Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?
Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.
Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - Ruang Interogasi Bau Belerang
Kedua lenganku rasanya mau copot. Sepasang penjaga berbadan raksasa itu tidak tanggung-tanggung dalam memperlakukanku.
Tubuhku diseret kasar, ujung sepatu botku bergesekan dengan lantai semen hingga meninggalkan jejak garis hitam panjang. Mereka membawaku melewati lorong belakang kantor sortir yang biasanya dipakai untuk menumpuk palet kayu rusak, lalu berhenti di depan sebuah pintu besi berkarat yang selama ini kukira hanya pintu gudang genset mati.
Sreeek... Dug!
Bukan ruang genset. Di balik pintu itu ada sebuah lift kargo tua berukuran besar yang dinding-dindingnya berupa terali besi tebal. Salah satu penjaga menekan tombol merah yang tertanam di dinding beton, lalu mendorongku masuk ke dalam hingga aku tersungkur di lantai lift yang licin oleh minyak mesin.
Glek... Klik... Jderr!
Pintu terali besi menutup rapat. Detik berikutnya, lift berguncang hebat sebelum akhirnya bergerak turun dengan kecepatan yang membuat perut mual. Jantungku serasa tertinggal di atas. Kantor sortir, bau kertas resi, dan embusan angin subuh yang akrab di kulitku mendadak lenyap, digantikan oleh kegelapan lorong vertikal yang pengap. Lift ini bergerak turun jauh sekali, menembus lapisan tanah di bawah dermaga kargo Pelabuhan Tanjungbalai. Aku bisa mendengar gema suara air yang samar-samar hulu ke hilir, menandakan posisi kami sekarang sudah berada di bawah permukaan laut.
Ketika lift akhirnya berhenti dengan sentakan keras yang membuat gigiku berantuk, pintu besi terbuka otomatis. Pandanganku langsung disambut oleh pemandangan yang sama sekali tidak pernah kubayangkan ada di bawah pelabuhan kumuh ini.
Sebuah laboratorium rahasia yang teramat luas membentang di depan mata. Tempat ini terasa dingin, steril, dan dipenuhi oleh deretan lampu tabung berwarna putih kebiruan yang menyala terang. Di sepanjang dinding beton yang tebal, pipa-pipa baja berukuran besar meliuk-liuk, mengeluarkan suara dengung mesin yang konstan dan berat. Namun, yang paling membuat dadaku sesak adalah aromanya. Udara di tempat ini berbau belerang yang sangat menyengat, bercampur aduk dengan uap kimia asam yang tajam hingga membuat mataku perih dan tenggorokanku gatal bukan main. Ini bukan sekadar gudang logistik; ini adalah tempat pembantaian ilmiah yang disembunyikan dengan rapi.
Aku diseret lagi melewati lorong kaca tebal, menuju sebuah ruangan kecil yang berada di bagian tengah. Sebuah ruang interogasi. Di tengah ruangan itu, hanya ada sebuah kursi besi berkaki tunggal yang tertanam kokoh ke lantai semen.
"Duduk, Anak Nakal," geram salah satu penjaga sambil mengempaskan tubuhku ke atas kursi besi dingin itu.
Sebelum aku sempat membalas dengan tendangan, penjaga yang lain dengan cepat menarik kedua tanganku ke belakang sandaran kursi. Mereka mengambil gulungan tali nilon tebal berwarna putih, lalu melilit tubuh dan lenganku berkali-kali dengan lilitan yang teramat kencang.
Tali nilon itu bergesekan kasar dengan kulit pergelangan tanganku, langsung meninggalkan rasa perih yang panas. Mereka mengikatku sampai mati kutu, memastikan aku tidak bisa menggerakkan seujung jari pun.
Zzzzt... Zzzzt...
Suara desis motor listrik kursi roda itu kembali terdengar dari balik pintu kaca yang terbuka. Tuan Baron masuk perlahan, meluncur di atas kursi roda elektroniknya yang mewah. Di sampingnya, Roy melangkah dengan dada dibusungkan, masih memegang tali ransel oranyeku seolah benda itu adalah piala kemenangan. Pria tua berpucat pasi itu berhenti tepat dua meter di depanku. Selang oksigen di hidungnya berdesis pelan seirama dengan naik-turunnya dada kurusnya yang ringkih.
"Kau tahu, Lara," Tuan Baron membuka suara, suaranya berupa bisikan serak yang dingin, bergema di antara dinding beton ruang interogasi.
"Aku paling tidak suka dengan barang kurir yang terlambat sampai ke tanganku. Kau sudah menahan paketku terlalu lama di dalam rawa."
Aku menegakkan kepala, mencoba mengabaikan rasa perih di pundakku. Aku menatap mata kelabunya yang mati dengan pandangan menantang. "Kala bukan barang kurir. Dia bukan paket milik Baron Logistics, Tua Bangka!"
Roy melangkah maju, wajahnya berkerut masam mendengar jawabanku. "Heh, tutup mulutmu! Kau itu cuma kurir harian yang digaji recehan di sini. Berani-beraninya kau bicara begitu di depan Tuan Baron!"
Tuan Baron mengangkat satu tangannya yang kurus, memberi isyarat agar Roy mundur. Roy langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat, melangkah mundur dengan patuh seperti anjing herder yang tahu dilempar tulang.
