NovelToon NovelToon
SIMFONI TAK BERATURAN

SIMFONI TAK BERATURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:771
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.

Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.

Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.

Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Lampu-lampu jalanan Jakarta mulai berpendar terang, menciptakan bayangan panjang dari motor Ninja hijau yang terus melaju membelah kepadatan. Angin malam yang mulai menusuk pori-pori tidak menyurutkan kehangatan di atas jok belakang. Saskia, yang masih merasa "kenyang" akan khayalan-khayalannya, melingkarkan lengannya semakin erat di perut Sandi. Ia memajukan kepalanya, menempelkan dagu di bahu Sandi hingga aroma parfum mahal Saskia kembali bercampur dengan aroma jaket Sandi.

"Sayang?" panggil Saskia manja, suaranya nyaris teredam helm. "Aku laper... Makan malam dulu yuk. Aku pengen makan malam berdua sama kamu, kayak suasana di rumahku tadi malam."

Sandi sedikit menoleh, matanya melirik dari balik kaca helm. "Lah, emangnya nggak kemalaman nanti kalau kita mampir makan dulu? Ini saja sudah jam segini, perjalanan ke Pondok Indah masih jauh, Sas."

Saskia menggelengkan kepalanya pelan di bahu Sandi. "Nggak apa-apa, kan Mama sudah tahu kalau aku lagi sama kamu. Mama pasti percaya kalau aku aman."

Sandi menghela napas, menyerah pada rasa lapar yang mulai menggelitik perutnya juga. "Ya sudah, emangnya lo mau makan apa? Jangan yang aneh-aneh ya."

"Aku lagi pengen sate Padang, Yang," jawab Saskia cepat seolah sudah merencanakannya. "Tapi aku maunya yang di depan Apotik Rini, Rawamangun. Yang bumbunya kental itu lho."

Seketika Sandi langsung mengerem motornya sedikit mendadak karena terkejut. "Lah, Oneng! Pe'a! Kenapa nggak bilang dari tadi pas kita masih di daerah sana? Kalau sudah sampai sini, kita harus putar balik jauh lagi!"

Saskia mengerucutkan bibirnya, memasang wajah cemberut yang dibuat-buat di samping wajah Sandi. "Yah... maaf, aku kan nggak tahu jalan, Yang. Aku cuma tahu tempat makannya enak."

Sandi menoleh sedikit lebih banyak untuk memprotes, namun karena jarak mereka yang sangat dekat, tanpa sengaja ujung hidung mereka bersentuhan. Bukannya menjauh, Sandi malah gemas dan refleks menggigit pelan hidung mungil Saskia. Hup!

"Aduh!" Saskia tersentak kaget. Merasa tak terima, ia langsung membalas dengan menggigit bahu Sandi yang tertutup jaket tebal.

"Aakh! Sakit, Sas! Gigi lo tajam amat kayak macan!" ringis Sandi sambil tertawa.

"Lagian kamu duluan yang mulai! Hidung aku kan aset masa depan!" balas Saskia sambil tertawa renyah, meski keduanya sama-sama meringis kesakitan akibat ulah masing-masing.

Tawa mereka pecah di pinggir jalan, mengalahkan bising klakson kendaraan lain. Sandi akhirnya menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan kelakuan calon tunangannya yang makin hari makin berani.

"Ya sudah, pegangan yang kencang. Gue putar balik ke Rawamangun sekarang. Demi Sate Padang kesukaan Kanjeng Ratu Oneng," ujar Sandi sembari memutar arah motornya.

Saskia tersenyum sangat manis, senyum kemenangan yang penuh cinta. Ia memeluk Sandi lebih erat dari sebelumnya, menyandarkan kepalanya dengan nyaman di punggung Sandi saat motor Ninja itu kembali menderu menuju Rawamangun.

Motor Ninja 150RR itu terus menderu, membelah angin malam yang mulai terasa menggigit saat mereka berputar arah menuju kawasan Rawamangun. Di tengah kebisingan knalpot dan klakson kendaraan yang berebut jalan, Saskia masih setia menyandarkan dagunya di bahu Sandi, menciptakan keintiman kecil di atas aspal Jakarta yang keras.

"Sayang?" panggil Saskia lembut.

