Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.
Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.
Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.
Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.
Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?
Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25 Bayangan yang Mulai Mendekat
Hari-hari berikutnya di Desa Sekar berjalan dengan sangat tenang. Bahkan, bisa dikatakan terlalu tenang. Kael tetap menjalankan rutinitasnya sebagai guru di sekolah darurat, mengajar anak-anak membaca, menulis, dan berhitung.
Siang harinya, ia beralih membantu warga desa memperbaiki jaring nelayan atau mengangkut hasil tangkapan di tepi pantai.
Kehidupan damai yang dulu terasa sangat asing, kini perlahan-lahan mengikis sisi dingin di dalam dirinya. Namun, rasa nyaman itulah yang justru memicu ketakutan baru di dalam benak Kael. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia mulai merasa takut jika suatu saat nanti harus kehilangan semua kehangatan ini.
"Pak Guru! Lihat gambarku!" seru seorang murid laki-laki sambil berlari kencang menghampiri meja guru, menyodorkan selembar kertas gambar dengan bangga.
Kael menerima kertas tersebut, mengamatinya beberapa saat. Di atas kertas itu, coretan krayon memperlihatkan hamparan laut berwarna biru dengan sebuah perahu yang ukurannya jauh lebih besar daripada pulau tempat mereka tinggal sekarang.
"Ini perahu atau kapal perang?" tanya Kael dengan nada suara yang datar dan wajah tanpa ekspresi.
"Hahaha! Kapal perang katanya!" Anak-anak yang mendengar pertanyaan polos itu langsung meledakkan tawa riuh.
"Bukan, Pak! Itu perahu milik ayahku!" sanggah bocah laki-laki itu sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
Kael mengangguk-angguk pelan, sudut bibirnya sedikit berkedut. "Kalau begitu, ayahmu harus segera mendaftar menjadi raja laut."
Gelak tawa kembali pecah memenuhi seluruh penjuru ruang kelas yang sederhana itu.
Dari ambang pintu kayu yang terbuka, Hana yang baru saja selesai merapikan peralatan medis setelah memeriksa kesehatan murid-murid, memperhatikan interaksi tersebut dengan seulas senyum tipis.
Dokter muda itu bersandar di kusen pintu, menyadari perubahan besar pada diri Kael. Pria itu memang masih pendiam dan menyimpan sejuta rahasia, namun kini, senyuman jauh lebih sering terbit di wajah tampannya dibanding saat pertama kali ditemukan terdampar di pantai.
Sore harinya, rona jingga di ufuk barat mengiringi kesibukan Kael di tepi pantai. Otot-otot lengan kekarnya tampak menegang kuat saat ia menarik tambang jala besar yang dipenuhi oleh rontaan ratusan ekor ikan.
"Kau ini sudah sangat cocok jadi nelayan sungguhan, Kael!" celetuk Pak Darno yang berdiri di sampingnya, lalu tertawa lebar hingga kumis tebalnya ikut bergoyang.
"Saya hanya sekadar membantu, Pak," sahut Kael pendek, tanpa menghentikan ritme tarikan tangannya.
"Halah, kalau caramu menarik jaring sehebat ini terus setiap hari, sebentar lagi pasti ada gadis desa sini yang nekat melamarmu duluan!" seloroh Pak Jalil, memancing perhatian nelayan lain.
"Wah, betul itu! Siap-siap saja, Kael!" timpal salah satu nelayan yang langsung disambut oleh gelak tawa keras yang menggema di sepanjang pesisir.
"Cari hiburan lain saja, Pak. Jangan menggoda saya." Kael hanya bisa menghela napas panjang, melirik Pak Darno dengan tatapan jengah.
"Lihat, wajahnya langsung memerah! Dia malu!" goda Pak Darno lagi, membuat suasana pantai semakin riuh oleh tawa.
Tak jauh dari lokasi tersebut, Hana yang sedang berjalan pulang sambil menentang tas medisnya, tanpa sengaja menangkap jelas candaan para nelayan. Langkah kaki dokter muda itu mendadak terhenti selama beberapa detik di atas pasir.
