NovelToon NovelToon
THE DEVIL'S WIFE

THE DEVIL'S WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anonymous MC

Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:

Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.

Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.

Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.

Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.

Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.

Aku melihat kematianku sendiri.

Dan aku tersenyum.

Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.

Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Mata Merah

Pintu besi itu terbuka dengan bunyi gesekan yang panjang.

Seperti tulang digergaji pelan-pelan.

Alea tidak tahu berapa lama ia terjebak di ruang hukuman itu. Waktu mati di sini. Yang tersisa hanya kegelapan, bau busuk yang sudah menempel di bulu hidungnya, dan gema suara anak kecil yang baru saja menghilang setelah membisikkan kalimat terakhirnya.

“Aku mati di sini 20 tahun lalu.”

Sekarang pintu itu terbuka.

Dan Damian berdiri di ambang.

Alea langsung tahu ada yang berbeda.

Matanya—bukan hitam pekat seperti biasanya. Bukan pula kosong seperti saat Damian Kecil meminjam tubuh itu. Warna di bola matanya sekarang merah. Bukan merah karena lampu atau pantulan. Merah seperti darah segar yang mengalir di putih matanya, membuat iris hitam itu tampak seperti pusaran neraka.

Alea merasakan dingin menjalar dari tulang ekor hingga tengkuk.

Ia belum pernah melihat mata seperti itu.

Tidak dalam visi-visi kematian yang ia saksikan selama sepuluh tahun terakhir.

Tidak dalam mimpi-mimpi terburuknya.

Damian melangkah masuk.

Satu langkah. Dua langkah.

Setiap hentakan sepatu kulitnya terdengar seperti palu godam di lantai semen.

Alea mendorong punggungnya ke dinding. Tangan kanannya meraba-raba di balik tubuh—mencari apa pun yang bisa dijadikan senjata. Hanya debu dan pecahan keramik lilin yang dijatuhkan Damian Kecil beberapa menit lalu.

“Kau—”

“Diam.”

Satu kata.

Tapi suaranya tidak seperti Damian yang ia kenal. Bukan suara dingin tanpa intonasi dari pria yang selalu menjaga jarak. Juga bukan suara cengeng ketakutan dari bocah kecil yang memanggilnya “kak”.

Suara ini berat. Dalam.

Seperti ada dua orang berbicara bersamaan dalam satu tenggorokan.

Damian berlutut di hadapannya.

Alea menahan napas.

Pria itu begitu dekat. Ia bisa mencium bau yang sama seperti pertama kali mereka bertemu—kayu cendana dan darah. Tapi kali ini ada aroma tambahan. Apek. Basah. Seperti tanah kuburan yang baru digali.

“Kau melihatnya lagi,” Damian berkata. Bukan pertanyaan. “Dia datang padamu.”

Alea tidak bisa mengangguk. Tidak bisa menggeleng.

Lehernya terasa kaku seperti diikat tali.

“Dia bilang apa?” Damian mencondongkan tubuh. Dahinya hampir menyentuh dahi Alea. Matanya yang merah menatap lurus ke dalam mata Alea, seperti mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di balik pupilnya.

Alea membuka mulut. Keluar suara serak yang bahkan tidak dikenalnya sendiri.

“Dia bilang… dia mati di sini. Dua puluh tahun lalu.”

Damian tersenyum.

Itu senyuman pertama yang Alea lihat dari wajah itu. Tapi tidak ada kehangatan. Tidak ada kelegaan. Senyum itu menyayat—menarik bibir tipis Damian ke samping, memperlihatkan gigi-gigi putih yang terlihat terlalu tajam untuk manusia biasa.

“Dia benar,” bisik Damian. “Damian kecil mati di sini. Aku yang membunuhnya.”

Alea ingin menjerit. Tapi suaranya mati di tenggorokan.

Damian mengangkat tangan.

Jari-jari panjang itu menyentuh pelipis Alea, lalu perlahan turun ke tulang pipi, ke rahang, berhenti di dagu. Sentuhannya dingin. Sangat dingin. Seperti mayat.

“Kau takut?” tanyanya.

Alea menggigit bibir bawah hingga hampir berdarah. Ia tidak mau menjawab. Tapi tubuhnya gemetar tanpa izin.

“Kau harus takut,” Damian melanjutkan. Jarinya mengencang di dagu Alea, memaksanya menatap lurus. “Karena malam ini, aku tidak bisa menjamin siapa yang akan keluar dari ruangan ini. Aku… atau dia.”

“Dia sudah mati,” Alea berhasil berbisik. “Kau bilang kau membunuhnya.”

