NovelToon NovelToon
Cinta Dititik Nol Rupiah

Cinta Dititik Nol Rupiah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:687
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.

Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.

Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Lampu-lampu di koridor lantai tiga, tepat di depan ruang Intensive Care Unit (ICU) Paru, terasa jauh lebih dingin dan sunyi dibandingkan hiruk pikuk di IGD bawah. Di sini, udara berbau tajam cairan pembersih lantai dan alkohol, menyengat hidung siapa saja yang melintas. Agus duduk di salah satu kursi besi yang dipaku mati ke lantai. Ia menyandarkan kepalanya pada dinding putih yang terasa sangat beku. Matanya menatap kosong ke arah pintu ganda berbahan aluminium yang hanya sesekali terbuka ketika ada petugas medis masuk atau keluar.

Di dalam sana, bapaknya sedang dipasangi berbagai macam alat monitor dan bantuan napas yang lebih canggih. Agus hanya sempat melihat sekilas bayangan bapaknya yang didorong masuk, dikelilingi oleh tabung oksigen besar dan kabel-kabel yang menjuntai. Hatinya terasa seperti diremas. Rasa sakit di pergelangan kaki kirinya kini sudah merambat menjadi rasa kaku yang menjalar hingga ke pinggang, namun ia mengabaikannya. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: bukti transfer dua juta rupiah di ponselnya yang kini sudah mati total.

Agus menunduk, melihat ke arah tangannya yang diletakkan di atas paha. Ia menyadari betapa kotornya penampilannya saat ini. Kaos singletnya yang berwarna kuning kusam kini dipenuhi bercak putih semen yang sudah mengering dan mengeras. Lengan bajunya robek di beberapa bagian, memperlihatkan luka gores yang menghitam karena debu. Bahkan di celana jinsnya, kerak semen menempel tebal di bagian lutut. Ia merasa seperti gundukan sampah yang sengaja diletakkan di tengah ruangan yang serba bersih ini.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah lift di ujung lorong. Suaranya berbeda dengan langkah kaki perawat yang biasanya tenang dan berirama. Ini adalah langkah kaki yang penuh dengan kegelisahan.

Agus menoleh perlahan. Dari kejauhan, ia melihat sosok wanita yang sangat ia kenali. Nor Rahma berjalan cepat menyusuri lorong panjang itu. Ia mengenakan gamis berwarna cokelat tua dengan jilbab berwarna senada. Wajahnya yang biasanya tenang dan cerah kini tampak sangat pucat, dengan mata yang sembab dan napas yang tersengal. Rahma membawa sebuah tas tangan kecil yang didekapnya erat di depan dada.

Agus ingin berdiri menyambutnya, namun saat ia mencoba menumpukan berat badannya pada kayu penyangga, rasa nyeri yang luar biasa kembali menyentak. Ia hanya bisa terduduk kaku, terpaku pada kursinya saat Rahma semakin mendekat.

Rahma berhenti tepat di depan Agus. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap dalam diam. Rahma tampak tertegun, matanya menyapu seluruh penampilan Agus dari rambutnya yang penuh debu putih, wajahnya yang kusam oleh kelelahan, hingga perban kotor di kakinya.

"Mas Agus..." bisik Rahma. Suaranya pecah, ia menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak tangis yang akan meledak.

Agus menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak sanggup menatap mata Rahma. Rasa malu yang ia rasakan saat ini jauh lebih menyakitkan daripada melihat bapaknya muntah darah. "Maafkan saya, Rahma. Kamu tidak seharusnya melihat saya seperti ini. Kamu tidak seharusnya datang ke tempat yang penuh penderitaan ini."

Rahma tidak menjawab. Ia justru melangkah lebih dekat, mengabaikan jarak dan aroma debu semen yang menguap dari tubuh Agus. Ia berlutut di depan Agus, tangannya yang halus menyentuh lengan Agus yang kasar dan kotor.

"Kenapa Mas Agus bicara begitu? Kenapa Mas masih memikirkan soal pantas atau tidak di saat Bapak sedang berjuang di dalam sana?" tanya Rahma dengan suara yang bergetar karena tangis. Air matanya jatuh mengenai kain celana Agus yang kusam.