Deg.
Jantung Hana mendadak berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Pipinya terasa hangat tanpa alasan yang jelas. Menyadari reaksinya yang tidak wajar, Hana segera menggelengkan kepalanya pelan, lalu bergegas melanjutkan langkah kaki seolah-olah tidak mendengar apa pun.
"Ada apa dengan ku," batin Hana.
Sementara itu, suasana di dalam rumah kayu milik Bu Ratih terasa jauh lebih hangat dan hidup semenjak kehadiran Kael. Rani kini menunjukkan kemajuan yang luar biasa gadis kecil itu semakin lancar berbicara meskipun terkadang masih terbata-bata.
Sore yang syahdu itu, Rani tampak duduk berselonjor di lantai beranda sambil menggerakkan krayonnya, sementara Kael duduk di sampingnya, sibuk mengelem beberapa halaman buku pelajaran sekolah yang sobek.
Setelah beberapa menit berlalu dalam keheningan, Rani tiba-tiba menarik ujung baju Kael dan menyodorkan hasil gambarnya ke depan wajah pria itu.
Kael meletakkan buku di tangannya, lalu menerima kertas gambar tersebut. Pandangannya terpaku pada coretan sederhana di sana. Ada gambar sebuah rumah, Bu Ratih, Hana, dirinya sendiri, dan di bagian paling atas tertulis sebuah kata dengan huruf yang masih sedikit miring.
'Keluargaku'
Untuk beberapa saat, Kael hanya terdiam membisu, menatap lekat-lekat tulisan tangan Rani yang jujur itu. Dadanya mendadak terasa sesak oleh sebuah emosi yang asing.
"Ba... bagus?" tanya Rani lirih. Gadis kecil itu langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas ujung bajunya karena merasa malu sekaligus cemas menunggu penilaian.
Kael tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu perlahan mengangkat tangannya yang besar, lalu mengusap lembut puncak kepala Rani.
"Sangat bagus." puji Kael
Rani mendongak seketika, dan senyuman bahagianya langsung mengembang sangat lebar hingga kedua matanya menyipit. Di saat yang sama, seulas kehangatan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata perlahan mengalir, mengunci satu ruang khusus di dalam dada Kael.
Malam pun tiba memeluk Desa Sekar, membawa serta gumpalan awan hitam yang tebal. Hujan rintik-rintik mulai turun membasahi tanah, menciptakan suara ketukan ritmis di atas atap seng. Satu per satu lampu rumah milik warga mulai dipadamkan seiring malam yang semakin larut. Di dalam rumah, Rani dan Bu Ratih sudah terlelap dalam tidur mereka yang damai.
Namun, Kael masih terjaga sepenuhnya. Pria itu berdiri sendirian di sudut beranda rumah yang gelap, menatap lurus menembus tirai hujan di depan sana.
Perasaan tidak nyaman yang sempat menghilang, mendadak kembali merayap naik ke permukaan setumpuk instingnya. Alarm bahaya yang selama bertahun-tahun telah menyelamatkan nyawanya di dunia hitam, kini berdering nyaring di dalam kepala. Kael memejamkan matanya sesaat, menghirup udara malam yang dingin, lalu membukanya kembali dengan tatapan yang jauh lebih tajam.
Ada sesuatu dari masa lalunya yang sedang bergerak mendekat. Sangat dekat.
✨✨✨✨
Jauh di batas luar Desa Sekar.
Sebuah kendaraan tua tampak melaju konstan membelah kegelapan malam, sorot lampunya yang kekuningan menerangi jalanan pesisir yang sepi dan basah. Di balik kemudi, seorang pria berpostur tinggi tegap mengemudikan kendaraan dengan ekspresi wajah yang sedingin es.
Di atas kursi penumpang di sebelahnya, tergeletak selembar foto seorang pria yang sudut-sudutnya sudah mulai kusut akibat terlalu sering diremas. Pria di balik kemudi itu melirik foto Kael sekilas, sebelum akhirnya kembali melemparkan pandangannya lurus ke depan jalanan.
