Demi menyelamatkan hak waris adiknya dari keserakahan sang kakak tiri, seorang CEO wanita yang berhati dingin terpaksa terjebak dalam pernikahan kontrak. Ia harus bersanding dengan pengacara mendiang ayahnya—pria yang memandangnya dengan kebencian, namun memegang kunci kekuatan hukum yang ia butuhkan.
Tempaan hidup yang keras telah membentuknya menjadi sosok yang tegas dan tak kenal lelah. Di bawah atap yang sama, tak ada ruang bagi cinta, hanya ada dendam yang membara di hati sang suami. Demi ambisi masing-masing, keduanya terpaksa memerankan sandiwara rumah tangga yang sempurna di mata dunia.
Akankah benih cinta tumbuh di sela-sela permusuhan mereka, ataukah perpisahan pahit yang menjadi akhir dari kesepakatan ini?
Mau tahu kelanjutan ceritanya? Jangan lupa baca di sini, ya. 🤗
Jangan lupa, like dan komentarnya sebagai penyemangat Author. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ndo' Anha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. WATACI
Tok! Tok! Tok!
Pintu diketuk pelan, lalu terbuka sedikit demi sedikit. Saat pintu terbuka lebar, Adnan seketika tersentak.
"Apa yang kamu lakukan?" ucapnya sembari segera memalingkan wajah.
"Memangnya kenapa denganku?" sahut Nika heran.
Adnan menjulurkan tangan, menyerahkan sepasang pakaian. "Di sini masih ada aku. Setidaknya jangan melepas semua pakaianmu begitu saja."
Nika menyunggingkan senyum mengejek, lalu menyambar pakaian dari tangan Adnan. Sebelum menutup pintu, ia berucap, "Lagi pula aku masih memakai pakaian dalam, tidak benar-benar telanjang. Dasar lemah!"
Nika hendak membanting pintu, namun sebelum tertutup rapat, tangan Adnan menahannya dengan kuat. Nika menoleh, terkejut. Adnan langsung menerobos masuk dan menyudutkan Nika ke tembok.
"Ingat, ya. Aku ini laki-laki. Sekuat-kuatnya laki-laki, kalau terus kamu goda, dia akan goyah juga. Jadi berhenti melakukan hal sembrono," tegas Adnan.
Jarak mereka begitu intim hingga Nika bisa merasakan deru napas Adnan menerpa wajahnya. Ia terpaku, tak menyangka Adnan akan bereaksi seberani itu.
Pandangan mereka bertemu dalam diam, waktu seolah terhenti. Perlahan, cengkeraman Adnan melemah. Ia kemudian berbalik dan keluar dari kamar mandi begitu saja, seolah tidak terjadi apa-apa.
Nika mengembuskan napas yang sedari tadi terasa tercekat.
Sambil memegangi dadanya, ia menatap nanar ke arah pintu. "Ada apa dengannya? Tiba-tiba sekali," gumamnya kesal, sekaligus bingung.
Tak ingin berpikir terlalu jauh, Nika segera membersihkan diri. Namun saat keluar, ia tidak melihat keberadaan Adnan.
"Ke mana dia?" tanyanya pada Geby.
Geby mendekat sambil membawa sebuah map biru. "Pak Adnan sudah ke ruang rapat, Bu. Mereka sudah menunggu Anda."
"Baiklah, ayo ke sana," ucap Nika sambil melangkah tegas keluar ruangan.
Suasana di Ruang Rapat
Ruang rapat seketika sunyi saat langkah kaki Nika menggema. Semua yang hadir berdiri menyambutnya.
"Selamat siang, Bu Direktur," ucap mereka serempak.
Nika mengedarkan pandangan dingin lalu duduk. Ia meletakkan map di atas meja dengan dentuman yang cukup keras. "Kalian tahu apa yang akan kita bahas kali ini, bukan?" ucapnya penuh otoritas.
Semua orang tertunduk, tak ada yang berani menatap sang atasan.