Sandi menolehkan sedikit kepalanya. Entah sejak kapan, hatinya yang keras mulai melunak. Panggilan yang awalnya membuat bulu kuduknya meremang dan terasa menggelikan itu kini mulai terdengar seperti melodi yang biasa ia dengar. "Apa? Jangan bilang lo berubah pikiran lagi mau makan steak atau sushi? Gue nggak mau putar balik lagi ya, bensin mahal," sahut Sandi ketus, namun terselip nada bercanda di sana.

Saskia terkekeh, napasnya terasa hangat di leher Sandi. "Enggak kok. Aku cuma mau tanya... nanti kalau kita lulus SMP, kamu sudah punya rencana mau masuk sekolah mana?"

Pertanyaan itu seketika membuat Sandi terdiam. Tatapannya lurus menembus kaca helm, menatap lampu-lampu belakang mobil yang berderet di depannya. "Gue... gue masih belum tahu, Sas. Jujur saja, panggilan kerja sampingan dari stasiun radio yang kemarin gue lamar saja belum ada kabar. Mungkin gue nggak memenuhi syarat mereka. Jadi, rencana sekolah pun gue harus lihat kondisi dompet dulu. Kenapa emangnya?"

Saskia mengeratkan pelukannya. "Kalau kita masuk ke SMA Bhayangkara lagi, kamu mau nggak, San?"

Sandi mendengus, tawa getir lolos dari bibirnya. "Ah, gila lo, Sas. Duit dari mana gue? Oke, kalau nyokap jadi kerja di rumah lo, mungkin biaya bulanan bisa diusahakan. Tapi uang pangkal dan uang gedung sekolah elit begitu? Nggak mungkin nyokap gue sanggup, Sas. Itu sekolah buat kalangan atas."

Saskia tidak menyerah. Ia justru tersenyum lebar seolah sudah memegang kunci jawabannya. "Tadi malam, pas Kakek bicara sama Papa, Papa langsung setuju. Kakek juga bilang begini: kalau Sandi bisa lulus SMP dengan nilai yang bagus, Kakek mau membiayai kamu masuk ke SMA Bhayangkara lagi. Lagipula, lewat status kepolisian—baik itu purnawirawan atau anggota aktif—sekolah bakal memotong 50% biaya masuknya. Menurut kamu gimana, San?"

Sandi tersentak hingga hampir kehilangan keseimbangan motornya. "Hah? Kakek lo beneran gila, Sas! Dari menjodohkan gue sama lo sampai mau membiayai sekolah gue juga... Kakek lo bener-bener keterlaluan baiknya. Padahal dia kan cuma merasa berhutang nyawa ke almarhum Kakek gue, itu urusan masa lalu. Nggak ada sangkut pautnya sama gue atau nyokap gue di masa sekarang."

"Yah, itu urusan Kakek, San. Beliau merasa itu cara terbaik untuk menghormati sahabatnya," Saskia terkekeh. "Tapi pertanyaanku, kamu secara pribadi mau nggak kembali ke Bhayangkara?"

Sandi menarik napas dalam-dalam, membiarkan oksigen malam memenuhi paru-parunya. "Kalau ditanya mau... siapa yang nggak mau? Sekolah Bhayangkara itu kualitasnya nomor satu. Gue juga punya keinginan terpendam buat meneruskan cita-cita Kakek gue. Dulu, Kakek pengen banget bokap gue sekolah di sana supaya bisa jadi polisi. Tapi karena terkendala biaya yang selangit, akhirnya bokap milih masuk STM mekanik dan kerja di pabrik otomotif. Makanya motor Ninja ini adalah satu-satunya harta berharga yang ditinggalkan bokap buat gue."

Mendengar kejujuran Sandi, Saskia merasa hatinya bergetar. Ia mengecup bahu Sandi yang tertutup jaket tebal itu dengan tulus. "Sekarang gilirannya kamu, San. Wujudkan cita-cita Kakekmu dan lanjutkan jalan Ayahmu yang dulu sempat terhenti. Aku yakin kamu bisa. Aku bakal dukung kamu terus. Jadi, kamu mau ya ambil tawaran Kakek? Masuk ke SMA Bhayangkara, jadi siswa terbaik, lalu masuk ke Akademi Kepolisian?"