Pria tua itu memajukan kursi rodanya beberapa senti lagi, hingga aku bisa melihat dengan jelas bintik-bintik hitam kematian di kulit wajahnya yang keriput. "Aku tidak punya banyak waktu lagi, Gadis Kecil. Dokter-dokter terbaik di Medan dan Jakarta sudah angkat tangan. Kanker darah ini menggerogoti sumsum tulangku setiap detik. Tubuh tua ini sudah hampir habis."
Aku tertegun sejenak. Informasi itu menghantam kepalaku seperti hantaman balok es. Jadi, ini alasan di balik semua kegilaan ini? Ini motif asli dari perburuan liar yang mengacaukan pelabuhan dan membantai orang-orang di jalur rawa? Bukan karena Baron ingin memamerkan mahluk mitos kepada dunia, melainkan karena ego seorang taipan logistik yang takut mati. Dia ingin bertahan hidup dengan cara merampas kehidupan mahluk lain.
"Naga hulu sungai Asahan bukan sekadar dongeng yang ditulis ayahmu di buku catatan tua itu," lanjut Tuan Baron, matanya tiba-tiba berkilat penuh keserakahan yang menjijikkan. "Di dalam dada cowok bermata emas yang kau sembunyikan itu, ada sebuah inti energi murni. Zat es yang mengalir di dalam tubuhnya memiliki kemampuan untuk meregenerasi sel-sel mati. Aku membutuhkan inti energi itu untuk membersihkan darahku yang sudah busuk ini."
Pria tua itu mencondongkan badannya ke depan.
Bau obat-obatan dan hawa kematian dari tubuhnya terasa begitu dekat, membuat perutku mual.
"Katakan di mana koordinat pasti tempat dia menyimpan inti energinya sekarang. Di bagian dada mana aku harus membedahnya agar inti itu tidak hancur saat diambil? Di mana gubug tempatnya bersembunyi?" Tuan Baron berbisik, nadanya mendesak penuh tekanan. "Sebutkan tempatnya, dan aku pastikan utang sewa kosanmu lunas, kau akan punya agen logistik sendiri di ujung dermaga, dan kau bisa hidup tenang tanpa perlu merangkak di lumpur lagi."
Aku terdiam, membiarkan keheningan menguasai ruangan sejenak. Pikiranku berputar cepat, menyusuri setiap sudut memoriku tentang Kala.
Aku teringat bagaimana cowok itu meringkuk di kasur lantai kosanku yang sempit, bagaimana tangannya yang kaku mencoba melipat kain sarung kotak-kotak milik ayahku, dan bagaimana dia memelukku di tengah badai purnama demi menjagaku tetap hangat. Dia mempercayakan sisik dan hidupnya kepadaku, anak pelabuhan yang bukan siapa-siapa ini. Dan sekarang, pria tua bangka di depanku ini menyuruhku menjualnya demi seonggok uang dan kenyamanan materi?
Monolog di dalam kepalaku berteriak tegas: Tidak akan pernah.
Siasat jalananku mungkin patah pagi ini karena aku terjebak, tapi harga diriku sebagai anak Ibrahim tidak akan pernah bisa mereka beli. Otak pelabuhanku mulai bekerja mencari celah, melihat ke arah kabel-pipa yang melintang di atas langit-langit ruangan. Aku butuh waktu, tapi aku juga tidak akan memberikan kepuasan sedikit pun pada wajah pucat itu.
Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh cairan di dalam mulutku yang terasa pahit karena bau belerang.
"Kau mau tahu di mana inti energinya?" tanyaku dengan nada mengejek, memamerkan senyum paling menantang yang kubisa.
Tuan Baron mengangguk pelan, matanya melebar penuh harap.
Cuih!
Aku memajukan wajahku sekuat tenaga dan meludah tepat ke arah kaca pelindung bening yang terpasang di bagian depan kursi roda elektronik Tuan Baron. Cairan ludah bercampur debu semen mendarat dengan sukses, mengalir turun perlahan di atas permukaan kaca steril itu, tepat di depan mata kelabu sang penguasa pelabuhan.
Suasana di dalam ruang interogasi mendadak membeku seketika. Dengung pipa mesin di dinding seolah mendadak lenyap.
Wajah pucat Tuan Baron berubah drastis menjadi merah padam. Bibirnya yang tipis bergetar hebat karena amarah yang memuncak. Dia tidak pernah diperlakukan sehina ini seumur hidupnya, apalagi oleh seorang gadis kurir kuyu berjaket dekil.
"Dasar jalang kurang ajar!" teriak Roy, wajahnya memerah karena terkejut sekaligus murka melihat tuannya dihina. Dia melangkah maju dengan langkah besar, tangannya meraba kantong celananya, mengeluarkan sebuah botol kaca kecil berisi cairan perak yang berkilau aneh di bawah lampu neon. "Tuan, biar saya yang membuat mulut anak pelabuhan ini bicara!"
Aku menatap botol di tangan Roy dengan dada yang mulai berdebar kencang, namun mataku tetap tidak beralih dari Tuan Baron yang kini sedang menyeka kaca kursi rodanya dengan saputangan sutra sambil gemetar menahan murka. Perlawanan pertamaku sudah dimulai, dan aku tahu, babak berikutnya akan menjadi neraka yang sesungguhnya untukku.