Warning ***+
~~~
Mayang Puspita Sari, seorang lulusan SMP dari kampung, pindah ke ibu kota dengan tujuan menyelamatkan adiknya yang sakit keras dan menopang ekonomi keluarga. Setelah berjuang mencari pekerjaan di kota yang keras, ia akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai ibu pengganti - pekerjaan yang memberinya hidup berkecukupan dan biaya pengobatan yang cukup untuk adiknya.
Seiring waktu, Mayang malah merasa senang dengan pekerjaannya karena semua keinginannya tercapai dan bayarannya sangat besar, meskipun ia tidak menyadari bahwa pilihan ini akan membawa konsekuensi emosional dan moral yang tidak terduga nanti.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21
***
Tiba-tiba, seluruh lampu di penthouse itu berkedip hebat. Layar-layar monitor yang tadinya gelap mendadak menyala, namun bukan menampilkan berita bisnis. Layar itu menampilkan kode-kode enkripsi berwarna merah yang bergerak sangat cepat. Suara dengung rendah terdengar dari sistem server pusat yang tertanam di dinding.
Baskara tertegun. Ia meraba sakunya, mengambil ponsel pintarnya yang tiba-tiba bergetar tanpa henti.
"Apa-apaan ini?" teriak Baskara. Ia mencoba membuka kunci ponselnya, namun layar itu hanya menampilkan satu kata besar: RAHAYU.
"Kau pikir selama lima bulan ini aku hanya mencuci piring dan menyusui Aira di kegelapan?" Mayang mencoba bangkit, meski rasa perih di area intinya masih terasa seperti disayat sembilu. Ia bersandar pada kaki ranjang, menatap Baskara dengan tatapan yang kini mulai memancarkan sinar otoritas Nyonya M yang dulu hilang.
"Setiap malam, saat kau mendengkur setelah memuaskan nafsumu padaku... aku bekerja. Melalui sistem suara pintar yang kau pasang untuk memantauku, aku justru menggunakannya untuk meretas kembali akses yang kau curi," ujar Mayang, suaranya semakin stabil seiring dengan adrenalin yang memompa tubuhnya.
Baskara tertawa sumbang, meski wajahnya mulai pucat. "Kau tidak punya akses ke akun-akun utamaku! Aku sudah mengganti semuanya!"
"Aku tidak butuh akunmu, Baskara. Aku hanya butuh 'pemicu'. Kau ingat klausul dalam surat pengalihan saham yang kau paksa aku tanda tangani saat sarapan itu? Ada hidden script yang kumasukkan lewat pengacara lamaku yang diam-diam masih setia padaku. Jika sistem medis di rumah ini mendeteksi kondisi darurat—seperti persalinan tanpa bantuan dokter—selama lebih dari dua jam, maka seluruh aset secara otomatis dianggap 'terancam' dan beralih ke wali amanat yang sah."
Baskara menatap ponselnya. Sebuah notifikasi muncul: Transfer Saham 100% Selesai. Tujuan: Yayasan Aira Rahayu.
"Tidak! Ini tidak mungkin!" Baskara menjatuhkan gelas wiskinya hingga pecah berkeping-keping. Ia mencoba mengakses laptopnya, namun akses ditolak. "Kembalikan! Itu milikku! Aku yang menghancurkan Aris dan Gunawan!"
**
Mayang tertawa kecil, sebuah tawa yang penuh dengan kepuasan dendam. "Kau hanya bidak, Baskara. Kau menghancurkan mereka menggunakan data yang kuberikan. Kau mengira kau adalah pemain catur, padahal kau hanyalah pion yang kugunakan untuk membersihkan papan dari monster-monster lama. Dan sekarang... giliranmu untuk disingkirkan."
Baskara meledak dalam amarah. Ia menerjang ke arah Mayang, tangannya terangkat untuk memukul wanita yang sedang dalam kondisi pascapersalinan itu. "Kau jalang serakah! Aku akan membunuhmu!"
Namun, sebelum tangan Baskara menyentuh Mayang, pintu utama penthouse meledak terbuka. Bukan polisi berseragam yang masuk, melainkan sekelompok tim keamanan swasta wanita berbaju hitam dengan senjata taktis, diikuti oleh tim medis lengkap yang dipimpin oleh dokter pribadi kepercayaan Mayang dulu.