“Mayat kadang bangkit.”

Damian melepaskan dagunya.

Ia berdiri, lalu berjalan ke tengah ruangan. Di sana, tepat di titik di mana Damian Kecil duduk tadi dengan lilin di tangan, Damian dewasa berhenti. Ia menunduk, menatap lantai.

“Kau tahu apa yang terjadi di ruangan ini?” suaranya tiba-tiba berubah. Lebih pelan. Lebih… rapuh.

Alea menggeleng, meski Damian tidak melihatnya.

“Ayahku mengunciku di sini,” Damian berkata. “Aku berusia delapan tahun. Ibuku baru saja meninggal. Atau… aku pikir dia meninggal. Yang kutahu, ayahku marah. Sangat marah. Aku tidak mau melakukan apa yang ia perintahkan. Jadi ia membawaku ke sini. Mengunciku. Lalu…” Ia berhenti.

Alea menunggu.

“Lalu ia membawa mayat ibu tiriku. Yang baru saja ia bunuh karena ketahuan selingkuh. Ia melemparnya ke pojok sana.” Damian menunjuk ke sudut ruangan yang paling gelap. “Katanya, ‘Kau akan keluar saat kau tidak takut lagi pada kematian. Sampai kau bisa tidur di samping mayat.’ Lalu ia menutup pintu.”

Alea merasakan mual naik ke kerongkongannya.

“Tiga bulan,” Damian melanjutkan. Suaranya datar, seperti sedang membacakan laporan. “Tiga bulan aku di sini. Dengan mayat yang membusuk. Dengan lalat. Dengan bau yang bahkan sampai sekarang masih kuingat. Aku berteriak. Aku menangis. Aku berdoa pada Tuhan yang tidak pernah datang.”

Ia menoleh ke arah Alea.

Matanya masih merah, tapi kini ada sesuatu yang mengambang di permukaan. Bukan air mata. Tapi sesuatu yang lebih gelap.

“Lalu suatu hari, aku sadar aku tidak menangis lagi. Aku tidak takut lagi. Aku bisa menyentuh mayat itu tanpa muntah. Aku bisa tidur di sampingnya sambil memeluk tangan mayat itu yang sudah tinggal tulang.” Damian tersenyum lagi. Senyum yang sama. “Ayahku bangga. Katanya, ‘Akhirnya kau jadi anakku.’ Tapi dia salah.”

“Salah?” suara Alea keluar tanpa izin.

“Yang keluar dari ruangan ini bukan Damian kecil,” kata Damian pelan. “Damian kecil mati di sini, di minggu kedua. Yang bertahan adalah… aku. Yang diciptakan dari rasa takut yang membatu, dari amarah yang membeku, dari hasrat untuk membunuh ayahku dengan tanganku sendiri. Damian kecil tidak pernah keluar. Yang keluar adalah monster yang memakai wajahnya.”

Alea mendadak ingat sesuatu.

Buku harian di sudut ruangan. Halaman terakhir yang ia baca sebelum Damian dewasa muncul.

“Aku mati di sini.”

Bukan kiasan. Bukan dramatisasi.

Tulisan itu harfiah.

“Tapi dia masih ada,” Alea berkata. Suaranya lebih kuat dari yang ia duga. “Damian kecil masih ada di dalam dirimu. Aku melihatnya. Aku berbicara dengannya.”

Damian membalikkan badan.

Matanya menyala di kegelapan.

“Karena kau membiarkannya keluar.”

“Apa maksudmu?”

“Kau pikir dia bisa keluar begitu saja?” Damian melangkah mendekat lagi. “Selama dua puluh tahun, dia terkunci. Tidak ada yang bisa melihatnya. Tidak ada yang bisa mendengarnya. Aku sudah menguburnya dalam-dalam, menguncinya di ruang paling gelap dalam kepalaku, dan melemparkan kuncinya. Tapi kemudian kau datang.”

Ia berhenti tepat di depan Alea.

Jarak mereka sekarang hanya sejengkal.

“Kau menyentuhku,” bisik Damian. “Dan kau melihat sesuatu yang tidak seharusnya kau lihat. Kau membuka pintu yang sudah aku las. Dan sekarang…” Ia menggenggam rambutnya sendiri, menarik kuat-kuat. “Sekarang dia mencoba keluar lagi. Setiap malam. Setiap kali aku tidur. Dia berteriak dari dalam, minta tolong padamu.”

Alea melihat jari-jari Damian mengencang di rambutnya sendiri.

Ia melihat urat-urat di leher pria itu menegang.

Ia melihat bibir itu terbuka, dan dari dalam keluar suara yang bukan milik Damian dewasa.