Sandi terenyuh. Di balik helmnya, matanya mulai memanas. Ia tidak pernah menyangka jalan hidupnya yang tadinya tampak buntu kini terbuka lebar berkat keluarga gadis yang sedang memeluknya ini. Ia berpikir, apakah dirinya pantas menerima kemudahan ini? Apakah dia benar-benar bisa memikul harapan besar keluarganya?

"Makasih... Makasih ya, sayang," gumam Sandi sangat pelan, nyaris tak terdengar.

Saskia tersentak, matanya berbinar. "Hah? Barusan kamu panggil apa? Sayang ngomong apa tadi?"

Sandi cepat-cepat menggelengkan kepalanya, menghalau air mata haru yang sempat menetes di pipinya. Ia tersenyum lebar, meski Saskia tak bisa melihatnya. "Enggak! Gue nggak ngomong apa-apa! Lo salah denger kali. Terus... kalau gue di Bhayangkara, emang lo mau ambil apa nanti?"

Saskia tertawa geli, seolah sudah merancang masa depan mereka di kepalanya. "Kalau kamu di Bhayangkara, aku juga mau sekolah di sana lagi bareng kamu. Tapi nanti pas kuliah, kalau kamu masuk Akpol, aku mau ambil Fakultas Bisnis. Aku harus belajar gimana caranya meneruskan perusahaan Papa. Jadi pas kita lulus nanti, bayanganku sudah jelas: aku jadi pemilik perusahaan, dan kamu jadi pelindungku. Dengan kamu jadi polisi yang gagah, rekan-rekan bisnis Papa nggak akan berani main-main atau mau mengkhianati perusahaan yang aku pimpin nanti!"

Sandi tertawa terbahak-bahak mendengar khayalan tingkat tinggi Saskia. "Hahaha! Khayalan lo kejauhan, Sas! Lulus SMP saja belum tentu, nilai try out lo saja masih kembang-kempis, eh ini sudah skip ke dunia kerja dan jadi bos perusahaan. Fokus dulu, Oneng!"

"Ihh, apa salahnya sih aku cerita rencana masa depan sama calon suamiku sendiri?" protes Saskia sambil mencubit perut Sandi gemas.

Sandi menoleh sedikit, menatap jalanan yang mulai terbuka di depannya. "Takdir nggak ada yang tahu, Sas. Tapi kalau semua itu benar-benar terjadi... bagi gue itu adalah takdir yang luar biasa. Gue bisa mewujudkan mimpi Kakek, melanjutkan perjuangan bokap, dan lo bisa jadi anak berbakti yang menjaga warisan bokap lo. Sekali tepuk dapat dua nyamuk."

"Jadi, kamu mau kan masuk SMA Bhayangkara?" desak Saskia lagi.

Sandi mengangguk mantap. "Iya. Tapi nanti gue diskusikan dulu sama Nyokap ya. Gue harus minta restu beliau."

Saskia mengangguk bahagia, ia memeluk erat perut Sandi, jemarinya mengelus dada Sandi dengan lembut sembari berulang kali mengecup bahunya. "Makasih ya, sayang! Aku seneng banget!"

Sandi menggelengkan kepalanya perlahan, hatinya dipenuhi rasa syukur yang tak terlukiskan. "Harusnya gue yang bilang makasih ke lo, Sas... buat semuanya."

Saskia hanya tersenyum lebar, membenamkan wajahnya di punggung Sandi dengan perasaan lega yang luar biasa. Malam itu, di atas motor Ninja yang terus melaju menuju Rawamangun, sebuah janji masa depan telah terukir tanpa sengaja di antara dua remaja yang dipertemukan kembali oleh takdir.

Ninja 150RR hijau itu akhirnya melambat dan berhenti sempurna di bahu jalan yang padat, tepat di depan aroma harum rempah yang menusuk hidung dari gerobak Sate Padang legendaris di depan Apotik Rini, Rawamangun. Namun, pemandangan di depan mereka tidak sesuai harapan. Kursi-kursi plastik berwarna merah di sana sudah penuh sesak oleh para pekerja kantoran yang masih berseragam dan keluarga yang sedang berburu makan malam. Suasana riuh rendah dengan bunyi piring beradu dan kepulan asap bakaran sate yang membubung tinggi.

