NovelToon NovelToon
MASUK KE DUNIA NOVEL

MASUK KE DUNIA NOVEL

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi Wanita / Masuk ke dalam novel
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Karin seorang wanita karir, dia mendoktrin dirinya sendiri agar harus berkerja keras, tidak perlu memikirkan yang namanya pernikahan.

Dan ya, di umurnya yang sudah 30 tahun, dia masih jomblo alias belum menikah. Sedangkan teman-temannya yang seumuran sudah memiliki anak dua.

Karin merasa, menikah dan punya anak akan mengganggu pekerjaannya. Sehingga dihari cutinya, dia hanya tinggal di dalam kamar membaca novel.

"Ck. Makanya jangan menikah jika belum siap mengurus anak!" tegur Karin sambil melempar Tabnya ke atas kasur.

Dia sedang membaca novel online, yang berjudul ( Pembalasan Tiga Penjahat )

Karin tertidur setelah mambaca novel itu sampai tamat. Tapi saat membuka mata, dia sudah berada di tempat yang berbeda.

"Sial!"

Penasaran kan? Ayo ikuti perjalanan Karin yang menjelajahi dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Merekrut Pekerja

Tiba di Desa, Nan Wei minta Paman Tao untuk menurunkannya di depan rumah Tabib Rong. Dia ingin menanyakan maksud dari ucapannya kemarin.

Setelah mengetuk pintu beberapa kali, baru pintu terbuka. Muncullah Tabib Rong dengan tangan yang sedang memegang tanaman obat.

"Oh Nan Wei, masuklah..!" pintanya sambil berjalan lebih dulu.

Nan Wei masuk dan langsung mencium berbagai aroma obat, rumahnya bersih dan rapi, terlihat jelas, jika Tabib Rong mencintai kebersihan, apalagi dia tinggal seorang diri.

Setelah mencuci tangan, Tabib Rong duduk di ruang tamu dan meletakkan sebuah kertas yang bersikan sebuah alamat.

"Kamu datang untuk menanyakan perihal Guru untuk anak-anakmu kan?" tanya Tabib Rong seraya menebak.

"Ya!" Melihat Tabib Tong yang tidak basa basi, maka dia langsung mengiyakannya.

"Aku punya kenalan di kota. Cari alamatnya yang ada di situ! Dan tunjukkan plakat ini, agar dia tahu, kalau aku menyuruhmu!"

Nan Wei mengambil kertas dan plakat itu tanpa banyak tanya. Orang-orang yang menggunakan komunikasi menggunakan plakat biasanya orang kalangan atas.

"Tabib Rong, sebelum aku mencarinya. Aku akan mengatakan lebih dulu, jika bukan cuman anak-anakku yang ingin sekolah. Tapi juga kedua keponakanku!"

Tabib Rong malah tertawa lalu berkata. "Itu malah bagus, makin banyak, maka dia makin senang!"

"Apa maksudnya?"

"Karena orang itu, dulunya mengajar di sekolah. Oh ya, mungkin biayanya akan sedikit lebih mahal dari bayar bulanan sekolah!" jelasnya.

"Tidak masalah.. Asalkan anak-anak bisa belajar dengan baik dan aman!" kata Nan Wei dengan santai, karena saat ini dia tidak kekurangan uang untuk menyekolahkan mereka semua.

"Bagus..!" katanya sambil mengangguk, dia sangat suka jika ada orang tua yang sangat mementingkan sekolah anak-anaknya.

"Terima kasih. Kalau begitu aku pamit dulu! Oh iya ini, silahkan Tabib Rong mencicipinya!" Nan Wei meletakkan sebungkus Keripik ubi di atas meja lalu keluar.

Tabib Rong membukanya, dan langsung mencicipinya tanpa ragu. Matanya terbelalak, makanan itu sangat enak, seakan-akan mulutnya ingin lagi dan lagi.

Ternyata seenak itu, pantas saja Nan Wei langsung menyekolahkan anak-anaknya padahal mereka baru berbisnis beberapa hari.

"Ternyata makanan ini yang sedang jadi rebutan di Kota." Dia mendengarnya saat ke kota membeli obat-obatan.

"Haah, ini kayaknya digoreng!" tebak Tabib Rong karena meraksakan tangan dan mulutnya yang sedikit berminyak.

Tabib Rong terdiam, jika menggoreng dalam jumlah banyak pasti membutuhkan banyak minyak, dan saat ini minyak sangat mahal.

"Rasa asin ini juga pasti dari garam! Apa dia membelinya di kota? Tapi ini membutuhkan modal yang banyak!"

Tabib Rong jadi makin penasaran, dia sempat bertanya pada Zhao Yu, tapi anak itu sangat pandai menjaga mulut.

"Hmm,, sangat menarik!"

***

Nan Wei segera pulang ke rumah orang tuanya, dan di halaman sangat banyak orang yang antri untuk menjual kentang.

Warga Desa awalnya tidak percaya dengan informasi yang kepala Desa umumkan di pagi hari, tapi Bibi Tao juga ada situ langsung dan menjelaskan, jika apa yang dikatakan Kepala Desa benar, karena Keluarganya orang pertama yang menjualnya.

Mereka pulang dengan perasaan campur aduk, tapi persaan penuh harap tentu lebih besar. Segera mereka menimbang kentang dan ubi lalu pergi ke sungai untuk mencucinya.

