Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Cermin yang Retak, Bayangan yang Menghilang
Dua minggu setelah konsultasi dengan Dokter Andini, Aisha dan Arka mulai menerapkan strategi baru dalam menghadapi Baskara. Mereka tidak lagi bersembunyi ketika bertengkar. Bukan berarti mereka sengaja bertengkar di depan Baskara, tapi ketika perbedaan pendapat terjadi, mereka tidak langsung lari ke kamar atau keluar rumah. Mereka duduk bersama, berbicara dengan suara yang tidak meninggi, dan menyelesaikan masalah di hadapan Baskara.
Awalnya Baskara cemas. Matanya bolak-balik melihat Aisha dan Arka, seperti menunggu kapan ledakan kemarahan akan terjadi. Tapi ledakan itu tidak pernah datang. Yang ada hanyalah diskusi, kadang diselingi dengan tawa, kadang diakhiri dengan pelukan.
Perlahan, ketakutan di mata Baskara mulai memudar. Ia tidak lagi bertanya setiap malam apakah Ayah dan Ibu akan bercerai. Ia tidak lagi terjaga di tengah malam karena mimpi buruk. Ia mulai tertawa lagi, bermain lagi, menjadi Baskara yang dulu.
Aisha bersyukur. Tapi ada satu hal yang mengganjal di hatinya. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Sesuatu tentang Mia.
---
Mia sudah tidak pernah datang ke rumah sejak pernikahan Aisha dan Arka. Ia hanya sesekali mengirim pesan singkat, menanyakan kabar Baskara, atau mengirim foto kue kering buatannya. Tapi dalam beberapa minggu terakhir, pesan itu berhenti. Telepon Mia tidak aktif. Arka juga tidak bisa menghubunginya.
“Mungkin Mia sibuk dengan usahanya,” kata Arka ketika Aisha bertanya. “Kamu tahu sendiri, bisnis kue keringnya mulai berkembang. Mungkin dia sedang fokus.”
Aisha tidak yakin. Ada firasat buruk yang tidak bisa ia hilangkan.
---
Pagi itu, Aisha sedang membersihkan ruang tamu ketika ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal. Ia mengangkat dengan sedikit ragu.
“Halo, selamat pagi. Apakah ini Ibu Aisha Prameswari?” suara perempuan di seberang sana terdengar profesional.
“Iya, saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?”
“Perkenalkan, saya Suster Dewi dari Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa. Saya merawat pasien bernama Mia Dirgantara.”
Jantung Aisha berdegup kencang. “Ada apa dengan Mia?”
“Pasien Mia Dirgantara mengalami kekambuhan. Ia dibawa ke rumah sakit tiga hari yang lalu oleh tetangganya. Ia dalam keadaan psikotik akut. Kami sudah menghubungi Bapak Arka Dirgantara, tapi nomor beliau tidak aktif. Apakah Ibu bisa memberi tahu beliau?”
“Saya akan sampaikan. Tapi sebelumnya, bagaimana kondisi Mia sekarang?”
“Kondisinya sudah mulai stabil. Kami memberinya obat penenang dan terapi intensif. Tapi ia masih belum mau bicara. Ia hanya diam, menatap langit-langit, kadang menangis tanpa suara.”
Aisha menutup matanya. “Apakah saya boleh menjenguk?”
“Boleh, Bu. Jam besuk mulai pukul dua siang.”
---
Aisha segera menghubungi Arka. Pria itu sedang di kantor, mengerjakan proyek vila di Lombok.
“Arka, Mia kambuh. Dia di Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa.”
“Apa? Bagaimana bisa? Kemarin aku masih bicara dengannya. Dia baik-baik saja.”
“Aku tidak tahu. Tapi suster bilang Mia dalam keadaan psikotik akut. Kita harus ke sana.”
“Baik. Aku jemput kamu jam satu.”
---
Jam satu siang, Arka tiba di rumah. Wajahnya pucat, matanya cemas. Aisha sudah siap dengan jaket tipis dan tas kecil berisi air minum.
“Baskara bagaimana?” tanya Arka.
