Seorang anak yatim yang tumbuh tanpa arah…
kembali sebagai sosok yang tak bisa diabaikan.
Bima pemuda sederhana dengan senyum tenang, pulang ke kampung halamannya setelah bertahun-tahun merantau. Ia hanya ingin hidup damai… membuka tempat latihan, dan menjalani hari seperti orang biasa.
Namun kampung itu… sudah berubah.
Di balik senyapnya desa, kekuasaan gelap mengakar. Orang-orang tak lagi bebas. Ketakutan bersembunyi di setiap sudut.
Dan tanpa ia sadari…
kepulangannya justru mengusik sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.
Diserang tanpa alasan. Diawasi tanpa henti.
Bahkan darahnya sendiri… menginginkan kematiannya.
Tapi mereka melakukan satu kesalahan besar.
Mereka mengira Bima masih belum bangkitkan yang ada dalam dirinya.
Padahal…
di balik sikap polosnya, tersembunyi kekuatan yang besar dalam dirinya yang sedang terkunci.
Saat kegelapan mulai bergerak…
dan para pemburu datang mengincar…
Bima tidak lagi berlari.
Ia berdiri.
Dan untuk pertama kalinya, dunia akan melihat kembangkitan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHILANGAN
Hening.
Benar-benar hening.
Seolah dunia ikut berhenti… menghormati kepergian itu.
Bayu membeku, Tangannya masih menopang tubuh Bima.
Namun kini… terasa lebih berat.
Randy menunduk.
“Pak… Kades…” suaranya bergetar.
Dimas mengepalkan tangan.
Giginya gemeretak.
Andi memejamkan mata sejenak.
Sementara Wahyu hanya diam.
Namun tatapannya… berubah, ebih dalam.
Lebih dingin.
Bima tidak bergerak.
Matanya terbuka.
Menatap kosong ke arah tubuh pamannya.
“…paman…” suaranya hampir tak terdengar.
Tubuhnya gemetar pelan, Bukan karena kekuatan.
Namun karena… kehilangan.
Guru berdiri di samping tubuh Pak Kades.
Menatapnya lama.
Lalu…
menutup mata pria itu dengan tangannya sendiri.
“Dia pergi dengan tenang,” ucapnya pelan.
Namun kalimat itu…
tidak cukup.
Tidak akan pernah cukup.
Bima perlahan mencoba berdiri.
Bayu menahannya.
“Jangan… lu belum kuat”
“Aku… harus…” potong Bima lemah.
Dengan sisa tenaga…
ia berdiri.
Langkahnya goyah.
Namun ia tetap maju.
Satu langkah.
Dua langkah.
Hingga akhirnya…
berlutut di samping tubuh pamannya.
Tangannya terangkat.
Berhenti di udara.
Seolah ragu…
untuk menyentuh kenyataan.
“…aku telat…” bisiknya.
Suaranya retak.
“…aku selalu telat…”
Air matanya jatuh.
Pelan.
Namun terasa berat.
Andi menoleh.
Tidak sanggup melihat lebih lama.
Randy mengusap wajahnya kasar.
“Brengsek…” gumamnya.
Dimas menendang tanah.
Frustrasi.
Wahyu akhirnya bicara.
“…ini bukan kebetulan.”
Semua menoleh.
Guru sedikit melirik.
Wahyu melanjutkan.
“Mereka sengaja bikin dia kehilangan kendali…”
“…biar kita lengah.”
Andi mengangguk pelan.
“…dan target sebenarnya… bukan cuma Bima…”
Tatapan mereka perlahan kembali ke tubuh Pak Kades.
Guru menarik napas dalam.
Lalu berkata
“Dia tahu.”
Semua terdiam.
“Apa maksudnya?” tanya Bayu.
Guru menatap mereka satu per satu.
“Pamannya Bima… tahu sesuatu.”
Bima mengangkat wajahnya sedikit.
Matanya merah.
“K… tahu apa…?”
Guru tidak langsung menjawab.
Namun kali ini…
ia tidak menghindar.
“…tentang asal-usulmu.”
Angin kembali berhembus.
Namun terasa berbeda.
Lebih dingin.
Lebih menusuk.
Bima membeku.
“…asal-usul…?”
Guru mengangguk pelan.
“Orang tuamu… bukan orang biasa.”
Kalimat itu jatuh… seperti petir.
Randy membelalak.
“Hah…?”
Dimas mengerutkan kening.
“Jangan bilang…”
Guru melanjutkan.
“Mereka bagian dari sesuatu yang lebih besar.”
“…sesuatu yang sudah lama diburu.”
Bima mengepalkan tangan.
Tanah di bawahnya sedikit retak.
“…jadi… selama ini…”
“…aku ini apa…?”
Hening.
Untuk beberapa detik.
Lalu Guru menjawab, Dengan suara rendah.
Namun jelas.
“Kau… adalah kunci.”
DUUUMM!!!
Seolah kata itu sendiri memiliki berat.
Semua terdiam.
Bayu mundur selangkah.
“…kunci… buat apa…?”
Guru menatap ke arah hutan.
Gelap.
Namun terasa hidup.
“…untuk membuka sesuatu yang seharusnya tetap tertutup.”
Bima menunduk.
Napasnya berat.
Potongan-potongan ingatan kembali muncul.
Jeritan.
Darah.
Dan sekarang…
semuanya mulai masuk akal.
Namun
juga semakin menakutkan.
Tiba-tiba
WUSH…
Angin berhembus lagi.
Namun kali ini…
membawa aura yang berbeda.
Lebih dingin.
Lebih tajam.
Guru langsung mengangkat kepala.
Tatapannya berubah serius.
“Mereka akan datang lagi mencari bima…”
“saat itu tiba bima harus bisa menguasai amarah nya agar bisa ia kendalikan,”
Andi terdiam,
“lalu....?” tanya Bayu pelan
“bagaimana caranya,”
Guru masih terdiam menatap mereka semua.
“kalian berempat...?” tanya Guru dengan pelan
“perkenal kan saya Andi dan dia Bayu,”
“saya Dimas.”
“saya Wahyu dan berdiri di samping saya Randy,”
“kami semua muridnya bima.” ucap Dimas
Guru terdiam dan merasa legah.
“anak ini sudah banyak berubah,” gumamnya
saat itu Bima masih menunduk di depan jasad pamannya dan merasa sangat bersalah.
karna beberapa hari lalu bahkan sampai sebelum pamannya meninggal dia mencurigai pamannya lah yang membunuh orang tuanya.
Sampai Sosok misterius itu muncul pun bima masih meragukan pamannya, walaupun setelah pamannya menceritakan semuanya tentang masalalu.
Hingga saat ini dia melakukan itu untuk melindungi bima dari pada incaran mereka.
“aaaaaaakh....”
Bima berteriak buka kehilangan kendali, tapi dia menyesal.
Menyesal baru menyadari setelah pamannya meninggal.
dia mengingat kembali ingatan masa kecilnya saat paman menggendongnya.
Saat orang tuanya belum meninggal, saat-saat masa bahagia mereka.
Bima mengangkat pamannya berjalan pulang.
Dia terdiam, seperti saat ayah dan ibunya meninggal dia tidak bisa mengeluarkan Ari matanya.
Dia menggendong pamannya sambil mengingat masa lalu mereka bersama.