NovelToon NovelToon
Terimakasih Cinta

Terimakasih Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / CEO Amnesia
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: Erny Su

"Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, selamanya kita akan tetap bersama" kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran seorang gadis cantik yang berasal dari pinggiran kota.

Dan tempat itu menjadi saksi sejarah dari janji yang pria tampan itu ucapkan.

Dia yang sempat tinggal disana karena sebuah kecelakaan yang merenggut ingatannya, hingga ia ditampung oleh salah satu keluarga dengan kedua putri cantik yang selama ini selalu membantu kedua orang tuanya merawat pria yang entah berasal dari mana.

"Kalau penasaran silahkan ikuti kisahnya 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Pertemuan Dian dengan guru dan juga kepala sekolah Afifah telah usai, saat keluar dari dalam ruangan hingga di perjalanan pulang Dian terus terdiam, hatinya terus bergejolak, bagaimana bisa Afifah melakukan hal yang tidak terpuji saat berada di sekolah.

Seharusnya dalam keadaan berduka seperti ini dia lebih mendekatkan diri pada sang pencipta. Tapi apa yang dilakukan oleh gadis berhijab itu. Dia justru melanggar aturan.

"Ayolah honey, saat ini dia sedang menginjak remaja kenakalan seperti itu sudah biasa terjadi pada anak seusianya"ucap Alex yang langsung menyulut emosi Dian yang sejak tadi dia pendam.

"Biasa kata mu tuan, bagaimana bisa berciuman di dalam lingkungan sekolah itu bisa dibilang biasa? Oh mungkin anda sering melakukan hal seperti itu dulu, jadi menurut anda itu biasa"ujar Dian yang kini terlihat sangat lain dari biasanya.

"Honey santai, lagipula yang melakukan itu bukan putri kita"ujar Alex.

"Ya, dia memang bukan putri kita! Tapi apa kamu tau bahwa dia adik dari mendiang suamiku dan itu artinya dia juga adikku! Dan bagaimana jika ibu tau tentang semua ini disaat duka kami belum reda seperti saat ini?! Bagaimana? aku tidak bisa bayangkan, mungkin amit-amit ibu bisa terkena serangan jantung dan hiks, aku gagal menjaga amanah suamiku"ucap Dian yang akhirnya menangis sesenggukan sambil menundukkan kepalanya di celah jendela mobil tersebut.

"Honey, maaf aku tidak bermaksud untuk membuat mu seperti ini, tapi suami"ucapan Alex terhenti saat Diandra menatap kearahnya dengan cucuran air mata.

"Jika anda tidak suka dengan kenyataan bahwa saya adalah istri dari pria lain, maka silahkan anda pergi. Karena semua itu tidak akan pernah bisa diubah, saya sudah menikah dengan nya, dan itu kenyataannya meskipun kami belum"ucapan Diandra terhenti saat Alex menepikan mobilnya dengan cepat.

"Honey, aku tau itu dan aku sangat tau bagaimana dengan perasaan mu saat ini. Okay aku minta maaf, tapi tolong jangan pernah meminta ku untuk pergi karena aku tidak akan pernah melakukan hal itu.... Kamu adalah cinta pertama dan terakhir ku bahkan sampai aku mati nanti meskipun kamu tidak bersedih untuk ku seperti kesedihan mu saat ini untuknya."ujar Alex yang kini turun dari mobil.

Kali ini Alex tidak membukakan pintu untuk Dian, dia langsung berlalu pergi menuju teras rumah dan menghubungi seseorang untuk mengurus masalah Afifah karena tadi pihak sekolah tetap kekeuh akan memberikan efek jera pada gadis itu.

Dian pun keluar dari dalam mobil dan langsung membuka pintu utama yang terkunci itu, tanpa mempersilahkan Alex masuk dan pria itu hanya menatap punggung Dian yang kini hilang dibalik pintu.

Alex pun selesai berbincang dengan seseorang di sebrang telpon, dia langsung bergegas masuk kedalam rumah, sesampainya di dalam sana dia tidak melihat adanya Diandra.

Alex pun berjalan menuju pintu kamar Diandra lalu mengetuk pintu tersebut.