Sandi melirik ke arah deretan meja yang penuh tanpa celah. "Gimana, Sas? Zonk nih. Mau dibungkus saja? Tempatnya penuh banget, nggak ada meja kosong buat kita berdua," tanya Sandi sembari masih memegang stang motornya.

Saskia yang masih bertengger di jok belakang langsung menekuk wajahnya. Bibirnya mengerucut sebal. "Yah... aku kan maunya makan berdua sama kamu di sini, Yang. Kalau dibungkus, nanti nuansanya beda. Sama saja dong aku makan sendirian di rumah kalau kamu cuma nganter sampai gerbang," keluhnya dengan nada manja yang khas.

Sandi terkekeh kecil, mencoba memberi pengertian. "Ya mau gimana lagi, Oneng. Jam segini ini emang jam 'rush hour'. Orang pulang kerja, orang laper, semua numpuk di sini. Masa kita harus ngusir orang yang lagi makan?"

Mendengar jawaban realistis Sandi, Saskia mulai berulah. Ia membentur-benturkan dahi helmnya dengan pelan dan berirama ke punggung Sandi, seolah sedang melakukan protes bisu namun sangat terasa getarannya. Duk... duk... duk...

"Heh! Helm lo nanti rusak kalau lo jedotin terus begitu, Sas," tegur Sandi sambil menahan tawa melihat kelakuan ajaib calon tunangannya itu.

Saskia tidak berhenti, ia justru semakin menjadi-jadi sambil bergumam dari balik kaca helmnya. "Aku nggak peduli! Aku maunya makan bareng kamu! Pokoknya malam ini harus makan sama kamu!"

Sandi menghela napas panjang, otaknya berputar mencari solusi untuk menjinakkan sifat keras kepala Saskia. "Gini saja deh, gimana kalau kita bungkus, terus makannya di rumah gue? Sekalian kita makan bareng sama Ibu. Anggap saja ini perjamuan terakhir di rumah kontrakan lama gue. Kan besok pagi-pagi kita sudah resmi pindah ke paviliun belakang rumah lo. Jadi, malam ini kita 'sayonara' sama rumah Jatinegara bareng-bareng. Gimana?"

Seketika, gerakan "jedotin helm" itu berhenti. Saskia terdiam sejenak, lalu perlahan memajukan kepalanya, menyandarkan pipi helmnya di bahu Sandi dengan gerakan manja yang sangat kontras dengan protesnya tadi. "Aku mau, Yang! Makan sama kamu dan... calon mertuaku juga? Ide bagus itu!"

Sandi tertawa terbahak-bahak mendengar istilah yang meluncur dari mulut Saskia. "Lo beneran nggak sabaran banget ya? Bahasa lo sudah kayak kita besok pagi mau ijab kabul saja. Calon mertua... calon mertua... panggil Ibu saja dulu, Sas."

Saskia menyahut dengan kepolosan yang luar biasa jujur. "Kalau malam ini bisa nikah, malam ini juga aku mau, Yang! Aku sudah telanjur ngebayangin omongan kamu ke Anggita tadi tahu... soal gimana kamu bisa grepe-grepe aku kalau kita sudah halal."

Tak!

Satu sentilan keras mendarat tepat di kening Saskia yang tertutup poni. Sandi melotot, meski wajahnya sendiri mulai panas menahan malu. "Kacau bener itu otak! Isinya 'grepe-grepe' mulu dari tadi. Sudah, diam di sini, gue pesen satenya dulu!"

Saskia hanya cengar-cengir tanpa dosa, mengusap keningnya yang sedikit perih namun hatinya berbunga-bunga. "Perutku laper banget, San. Makanya otakku cuma isinya bayangan indah sama kamu saja!"

"Dasar Oneng!" Sandi turun dari motornya, namun Saskia tidak mau ditinggal. Ia segera melompat turun dan "mengintil" di belakang Sandi, memegang ujung jaket Sandi seperti anak kecil yang takut kehilangan induknya di tengah keramaian pasar.