"Jangan bergerak, Tuan Baskara!" perintah komandan tim tersebut.
Baskara mematung, tangannya gemetar di udara. Ia menoleh ke arah pintu, lalu kembali ke arah Mayang. "Bagaimana bisa..."
"Apartemen ini, Menara ini... semuanya kembali atas namaku sejak air ketubanku pecah dua jam lalu," ucap Mayang tenang sembari membiarkan para perawat mengambil bayinya untuk dibersihkan dan memberikan perawatan medis darurat padanya. "Kau adalah penyusup di sini sekarang, Baskara. Dan menurut hukum yang kau gunakan untuk menjebakku... kau baru saja melakukan penyekapan dan malpraktik terhadap istrimu sendiri."
Tim medis segera bekerja cepat. Mayang diberikan bantuan oksigen dan infus pereda nyeri. Di tengah rasa kantuk akibat obat yang mulai bekerja, Mayang menonton bagaimana Baskara diseret keluar dari penthouse miliknya sendiri.
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Mayang! Aku suamimu!" teriak Baskara sembari memberontak saat borgol melingkar di tangannya.
"Suamiku?" Mayang menatap Baskara untuk terakhir kalinya. "Pria yang ingin membuang anaknya sendiri ke asrama terpencil bukan suamiku. Dia hanyalah kesalahan masa lalu yang baru saja selesai kuperbaiki."
Baskara dibawa pergi, suaranya yang penuh kemarahan perlahan menghilang di balik pintu yang tertutup rapat. Ruangan yang tadinya penuh ketegangan kini berubah menjadi ruang perawatan medis yang sibuk namun tenang.
Dokter menghampiri Mayang, memberikan bayi perempuannya yang sudah bersih dan dibungkus selimut sutra merah muda. "Dia sangat sehat, Nyonya M. Dan... Nyonya juga sudah stabil."
Mayang memeluk bayi itu, lalu menoleh ke arah kamar sebelah di mana Aira baru saja terbangun dan dibawa masuk oleh salah satu perawat. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Mayang merasakan kedamaian yang murni. Tidak ada Aris, tidak ada Gunawan, dan tidak ada Baskara. Hanya dia dan anak-anak perempuannya.
**
Pagi mulai menyingsing di Jakarta. Cahaya emas matahari terbit menyinari kaca-kaca Menara Mega Kuningan. Di dalam, Mayang duduk di kursi kebesarannya, mengenakan jubah mandi putih bersih, memangku kedua putrinya. Di layar monitor, berita pagi ini bukan lagi tentang kehebatan Baskara, melainkan tentang penangkapan sang investor atas kasus pemerasan dan kekerasan dalam rumah tangga, serta kemunculan kembali "Nyonya M" sebagai pemegang kekuasaan tunggal.
Mayang mengambil ponselnya, mengirimkan satu pesan singkat ke pengacaranya di London: "Bawa kedua anak laki-lakiku pulang. Identitas mereka sudah kusiapkan. Kerajaan ini milik mereka semua sekarang."
Ia meraba perutnya yang kini sudah kosong, namun penuh dengan bekas luka yang membanggakan. Persalinan keempatnya bukan hanya melahirkan seorang bayi, tapi melahirkan kembali jiwanya yang sempat hilang. Ia telah membayar harga yang sangat mahal—darah, air mata, dan rintihan di bawah dominasi pria-pria serakah. Namun sekarang, ia adalah pemenangnya.
"Lihat, Sayang," bisik Mayang pada bayi di pelukannya. "Dunia ini luas, dan tidak akan ada lagi pria yang bisa membeli rahimmu atau suaramu. Karena Mamah sudah menghancurkan mereka semua untuk kalian."
Mayang Puspita Sari, sang Ratu dari Mega Kuningan, tersenyum menatap masa depan. Takhta emasnya kini tidak lagi dibangun di atas rintihan, melainkan di atas perlindungan dan cinta seorang ibu yang tak terkalahkan. Jakarta tetap sibuk di bawah sana, namun kini, kota itu berlutut pada satu nama yang tak akan pernah mereka lupakan: Rahayu.
Bersambung....