Tok...

Tok...

"Honey bisa temani aku cari makan diluar?"ucap Alex.

Sementara itu suasana begitu hening, Alex kembali mengetuk pintu kamar Diandra.

Tok...

Tok...

"Honey apa kamu didalam?"ujar Alex lagi.

"Aku disini tuan, maaf tadi saya dari belakang"ujar Dian yang kini melewati Alex hendak masuk kedalam kamar.

"Honey aku lapar, bisa temani aku makan siang di lua?"ujar Alex.

"Kenapa harus makan diluar, tunggu disini saya masak dulu sebentar"ucap Dian yang kini masuk kedalam kamarnya untuk ganti pakaian.

"Thanks honey,"lirih Alex.

Alex pun duduk menunggu di sofa sambil fokus pada ponselnya. sampai saat dian keluar dari dalam kamar dan berjalan menuju dapur, dian langsung bergegas mengeluarkan ikan hasil pancingannya itu, dan menambahkan bumbu racik ikan buatan nya yang dia stok dalam kulkas.

Setelah selesai membumbui ikan, Dian pun menyiapkan sayuran untuk ditumis, dan juga sambal untuk dicocol dengan lalapan.

Dian yang sudah terbiasa dengan itu pun tidak memerlukan waktu lama untuk masak, setelah kedua jenis makanan itu matang dan lalapan mentah pun sudah siap, Dian langsung menghidangkan makanan tersebut di meja makan.

Dian juga mengambil nasi untuk Alex dan dirinya. Saat ini memang sudah terlewat dari jam makan siang, tapi untunglah tadi pagi di desa sebelah mereka sempat sarapan pagi.

"Tuan, semua sudah siap,"ujar Dian lirih saat melihat Alex terlelap di sofa ruang keluarga.

Tidak ada pergerakan dari Alex, hingga akhirnya Dian pun memberanikan diri untuk menyentuh lengan Alex dengan jemarinya sambil berkata.

"Tuan, makan siang nya sudah siap" ujar Dian sambil membungkukkan badannya.

Chup....

Alex mengecup bibir Dian tanpa izin, ternyata dia tidak tidur tapi pura-pura tidur.

"Tuan"ujar Dian sambil memalingkan wajahnya.

"Maaf honey, tapi aku sangat merindukan mu"ujar Alex.

"Makan siang nya sudah siap"ujar Dian yang kini berjalan lebih dulu meninggalkan Alex yang kini tengah tersenyum penuh kemenangan.

"Wow, aku sudah sangat merindukan masakan mu honey"ujar Alex yang langsung duduk di hadapan Dian.

Sementara Dian terus menghindari tatapan Alex."Honey sebentar lagi asisten pribadi ku dan Aline tiba, kamu sudah siap untuk acara lamaran nanti malam?"ujar Alex.

"Tuan, kenapa selalu berbuat sesuka hati. Saya bahkan baru ditinggal pergi dan baru empat puluh hari. Apa kata orang nanti"ujar Dian yang kini terlihat bersedih.

"Honey aku tau aturan itu, tapi kita tidak bisa terus begini... aku sangat mencintaimu dan aku tidak ingin ada yang lain lagi yang akan memisahkan kita. Okay jika kamu ingin menghabiskan masa idah mu dulu, kita tidak akan menikah sampai hari itu tiba, tapi untuk lamaran please jangan tolak itu. Aku sudah berjanji akan menanggung biaya hidup keluarga Afandi sampai mereka mampu untuk bangkit dan melanjutkan hidup dengan uang yang akan aku berikan nanti"ucap Alex.

"Kita bahas nanti, sekarang makanlah keburu dingin"balas Dian.

"Tidak sebelum kamu jawab iya untuk lamaran itu"ujar Alex.

"Baiklah terserah anda saja"ujar Dian yang kini mulai menyuapkan daging ikan yang sudah ditaburi sambal tersebut.

"Terimakasih honey,"ucap Alex yang juga mulai menikmati makanan nya, dan sejenak Alex memejamkan matanya saat merasakan kenikmatan ikan goreng dan sambal buatan Dian tersebut.