“Kak… tolong…”

Itu Damian Kecil.

Tapi hanya sekilas. Damian dewasa menggeleng keras, dan suara itu tenggelam lagi.

“Kau lihat?” Damian tertawa pahit. “Dia tidak bisa mati. Selama aku hidup, dia akan selalu ada. Dan selama dia ada, aku tidak akan pernah utuh.”

“Mungkin itu bukan hal yang buruk,” Alea berkata.

Damian berhenti tertawa.

“Mungkin,” Alea melanjutkan, “Damian kecil adalah bagian dari dirimu yang membuatmu tetap manusia. Tanpa dia, kau hanya… monster yang kau katakan tadi.”

“Dan itu buruk?”

“Kau sendiri yang bilang. Monster tidak bisa mencintai. Monster tidak bisa dicintai.”

Damian membisu.

Matanya yang merah perlahan-lahan berubah. Warna merah itu memudar dari putih matanya, meninggalkan bekas seperti urat-urat halus yang perlahan menghilang. Iris hitamnya kembali. Tapi bukan yang dingin seperti biasa. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang rapuh.

“Aku tidak tahu caranya,” Damian berkata. Suaranya kecil. Sangat kecil. “Aku tidak tahu caranya menjadi utuh tanpa kehilangan salah satu dari kami.”

Alea merasakan dorongan aneh di dadanya.

Bukan rasa takut lagi.

Tapi sesuatu yang lebih berbahaya.

Iba.

Ia mengulurkan tangan.

Perlahan, sangat perlahan, jari-jarinya menyentuh pergelangan tangan Damian yang masih menggenggam rambutnya sendiri.

Seketika, visi itu datang.

---

Ia melihat Damian kecil. Bocah dengan piyama kebesaran, duduk di pojok ruangan yang sama. Di sampingnya, sesosok wanita berbaring dengan wajah membusuk. Tapi Damian kecil tidak menangis. Ia hanya duduk, memeluk lutut, matanya kosong menatap dinding.

Lalu pintu terbuka. Seorang pria masuk—wajahnya mirip Damian, tapi lebih tua, lebih kejam. Pria itu melempar pisau ke lantai.

“Bunuh dia,” kata pria itu, menunjuk mayat wanita. “Potong-potong. Buang ke kali. Atau kau akan di sini selamanya.”

Damian kecil menatap pisau itu. Lalu menatap mayat di sampingnya. Ia meraih pisau. Tangan kecilnya gemetar. Tapi sebelum ia sempat melakukan apa pun, sesuatu berubah di matanya. Kosong. Lalu hitam. Lalu… merah.

“Baik, Ayah,” suara yang keluar bukan suara anak kecil. Tapi suara Damian dewasa.

Pria itu tersenyum puas.

Damian kecil—yang asli—tidak pernah muncul lagi setelah itu.

---

Alea menarik tangannya cepat.

Napasnya tersengal-sengal.

Pipinya basah—ia tidak sadar sudah menangis.

Damian menatapnya.

“Kau lihat?”

Alea mengangguk. Tidak bisa bicara.

“Itu malam terakhir Damian kecil hidup,” Damian berkata. “Aku lahir malam itu. Aku yang mengambil pisau. Aku yang memotong mayat itu. Aku yang membuangnya ke kali. Ayahku bangga. Katanya, ‘Akhirnya.’ Tapi dia tidak tahu, aku membencinya. Aku membencinya sejak detik pertama aku sadar aku ada. Karena aku diciptakan untuk melakukan hal yang tidak bisa dilakukan Damian kecil. Aku adalah alat. Senjata. Monster yang ia butuhkan untuk bertahan hidup.”

Ia menatap telapak tangannya sendiri.

“Dan sekarang, setelah dua puluh tahun, Damian kecil masih mencoba kembali. Mencari jalan keluar. Mencari seseorang yang bisa melihatnya.” Ia mengalihkan pandangan ke Alea. “Dan kau datang. Dengan mata yang bisa melihat kematian. Dengan tangan yang bisa membuka pintu yang sudah terkunci.”

Alea menggenggam tangannya sendiri.

“Apa kau… apa kau ingin aku menutup pintu itu lagi?”

Damian diam lama.

“Aku tidak tahu,” akhirnya ia berkata. “Aku tidak pernah tahu apa yang kuinginkan. Sejak aku lahir, aku hanya tahu apa yang harus kulakukan. Bunuh. Kuasai. Hancurkan. Tapi sekarang…” Ia menatap Alea dengan mata yang tidak lagi merah, tapi juga tidak lagi kosong. “Sekarang aku ingin sesuatu. Dan aku tidak tahu apa namanya.”

