NovelToon NovelToon
Penyesalan Suami: Mengejar Mantan Terindah

Penyesalan Suami: Mengejar Mantan Terindah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Berbaikan
Popularitas:69.2k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.

Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.

Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.

Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Cahaya matahari yang menembus sela-sela pepohonan di halaman rumah menciptakan suasana yang hangat. Namun, kehangatan itu tidak mampu mengurangi ketegangan yang memenuhi hati Kanaya. Ia masih berdiri di teras rumah bersama Arkana. Percakapan panjang yang baru saja mereka lalui meninggalkan banyak luka yang kembali terbuka.

Di dalam rumah, sesekali terdengar suara tawa Abinaya dan Anaya yang sedang merekam video eksperimen bersama Shaka. Tawa polos itu membuat dada Arkana terasa hangat sekaligus nyeri dalam waktu yang bersamaan.

Selama lima tahun Arkana mencari keberadaan Kanaya tanpa pernah menyerah. Dan sekarang, setelah akhirnya menemukan mereka, ia justru dihadapkan pada kenyataan yang jauh lebih sulit daripada pencarian itu sendiri.

Kanaya mengembuskan napas panjang. Tatapannya menerawang ke arah halaman sebelum akhirnya berbalik menuju pintu rumah.

"Shaka," panggil Kanaya pelan.

Shaka yang sedang berada di ruang keluarga segera menoleh. "Iya, Mbak Kanaya, ada apa?"

"Tolong panggil Abi dan Aya ke sini."

Shaka sempat melirik Arkana. Ia mengerti apa yang akan dilakukan Kanaya. Dengan anggukan kecil, pria itu kembali masuk ke ruang keluarga.

Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki kecil berlarian.

"Bundaaa!"

Anaya muncul lebih dulu dengan wajah ceria. Di belakangnya, Abinaya berjalan sambil membawa beberapa lembar kertas hasil eksperimen mereka.

"Bunda lihat! Tadi pelanginya berhasil jalan!" seru Anaya penuh semangat.

"Iya. Bahkan lebih bagus daripada percobaan kemarin," tambah Abinaya bangga.

Namun, senyum keduanya perlahan memudar ketika melihat wajah Kanaya yang tampak lebih serius dari biasanya.

"Ada apa, Bunda?" tanya Anaya sambil memeluk lengan ibunya.

Kanaya berjongkok hingga sejajar dengan kedua anaknya. Tangannya meraih jemari mereka satu per satu. Entah mengapa tenggorokannya terasa tercekat. Selama ini ia selalu mampu menghadapi berbagai kesulitan hidup, tetapi untuk mengucapkan kalimat yang satu ini, ia justru merasa sangat gugup.

"Abi ... Aya," ucap wanita berjilbab itu pelan. Kedua anak itu menatapnya penuh perhatian.

"Bunda mau mengatakan sesuatu."

Anaya langsung mengangguk. Sementara Abinaya terlihat mulai serius.

Kanaya menelan ludah sebelum melanjutkan. "Kalian pernah bertanya tentang ayah kalian, kan?"

Anaya mengangguk cepat. Ia memang pernah bertanya beberapa kali ketika melihat teman-temannya datang ke sekolah bersama ayah mereka. Sedangkan Abinaya hanya diam.

Kanaya menggenggam tangan mereka sedikit lebih erat.

"Orang yang selama ini kalian tanyakan sekarang berdiri di depan kalian." Kanya berhenti sejenak. Jantungnya berdegup semakin cepat. "Dia adalah ayah kandung kalian."

Seketika suasana menjadi sunyi. Anaya membulatkan matanya. Pandangan anak itu berpindah dari Kanaya ke Arkana, lalu kembali lagi kepada ibunya.

"Beneran, Bun?"

Kanaya mengangguk perlahan. "Iya."

Anaya masih tampak tidak percaya. "Tapi selama ini Bunda bilang Ayah sudah enggak ada."

Kanaya tersenyum tipis. "Bunda bilang begitu karena saat itu memang Ayah tidak bersama kita."

Anaya kembali menoleh ke arah Arkana. Kali ini ia memperhatikan pria itu lebih lama. Seolah sedang mencari jawaban dari semua pertanyaan yang selama ini ada di kepalanya.

"Jadi, aku punya Ayah?" ucapnya lirih. Anak itu menunjuk dirinya sendiri.

Kanaya mengangguk lagi. "Iya, Sayang."

Wajah Anaya langsung berubah cerah. Matanya berbinar-binar. "Serius, Bun?"

"Iya." Kanaya tertawa kecil di tengah genangan air matanya.

Detik berikutnya, Anaya berlari mendekati Arkana. Namun, ketika sudah berada di depannya, ia mendadak berhenti. Anak itu mendongakkan kepala.

Sementara Arkana menatapnya dengan mata yang sudah basah. "Jadi Om ini Ayah Aya?"

Suara Arkana bergetar ketika menjawab. "Iya, Nak."

Anaya masih memperhatikan wajahnya. Lalu, tiba-tiba tersenyum lebar.

"Yeaaay ... aku punya Ayah!" Anak itu langsung memeluk Arkana tanpa ragu.

