Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.
Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.
Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.
Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.
Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 6. Kobel-kobel sendiri
Sudah seminggu belakangan mas Barraq tidak pulang, kami tidak pernah chatingan. Hanya sesekali menelpon saja, itu pun tidak lama. Sepertinya, ia tengah menikmati waktu ributnya dengan ayahnya.
Aku jadi ingin tertawa jika membayangkan ayah dan anak yang pantasnya menjadi kakak beradik itu ribut tanpa ada yang memisahkan. Mereka pernah ribut di ruang kerjaku, untungnya ibu Nala ada di situ dan memisahkan mereka.
Aku tidak tahu rupa orang yang dipanggil ayah oleh mas Nadim itu, atau kakeknya itu. Karena beliau tidak pernah datang mencari cucu badungnya ini, hanya pernah ketahuan olehku mereka tengah menelpon saja.
Aku dan teman perempuanku, Shelly. Tengah menonton seorang perempuan yang sedang dilamar oleh kekasihnya di coffee shop ini. Meski kami cuma kebagian tepuk tangan dan nyengir, aku tetap berbunga-bunga sendiri melihat keberuntungan perempuan tersebut.
“Kok bisa ya dari ribuan wanita yang diusahakan, kita tidak termasuk dalam bagiannya?” celetuknya seperti tengah merasakan iri dan miris.
Aku yang tengah menikmati kopi terasa seperti minum segelas-gelasnya juga.
Ia kaya, tajir melintir. Ia pengusaha resto juga seperti mas Barraq, ia temannya mas Barraq juga.
Shelly merambah ke bisnis pakaian, karena saat kami iseng menjual pakaian bekasnya dengan aku sebagai model peraga pakaiannya sampai laku keras. Ia lanjut menekuni bisnis itu sampai sekarang.
Tapi ternyata, ia merasa iri dengan kebahagiaan perempuan lain.
“Janda juga kamu kaya, Shell. Enak, bebas tenang,” celetukku dengan menaruh gelas kopiku ke atas meja.
Ya begini pekerjaanku, tidak melulu serius dan menekuni laporan. Ada santai dan bisa ditinggal ke mana-mana juga.
“Tapi aku kobel-kobel sendiri loh,” sahutnya dengan menoleh perlahan terpampang wajah sedihnya.
Bukannya ikut sedih melihat wajahnya, aku salah fokus dengan ucapannya. Aku tertawa lepas dengan memukul pelan lengan atasnya.
“Sama berarti,” timpalku yang membuat Shelly juga melepaskan tawanya.
“Kau punya suami tak ada fungsinya betul, sampai batangnya pun tak bisa kau pakai sebutuh kau mau,” ujarnya seperti sengaja menyadarkanku, meski aku paham ia tengah meledekku.
Aku gampang terhasut, pikiranku gampang kacau. Benar juga memang, fungsi mas Galih itu apa? Menafkahi secara lahir, tidak. Apalagi secara batin.
Terang saja, meski hanya menempuh empat jam perjalanan, aku enggan pulang kampung. Aku merasa seolah aku yang amat membutuhkannya sendiri, sedangkan ia tidak demikian. Makanya pernikahan hampir tiga tahun pun, kami belum memiliki momongan.
Ketika lebaran saja, aku memilih pulang kampung ke rumah orang tua jam sebelas malam, setelah aku rampung bekerja. Sekitar jam tiga pagi aku sampai, tidur sebentar dan mulai menikmati hari raya. Lalu, ke rumah mertua dan menemui mas Galih. Ketika ia mengajakku berduaan, aku memilih pulang lagi ke Jakarta pukul sepuluh pagi. Aku memilih bekerja saja, ketimbang mengumbar h****t kami.
Aku sebenarnya masih amat membutuhkan hal itu, makanya sampai memilih untuk menikah lagi. Tapi karena banyaknya problem, membuatku tak bern***u dengan suamiku sendiri.
Ia tidak mau berubah, meski aku berulang kali menegurnya.
Bukan tentang ia malas bekerja saja, tapi ia juga berat pada orang tuanya. Menyesalnya aku, itu semua terlihat setelah sah menikah. Aku jadi malas menjalani pernikahan, tapi aku malu jika harus bercerai lagi.
“Nanti aku beli yang bisa bergetar berputar,” jawabku sekenanya.
“Pakai punya abang-abang bermarga, beuh enaknya penuh. Makanya tak bisa move on aku dari ex suamiku. Bukan tentang cinta kasih sayangnya, karena enaknya itu loh,” ujarnya yang membuatku kembali tertawa.