"Kalian tahu apa yang terjadi di luar sana? Massa bahkan mendemo perusahaan kita. Ini berdampak sangat buruk!" serunya dengan nada meninggi.
Nika bangkit, tatapannya tajam menusuk. "Aku ingin masalah ini selesai sekarang juga. Blokir semua situs yang menyebarkan berita palsu. Dan untuk bagian hukum, aku minta kalian tuntut media yang memfitnah bahwa kita mencampur bahan berbahaya ke dalam produk. Selebihnya, biar aku yang tangani."
Semua mengangguk patuh. Namun, saat Nika hendak meninggalkan ruangan, sosok yang sangat ia kenali melangkah masuk.
"Kak Barra? Sedang apa kau di sini?" Nika menatapnya curiga.
Barra melenggang masuk dengan angkuh. Ia bahkan menduduki kursi pimpinan sambil menyilangkan kaki. "Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh mengunjungi perusahaanku sendiri?"
"Milikmu? Sejak kapan? Apa kau lupa Ayah sudah mengusirmu? Aku yakin kau bahkan tidak lagi dianggap anak olehnya," cibir Nika sambil bersedekap.
Barra berdiri dan mendekat dengan sikap mengintimidasi. "Ayah tidak mungkin bersikap begitu jika tidak ada hasutan dari pelakor seperti ibumu. Dan ya, akui saja, perusahaan ini akan hancur di tanganmu."
Nika berusaha menahan amarah yang memuncak. Selalu saja ibunya yang menjadi sasaran hinaan, padahal dulu ayahnya, Wiguna, yang memohon agar bisa bersama ibunya. Tangannya mengepal kuat di balik meja.
"Kau hanya bisa berkoar mencari celah. Aku tahu ini semua ulahmu. Tapi tenang saja, masalah ini tidak akan lama."
Nika perlahan bangkit dan melingkarkan tangannya di lengan Adnan. Adnan sempat tersentak, namun Nika menahannya dengan kuat.
"Aku dan suamiku yang akan mengatasinya. Jadi, Kak Barra tidak perlu khawatir. Justru perusahaan ini pasti hancur jika jatuh ke tanganmu," ujar Nika dengan senyum miring.
"Kau! Dasar wanita sialan!" hardik Barra. Ia merangsek maju hendak melayangkan pukulan, namun Adnan menangkisnya dengan cepat.
"Tuan Barra, tolong hargai istri saya. Bagaimanapun kita berada di lingkungan perusahaan dan banyak orang melihat. Apa Anda tidak malu?" timpal Adnan dingin sambil mengempaskan tangan Barra.
Barra mengepalkan tangan, menahan emosi yang meluap. "Kalian ...!"
Karena tak bisa berbuat apa-apa, Barra pergi meninggalkan ruangan dengan rasa malu. Namun sebelum benar-benar hilang dari pandangan, ia melontarkan ancaman, "Ingat ini baik-baik. Aku akan melakukan segala cara untuk merebut semua ini kembali. Bersiaplah!"
Tubuh Nika seketika gemetar, namun ia berusaha tetap tegar. Ia merasa gelisah memikirkan rencana jahat apa lagi yang akan dilakukan kakaknya.
————————
Malam itu, Nika pulang lebih awal. Rumah besar itu terasa sunyi meski semua orang sudah berkumpul di ruang makan. Saat mendengar suara mobil memasuki halaman, Nika bergegas bangkit untuk menyambut suaminya.
Langkahnya tiba-tiba terhenti. Mobil itu hanya terparkir di dekat pintu gerbang dengan pintu yang masih terbuka.
Rasa penasaran membuncah. Nika mencoba menghampiri, namun ia tidak menemukan Adnan di dalam mobil.
"Dia ke mana?" gumamnya lirih.
Nika terus berjalan menuju arah taman depan. Seketika, tatapannya berubah tajam dan napasnya tertahan. Di bawah remang-remang lampu jalan, ia melihat Adnan dan Vivian sedang berpelukan erat.