NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.

Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 - Serangan Terbuka

Suasana aula mencapai puncaknya ketika para tamu mulai berkumpul di area tengah, membentuk lingkaran yang semakin rapat seiring bertambahnya orang yang ingin ikut melihat apa yang sedang terjadi. Lampu utama sedikit ditingkatkan cahayanya, membuat setiap ekspresi terlihat lebih jelas, sementara musik yang sebelumnya mengalun kini mereda, seolah memberi ruang bagi percakapan yang menjadi pusat perhatian malam itu.

Gelas-gelas terangkat, beberapa orang berdiri lebih tegak dari biasanya, dan perhatian perlahan mengarah ke satu titik yang sama tanpa perlu diumumkan. Di tengah semua itu, Cassandra melangkah maju dengan percaya diri, tidak terburu namun cukup tegas untuk menarik fokus tanpa usaha berlebihan.

Ia berdiri dengan posisi yang mudah dilihat dari berbagai sisi, sikapnya santai namun terkontrol, seolah sudah terbiasa berada dalam situasi seperti ini. Senyumnya tetap terjaga, matanya bergerak perlahan menyapu sekitar sebelum akhirnya berhenti pada satu sosok yang sejak awal malam sudah menarik perhatiannya.

Alyssa.

Alyssa berdiri tidak jauh dari sana, masih dengan sikap yang sama sejak pertama kali datang, tidak berubah meskipun suasana di sekitarnya semakin ramai dan perhatian semakin jelas tertuju padanya. Gaun sederhana yang ia kenakan tetap terlihat kontras di tengah kemewahan, namun bukan hanya itu yang membuatnya menonjol, melainkan ketenangan yang tidak goyah meskipun situasi tidak berpihak.

Cassandra mendekat dengan langkah yang terukur, memastikan setiap gerakan terlihat alami, namun tetap memberi ruang bagi orang-orang untuk mengikuti arah yang ia bangun.

“Kamu berdiri sendirian lagi.”

Alyssa menoleh dengan gerakan ringan.

“Tidak masalah.”

Jawaban itu tidak panjang, namun cukup untuk membuat beberapa orang yang berada di dekat mereka berhenti berbicara dan mulai memperhatikan dengan lebih jelas. Lingkaran kecil mulai terbentuk tanpa disadari, seolah orang-orang tertarik pada sesuatu yang belum sepenuhnya terjadi.

Cassandra mengangguk pelan, lalu melirik ke arah beberapa tamu yang kini sudah mulai fokus.

“Aku jadi penasaran,” katanya sambil tersenyum, “bagaimana kamu bisa terbiasa dengan tempat seperti ini.”

Nada suaranya terdengar ringan, namun arah pembicaraan itu terlalu jelas untuk disalahartikan, dan beberapa orang yang mendengarnya mulai saling bertukar pandang.

Alyssa tidak langsung menjawab, ia hanya berdiri dengan posisi yang sama, tidak mengubah ekspresi ataupun sikapnya, seolah pertanyaan itu tidak mendesaknya untuk memberi tanggapan.

Cassandra tersenyum tipis, sedikit memiringkan kepala.

“Bukankah kamu berasal dari latar belakang yang sederhana?”

Kata terakhir diucapkan dengan jeda yang cukup untuk menekankan maksudnya, dan beberapa orang di sekitar langsung menangkap arah itu dengan mudah.

“Istri pengganti,” suara lain menimpali dari belakang, tidak terlalu keras namun cukup untuk didengar oleh orang-orang di lingkaran itu.

Beberapa tawa kecil muncul, tidak serempak, namun cukup untuk membangun suasana yang diinginkan, di mana satu orang menjadi pusat perhatian dan yang lain menjadi penonton yang menikmati.

Ibu Daren berdiri tidak jauh dari sana, memperhatikan tanpa ikut campur, ekspresinya tetap tenang namun matanya jelas mengikuti setiap perkembangan. Ia tidak memberi isyarat untuk menghentikan, juga tidak mencoba mengalihkan, seolah situasi itu memang bagian dari sesuatu yang sudah ia perkirakan.

Di sisi lain, Daren berdiri dengan jarak yang cukup untuk melihat tanpa harus terlibat langsung, namun cukup dekat untuk mendengar setiap kata yang diucapkan. Tatapannya tidak lepas dari Alyssa, dan langkahnya sempat bergerak sebelum akhirnya berhenti lagi.