“Aku titip pada Tante Ningsih. Dia akan jaga Baskara sampai kita pulang.”
Mereka berangkat ke rumah sakit jiwa, mobil melaju cepat di jalanan Jakarta yang macet. Aisha menggenggam tangan Arka, mencoba menenangkan pria yang tangannya sedikit gemetar.
“Mia akan baik-baik saja, Arka.”
“Aku takut, Aisha. Aku takut kehilangan dia lagi. Aku sudah kehilangan Sari dan Cahaya. Aku tidak bisa kehilangan Mia juga.”
“Kita tidak akan kehilangan Mia. Kita akan bantu dia.”
---
Di rumah sakit, mereka disambut oleh Suster Dewi, seorang perawat ramping dengan kacamata dan senyum tipis.
“Bu Aisha, Pak Arka, terima kasih sudah datang. Pasien Mia ada di ruang perawatan intensif. Silakan ikut saya.”
Mereka berjalan menyusuri koridor panjang, melewati ruangan-ruangan dengan pintu tertutup rapat. Bau antiseptik menyengat, membuat Aisha sedikit pusing.
Suster Dewi berhenti di depan pintu nomor 17. “Mia ada di dalam. Tapi saya ingatkan, kondisinya masih labil. Jangan memaksa dia bicara. Jika dia tidak mau merespons, jangan memaksanya.”
Arka mengangguk. Ia membuka pintu pelan-pelan.
Mia terbaring di tempat tidur putih, rambutnya kusut, wajahnya pucat, matanya terbuka menatap langit-langit. Di pergelangan tangannya terpasang infus. Beberapa alat medis terhubung ke tubuhnya, memantau detak jantung dan tekanan darah.
“Mia,” panggil Arka pelan.
Mia tidak merespons. Matanya tetap menatap langit-langit.
“Mia, ini Arka. Aku datang menjengukmu.”
Mia masih diam. Aisha mendekat, duduk di kursi samping tempat tidur. “Mia, ini Aisha. Kami di sini untukmu. Kamu tidak sendirian.”
Mia menggerakkan matanya, menatap Aisha sekilas, lalu kembali ke langit-langit. Tidak ada kata-kata, hanya tatapan kosong yang membuat Aisha merinding.
“Suster, apa yang terjadi pada Mia?” tanya Arka.
Suster Dewi menghela napas. “Menurut tetangganya, Mia mulai menunjukkan perilaku aneh sekitar seminggu yang lalu. Ia tidak mau keluar rumah, tidak mau makan, hanya duduk di kamar sambil memeluk bantal. Kemudian tiga hari yang lalu, ia berteriak-teriak di tengah malam, mengatakan bahwa ada orang yang ingin membunuhnya. Tetangganya panik dan membawanya ke sini.”
“Apakah ada pemicunya?” tanya Aisha.
“Kami belum tahu pasti. Tapi dari hasil asesmen awal, ada kemungkinan Mia berhenti minum obat beberapa minggu terakhir. Mungkin karena ia merasa sudah sembuh, atau mungkin karena alasan lain. Kami masih menyelidiki.”
Arka menutup matanya. “Aku gagal lagi. Aku seharusnya lebih memperhatikan Mia.”
“Ini bukan salahmu, Arka,” kata Aisha. “Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk minum obat jika mereka tidak mau.”
“Tapi aku bisa mengingatkannya. Aku bisa lebih sering mengeceknya. Aku sibuk dengan pernikahan kita, dengan pekerjaan, sampai aku lupa pada Mia.”
Aisha meraih tangan Arka. “Kita hadapi ini bersama. Tidak ada yang salah sendirian.”
---
Mereka duduk di ruang perawatan Mia selama dua jam. Mia masih belum bicara, hanya sesekali menggerakkan mata atau menghela napas panjang. Tapi ketika Arka menyebut nama Baskara, ada kilatan di mata Mia. Kilatan yang cepat hilang, tapi Aisha sempat menangkapnya.
“Mia, Baskara menanyakan kabar bibinya,” kata Aisha hati-hati. “Dia bilang, dia rindu kue kering buatanmu.”