Dia dari Medan, logatnya mirip mas Barraq meski ia lama di sini. Soalnya ia sering bolak-balik ke Medan, ia ketika pulang kampung cukup lama. Bisa berminggu-minggu sampai berbulan-bulan. Usianya sama seperti mas Barraq, dua puluh lima tahunan.
“Rujuklah sana kalau gitu,” timpalku dengan menyesapi rokok elektrikku. Ini sudah umum di kota besar, jadi tidak ada yang memandangku sebelah mata.
“Tak lah, habis duitku nanti buat bantu dia berjuang di website judol,” sahutnya dengan melakukan hal yang sama sepertiku dengan pod yang menggantung di lehernya itu.
“Kalau WD kan buat kau juga,” balasku dengan memperhatikan sekelilingku.
Sudah mendekati jam sepuluh malam, aku harus menyelesaikan laporan dan pulang untuk istirahat.
“Halah, kalau WD itu pun. Udahlah, pokoknya aku mau fokus sama brondongku. Yang bujang-bujang saja, yang penting… banyak sawitnya…” Ia malah bersenandung dan mencolek pinggangku.
Ia tengah mengincar saudaranya mas Barraq, guys. Saudara jauh katanya sih, masih satu eyang buyut. Umurnya sendiri di bawah mas Barraq, tapi lahan sawitnya banyak meskipun masih dalam naungan perusahaan keluarga besar mas Barraq juga.
“Kau nge-gym juga ya, De?” tanyanya dengan mencubit-cubit pinggangku.
“He’em,” jawabku dengan mulai membuka emailku.
Kepala barista lima coffee shop sudah mengirimkan laporan harian, aku harus membacanya dan merekapnya.
“Kau ngincar siapa sih, sampai bentuk kau sempurna betul?” ujarnya kembali, di kala aku mulai fokus dengan pekerjaanku.
Ia teman yang tidak peka. Ia betah berlama-lama mengobrol, aku tidak bisa meladeninya terus.
“Tak ngincar siapa-siapa. Aku bahagia dan aku merayakan kebahagiaanku sendiri! Aku punya duit dan aku mampu apa-apa sendiri. Dari ngenyangin perut, sampai penuhi nafkah batin sendiri.” Aku bangkit dan menyesapi kembali pod milikku. “Udah sana balik, aku mau lanjut kerja terus kobel-kobel,” lanjutku yang membuatnya tertawa lepas.
Aku tidak bohong, setiap aku mau tidur aku harus melepaskan h****tku dulu. Jika tidak, aku sulit tidur dan paginya aku seperti malas sekali untuk bekerja.
Tapi hal-hal yang dibercandakan seperti ini orang tidak akan percaya jika benar aku melakukannya. Seperti tentang statusku yang menjadi istri orang. Aku sering mengakuinya di lingkaran teman-temanku, mas Barraq pun tahu sejak dulu.
Tapi ketika serius ditanya, aku menjawab sesuai kebenarannya, malah ia tidak percaya karena aku sering bercanda.
“Ya, ya. Kau masuk aja, aku nanggung habisin kopiku dulu,” tukasnya dengan mengangkat gelas kopinya dengan sudut bibir yang masih tertarik karena tawa ringannya.
Aku melesat masuk ke ruanganku tanpa permisi.
Besok sepertinya aku harus stay di coffee shop lainnya, karena seharian ini aku di sini. Begitu terus siklus kerjaku, sehari kadang mendatangi lima coffee shop. Kadang stay di satu cabang saja, kadang di beberapa cabang juga.
Pukul setengah sebelas malam kerjaanku sudah selesai. Setelah memastikan ruangan terkunci dan alarm keamanan aktif, aku bergegas menuju mobilku yang terparkir di sebelah coffee shop ini.
Coffee shop ini depan jalan utama, sehingga lahan parkirnya di belakang dan samping.
Dari hasil kerja kerasku, aku bisa membeli mobil sendiri. Brio merah menyala sengaja kupilih, agar aku mencolok di mata orang lain. Aku membutuhkan validasi dari hasil kerja kerasku, karena suamiku tak mampu jika sampai seperti ini.
Seperti biasa, aku masuk ke apartemenku dengan lampu yang masih gelap semua. Aku menyewanya, bukan membelinya. Karena aku tak akan selamanya di perantauan saja, aku paham itu.
Seperti ada suhu hangat tubuh orang lain, tapi masa iya mas Barraq pulang tanpa menyalakan lampu begini? Kan tidak mungkin sekali.
Namun, ketika tanganku akan menaruh kartu kunci agar lampu menyala. Tiba-tiba, tubuhku terhimpit ke tembok. Lalu, penutup kepalaku dibuang begitu saja.
Inilah yang aku takutkan di rantau orang, manusia jahat.
Ya Tuhan, bagaimana caranya aku mencari pertolongan?
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