NovelToon NovelToon
Belenggu Masa Lalu: Menjemput Hatimu Kembali

Belenggu Masa Lalu: Menjemput Hatimu Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Genre: Romance, Psychological Thriller, Suspense, Drama

Tag: CEO, Mantan Istri, Posesif, Psikopat, Penyesalan, Second Chance Romance

Sinopsis Resmi:
Dua tahun setelah menceraikan Kirana karena keangkuhannya, CEO Adrian Dirgantara didera penyesalan mendalam. Saat ia berniat merebut kembali hati mantan istrinya, Adrian mendapati Kirana telah menikah lagi dengan Rendy Baskoro.

Di mata publik, Rendy adalah suami sempurna. Namun di balik pintu rumah, Rendy adalah seorang psikopat manipulatif yang menyiksa dan menyekap Kirana dalam teror obsesi yang gila.

Menyadari Kirana dalam bahaya maut, Adrian mempertaruhkan nyawa dan seluruh kekuasaannya untuk menghancurkan Rendy. Akankah Kirana yang penuh trauma bisa kembali luluh dan selamat di pelukan Adrian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benang Merah di Atas Luka (2)

Malam itu, Jakarta diguyur hujan deras yang seolah mewakili badai kemarahan di dalam dada Adrian Dirgantara. Di dalam ruang bawah tanah rumah utama keluarga Dirgantara di Menteng, aroma kertas tua dan debu menyeruak. Adrian berdiri mematung di depan sebuah brankas baja kuno yang pintunya sudah terbuka lebar.

Rendra melangkah mendekat dengan wajah lesu, memegang sebuah buku harian bersampul kulit hitam milik almarhum Baskoro Dirgantara—ayah Adrian.

"Aku sudah memeriksa catatan transaksi rahasia tahun 2011, Adrian," ujar Rendra, suaranya terdengar sangat berat. Ia membuka sebuah halaman yang dipenuhi angka-angka koordinat bank Swiss. "Danuar tidak berbohong. Dana lima ratus miliar itu memang mengalir dari rekening Baskoro Senior ke rekening perusahaan cangkang milik ayahmu. Dan di minggu yang sama... jalur kredit Larasati Tekstil di tiga bank swasta mendadak diputus secara sepihak."

Adrian memejamkan mata erat-erat. Rahangnya mengatup begitu keras hingga menciptakan rasa nyeri yang menjalar ke pelipisnya. Fakta ini menghantamnya lebih keras daripada peluru yang bersarang di lengannya setahun lalu.

"Jadi... pernikahan pertamaku dengan Kirana dulu," bisik Adrian, suaranya parau menahan badai emosi. "Ayah memaksaku menikahi Kirana bukan karena rasa bersalah, melainkan karena ada klausul di dalam perjanjian obligasi itu untuk mengamankan sisa aset tanah Larasati Tekstil agar tidak jatuh ke tangan hukum."

"Tepat," sahut Rendra pahit. "Ayahmu dan Ayah Rendy bekerja sama untuk meruntuhkan Larasati Tekstil. Tapi setelah perusahaan itu hancur, mereka saling mengkhianati demi menguasai lahan pelabuhan sendirian. Itulah kenapa Rendy sangat membencimu, dan itulah kenapa Danuar memegang kartu as ini."

Adrian mengepalkan tinjunya, menghantam dinding beton di sampingnya hingga buku-buku jarinya memerah dan lecet. "Brengsek! Mereka menjadikan Kirana sebagai bidak catur di dalam keserakan mereka! Dan sekarang... aku yang harus membayar seluruh dosa-dosa itu dengan kebahagiaan Kirana?!"

"Adrian, tenangkan dirimu!" Rendra mencengkeram pundak sahabatnya. "Danuar memberi kita waktu sampai besok pagi. Kita harus mencari cara untuk memutus legalitas dokumen ini sebelum dia membocorkannya ke media atau... ke Kirana."