Ia menunggu.

---

Cassandra melangkah sedikit lebih dekat, memperkecil jarak tanpa terlihat memaksa, namun cukup untuk menempatkan Alyssa tepat di tengah perhatian.

“Tidak semua orang bisa langsung menyesuaikan diri,” katanya dengan nada yang tetap halus, “terutama jika sebelumnya hidup jauh dari lingkungan seperti ini.”

Beberapa orang mengangguk kecil, sebagian karena setuju, sebagian karena mengikuti alur yang sudah terbentuk.

“Pasti sulit,” lanjut Cassandra, “terlihat terbiasa padahal sebenarnya asing.”

Kata-kata itu mengalir dengan ringan, namun maksudnya semakin jelas, dan lingkaran di sekitar mereka semakin rapat tanpa perlu dipanggil.

Alyssa tetap diam, tidak menghindar dan tidak pula menunjukkan tanda-tanda ingin keluar dari situasi itu, seolah ia memilih untuk tetap berada di sana tanpa memberi reaksi yang diharapkan.

Cassandra menyipitkan mata sedikit, memperhatikan lebih dalam.

“Kamu tidak mau menjawab?”

Alyssa mengangkat pandangan.

“Apa yang perlu dijawab?”

Nada suaranya datar, tidak tinggi dan tidak rendah, namun cukup untuk menghentikan beberapa bisikan yang sebelumnya masih terdengar.

Cassandra tersenyum lagi, kali ini dengan sedikit tekanan.

“Bagaimana rasanya berada di sini,” katanya, “di antara orang-orang yang berbeda denganmu.”

Beberapa tamu tersenyum tipis, sementara yang lain menunggu dengan ekspresi yang lebih serius, seolah berharap sesuatu yang lebih menarik akan terjadi.

Daren mengernyit sedikit, langkahnya kembali bergeser namun berhenti sebelum benar-benar mendekat, karena ada sesuatu yang membuatnya ingin melihat lebih jauh tanpa ikut campur.

---

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang tidak sepenuhnya kosong, karena semua orang di lingkaran itu menunggu jawaban yang akan menentukan arah suasana berikutnya.

Alyssa akhirnya berbicara.

“Kalau hanya itu, rasanya biasa saja.”

Cassandra terdiam sejenak, matanya sedikit menyipit.

“Biasa saja?”

Alyssa mengangguk kecil, lalu melanjutkan tanpa tergesa.

“Tempat ini terlihat berbeda,” katanya, “tapi orang-orangnya tetap sama.”

Beberapa orang di sekitar mulai mengubah ekspresi, tidak lagi sekadar tersenyum atau menunggu hiburan, melainkan mencoba memahami apa yang baru saja ia katakan.

Cassandra tertawa kecil, mencoba menjaga ritme.

“Kamu yakin?”

Alyssa menatapnya dengan tenang.

“Ya.”

Cassandra menghela napas ringan, lalu berkata dengan nada yang sedikit lebih tajam.

“Aku tidak tahu kamu percaya diri atau hanya tidak sadar.”

Beberapa orang ikut tertawa, namun tidak sekeras sebelumnya.

Alyssa tidak terpengaruh, ia tetap berdiri dengan sikap yang sama, tidak membalas dengan nada yang lebih tinggi atau menunjukkan emosi yang berlebihan.

Cassandra melanjutkan, “Ada batas yang seharusnya dipahami.”

Alyssa menunggu.

“Setiap orang punya tempatnya,” kata Cassandra, kali ini tanpa menyamarkan maksudnya.

Lingkaran itu menjadi lebih sunyi, karena arah pembicaraan sudah tidak lagi samar.

---

Alyssa menarik napas pelan, bukan karena tertekan, melainkan untuk memastikan bahwa ia berbicara dengan jelas tanpa terburu.

Ia menatap Cassandra dengan tenang, lalu menjawab.

“Kamu benar.”

Cassandra sedikit terkejut, namun segera tersenyum.

“Akhirnya kamu setuju.”

Alyssa melanjutkan tanpa memberi jeda.

“Setiap orang memang punya tempatnya.”

Nada suaranya tetap sama, tidak berubah, namun kali ini terasa lebih pasti.

“Dan tempat itu tidak selalu ditentukan oleh latar belakang.”