"Aku merasa menjadi laki-laki yang sangat kecil, Rahma. Aku mengemis padamu untuk nyawa bapakku. Aku berbohong padamu tentang masa depanku. Lihat aku... aku hanya kuli panggul yang bahkan tidak punya uang untuk membayar administrasi rumah sakit," ucap Agus, air matanya kini mengalir deras, membasahi pipinya yang berkerak semen.

Rahma menggelengkan kepalanya dengan kuat. Ia mengambil selembar tisu dari tasnya, lalu dengan sangat lembut ia menyeka air mata di pipi Agus. Ia tidak peduli jika jarinya harus terkena noda hitam atau debu putih dari wajah Agus.

"Mas, dengarkan aku. Uang itu tidak ada artinya. Aku punya karena aku bekerja, dan Mas punya masalah karena sedang diuji. Itu bukan berarti aku lebih tinggi darimu," Rahma menatap mata Agus dengan penuh ketegasan. "Laki-laki yang paling aku kagumi adalah laki-laki yang mau merendahkan egonya demi menyelamatkan orang tuanya. Dan malam ini, Mas Agus membuktikan bahwa Mas adalah laki-laki itu."

Ibu agus yang sejak tadi duduk di ujung kursi tunggu, hanya bisa menatap mereka berdua dengan tatapan haru yang bercampur bingung. Ia menyadari bahwa wanita cantik di depan anaknya inilah yang baru saja mengirimkan uang dua juta rupiah tadi.

"Gus... ini Mbak Rahma?" tanya ibu agus dengan suara lirih.

Agus mengangguk pelan sambil menyeka matanya. "Iya, Bu. Ini Rahma."

Rahma segera berdiri dan mendekati ibu agus. Ia menyalami tangan ibunda Agus dengan takzim, mencium punggung tangan yang kasar dan penuh urat itu. "Ibu, maafkan Rahma baru bisa datang sekarang. Ibu yang sabar ya, insya Allah Bapak akan segera membaik di dalam sana."

Ibu agus memeluk Rahma dengan erat. Isak tangis kedua wanita itu pecah di lorong ICU yang sepi. "Terima kasih, Nak Rahma... terima kasih banyak. Kalau tidak ada Nak Rahma, mungkin Bapak sudah tidak tertolong tadi di bawah. Kami tidak punya apa-apa untuk membalasnya."

"Jangan bicara soal membalas, Bu. Rahma tulus," bisik Rahma di pundak ibu agus.

Agus menyaksikan pemandangan itu dengan perasaan yang sangat kompleks. Di satu sisi, ia merasa sangat bersyukur karena ibunya mendapatkan dukungan moral. Namun di sisi lain, rasa hutang budi itu terasa seperti rantai besi yang melilit lehernya. Ia melihat Rahma seorang wanita yang hidupnya teratur, bersih, dan mapan, sedang memeluk ibunya yang berpakaian daster lusuh dan berbau asap dapur. Kontras itu tetap saja menyakitkan bagi Agus.

Setelah beberapa saat, Rahma kembali duduk di samping Agus. Ia mengeluarkan sebuah kantong plastik dari tasnya yang berisi dua botol minuman isotonik dan beberapa roti gandum.

"Mas minum dulu. Wajahmu sangat pucat. Sejak kapan Mas belum makan?" tanya Rahma lembut.

"Sejak kemarin siang, Rahma," jawab Agus jujur. Ia menerima botol minuman itu, namun tangannya bergetar hebat saat mencoba membukanya.

Rahma mengambil kembali botol itu, membukakan tutupnya, lalu menyerahkannya kembali pada Agus. "Minum pelan-pelan. Mas harus kuat. Kalau Mas sakit, siapa yang akan menjaga Ibu dan Bapak?"

Agus meminum cairan itu, rasanya segar namun tetap meninggalkan rasa pahit di hatinya. Ia melihat ke arah pergelangan kakinya yang kini terasa semakin membengkak di dalam sepatu ketsnya yang jebol. Rahma menyadari arah pandangan Agus.

"Kaki Mas... kenapa bisa sampai biru begitu? Mas tidak bilang di telepon kalau kakimu separah ini," Rahma menatap perban kain Agus yang sudah kotor oleh debu dan darah kering.

"Tersandung di gudang kemarin, Rahma. Terkena sak semen yang jatuh. Tidak apa-apa, sudah biasa," Agus mencoba meredam kekhawatiran Rahma.

