"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Senja Keramat di Parangtritis
Sore itu, langit Parangtritis berubah menjadi jingga keemasan, memantul di atas pasir hitam yang basah oleh sisa pasang. Baskara menggandeng tangan Arini dengan erat, langkahnya mantap menyusuri bibir pantai. Arini tampak cantik dengan dress pantai berwarna putih, meski langkahnya masih sedikit kaku karena rasa pegal yang belum sepenuhnya hilang.
"Indah sekali, Bas," bisik Arini, menghirup aroma laut yang kini terasa lebih mistis dan dalam.
Baskara berhenti sejenak, ia merangkul bahu Arini dan menatap ke arah cakrawala. "Hanya di sini ombak terasa memiliki nyawa. Kamu merasa tenang?"
Arini hendak menjawab, namun tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. Bukan rasa takut yang mencekam seperti saat menghadapi Sari, melainkan sebuah getaran energi yang begitu besar, agung, dan menekan secara halus.
Mika, yang biasanya sangat cerewet dan bar-bar, mendadak diam seribu bahasa. Arini melirik ke sampingnya dan terkejut melihat Mika tertunduk dalam, tangannya bersedekap di depan dada dengan kepala menunduk sangat rendah—sebuah gestur hormat yang belum pernah Mika tunjukkan pada siapa pun.
"Mika? Ada apa?" batin Arini cemas.
Mika tidak menjawab, ia hanya menunjuk dengan isyarat mata ke arah sebuah karang besar yang menjorok ke laut.
Di sana, di antara buih ombak yang menderu, berdiri seorang wanita yang kecantikannya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ia mengenakan kemben hijau zamrud yang berkilau seolah terbuat dari sisik naga, dengan selendang sutra yang melambai ditiup angin. Wajahnya begitu tenang, namun matanya memancarkan otoritas yang mampu menggetarkan samudra.
Wanita itu adalah Sang Ratu Pantai Selatan.
Baskara tidak melihat apa-apa. Baginya, karang itu kosong. Ia hanya merasa angin bertiup sedikit lebih kencang. "Arini? Kenapa melamun?"
Arini terpaku. Sang Ratu perlahan melangkah di atas air, mendekat ke arah batas antara laut dan daratan. Tatapannya tertuju langsung ke mata Arini. Sang Ratu tersenyum—sebuah senyum yang terasa seperti pelukan hangat sekaligus peringatan dingin.
Suara Sang Ratu bergema langsung di dalam pikiran Arini, begitu merdu namun penuh wibawa.
"Anakku yang berhati tulus... dengarkan nasehatku," ucap Sang Ratu. "Jangan pernah lagi katakan pada siapapun bahwa kamu diberkahi mata batin. Rahasiakanlah karuniamu itu rapat-rapat."
Arini hanya bisa mematung, tenggorokannya terasa tercekat.
"Mulai sekarang, setiap kali kamu melihat sosok-sosok lain dari duniaku, anggaplah mereka tidak ada. Jangan berikan perhatianmu, jangan berikan tatapanmu. Jika mereka tahu kamu bisa melihat, energi negatif dari mereka yang tidak tenang akan menyerangmu tanpa ampun."
Arini menelan ludah, ia merasakan remasan tangan Baskara di jemarinya yang mendadak dingin.
"Hanya karena ketulusan hatimulah, arwah-arwah itu menyukaimu. Tapi ketulusan tanpa kewaspadaan akan menjadi bumerang. Jaga dirimu, dan jaga pria di sampingmu itu. Dia adalah tameng duniamu."
Setelah mengucapkan itu, sosok wanita berbusana hijau itu perlahan memudar menjadi buih ombak yang jernih. Mika akhirnya berani mengangkat kepalanya, napas gaibnya terengah-engah.
"Rin... itu tadi... Gusti Kanjeng Ratu," bisik Mika gemetar. "Bahkan aku nggak berani napas. Kamu denger kan pesan beliau?"
Arini mengangguk pelan, air matanya menetes tanpa sadar.
"Arini? Kamu menangis? Ada apa?" Baskara langsung memutar tubuh Arini, menangkup wajah istrinya dengan penuh kekhawatiran. "Apa kamu melihat sesuatu yang menakutkan?"
Arini menatap mata Baskara, lalu ia teringat pesan Sang Ratu: Anggap mereka tidak ada.
Arini tersenyum, lalu menghapus air matanya. Ia menggeleng pelan sambil memeluk pinggang Baskara erat-erat. "Tidak, Bas. Aku hanya merasa... sangat bersyukur. Senja ini terlalu indah sampai membuatku terharu."
Baskara menghela napas lega, ia mencium kening Arini lama. "Jangan menakutiku. Aku pikir ada hantu lagi yang mengganggumu."
"Tidak akan ada hantu yang menggangguku lagi, Bas. Selama aku bersamamu," ucap Arini mantap.
Di tengah deburan ombak Parangtritis yang keramat, Arini menyadari satu hal. Dunianya memang telah berubah selamanya, namun ia kini memiliki rahasia besar yang harus ia jaga demi keselamatannya dan kebahagiaan rumah tangganya bersama sang Jaksa.
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