Adrian menarik napas dalam-dalam, mencoba mengembalikan kontrol penuh atas kesadarannya sebagai seorang pemimpin. "Siapkan jet pribadi. Kita kembali ke Bali malam ini juga. Perasaanku tidak enak, Rendra. Danuar dan Arissa bukan tipe orang yang akan menunggu dengan manis sampai tenggat waktu habis."

 

Firasat Adrian terbukti benar, namun segalanya sudah terlambat.

Di bawah guyuran hujan yang mulai membasahi pelataran Bandara Ngurah Rai, Bali, sebuah taksi melaju tergesa-gesa. Di dalam kabin belakang, Kirana duduk dengan pandangan kosong menatap ke luar jendela. Tangannya mencengkeram erat amplop cokelat usang peninggalan ayahnya yang kini sudah basah oleh air matanya sendiri.

Pikiran Kirana benar-benar pecah. Setiap kenangan manis bersama Adrian selama satu tahun terakhir di Uluwatu seolah menguap, digantikan oleh kilasan visual kematian ayahnya yang memilukan.

*“Selama ini... aku memeluk pria yang darahnya mengalir dari orang yang membunuh ayahku,”* batin Kirana, dadanya terasa begitu sesak hingga ia kesulitan untuk sekadar menarik napas.

Panggilan dari Arissa beberapa jam lalu adalah pukulan terakhir yang meruntuhkan sisa-sisa kewarasannya. Kirana tidak tahu apa yang nyata dan apa yang manipulasi lagi. Satu-satunya hal yang ia tahu adalah ia harus berhadapan langsung dengan kebenaran itu di Jakarta, tidak peduli seberapa hancur dirinya nanti.

Taksi berhenti di depan terminal keberangkatan domestik. Kirana melangkah keluar ke bawah rintik hujan, membeli tiket penerbangan pertama menuju Jakarta dengan sisa tabungan pribadinya—penerbangan yang akan membawanya kembali masuk ke dalam sarang serigala.

 

Keesokan paginya, pukul sembilan, matahari Jakarta tertutup oleh awan mendung yang tebal.

Di dalam ruang kerja eksekutif sebuah firma hukum di kawasan SCBD, Danuar Baskoro duduk dengan tenang, memperhatikan Arissa yang sedang merapikan riasan wajahnya di depan cermin kecil.

"Dia sudah mendarat di Soekarno-Hatta satu jam lalu, Danuar," ucap Arissa dengan senyuman kemenangan yang dingin. "Orang-orangku melihat Kirana keluar dari terminal dengan wajah seperti mayat hidup. Dia langsung memesan taksi menuju ke sini."

Danuar menyesap kopi hitamnya tanpa ekspresi. "Seperti yang sudah kuprediksi. Wanita yang digerakkan oleh trauma emosional sangat mudah ditebak arah langkahnya. Dia mengira dia datang untuk mencari kebenaran, padahal dia hanya berjalan menuju tempat eksekusi hubungan mereka."

*TOK! TOK! TOK!*

Pintu ruang kerja itu diketuk kasar sebelum akhirnya terbuka lebar. Bukan Kirana yang muncul, melainkan Adrian Dirgantara yang datang bersama Rendra dan tiga orang pengawal berbadan tegap. Aura membunuh yang terpancar dari tubuh Adrian seketika membuat asisten Danuar di depan pintu mundur ketakutan.

Danuar tidak terkejut. Ia hanya menurunkan cangkir kopinya perlahan. "Ah, Tuan Adrian. Anda datang dua jam lebih cepat dari tenggat waktu kesepakatan kita. Apakah Anda sudah membawa surat cerai dan dokumen pengalihan aset Baskoro Logistics?"

Adrian melangkah mendekati meja Danuar, lalu mencengkeram kerah kemeja mahal pria itu dengan satu tangan, mengangkat tubuh Danuar hingga setengah berdiri dari kursinya. Para pengawal Danuar bersiap bergerak, namun Rendra dengan cepat menodongkan kode etik keamanan yang membuat mereka tidak berani melangkah maju.