Tubuh Arkana membeku sesaat. Kemudian perlahan kedua lengannya melingkar membalas pelukan kecil itu.

Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, seorang ayah memeluk putrinya. Dan untuk pertama kalinya pula, Arkana merasakan seperti apa rasanya memeluk darah dagingnya sendiri.

Tubuh pria itu bergetar hebat. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh tanpa bisa dicegah.

"Maaf..." bisik Arkana serak.

Anaya mengangkat wajah. "Kenapa Ayah minta maaf?"

Pertanyaan polos itu membuat hati Arkana semakin hancur. "Ayah terlambat menemukan kalian."

Anaya mengerutkan dahi, belum sepenuhnya memahami makna kalimat itu. Namun, ia tetap memeluk Arkana sekali lagi.

Sementara itu, tidak jauh dari sana, Abinaya masih berdiri di samping Kanaya. Ia tidak bergerak, apalagi tersenyum.

Arkana perlahan menoleh ke arahnya. Dadanya kembali sesak. Wajah anak itu begitu mirip dengannya hingga membuat hatinya bergetar.

"Abi ...," panggil Arkna hati-hati.

Abinaya tidak menjawab.

"Ayah minta maaf. Ayah tidak tahu kalau kamu dan Aya ada."

Anak laki-laki itu tetap diam. Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya Abinaya mengangkat wajah. Tatapannya lurus ke arah Arkana.

"Aku enggak kenal Om."

Kalimat sederhana itu terasa seperti pukulan yang menghantam tepat di dada Arkana. Pria itu menundukkan kepala.

"Aku cuma kenal Bunda. Yang selalu ada buat aku dan Aya juga cuma Bunda."

Tenggorokan Arkana terasa semakin sesak.

Abinaya menggenggam tangan Kanaya. Seolah mencari tempat yang paling aman untuk dirinya.

"Aku enggak butuh Ayah."

Suasana mendadak hening.

Kanaya bisa melihat luka yang tersimpan di dalam hati putranya. Luka yang terbentuk bukan karena kebencian, melainkan karena kekosongan yang terlalu lama dibiarkan ada. Ia berjongkok di depan Abinaya lalu mengusap rambut anak itu dengan lembut.

"Abi."

"Iya, Bun." Anak laki-laki itu menunduk.

"Mau bagaimana pun, beliau tetap ayah kandung kamu," ucap Kanaya dengan nada lembut

Abinaya tidak menjawab. Menunjukkan kalau dirinya tidak berkenan.

"Tapi Bunda juga tidak akan memaksa Abi."

Perlahan Abinaya memeluk ibunya. "Aku cuma mau Bunda."

Kanaya membalas pelukan itu erat-erat. Kemudian ia mengangkat wajah dan menatap Arkana. Tatapan mereka bertemu.

"Mas," ucap Kanaya pelan. "Jangan paksa Abi."

Arkana langsung memperhatikannya. Pria itu terdiam.

"Dia butuh waktu, jadi biarkan dia."

Arkana menunduk pelan lalu mengangguk. Ia mengerti. "Aku mengerti," jawabnya lirih.

Bukan hanya Abinaya yang membutuhkan waktu. Kanaya juga. Mungkin luka yang ia tinggalkan tidak akan pernah benar-benar hilang.

"Biarkan semuanya berjalan apa adanya."

Arkana memandang putranya yang masih memeluk Kanaya, lalu menoleh kepada Anaya yang kini masih menggenggam tangannya dengan wajah penuh rasa ingin tahu.

Namun, saat itu juga Arkana menyadari satu hal. Menemukan mereka ternyata jauh lebih mudah daripada mendapatkan kembali tempat di hati orang-orang yang pernah ia lukai.

Kanaya masih duduk di teras rumah sambil menemani Abinaya dan Anaya. Angin bertiup pelan, menggerakkan beberapa daun tanaman hias yang berjajar di halaman. Suasana yang tadinya tegang perlahan mulai tenang, meski masih ada banyak hal yang belum terselesaikan di antara dirinya dan Arkana.

Anaya tampak paling bahagia. Sejak mengetahui Arkana adalah ayah kandungnya, gadis kecil itu tidak berhenti melirik ke arah pria tersebut. Sesekali ia tersenyum sendiri, lalu kembali duduk di samping Kanaya sambil memeluk lengannya.

Berbeda dengan saudara kembarnya, Abinaya masih menjaga jarak. Anak laki-laki itu memilih duduk dekat Kanaya dan tidak banyak bicara. Meski begitu, sesekali matanya diam-diam memperhatikan Arkana.

Arkana mengusap kepala Anaya dengan lembut. Hatinya terasa hangat hanya karena bisa berada sedekat ini dengan kedua anaknya. Lima tahun bukan waktu yang sebentar. Selama itu pula ia kehilangan banyak hal yang seharusnya menjadi bagian dari hidupnya.

"Aya," panggil Arkana pelan.

Kanaya mengangkat pandangan. "Ada apa?"

"Aku ingin mengenalkan kalian kepada Mama."

Kanaya sedikit mengernyit mendengar kata itu. "Mama?"