Beberapa orang saling melirik, karena kalimat itu mulai menggeser arah yang sebelumnya dibangun.

Cassandra mengangkat alis.

“Lalu oleh apa?”

Alyssa menjawab dengan singkat.

“Sikap.”

Satu kata itu jatuh dengan jelas, dan suasana berubah tanpa perlu tambahan apa pun.

Cassandra tersenyum tipis.

“Menarik.”

Alyssa melanjutkan, “Kalau seseorang merasa lebih tinggi hanya karena apa yang ia miliki, mungkin masalahnya bukan pada tempatnya.”

Beberapa tamu mulai terdiam, tawa yang tadi terdengar perlahan hilang.

“Melainkan pada cara ia memandang orang lain.”

Kalimat itu membuat lingkaran itu tidak lagi terasa ringan, karena arah pembicaraan sudah berbalik tanpa perlu konfrontasi langsung.

Cassandra tidak langsung menjawab, ia hanya menatap Alyssa lebih lama dari sebelumnya, mencoba menemukan sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melanjutkan.

Namun Alyssa tidak memberi celah.

---

Daren berdiri di tempatnya, tidak lagi mencoba bergerak, karena apa yang ia lihat sudah cukup untuk menahannya di sana. Tatapannya tetap pada Alyssa, dan dalam diam ia mulai memahami sesuatu yang selama ini tidak ia perhatikan dengan serius.

Wanita yang ia anggap hanya diam, ternyata memilih diam.

Wanita yang ia kira tidak mampu menghadapi situasi seperti ini, justru berdiri tanpa goyah ketika semua mata tertuju padanya.

Perubahan itu tidak datang dengan cara mencolok, tidak juga dengan usaha untuk menarik perhatian, namun justru karena itu, dampaknya terasa lebih jelas.

---

Cassandra akhirnya mengalihkan pandangan, menarik napas ringan sebelum tertawa kecil untuk mengembalikan suasana yang mulai berubah.

“Sepertinya aku salah menilai kamu.”

Alyssa tidak menanggapi, ia hanya berdiri dengan sikap yang sama, tidak mencoba menambahkan atau mengurangi apa pun dari yang sudah terjadi.

Lingkaran itu perlahan terbuka, percakapan mulai kembali menyebar ke arah lain, namun suasananya tidak lagi sama seperti sebelumnya. Bisikan masih ada, namun nadanya berubah, tidak lagi hanya berisi penilaian, melainkan juga rasa ingin tahu yang tidak bisa disembunyikan.

Ibu Daren memperhatikan dari tempatnya, matanya sedikit menyipit, namun ia tetap tidak mengatakan apa pun, karena hasil yang terjadi tidak sepenuhnya sesuai dengan arah yang diharapkan.

Daren akhirnya melangkah mendekat, tidak tergesa namun cukup jelas, berhenti beberapa langkah dari Alyssa tanpa langsung berbicara. Ia hanya berdiri di sana, memperhatikan lebih dekat, mencoba memahami sesuatu yang baru saja ia lihat dengan cara yang tidak biasa.

Di tengah aula yang kembali dipenuhi suara, satu hal tetap tertinggal dengan jelas, bahwa tanpa perlu meninggikan suara atau menunjukkan emosi berlebihan, Alyssa telah mengubah arah situasi yang sejak awal tidak berpihak padanya.

1
sutiasih kasih
km sll merendhkn Alyssa tentang mnempatkn diri....
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
sutiasih kasih
ketika km sadar n haluanmu brubah....
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
sutiasih kasih
daren.... smpe kpan km pura"... & lelet dlm mngambil sikap...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
sutiasih kasih
org lain boleh bebas berkeliaran bhkn bebas mngatur layaknya menantu...
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
sutiasih kasih
mnunggu saat allysa mundur & prgi dri daren...
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
sutiasih kasih
msa iya rmh horang kaya raya... g ada cctv di setiap sudut rumah....
🤔🤔
@RearthaZ
kak aku sudah baca dan like, semua chapternya, boleh tolong bantuannya juga ya kak untuk like dan baca cerita baru ku (aku baru pemula hehehe) boleh 'CEK PROFIL KU' ya kak... nama judul ceritanya "MENIKAHI DUKE MISTERIUS"
@RearthaZ
lanjutin kak
@RearthaZ
aku mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!