Sandi memesan tiga bungkus sate Padang porsi lengkap—campuran daging dan lidah yang kenyal dengan siraman kuah kuning kental yang pedas gurih. Begitu bungkusan berpindah tangan, Sandi merogoh saku celananya untuk mengeluarkan dompet. Namun, secepat kilat, tangan mungil Saskia menahan pergelangan tangan Sandi.

Tanpa banyak bicara, Saskia mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dari tas kecilnya dan memberikannya kepada penjual sate. Sandi tertegun sejenak. Saat mereka berjalan kembali menuju motor yang diparkir di bahu jalan, Sandi akhirnya angkat bicara.

"Sas, gue bisa bayar sendiri kok. Tadi uang di dompet gue cukup buat sate doang. Kenapa lo tahan tangan gue tadi? Gue jadi nggak enak."

Saskia berhenti melangkah. Ia berbalik badan, mendongak menatap wajah Sandi yang jauh lebih tinggi darinya. Matanya menatap Sandi dengan serius, namun penuh kasih. "Yang! Dengerin aku. Kamu jangan pernah menolak pemberian dari aku lagi ya. Aku sakit hati banget pas kamu nolak hadiah ponsel dari Mama kemarin. Sekarang posisi kita beda, San. Kamu itu sudah calon tunangan aku, calon suamiku. Jadi, uangku itu ya uang kamu juga. Jangan dibeda-bedain."

Sandi menggelengkan kepala perlahan. Logika "Oneng" Saskia ini benar-benar menjungkirbalikkan harga dirinya sebagai laki-laki. "Sas, yang seharusnya ngomong begitu itu gue! Sebagai laki-laki, gue yang harus biayain lo. Kalau lo yang terus-terusan begini, gue merasa nggak ada harga dirinya di depan lo."

"Justru itu!" potong Saskia cepat. "Aku mau kamu sebagai calon suamiku tetap memiliki harga diri tinggi di depan orang-orang. Aku cuma mau bantu kamu supaya kamu tetap bisa berwibawa dan nggak kelihatan susah."

Sandi makin kebingungan. Dahinya berkerut dalam. "Maksudnya gimana? Gue beneran gagal paham sama jalan pikiran lo."

Saskia tersenyum lebar, menjelaskan teorinya dengan penuh semangat. "Misalnya begini... besok kalau Andra sudah sembuh dan dia menagih janji es krim bermerek itu, aku akan kasih uang ke kamu secara diam-diam. Kamu simpan di dompet kamu. Jadi, pas di depan Kelompok Sableng, kamu bisa bayar dengan gagah tanpa harus cari alasan 'duit lagi ente' atau 'lagi nabung'. Aku mau kamu kelihatan punya uang di depan teman-teman kamu. Paham? Nggak usah sungkan lagi sama aku!"

Sandi terdiam. Ia menatap gadis di depannya ini dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tapi Sas, gu—"

Saskia segera meletakkan jari telunjuknya di bibir Sandi, membungkam kalimat protes itu sebelum terucap. "Aku paham, San. Aku akan bantu kamu sampai kamu dapat kerja dan punya gaji sendiri. Nanti kalau kamu sudah sukses, kamu boleh kembalikan semuanya. Anggap saja itu investasi istrimu. Lagian nanti kalau sudah nikah, gaji kamu kan jadi gajiku juga, kan?"

Sandi akhirnya menyerah. Ia tidak bisa menahan tawa melihat kegigihan Saskia dalam membantunya dengan cara yang sangat unik ini. Dengan gemas, Sandi mencubit kedua pipi chubby Saskia dan menariknya sedikit lebar.

"Gue nggak tahu lagi gimana cara bales omongan lo, Sas. Mau gue tolak, lo pasti bakal maksa sampai kiamat. Khayalan lo itu beneran sudah kayak lagu Peterpan, Sas... Khayalan Tingkat Tinggi!"

Saskia tertawa meski pipinya ditarik lebar oleh Sandi. Ia memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi, merasa sangat bahagia karena Sandi akhirnya mulai mau menerima kehadirannya bukan hanya sebagai beban, tapi sebagai pendamping yang siap menyokongnya dari segala sisi.

1
Shintara
Yuk di baca yuk
Shin Nara
Next thor
Shintara: update setiap jam 9 pagi ya kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!