"Iya. Mama pasti sangat ingin bertemu kalian."

Anaya langsung memajukan tubuhnya. "Mama siapa, Yah?"

"Mama Ayah."

Mata Anaya membulat. "Berarti Aya punya nenek?"

Arkana tersenyum. "Iya."

Anaya langsung tertawa senang. Selama ini ia hanya mengenal Bu Cintia sebagai oma. Mendengar bahwa ia masih memiliki nenek dari pihak ayah membuat rasa ingin tahunya semakin besar.

Sementara itu, Kanaya justru terdiam. Dalam benaknya muncul kembali kenangan bertahun-tahun lalu.

Saat masih menjadi istri Arkana, ia pernah bertanya tentang keluarga pria itu. Waktu itu Arkana hanya mengatakan bahwa ibunya bekerja di luar negeri dan sangat sibuk. Karena itulah ibunya tidak bisa hadir saat mereka menikah secara siri.

Dulu Kanaya mempercayai semua ucapan Arkana. Ia bahkan sempat mengira Arkana berasal dari keluarga sederhana. Cara hidup Arkana saat kuliah tidak pernah menunjukkan bahwa ia berasal dari keluarga berada. Pria itu berpakaian biasa, bergaul seperti mahasiswa lainnya, dan tidak pernah memamerkan apa pun.

Namun setelah melihat semua yang terjadi sekarang, Kanaya mulai menyadari sesuatu. Ia sebenarnya tidak pernah benar-benar mengenal Arkana. Ia tidak tahu bagaimana kehidupan keluarga pria yang menjadi suaminya. Ia tidak tahu pekerjaan keluarganya. Ia bahkan tidak tahu siapa sebenarnya ibunda Arkana.

Perasaan sesak kembali memenuhi dada Kanaya. Bukan karena cinta lama yang belum hilang. Melainkan karena muncul kesadaran bahwa dulu dirinya begitu percaya kepada seseorang yang ternyata menyimpan banyak hal darinya.

Kanaya menunduk, berusaha menenangkan perasaannya sendiri. Sementara itu, Arkana sudah mengeluarkan ponselnya.

"Aku telepon Mama dulu."

1
Sugiharti Rusli
perlahan tapi pasti semoga apa yang kamu impikan bersama keluarga kecil kalian yang utuh bisa segera terwujud yah Ar,,,
Sugiharti Rusli
tapi melihat ketulusan Arkana menjaganya bersama sang bunda semalaman, akhirnya pertahanannya runtuh juga,,,
Sugiharti Rusli
mungkin selama ini sejatinya Abi juga merindukan sosok yang ingin dia panggil ayah, tapi masih menahan dirinya,,,
Sugiharti Rusli
ternyata benar yah ikatan emosional itu sangat penting disamping kedekatan fisik
Sugiharti Rusli
ah ikutan melow bacanya sih😪😪😪
Sugiharti Rusli
apalagi di saat sekarang putra mereka sakit dan ternyata ga suka minum obat jadi proses pemulihannya jadi ga mudah,,,
Sugiharti Rusli
intinya si Arkana memang sabar saja nunggu proses Kanaya mau menerima diri nya lagi seutuhnya yah,,,
Sugiharti Rusli
etapi si Kanaya saat Arka panggil sayang dia reflek langsung menyahut donk😝😝😝
Sugiharti Rusli
Aya kamu peka dan jujur sekali sih bilang kalo ayahnya cemburu😅😅😅
Sugiharti Rusli
wah ternyata ada salah satu klien katering Kanaya yang menyapa mereka rupanya,,,
Sugiharti Rusli
Arkana juga bisa menjaga batasannya dan dia ga mau terlihat mendominasi yah,,,
Sugiharti Rusli
dan yang paling terpenting Kanaya tidak membatasi anak" saat akan menghabiskan bersama kedua buah hatinya dan dia tidak merasa insecure perhatian mereka jadi berat sebelah,,,
ken darsihk
Alhamdulillah Abi sudah membaik dan bisa menerima Arkana sebagai ayah nya 😍😍
Sugiharti Rusli
tapi membangun kedekatan itu bukan hanya secara fisik, tapi juga emosional dan itu ga bisa dipupuk dalam waktu singkat
Sugiharti Rusli
biar kembar, mereka punya kehendak masing" sih dan Arkana ga mau memaksakan putranya juga langsung jadi dekat,,,
Sugiharti Rusli
kalo diperhatiakn Anaya memang tipikal yang ekspresif yah, jadi paling tidak Arkana lebih mudah jadi dekat sama sang putri
Sugiharti Rusli
bahagia itu memang sederhana sih asal bersama orang" yang kita sayangi,,,
Sugiharti Rusli
apalagi Kanaya berhasil mendidik mereka menjadi anak baik dan santun, meski masih anak",,,
Sugiharti Rusli
tapi di luar itu kehadiran si kembar, khusus nya Anaya yang sangat hangat dan menerima dengan tangan terbuka, itu yang jadi penyemangat kamu,,,
RosMa🌹🌹🌹
Alhamdulillah Abi sudah sembuh..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!