"Di mana Kirana, Danuar?!" desis Adrian, suaranya bergetar karena kemarahan yang luar biasa, mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Danuar yang dingin. "Ponselnya tidak aktif sejak semalam, dan dia tidak ada di vila Bali. Apa yang sudah kamu lakukan padanya?!"

Danuar, meski dalam posisi terancam, tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Ia bahkan membiarkan senyuman tipisnya merekah kembali. "Aku tidak melakukan apa-apa, Adrian. Aku menghormati hukum, ingat? Tapi istrimu yang malang itu... tampaknya dia menemukan sebuah surat lama yang sangat menarik di Bali. Sebuah surat yang menjelaskan bagaimana ayahmu menghancurkan keluarganya."

Adrian melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Danuar terenyak kembali ke kursinya.

"Adrian..."

Sebuah suara serak dan bergetar terdengar dari arah pintu masuk yang terbuka.

Adrian membalikkan badannya dengan cepat. Di sana, berdiri Kirana. Rambutnya sedikit basah oleh sisa air hujan, pakaiannya tampak kusut, dan wajahnya sangat pucat dengan kantung mata yang menghitam. Namun, yang membuat jantung Adrian seolah berhenti berdetak adalah tatapan mata Kirana—tatapan yang penuh dengan kekecewaan, rasa sakit, dan kebencian yang mendalam. Tatapan yang belum pernah Adrian lihat sebelumnya, bahkan di masa-masa terburuk pernikahan pertama mereka.

"Kirana..." bisik Adrian, melangkah maju ingin meraih tangan istrinya.

"Jangan sentuh aku, Mas!" teriak Kirana, suaranya melengking tinggi, melangkah mundur menjauh dari jangkauan Adrian. Ia mengangkat amplop cokelat di tangannya, lalu melemparkannya tepat ke arah dada Adrian hingga lembaran surat di dalamnya berhamburan di atas lantai.

"Katakan padaku, Mas..." Kirana terisak, air matanya kembali tumpah dengan deras di depan semua orang di ruangan itu. "Katakan kalau semua yang tertulis di surat Ayah itu bohong! Katakan kalau ayahmu tidak pernah menghancurkan keluargaku! Katakan kalau pernikahan kita dulu bukan karena konspirasi uang haram itu!"

Adrian terpaku di tempatnya berdiri. Ia menatap lembaran surat di lantai, lalu kembali menatap Kirana. Mulutnya terbuka, namun tidak ada satu kata pun yang sanggup keluar dari tenggorokannya. Kebenaran yang baru ia temukan semalam di Menteng membuat Adrian tidak bisa berbohong di depan wanita yang teramat ia cintai ini.

Melihat keterdiaman Adrian, runtuhlah sudah seluruh harapan terakhir di dalam hati Kirana. Kebungkaman Adrian adalah konfirmasi mutlak yang paling menyakitkan.

Di sudut ruangan, Danuar Baskoro bangkit berdiri, merapikan kembali jasnya yang sempat kusut dengan senyuman yang sangat puas.

"Selamat datang di dunia nyata, Kirana," ucap Danuar dengan suara baritonnya yang tenang dan manipulatif. "Sekarang kamu tahu, pria yang berpura-pura menjadi pahlawanmu selama ini... sebenarnya adalah anak dari monster yang sesungguhnya."

 

Bersambung

1
Aera_yong
terimakasih ya teman-teman udah support novel aku😍😍
Afri
deg deg an baca nya ..👍👍
Afri
sama sama adu kekuatan 💪💪👍
Afri
seruu
Aera_yong
jangan lupa juga beri dukungan dan support novel ini yah🤭
Aera_yong
jangan lupa baca novel terbaru aku yah tentang The Four Elite
Batriani
gaya mafia......
Batriani
dendam membara
Batriani
seru juga baca nya ditengah derunya drachin dan drakor....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!