“Cinta,” Alea berbisik.

Damian tersentak.

Seperti kata itu adalah peluru yang menusuk dadanya.

“Jangan,” katanya. “Jangan beri aku harapan. Karena aku tidak tahu cara memegangnya tanpa menghancurkannya.”

“Mungkin kau tidak perlu memegangnya,” Alea berdiri. Lututnya lemas, tapi ia memaksakan diri. “Mungkin kau hanya perlu… membiarkannya ada.”

Damian menatapnya lama.

Lalu, tanpa peringatan, ia meraih pinggang Alea dan menariknya ke dalam pelukan.

Bukan pelukan lembut.

Tapi keras. Kuat. Seperti orang yang tenggelam memegang satu-satunya papan penyelamat.

Alea membeku sejenak. Lalu perlahan, ia mengangkat tangannya, dan membalas pelukan itu.

Ia merasakan dada Damian naik turun dengan cepat.

Ia merasakan jari-jari pria itu mencengkeram bajunya sampai terasa kencang.

Ia merasakan sesuatu yang hangat menetes di pundaknya.

Damian menangis.

Tanpa suara. Tanpa isak.

Hanya air mata yang jatuh diam-diam dari mata merah yang sudah kembali hitam.

“Aku takut,” bisik Damian. Suaranya kini hanya satu. Hanya suara pria yang lelah. Bukan monster. Bukan anak kecil. “Aku takut kalau kau pergi. Aku takut kalau Damian kecil pergi. Aku takut kalau aku… menjadi apa pun tanpa kalian.”

Alea memejamkan mata.

Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup bau cendana yang kini tercampur garam air mata.

“Aku tidak akan pergi,” janjinya. “Tapi kau harus berjanji satu hal.”

“Apa?”

“Jangan bunuh Damian kecil lagi.”

Damian terdiam. Tangannya mengencang di punggung Alea.

“Aku tidak bisa menjamin itu,” katanya jujur. “Tapi… aku akan mencoba.”

Alea tersenyum.

Senyuman pertama di ruangan berbau kematian itu.

“Cukup,” katanya. “Coba saja.”

Mereka berpelukan di tengah ruang hukuman yang gelap. Di sudut, bayangan Damian Kecil duduk, tersenyum kecil, lalu perlahan memudar.

---

Pintu ruang bawah tanah terbuka.

Rania berdiri di tangga teratas, wajahnya pucat. Matanya membulat sempurna saat melihat Damian dan Alea keluar bersama—Damian dengan tangan yang masih melingkar di pinggang Alea, Alea dengan pipi basah dan bibir sedikit bengkak karena digigit terlalu keras.

“Tuan Damian—” Rania mulai.

“Jangan ganggu,” potong Damian. Suaranya sudah kembali datar, tapi ada nada yang berbeda. Lebih… berat. Lebih… milik.

Rania menelan ludah. Matanya beralih ke Alea, dan untuk sepersekian detik, Alea melihat sesuatu di sana. Bukan cemburu. Bukan marah. Tapi ketakutan. Seperti Rania baru sadar bahwa papan catur yang selama ini ia susun telah bergeser tanpa izin.

“Siapkan kamar utama,” perintah Damian. “Alea akan pindah ke sana malam ini.”

Rania membeku. “Tapi Tuan, kamar utama adalah—”

“Aku tahu kamar siapa itu,” Damian memotong dingin. “Sekarang jadi milik istriku.”

Ia menarik Alea melewati Rania tanpa menoleh.

Alea sempat menangkap ekspresi Rania di ujung matanya.

Wanita itu tersenyum. Tapi matanya—matanya seperti pisau yang baru diasah.

---

Di kamar utama, Damian melepaskan tangannya.

Alea berdiri di tengah ruangan yang jauh lebih besar dari kamar sebelumnya. Ranjang berukuran raja dengan seprai hitam. Lemari kayu jati. Dan di dinding, lukisan besar seorang wanita dengan gaun merah, wajahnya disaput cat hitam tebal—sengaja dirusak.

“Itu ibu tiriku,” Damian berkata datar. “Ayahku melukisnya. Lalu setelah dia mati, aku mencoret wajahnya. Tapi entah kenapa aku tidak bisa membuang lukisan itu.”

Alea menatap lukisan itu lama.

Dalam visinya tadi, ia melihat wanita itu. Membusuk di sudut ruang hukuman.

“Kau bisa menyuruhku membuangnya,” Alea berkata.

