Seri Kedua dari Lahirnya Pendekar Naga!
___
Kemunculan Pendekar Naga telah mengguncang keseimbangan dunia—membangunkan makhluk kuno dan menarik perhatian kekuatan yang telah lama menunggu dalam bayang-bayang.
Dunia berubah.
Sekte-sekte hancur tanpa sisa. Jejak kehancuran menyebar tanpa arah… dan pelakunya adalah sosok yang tidak pernah dibayangkan oleh Wei Zhang Zihan.
Chu Kai.
Sebagai Pendekar Suci, Wei Zhang Zihan tidak punya pilihan selain menelusuri jejak itu—mengungkap kebenaran yang tersembunyi, dan menghadapi satu kenyataan yang tidak ingin ia percayai:
Mungkin, orang yang harus ia hentikan… adalah orang yang seharusnya menjadi pelindung dunia.
Pendekar Naga itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamtaro Dasha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28 - Tujuan Yang Sebenarnya
Wei Zhang Zihan terpaku. Kata-kata itu tidak sekadar terdengar, melainkan menghantam lurus ke dalam dadanya—meninggalkan gema yang sulit diredam. Untuk sesaat, dia bahkan tidak yakin apakah yang didengarnya barusan adalah benar.
Tatapan Wei Zhang Zihan terkunci pada Chu Kai—pemuda bermata hijau alami itu tetap tenang seolah apa yang diucapkannya barusan hanyalah sesuatu yang biasa.
Jari-jari Wei Zhang Zihan terkepal. Suaranya berat dan nadanya sedikit tertahan. Dia menatap Chu Kai.
"Apa... yang kau katakan? Kau memintaku untuk..."
Kalimat itu terhenti. Ekspresi Wei Zhang Zihan rumit. Udara di sekitarnya menegang saat ia kembali buka suara.
"Apa kau benar-benar sadar dengan keinginanmu ini?"
Nada suara dari Pendekar Suci itu menurun. Tidak tenang, tetapi begitu dalam dan justru terasa berbahaya. Hanya saja, Chu Kai sama sekali tidak goyah dan tak ada keraguan sedikit pun di wajahnya.
"Pendekar Wei," ucap Chu Kai pelan, namun jelas. "Jika apa yang kulakukan adalah sebuah kejahatan besar—maka mati di tanganmu adalah hukuman yang paling tepat."
Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang bergetar di balik suara Chu Kai. Seperti sebuah bara yang telah disimpan terlalu lama.
"Aku tidak bisa melupakan apa yang telah dilakukan oleh Sekte Bulan Mati." suara Chu Kai menajam, ucapannya tegas. "Bahkan tanpa alasan Roh Kuno itu sekalipun... aku tetap akan menyerang mereka."
Kedua tangan Chu Kai terkepal, "Dua musuh... tidak bisa hidup di bawah langit yang sama."
!!
Wei Zhang Zihan menatap Chu Kai tanpa berkedip. Dia seperti berusaha menggali sesuatu dari wajah pemuda itu—mencari keraguan, penyesalan, atau sekadar celah kecil yang bisa ia gunakan untuk menghentikannya. Namun yang ia temukan justru hanyalah tekad yang padat, tegas, dan tidak tergoyahkan.
Perasaan Wei Zhang Zihan terasa berat. Nada suaranya tidak lagi setajam sebelumnya, tapi ia masih mencoba membujuk pemuda ini sekali lagi.
"Lalu... bagaimana dengan Xia Ling Qing?" Wei Zhang Zihan berujar. "Kau pernah mengatakan akan melindungi orang-orang yang berharga bagimu. Apakah ini... cara yang kau pilih?"
Tidak ada jawaban.
"Dengan jalan yang kau ambil sekarang, hubunganmu dengannya hanya akan semakin menjauh." Suara Wei Zhang Zihan mengeras kembali. "Kau bisa menjadi musuh bagi Sekte Gunung Wushi... bahkan bagi orang-orang yang berusaha kau lindungi."
"Hentikan ini." Wei Zhang Zihan menarik napas. "Masih ada cara yang lain. Kau tidak harus mengorbankan dirimu sendiri."
Chu Kai tersentak. Dia menatap Wei Zhang Zihan dan tidak mengatakan apa pun. Selama beberapa waktu—udara seperti membeku.
Chu Kai menurunkan pandangannya. Sejenak, dia bernapas pelan sebelum akhirnya kembali buka suara.
"Pendekar Wei. Itu... sudah tidak mungkin lagi."
"Kai—!"
"Ya ampun..."
Sebuah suara lain menyela. Xiao Shuxiang menghela napas pelan sambil menggelengkan kepala. Ekspresi wajahnya seperti seseorang yang sudah menyaksikan kejadian serupa, namun dengan tempat dan orang yang berbeda.
"Aiya, kau benar-benar mirip dengan temanku." tatapan Xiao Shuxiang mengarah pada Wei Zhang Zihan. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya, "Kalian semua selalu saja sama... menghalangi saat Yang Mulia ini ingin melakukan sesuatu yang menyenangkan."
Suasana seketika berubah.
Wei Zhang Zihan menoleh. Tatapannya dingin—tajam, dan penuh penilaian. Untuk sesaat, ia tidak mengatakan apa-apa, namun sorot matanya sudah cukup menjelaskan bahwa ia menganggap Xiao Shuxiang sebagai penyebab semua ini.
Xiao Shuxiang mengangkat alis sedikit, seakan benar-benar memahami tuduhan yang tidak diucapkan itu.