Dan saat tiba di rumah keluarga Xia, mereka melihat Xia Sanlang menyambut dan meminta mereka untuk antri, lalu mulai menimbang dan menghitung.

Orang yang barisan pertama menjual sebanyak 50 kg, jadi dia menerima uang sejumlah 2 tael perak ditambah 5 koin tembaga karena sudah bersih dicuci.

Dia merasa menyesal hanya membawa 50 kg saja, dan semua warga merasakan hal yang sama, tapi saat mengingat perkataan Kepala Desa, yang masih ada hari esok, mereka kembali bersemangat.

"Adik akhirnya kamu pulang juga" ucap Xia Sanlang dengan semangat, seolah-olah melihat penyelamatnya.

"Ya. Apa ada masalah?"

"Oh tidak, tidak.. Aku hanya merasa sedikit gugup.!" ujarnya.

"Nan Wei, terima kasih sudah mau membeli kentang kami. Jadi kami tidak perlu ke kota!" sela salah satu warga dengan ramah.

"Ya benar. Kami bisa hemat uang dan tenaga.!" yang lainnya ikut menimpali.

"Hmm syukurlah kalau kalian merasa terbantu. Mari bekerja sama dengan baik!" sahut Nan Wei tak kalah sopan.

Dia berharap tidak ada warga yang melakukan kecurangan, atau merasa iri dengan bisnisnya, apalagi mereka pasti akan tau harga kentang gorengnya sangat mahal.

"Ya yaa.. Kami pasti tidak akan mengecewakanmu!" balasnya.

Nan Wei mengobrol dengan mereka sejenak, lalu berpamitan untuk melihat pekerja di halaman samping.

Bibi Tao hanya datang bersama dengan Menantunya, karena dia tidak ingin orang lain menggunjingnya karena serakah.

Dan Ibu Xia sudah merekrut 8 orang yang menurutnya rajin dan bersih dalam kesehariannya. Jadi total orang luar yang bekerja adalah 10 orang.

Dan 10 orang itu dibagi dua kelompok, jadi saat pembagian upah, akan dibagi rata. Misalnya, kelompok Bibi Tao mendapatkan 500 koin tembaga, maka harus dibagi 5.

"Apa ada masalah?" tanya Nan Wei pada Ibunya.

"Tidak ada. Semuanya terkendali! Bagaimana pesanan besok?" tanya Ibu Xia balik.

"Setiap hari, pesanan 100 kg kentang goreng dan keripik ubi. Dan 1000 kg untuk seminggu sekali!" jelas Nan Wei.

Ibu Xia dan beberapa orang lainnya terkejut begitu mendengar jumlahnya. Itu berarti, mereka bisa bekerja setiap hari dan mendapatkan upah.

"Itu.. Kenapa banyak sekali?" tanya Ibu Xia dengan tubuh gemetar, tapi wajahnya tampak sangat bahagia.

"Karena akan di kirim ke berbagai kota, mungkin juga sampai ke Ibu Kota.!"

Mendengar itu, mereka makin semangat. Dan Nan Wei meminta Ibunya untuk mencari 5 orang lagi.

"Oh baiklah.. Mungkin Ibu akan cari yang benar-benar membutuhkan pekerjaan.!" ucapnya.

Nan Wei mengajak Ibu Xia untuk ikut ke rumahnya, dia ingin membahas masalah Zhao Yu yang sudah menjadi murid Tabib Rong.

***

"Ada apa? Kenapa ajak ibu ke rumahmu?" tanya Ibu Xia dengan serius. Dia langsung paham situasi, karena jika bukan hal penting, Nan Wei bisa langsung mengatakannya tanpa menjauh dari orang-orang.

"Ibu, kamu sudah tau jika Zhao Yu sedang belajar pengobatan?" tanyanya.

"Ha APA? Pengobatan? Zhao Yu?" Ibu Xia terperanjat.

Melihat responnya, Nan Wei langsung menebak jika Ibunya tidak tahu tentang hal itu. Nan Wei kemudian menceritakan Tabib Rong yang menjadikan Zhao Yu sebagai muridnya.

"Benarkah? Kalau memang benar, kita harus melakukan upacara penerimaan murid!" sahut Ibu Xia. Dia tidak menyangka anak-anak itu sangat pandai menyembunyikannya.

Nan Wei mengangguk setuju, karena dia tidak tahu apa yang perlu disiapkan, yang dia dengar, harus menyiapkan 7 macam makanan dan di sajikan di depan Guru.

"Kamu tenang saja, Biarkan Kakak ipar Kedua yang memasaknya. Tapi kapan rencanamu? Apa harus disembunyikan?"

"Besok pagi saja! Tidak perlu disembunyikan, agar semua orang bisa melihat bagaimana Zhao Yu memulai belajar tentang pengobatan.!"

Ibu Xia mengangguk lalu berkata. "Hmm baiklah.. Rasanya benar-benar mimpi!" Dia tersenyum dan menatap Nan Wei penuh syukur.

.

.

.

.

1
Sribundanya Gifran
lanjut thor💪💪💪💪
Mamta Okta Okta
lanjut thor semangat berkarya ya 💪💪💪
Mamta Okta Okta
lanjut thor semangat 💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor yg bnyak😍😍😍💪💪💪💪
Fii
Kalau ada typo komen yaa..🙏
Chen Nadari
Buat )
Chen Nadari
semangat up thora
Chen Nadari
mampir thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!