"Honey, kenapa tidak buka restaurant saja. Ini sangat lezat"ucap Alex.

"Anda terlalu berlebihan tuan, ini biasa aja, lagipula siapa yang akan beli makanan kampung seperti ini disini, semua orang disini pintar masak, kecuali saya yang terkadang tidak punya waktu untuk itu"balas Dian.

"Honey tapi aku serius, aku selalu merindukan masakan rumah seperti ini,"ujar Alex yang kini benar-benar lahap dan ikan yang ada di piring pun ludes tak bersisa.

"Terimakasih honey aku sampai kekenyangan,"ujar Alex.

"Syukurlah jika anda suka, setelah ini anda bisa istirahat, saya akan kerumah ibu"ucap Dian.

"Dengan pakaian itu?"ujar Alex yang kini menatap kearah Dian.

"Iya, memangnya kenapa tuan, ini tidak menerawang? "ujar Dian.

"Tidak menerawang tapi itu hanya boleh dipakai di dalam rumah honey, saat dengan ku saja"ujar Dian yang kini terdiam sambil mencerna perkataan Alex.

Dian pun membereskan bekas makan mereka, tapi dia teringat akan pepes ikan kesukaan ibu mertuanya itu. Dian pun kembali ke dapur dan menyiapkan ikan untuk di pepes, Alex yang baru saja membasuh tangan pun memperhatikan gerak gerik Dian dan kemudian dia pamit untuk bersih-bersih dan ganti pakaian dengan pakaian santai.

Sementara Dian setelah mengulek bumbu dasar untuk ikan pepes nya itu, dia pergi ke belakang rumah untuk mengambil daun pisang dan juga daun kemangi yang dia tanam beberapa bulan lalu.

Halaman rumah yang cukup luas itu terdapat berbagai tanaman rimpang, jadi Dian tidak pernah kesulitan jika membutuhkan semua itu.

Saat akan mengambil daun pisang, Dian terlihat kesulitan, karena pohon pisang nya itu cukup tinggi, dia terus melompat dan menebas pelepah pisang itu hingga akhirnya ia dapat empat pelepah, dan akhirnya dia menyerah karena tidak ada galah untuk alat bantu, tapi saat dia berbalik dia langsung diam tak bergeming saat Alex ada di hadapannya.

"Kenapa tidak bilang hm..."ujar Alex yang kini meraih pisau di tangan Dian.

"Jangan tuan, nanti baju anda terkena getah pisang"ucap Dian.

"Tidak apa-apa baju bisa dibeli"ujar Alex yang kini berjinjit meraih pelepah pisang dan tidak sampai lima menit dia sudah mendapatkan banyak pelepah pisang dengan daun terbaik yang sulit diraih oleh Dian.

"Honey apa sudah cukup?" ujar Alex.

"Sudah terimakasih"ujar Dian yang kini memunguti satu persatu daun pisang, dan memisahkan daun dari batang pelepah pisang tersebut.

Setelah semua terkumpul cukup banyak, Dian pun bergegas menuju dapur, tapi tidak lama dia kembali ke dapur belakang dimana tungku perapian itu berada, Dian membawa panci kukus yang cukup besar berisi air untuk mengukus.

Gadis cantik itu terlihat seperti layaknya ibu rumah tangga yang sedang sibuk dengan urusan dapurnya.

Jika dulu ada Afandi dan yang lainnya yang membantu dia melakukan segalanya, maka saat ini Dian berkutat sendirian dan Alex yang melihat itu pun berusaha untuk membantu tapi Dian menolak bantuan karena Alex tidak mungkin bisa mengerjakan pekerjaan semacam itu.

"Honey biar aku bantu menyalakan apinya"ucap Alex.

"Tidak tuan, biar saya saja"ujar Dian yang akhirnya menyalakan api dengan kayu bakar dan menempatkan panci tersebut diatas tungku perapian.

Setelah itu Dian kembali ke dapur diikuti oleh Alex yang kini membantu Dian memanaskan daun diatas kompor, agar menjadi lentur.