Air mata Mia jatuh. Ia menoleh, menatap Aisha. Bibirnya bergetar, seolah ingin berkata sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar.
“Tidak usah dipaksakan, Mia,” kata Aisha. “Kami di sini. Kami tidak akan pergi.”
Mia menutup matanya, dan air matanya terus mengalir. Aisha memegang tangannya, membiarkan Mia menangis dalam diam.
---
Ketika mereka hendak pulang, Suster Dewi memanggil mereka ke ruang konsultasi.
“Bu Aisha, Pak Arka, kami ingin meminta persetujuan Ibu dan Bapak untuk memindahkan Mia ke ruang perawatan jangka panjang. Kondisinya membutuhkan pengawasan intensif, setidaknya selama tiga bulan ke depan.”
“Apakah dia bisa sembuh?” tanya Arka.
“Kemungkinan sembuh selalu ada, Pak. Tapi butuh waktu dan dukungan dari orang-orang terdekat. Mia harus minum obat secara teratur, menjalani terapi, dan memiliki lingkungan yang mendukung.”
“Kami akan mendukungnya,” kata Aisha tegas. “Apa pun yang dibutuhkan Mia, kami akan usahakan.”
Arka mengangguk. “Saya setuju dengan pemindahan ini. Tolong rawat Mia sebaik mungkin.”
---
Di perjalanan pulang, Arka tidak banyak bicara. Aisha tahu pria itu sedang bergumul dengan rasa bersalah. Ia tidak memaksa Arka untuk bicara. Ia hanya menggenggam tangan Arka, memberinya kehangatan yang ia butuhkan.
“Aisha, aku takut,” kata Arka akhirnya.
“Takut apa?”
“Aku takut Mia tidak akan pernah sembuh. Aku takut dia akan menghilang dari hidupku, seperti Sari dan Cahaya.”
“Mia berbeda, Arka. Mia punya kita. Dia punya Baskara. Dia punya harapan.”
“Apakah harapan cukup?”
“Harapan saja tidak cukup. Tapi harapan ditambah dengan perjuangan, dukungan, dan cinta... itu lebih dari cukup.”
Arka tersenyum tipis. “Kau menguatkanku, Aisha.”
“Kita saling menguatkan, Arka. Itu artinya berkeluarga.”
---
Baskara sudah menunggu di teras ketika mobil Arka memasuki halaman. Anak itu berlari, memeluk Arka begitu pintu mobil terbuka.
“Ayah, kenapa lama sekali? Aku kangen.”
“Maaf, Nak. Ayah ada urusan.”
“Urusan apa, Ayah?”
Arka menatap Aisha. Aisha mengangguk pelan.
“Nak, Bibi Mia sakit. Dia di rumah sakit. Ayah dan Ibu tadi menjenguknya.”
Baskara terdiam. Wajahnya berubah—antara takut dan sedih. “Bibi Mia sakit apa, Ayah?”
“Bibi Mia sakit jiwanya, Nak. Dia sedih, dia takut, dia butuh istirahat. Doakan dia cepat sembuh, ya.”
Baskara mengangguk. “Aku doakan setiap hari, Ayah. Aku juga mau jenguk Bibi Mia.”
“Nanti, kalau Bibi Mia sudah lebih baik. Sekarang dia masih butuh banyak istirahat.”
Baskara memeluk Arka lagi. “Aku sayang Bibi Mia, Ayah. Meskipun dia pernah jahat, dia tetap bibiku.”
Arka terisak. Ia memeluk Baskara erat-erat. “Terima kasih, Nak. Bibi Mia beruntung punya keponakan sebaik kamu.”
---
Malam harinya, setelah Baskara tidur, Aisha dan Arka duduk di ruang keluarga. Lampu hanya satu yang menyala, memberikan cahaya temaram.
“Arka, aku ingin memindahkan Mia ke rumah sakit yang lebih baik. Mungkin di Jakarta, biar kita bisa lebih sering menjenguk.”
“Tapi biayanya mahal, Aisha.”
“Kita punya tabungan. Aku juga bisa menambah orderan katering. Yang penting Mia mendapatkan perawatan terbaik.”
