ada satu hal yang mengganjal. Malphas tadi menyebutkan 'Orde Tertinggi'. Itu adalah faksi yang jauh lebih berbahaya daripada Orde Kristal Hitam biasa. Mereka adalah para tetua yang konon sudah hidup sejak era perang besar."

George menatap adiknya dengan serius. "Jika mereka sudah mulai turun tangan, artinya ibunda benar-benar meninggalkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar benih bunga, Julian."

"Apa pun itu, kita tidak akan menghadapinya malam ini." Theodore menepuk bahu George dengan mantap. "Pesta ini sudah berakhir, tapi aliansi kita baru saja dimulai. Aku akan mengumumkan masa darurat militer sementara untuk memperbaiki pertahanan kota."

"Maafkan aku, Theodore. Semua kerugian ini... ini karena keberadaanku di sini." George berkata dengan nada penuh penyesalan.

Theodore tertawa kecil, meskipun wajahnya tampak lelah. "Jangan konyol, George. Kau baru saja menunjukkan pada dunia bahwa Valley adalah tempat di mana kilat dan es tunduk pada matahari. Tidak ada emas yang bisa membeli reputasi sekuat itu. Sekarang, pergilah ke paviliun. Kau butuh bunga itu untuk menyembuhkan dirimu."

George menatap Celestine, yang kemudian mengangguk dan merangkul pinggangnya untuk membantu berjalan. 'Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi perisai bagi kerajaan ini, namun pada akhirnya, merekalah yang menjadi penopangku,' batin George dengan perasaan hangat yang jarang ia rasakan.

Saat mereka berjalan menuju paviliun, rakyat yang bersembunyi di balik pilar-pilar istana mulai keluar satu per satu. Tidak ada ketakutan di mata mereka. Sebaliknya, mereka memberikan penghormatan saat George lewat. Mereka melihat sang Pelindung Fajar bukan lagi sebagai monster dari Utara, melainkan sebagai ksatria yang rela membakar dirinya demi keselamatan mereka.

"Dengar itu, George? Mereka memanggil namamu." bisik Celestine lembut.

"Aku mendengarnya, Celestine. Tapi yang ingin kudengar hanyalah suaramu yang menyuruhku untuk tetap hidup." jawab George sambil tersenyum tipis.

Sesampainya di ruang bawah tanah paviliun, George langsung duduk di dekat pot pualam mawar salju. Seketika, rasa sakit di sekujur tubuhnya mereda seiring dengan aroma mawar yang mulai menyelimuti indranya. Cahaya biru dari bunga itu seolah-olah mengalir masuk ke dalam pori-pori kulitnya, menjahit kembali jaringan otot yang rusak akibat petir.

"Beristirahatlah, George. Aku akan menjagamu di sini." Celestine duduk di sampingnya, menggenggam tangan manusianya dengan erat.

"Julian, tetaplah waspada di atas bersama Theodore. Jangan biarkan siapa pun mendekati tempat ini kecuali Master Eldric." perintah George terakhir kali sebelum matanya mulai terasa sangat berat.

"Jangan khawatir, Kak. Aku akan menjadi mata yang tidak pernah berkedip malam ini." jawab Julian sebelum melangkah naik kembali ke permukaan.

George akhirnya memejamkan mata, membiarkan resonansi mawar salju membawanya ke dalam tidur yang lelap.

Di dalam kegelapan mimpinya, ia melihat bayangan seorang wanita berambut perak yang tersenyum padanya di tengah padang mawar salju yang luas. 'Ibu... benarkah ini warisanmu?' batinnya sebelum benar-benar terlelap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!