Dian pun melakukan hal yang sama, dia juga membumbui ikan yang sudah di marinasi dengan irisan tomat, daun bawang dan kemangi juga potongan paprika yang Alex bawa juga bawang bombai daun salam dan juga cabai rawit utuh yang di tabur begitu saja.

Setelah semua siap Dian pun membungkus potongan ikan itu dan dibungkus dengan daun pisang yang baru saja selesai Alex panaskan.

Alex pun tersenyum bahagia saat semua pekerjaan bisa dikerjakan bersama, mungkin jika selama ini dia sibuk dengan urusan bisnisnya, saat ini adalah saat dia berlibur dari segala rasa lelahnya, ditemani cintanya yang kini sibuk menata bungkusan daun pisang itu di dalam panci yang airnya telah mendidih.

"Butuh waktu satu jam, anda sebaiknya istirahat"ucap Dian yang kini duduk di kursi kayu sambil memainkan ponselnya.

"Honey, ternyata hidup di desa itu sangat nyaman ya, rasanya aku tidak ingin pulang setiap kali datang kemari"ujar Alex jujur.

"Anda bilang nyaman karena anda memiliki segalanya. Coba anda tanya orang-orang yang ada disini, rasa nyaman itu kami dapat disaat kebutuhan pokok kita terpenuhi dan tidak kelaparan saat musim penghujan tiba, karena saat itu orang yang bekerja nguli seperti saya jelas akan terhambat karena jalanan yang licin dan juga kesehatan yang terganggu." ujar Dian.

"Aku tidak tau itu honey, mungkin setelah kita menikah nanti aku akan membangun lapangan pekerjaan untuk mereka, aku ingin tidak ada lagi orang yang kesulitan ekonomi di desa ini atau yang lainnya"ujar Alex yang kini diaminkan oleh Dian.

"Tuan, apa dengan kehadiran anda disini keluarga anda tidak keberatan dengan ini? Apa mereka tau tentang saya?"ujar Dian yang kini membuat Alex terdiam tak bergeming.

"Saya sudah duga, jangankan orang seperti saya yang tidak memiliki apa-apa, di luar sana pun ada banyak wanita yang jauh lebih beruntung daripada saya dengan harta yang mereka miliki belum tentu bisa diterima oleh keluarga anda, karena anda adalah seorang pengusaha sukses yang memiliki berbagai aset berharga di setiap kota di tanah air dan juga di beberapa negara. dan saya tidak pernah menganggap serius perkataan anda karena saya cukup tahu diri"ucap Dian yang kini membuat Alex menatap tajam kearah Diandra.

"Honey apa kamu juga meragukan perasaan ku?"ujar Alex.

"Saya tidak tahu tuan, tapi saya tetap merasa bahwa anda ada disini karena rasa kasihan terhadap saya yang sebatang kara"ujar Dian.

"Honey buang semua pikiran negatif mu itu, aku Gidion Alexander Tama tidak pernah bersusah payah mengejar wanita seperti mengejar cinta ku saat ini. selama ini bahkan aku mati-matian memperjuangkan mu semua itu karena aku sangat mencintaimu"ujar Alex dengan tegas.

"Terimakasih tuan untuk semua rasa cinta mu itu. Tapi jika keluarga mu menolak keberadaan saya, apa yang akan anda lakukan? Karena saya jelas-jelas akan mundur dari pernikahan itu nantinya"ujar Dian yang kini memasukkan kayu bakar kedalam tungku.

"Honey aku tidak akan pernah membiarkan mu pergi dari sisiku. Masa bodoh jika mereka menentang pernikahan kita, yang aku pedulikan hanyalah dirimu. Aku bahkan telah siap jika harus kehilangan semuanya, tapi aku tidak sanggup untuk kehilangan mu"ucap Alex.

"Dian pun menatap lekat wajah tampan itu, dia melihat cinta yang begitu besar di mata Alex untuk nya saat ini, lewat curahan hati terdalam Alex Dian pun kembali meyakinkan diri untuk bisa menerima semua itu. Mungkin ini adalah takdir hidupnya setelah dia kehilangan orang terkasih nya.

1
Wati Anja
semoga Dian dan Alek bisa bersatu❤❤❤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!