"Tidak apa-apa bagaimana? Itu bengkak sekali, Mas! Setelah urusan Bapak agak tenang, Mas harus ke bagian ortopedi untuk rontgen. Aku tidak mau kakimu kenapa-kenapa," perintah Rahma dengan nada yang tidak bisa dibantah.

Agus hanya bisa terdiam. Ia merasa semua keputusannya kini sudah berada di tangan Rahma. Mulai dari biaya rumah sakit bapaknya, hingga urusan kesehatannya sendiri. Kebebasannya sebagai laki-laki yang mandiri seolah-olah sudah hilang, digantikan oleh ketergantungan yang menyakitkan pada wanita yang ia cintai.

Malam semakin larut, jarum jam di dinding lorong ICU menunjukkan pukul dua pagi. Keheningan di lantai tiga itu hanya dipecah oleh suara mesin pendingin udara dan suara langkah kaki perawat yang sesekali lewat. Rahma tetap duduk di samping Agus, membiarkan pundaknya menjadi tempat sandaran bagi Agus yang sesekali terlelap karena kelelahan yang luar biasa.

Di dalam tidurnya yang singkat dan tidak nyenyak, Agus bermimpi. Ia bermimpi sedang berada di sebuah lapangan luas yang penuh dengan tumpukan semen. Ia mencoba memikul sak semen itu, namun kakinya tidak bisa digerakkan. Lalu Rahma datang membawa sebuah payung besar untuk melindunginya dari debu, namun Agus justru merasa semakin sesak karena aroma parfum Rahma yang terlalu wangi dibandingkan dengan bau keringatnya.

Agus terbangun dengan sentakan kecil saat mendengar pintu ICU terbuka. Seorang dokter keluar dengan mengenakan masker dan jubah hijau. Agus segera berdiri, meskipun ia harus menahan rasa nyeri yang luar biasa di kakinya.

"Keluarga Bapak Marjuki?" panggil dokter itu.

Agus, Bu Asmah, dan Rahma segera mendekat. Jantung Agus berdegup sangat kencang, menanti kabar yang akan menentukan hidupnya selanjutnya. Di sampingnya, Rahma menggenggam ujung kemeja biru Agus, memberikan kekuatan yang selama ini Agus cari sendirian di tengah debu semen.

"Kondisi Bapak sudah mulai stabil setelah dipasang ventilator, pendarahannya juga sudah berhasil kami hentikan sementara. Namun, Bapak harus tetap dalam pengawasan ketat selama empat puluh delapan jam ke depan," jelas dokter itu.

Agus mengembuskan napas lega yang sangat panjang. Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding, merasa separuh dari bebannya baru saja terangkat.

"Terima kasih, Dok. Terima kasih banyak," ucap Agus dengan suara parau.

Setelah dokter pergi, Rahma menatap Agus dengan senyum tipis yang tulus. "Dengar kan, Mas? Bapak kuat. Mas juga harus kuat."

Agus menatap Rahma. Di bawah lampu neon lorong rumah sakit yang dingin, wajah Rahma tampak seperti satu-satunya cahaya yang ia miliki. Ia menyadari bahwa malam ini bukan hanya tentang keselamatan bapaknya, tapi tentang kelahiran kembali hubungannya dengan Rahma. Sebuah hubungan yang kini tidak lagi berdiri di atas kepalsuan masa depan, melainkan di atas kejujuran yang paling pahit dan menyakitkan.

"Rahma..." panggil Agus pelan.

"Iya, Mas?"

"Terima kasih. Untuk semuanya. Aku tidak tahu bagaimana harus membayarnya."

Rahma memegang tangan Agus yang kusam, tidak peduli dengan debu semen yang menempel di telapak tangannya sendiri. "Jangan bicara soal bayar, Mas. Cukup tetaplah bersamaku dan jangan pernah berbohong lagi. Itu saja sudah lebih dari cukup bagiku."

Agus terdiam, menatap tangan mereka yang saling bertautan, tangan halus seorang wanita kantoran dan tangan kasar seorang kuli panggul. Di tengah lorong rumah sakit yang sunyi, Agus menyadari bahwa perjuangannya untuk menjadi layak bagi Rahma baru saja dimulai, dan jalan di depannya masih sangat panjang dan penuh dengan debu yang menyesakkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!