"Hei, aku tidak melakukan apa pun. Ini semua pilihannya." nada suara Xiao Shuxiang ringan. Senyumannya tidak hangat, tetapi juga tidak manusiawi.
Xiao Shuxiang mendengus pelan. "Temanmu itu ingin membalas dendam dan aku kebetulan membutuhkan banyak roh. Kerjasama kami mengincar nyawa manusia. Jadi... jelas tidak mungkin berjalan mengikuti aturan dari aliran yang ‘baik hati’ sepertimu."
Xiao Shuxiang menekan kata 'baik hati' dengan sedikit nada sarkas. Meski yang diucapkannya ringan, namun itu sudah cukup untuk membuat udara di ruangan tersebut menjadi dingin dan menegangkan.
Tatapan Wei Zhang Zihan dan Xiao Shuxiang saling bertemu—diam, tetapi penuh tekanan. Seolah dua kehendak yang sama-sama tidak mau mengalah sedang saling menekan tanpa perlu bergerak satu langkah pun.
Chu Kai merasakan ketegangan itu dan menjadi khawatir. Dia bukan mengkhawatirkan Xiao Shuxiang, tetapi Wei Zhang Zihan. Pendekar Suci ini bisa dalam bahaya jika sampai kehilangan ketenangannya dan justru berakhir bertarung dengan roh Xiao Shuxiang.
"Pendekar Wei..." Chu Kai buka suara. Nadanya lebih pelan dari sebelumnya—namun cukup untuk memotong ketegangan yang nyaris pecah.
"Apa kau masih ingat... hari terakhir kita bertemu?" Chu Kai bertanya dan membuat Wei Zhang Zihan menatap ke arahnya.
Chu Kai melanjutkan. Suaranya tenang, "Saat itu... aku mengatakan akan kembali ke tempat kelahiranku, dan memintamu... untuk menjadi lebih kuat."
Hening sejenak, sebelum tatapan Chu Kai kembali lurus. "Sejak saat itu... aku sudah memutuskan tujuanku yang sebenarnya, dan itu... adalah untuk pembalasan dendam."
Wei Zhang Zihan tersentak. Bukan karena ia tidak menduga—tetapi karena mendengar pengakuan itu secara langsung dan ini justru terasa berbeda.
"Kai..."
"Sejak awal, aku sudah tahu..." Chu Kai melanjutkan. "Aku tahu bahwa jalan yang kupilih akan menjadikanku musuh—bukan hanya bagi aliran hitam, tetapi juga bagi pendekar seperti dirimu."
Suara Chu Kai tetap tenang. Namun setiap katanya terasa seperti mengikis sesuatu yang tidak terlihat. Dia menurunkan pandangannya dan kembali bicara.
"Itu juga berarti... semua hubungan yang kumiliki akan perlahan menjauh. Bahkan mungkin... Nona Xia Ling Qing tidak ingin melihatku lagi."
Untuk sesaat—hening itu terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Namun Chu Kai tidak berhenti, nada suaranya menguat. Dia menatap Wei Zhang Zihan.
"Tapi aku tetap akan melakukannya. Aku sudah lama ingin memutuskan semua hubunganku... dengan kalian, dan juga dengan Sekte Gunung Wushi."
"Pendekar Wei," nada suara Chu Kai kali ini berubah. Kali ini lebih dalam, "Entah kau menyadarinya atau tidak... tapi seseorang dengan gelar Pendekar Naga.. tidak seharusnya terikat pada siapa pun."
Senyuman Chu Kai pahit saat tatapan matanya turun. Dia menarik napas perlahan, "Sejak awal kehadiranku sudah membuat Sekte Gunung Wushi terlibat masalah. Kalian melindungiku... dan sebagai balasannya, sekte kalian justru diserang dan dihancurkan."
"Aku tidak ingin hal yang sama terjadi lagi." Chu Kai mengangkat sedikit pandangannya, "Selain itu... bahkan tanpa gelar Pendekar Naga—identitasku sendiri adalah bahaya bagi siapa pun yang berada di dekatku."
Chu Kai menarik napas panjang. "Tidak terikat pada siapa pun... berarti aku melindungi kalian. Dan juga memudahkanku untuk pergi... tanpa merasa terbebani."
Wei Zhang Zihan tidak langsung menjawab. Dia terdiam cukup lama hingga suasana di dalam ruangan itu kembali dipenuhi ketegangan yang belum sempat mereda.
Kata-kata yang seharusnya keluar tertahan di ujung lidahnya. Tatapan Wei Zhang Zihan masih tertuju pada Chu Kai. Begitu dalam, seakan masih mencari celah terakhir untuk menariknya kembali.
Wei Zhang Zihan menarik napas, bersiap untuk berbicara—namun suara riuh tiba-tiba saja mengguncang dari luar.
"Pendekar Naga itu ada di sini!!"
Seruan itu kasar dan tergesa-gesa, bahkan di saat yang bersamaan—aura penuh niat membunuh muncul seketika dan membuat semua orang di dalam ruangan itu terkejut.
Xiao Shuxiang yang sejak tadi bersandar santai di dekat jendela sedikit memiringkan kepalanya, lalu melirik ke luar dengan ekspresi tertarik.
Dia mendengus pelan. Suaranya ringan, "Sepertinya... makan malamku sudah datang."
!!
******
itu hanyalah mitos di mata Kai heh,,,
Menemukan titik terang, sepertinya Kisah Xiao Shuxiang tdk akan Anti klimaks. Ayo Kak Dasha, Xiao Shuxiang pantas Bahagia dgn Kucing putih dan anak2nya yg Lucu... ??🤔☕