Damian menggeleng. “Tidak. Biarkan di sini. Sebagai pengingat.”

“Pengingat apa?”

“Bahwa monster tidak selalu lahir. Kadang mereka diciptakan.”

Ia berjalan ke jendela, membuka gorden lebar-lebar. Cahaya bulan masuk, membasahi ruangan dengan warna perak.

“Alea,” Damian memanggil tanpa menoleh.

“Ya?”

“Visi yang kau lihat tentang aku. Tentang kematianku.” Ia berbalik. Wajahnya setengah terang, setengah gelap. “Kau bilang kau melihat kita bahagia. Itu bohong, kan?”

Alea terdiam.

“Kau tidak perlu menjawab,” Damian melanjutkan. “Aku sudah tahu. Sejak awal, aku tahu kau melihat sesuatu yang buruk. Mungkin aku mati. Mungkin kau yang membunuhku. Mungkin sesuatu yang lebih buruk dari itu.”

Ia berjalan mendekat. Perlahan. Satu langkah. Dua langkah.

Hingga mereka berhadapan lagi.

“Tapi kau tahu,” Damian berkata pelan, “sejak kau masuk ke ruang hukuman tadi… aku tidak takut mati lagi. Aku hanya takut kehilangan satu kesempatan untuk…”

Ia tidak menyelesaikan kalimat.

Tapi Alea mengerti.

“Untuk apa?” tanyanya, memaksa.

Damian menghela napas. Tangannya naik, menyentuh pipi Alea dengan ujung jari yang masih dingin, tapi tidak lagi seperti mayat. Ada kehangatan samar di sana.

“Untuk mencoba,” katanya. “Seperti yang kau bilang.”

Alea tidak tahu siapa yang lebih dulu bergerak.

Yang ia tahu, tiba-tiba bibir mereka bertemu.

Bukan ciuman lembut.

Tapi ciuman yang terasa seperti dua orang yang baru saja selamat dari bencana—lapar, putus asa, tapi juga penuh kelegaan.

Damian menciumnya seperti Damian kecil yang ingin diselamatkan, seperti Damian dewasa yang ingin diyakinkan bahwa ia pantas dicintai.

Alea membalasnya dengan cara yang sama.

Ketika mereka akhirnya berpisah, Damian menempelkan dahinya di dahi Alea. Napas mereka memburu, bergabung menjadi satu di udara dingin kamar utama.

“Aku akan mati, Lea,” Damian berbisik. Bukan pertanyaan. Bukan ancaman. Hanya fakta yang ia terima.

“Belum sekarang,” Alea membalas. “Dan mungkin… mungkin aku bisa mengubahnya.”

“Visi tidak pernah salah, kan?”

Alea tidak menjawab.

Damian tersenyum. Senyuman yang tidak menyayat kali ini. Tapi senyuman yang… lembut. Sangat lembut hingga Alea hampir tidak percaya itu berasal dari wajah yang sama yang ia lihat di ruang hukuman dengan mata merah.

“Kalau begitu,” Damian berkata, “bikin visi itu salah. Untuk pertama kalinya.”

---Bersambung---

Di luar kamar, Rania berdiri di lorong gelap.

Ponselnya menyala dengan pesan singkat dari nomor tidak dikenal:

“Dia sudah mulai membuka hati. Saatnya eksekusi fase dua. Atau kau lupa siapa yang sebenarnya membunuh kakak Alea?”

Rania menekan tombol hapus.

Lalu tersenyum.

Senyum yang sama persis dengan senyum wanita dalam lukisan di kamar utama.

---

Bagaimana, Raiders? Apakah kalian sudah mulai merasakan getirnya perjuangan Alea menghadapi dua Damian dalam satu tubuh? Apakah Damian pantas mendapatkan cinta yang ia takutkan? Dan apa sebenarnya yang disembunyikan Rania di balik senyum manisnya?

Setiap like, komen, dan vote kalian adalah bahan bakar bagi Alea untuk terus bertahan di mansion penuh rahasia ini. Dukung terus THE DEVIL'S WIFE agar kita bisa membongkar satu per satu misteri keluarga Damian—dan mungkin, mengubah visi kematian yang menghantui mereka berdua.

Klik ★ vote, tinggalkan jejak di kolom komentar, dan ajak teman-teman kalian membaca! Karena cerita ini milik kita bersama.

Sampai jumpa di Bab 27: “Fase Dua” 🖤

1
Amelia
Ceritanya penuh misteri Dokter RSJ vs Monster pasangan yang cocok jiwa mereka sama" kayak tidak memiliki Jiwa dan sakit jiwa😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!