Arka menatap Aisha, matanya penuh haru. “Kau sungguh wanita luar biasa, Aisha.”
“Aku tidak luar biasa. Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang benar untuk orang yang kita sayangi.”
Mereka berdua diam. Di luar, angin malam berhembus, membawa suara jangkrik yang sayup.
“Aisha, aku mau bertanya sesuatu.”
“Apa?”
“Apa kau tidak takut? Kita menghabiskan banyak uang untuk Mia, sementara kita juga perlu memikirkan masa depan Baskara.”
Aisha tersenyum. “Uang bisa dicari lagi, Arka. Tapi kesempatan untuk membantu Mia sembuh, untuk memberinya kesempatan kedua, itu tidak akan datang dua kali.”
Arka meraih tangan Aisha. “Aku mencintaimu, Aisha. Lebih dari apa pun.”
“Aku juga mencintaimu, Arka. Itu sebabnya aku peduli pada orang yang kau cintai.”
---
Keesokan paginya, Aisha dan Arka pergi ke Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa lagi. Mereka ingin berbicara dengan dokter yang merawat Mia, mendiskusikan kemungkinan pemindahan ke rumah sakit yang lebih lengkap fasilitasnya.
Tapi ketika mereka tiba di ruang perawatan Mia, tempat tidur itu kosong.
Sprei putih bersih tanpa lipatan, bantal tergantung rapi, dan tidak ada tanda-tanda seseorang pernah terbaring di sana.
Aisha berlari ke ruang perawat. “Suster, di mana Mia? Pasien di kamar 17, Mia Dirgantara.”
Suster Dewi menatapnya dengan wajah pucat. “Bu, Mia dipindahkan ke ruang isolasi tadi malam. Kondisinya memburuk.”
“Memburuk bagaimana?”
Suster Dewi ragu. “Mia... Mia mencoba melukai dirinya sendiri. Dia memukul kepalanya ke dinding berulang kali. Kami harus memberinya obat penenang dosis tinggi dan memindahkannya ke ruang isolasi untuk keamanannya sendiri.”
Aisha menutup mulutnya dengan tangan. Arka bersandar di dinding, wajahnya pucat pasi.
“Boleh kami melihatnya?” tanya Arka, suaranya parau.
“Boleh, tapi hanya dari luar ruangan. Tidak boleh masuk.”
Mereka berjalan ke ruang isolasi. Sebuah ruangan kecil dengan dinding berlapis busa, seperti ruangan di rumah sakit jiwa yang sering terlihat di film-film. Mia terbaring di tempat tidur yang rendah, tangan dan kakinya diikat dengan tali pengaman lembut. Matanya tertutup, dadanya naik turun perlahan.
“Mia,” bisik Arka, tidak yakin apakah Mia bisa mendengarnya.
Mia tidak bergerak.
“Mia, ini Arka. Aku di sini. Aisha juga di sini. Kami tidak akan pergi. Kami akan menjagamu.”
Air mata Arka jatuh. Aisha memegang tangannya, memberinya kekuatan.
Mia menggerakkan kepalanya sedikit. Matanya terbuka, menatap ke arah pintu kaca tempat Arka dan Aisha berdiri. Tidak ada ekspresi di wajahnya, hanya tatapan kosong yang membuat bulu kuduk Aisha berdiri.
Lalu Mia tersenyum.
Senyum yang aneh. Bukan senyum bahagia, bukan senyum sedih. Senyum yang penuh misteri, seolah Mia tahu sesuatu yang tidak mereka ketahui.
“Mia?” panggil Aisha lagi.
Mia menutup matanya. Senyum itu masih tersisa di bibirnya.
Suster Dewi menarik mereka ke samping. “Sebaiknya Ibu dan Bapak pulang dulu. Kondisi Mia masih labil. Kami akan menghubungi Ibu jika ada perkembangan.”
Aisha mengangguk. Tapi ia tidak bisa menahan rasa penasarannya. Senyum Mia itu tidak biasa. Itu bukan senyum orang yang sedang kambuh.
Ada sesuatu yang Mia sembunyikan.
Dan Aisha bertekad untuk mencari tahu.