Suara deru mesin kendaraan itu terdengar semakin berat, memotong jarak kilometer demi kilometer, membawa sang pengemudi misterius melesat cepat menuju satu titik yang sama. Menuju ke Desa Sekar.
Intensitas hujan di Desa Sekar mendadak berubah menjadi semakin deras, mengguyur atap beranda tempat Kael berdiri tegak menantang angin malam.
Deg. Deg. Deg.
Jantung Kael bergolak hebat, memompa darahnya dengan ritme yang memburu cepat. Seluruh otot di tubuhnya refleks menegang, mengambil posisi siaga penuh yang sudah lama tidak ia gunakan. Mata tajamnya terkunci pada ujung jalan desa yang gelap gulita.
Dari kejauhan, seberkas cahaya lampu kendaraan perlahan muncul, membelah kelebatan air hujan yang turun dari langit. Cahaya itu bergerak konstan, merayap perlahan lurus menuju ke arah halaman rumah Bu Ratih.
"Tidak ada warga desa atau kendaraan asing yang bertamu selarut ini, terutama di tengah badai," batin Kael bergegas menyimpulkan situasi.
Sorot lampu silau itu semakin dekat, hingga akhirnya kendaraan tua itu berhenti tepat di depan pagar kayu rumah Bu Ratih. Detik berikutnya, suara deru mesin mati total, meninggalkan kesunyian mencekam yang hanya diisi oleh suara derasnya air hujan.
Kael tidak bergeser satu milimeter pun dari posisinya di kegelapan beranda, matanya memicing waspada.
Klik.
Pintu kendaraan terbuka. Sesosok pria tinggi tegap melangkah turun perlahan dari balik kemudi, membiarkan tubuhnya diguyur air hujan. Wajahnya masih tertutup rapat oleh bayangan topi dan kerah jaket gelap yang basah. Pria itu berdiri diam selama beberapa detik di samping mobilnya, seolah sedang mengendus keberadaan mangsanya.
Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.
Creeek...
Pagar kayu halaman depan terbuka perlahan akibat dorongan tangan pria tersebut.
Kael menahan napasnya sesaat. Cara berjalan, postur tubuh, dan aura intimidasi yang dipancarkan oleh pria misterius di tengah halaman itu terasa sangat familiar di dalam memorinya.
Namun, sebelum Kael sempat menebak siapa sosok di balik bayangan itu, sang pria misterius mendadak menghentikan langkah kakinya tepat di tengah halaman rumah.
Perlahan namun pasti, pria itu memasukkan tangan kanannya ke dalam saku jaket kulitnya. Detik berikutnya, ia mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk logam berwarna hitam pekat, lalu mengangkatnya tinggi-tierbuka ke arah halaman tempat Kael berdiri.
Craaakkk!
Kilatan petir yang sangat besar tiba-tiba membelah langit malam Desa Sekar. Dalam sepersekian detik, cahaya putih yang benderang itu menerangi seluruh area halaman rumah Bu Ratih dengan sangat jelas.
Dan pada detik itulah, pupil mata Kael seketika mengecil sempurna. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Benda logam hitam yang berada di genggaman pria misterius itu adalah sebuah emblem hitam berbentuk mahkota dengan ukiran yang sangat rumit dan presisi. Sebuah lambang keramat yang tidak mungkin salah dikenali oleh Kael.
Lambang Shadow Crown. Lambang dari organisasi pembunuh berdarah dingin yang seharusnya sudah ia tinggalkan bersama tumpukan mayat di masa lalunya.
Hujan badai terus mengguyur dengan beringas, menyamarkan seringai dingin yang perlahan terukir di wajah pria misterius di tengah halaman.
Untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki dan menemukan kedamaian di Desa Sekar, Kael menyadari satu kenyataan pahit yang tak bisa ia hindari lagi.
Masa lalunya yang berdarah... akhirnya telah berhasil menemukan tempat persembunyiannya.
"Ketua..."
Bersambung...