Satu skandal, dua musuh bebuyutan, dan 24 jam kamera yang menyala.
Sienna Rose, seorang supermodel papan atas, mendadak dihujat publik dan dituduh menjadi simpanan sugar daddy. Di waktu yang sama, Declan Bryer, aktor internasional berwajah sedingin es, tersandung skandal orientasi seksual. Demi menyelamatkan karier bernilai jutaan dolar, manajemen mereka memaksa keduanya bergabung dalam reality show pernikahan palsu, We Got Married.
Publik mengira mereka pasangan serasi yang romantis. Namun di balik layar, saat kamera mati, mereka adalah musuh bebuyutan masa kecil yang saling membenci! Sanggupkah Sienna menahan diri untuk tidak mencakar Declan di depan kamera? Dan apa yang terjadi saat masa lalu yang belum usai serta rahasia besar keluarga mereka perlahan mulai terkelupas di tengah sandiwara ini?
"Kurangin manjanya di depan kamera. Geli gue dengernya." — Declan Bryer.
"Pikir gue sudi?! Lo itu cuma kanebo kering, Declan!" — Sienna Rose.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Kontrak Baru di Atas Meja Mahoni
"Gue rasa ancaman lo buat mulangin gue ke Jogja udah kedaluwarsa sejak Papa gue bawa pasukan jas hitam ke rumah sakit semalam, Declan."
Sienna menyandarkan punggungnya ke kursi mahoni, menatap Declan dengan senyum kemenangan yang tertahan di sudut bibirnya. Mata kucingnya berbinar jenaka di bawah pendar lampu restoran yang hangat, sama sekali tidak terintimidasi oleh tatapan tajam pria di sebelahnya.
Declan hanya mendengus, melepaskan tautan jemari mereka di bawah meja untuk meraih gelas berisi air putih. "Lo jangan tuman ya, Rose. Mentang-mentang ada backup dari Ketua Mafia, sekarang lo berani ngelawan gue?"
"Loh, kenapa enggak? Kan sekarang panggung dramanya udah selesai. Kita udah gak perlu pura-pura lagi di depan kamera," sahut Sienna santai, sengaja menekankan kata 'pura-pura'.
"Siapa yang bilang selesai?"
Suara berat Vincent duBois mendadak memotong perdebatan kecil mereka. Pria paruh baya itu meletakkan garpu peraknya ke atas piring dengan dentingan pelan yang sanggup membuat atmosfer meja makan kembali serius. Vincent menatap Declan dan Sienna bergantian dengan tatapan matanya yang sangat tajam.
Sienna mengerjap, menoleh ke arah ayahnya. "Maksud Papa? Kan video pengakuan Maura udah disiarin, reputasi Edrick juga udah hancur. Acara WGM itu pasti bakal dihentikan, kan?"
"Acara TV itu memang akan dihentikan," sahut Damiano Bryer dari sisi kanan meja. Ayah Declan itu memperbaiki letak kaca matanya, lalu mengeluarkan sebuah map dokumen tebal berwarna biru gelap dari dalam tas kerjanya. "Tapi hubungan kalian berdua tidak akan berhenti di sana."
Declan menyipitkan matanya, menatap map yang digeser Damiano ke tengah meja mahoni. "Apa ini, Pa?"
"Itu draf dokumen pernikahan yang sah secara hukum negara," jawab Damiano tenang. "Bukan kontrak setingan dari agensi stasiun televisi lagi, Declan."
Sienna nyaris tersedak air liurnya sendiri. "H-hah?! Pernikahan sah?!"
"Vincent dan aku sudah membicarakan ini sejak semalam saat kamu masih pingsan," Kamelia Rose ikut bersuara, mengusap punggung tangan putrinya dengan lembut untuk menenangkan. "Masa lalu kami yang berantakan tidak boleh merusak masa depan kalian. Cara terbaik untuk melindungi kalian berdua dari sisa-sisa pergerakan keluarga Jasper adalah menyatukan kekuatan keluarga Bryer dan duBois secara resmi."
Maria, yang sejak tadi terdiam sambil memegangi buket lili putih pemberian Sienna, akhirnya mendongak. "Aku setuju dengan Kamelia. Jika kalian berdua berpisah sekarang, media akan mengendus kalau hubungan kemarin hanya demi menaikkan pamor Declan setelah skandal Milan. Itu akan merugikan nama baik kita lagi."
Declan bersedekap, menatap ibunya dengan tatapan dingin. "Tumben Mama peduli sama nama baik aku, bukan nama baik Allan Jasper lagi?"
Maria menghela napas, wajah anggunnya tampak menyiratkan sedikit penyesalan. "Allan sudah mengkhianatiku, Declan. Dia memanfaatkan rahasia masa laluku hanya untuk menekanmu agar tunduk pada bisnisnya. Aku tidak sebodoh itu untuk tetap bertahan di sisinya."
"Sudahlah, Declan. Ibumu sudah sadar dari kesesatannya," sela Kakek Suprapto sambil mengetukkan tongkat kayunya ke lantai sekali. Kakek tersenyum menatap Declan. "Sekarang keputusannya ada di tangan kamu dan Sienna. Kakek tahu kamu sudah memajang fotonya sejak SMA, jadi jangan sok-sokan menolak draf pernikahan ini demi gengsimu yang setinggi langit itu."
Wajah Declan seketika menggelap karena malu, telinganya memerah sempurna di bawah tatapan menggoda dari semua orang di meja makan, terutama Sienna. "Kek, bisa stop bahas foto di atas nakas itu gak?"
Sienna menyikut lengan Declan, senyum cegilnya melebar. "Cie... yang dari jaman sekolah udah ngebet mau nikah sama gue tapi kedoknya ngajak berantem mulu. Gimana, Tuan Declan Bryer? Mau ditandatangani gak nih berkas dari Papa?"
Declan mengalihkan pandangannya dari Sienna, mencoba mengontrol suaranya agar kembali terdengar bariton dan dingin. "Gue sih terserah lo, Rose. Kalau lo siap hidup sama cowok posesif yang bakal ngatur lo biar gak dekat-dekat sama cowok lain selama sisa hidup lo, ya tanda tangan aja."
"Gak usah sok jual mahal, Declan," tukas Vincent duBois dengan nada mengancam yang sangat kentara. "Kalau lo gak mau tanda tangan malam ini, besok pagi Sienna bakal gue bawa pulang ke markas besar di Italia. Lo gak bakal bisa ketemu dia lagi bahkan lewat mimpi."
Declan tersentak, rahangnya mengeras. Dia langsung menarik map biru gelap itu ke hadapannya, membuka halaman demi halaman dengan cepat. "Siapa yang bilang gue gak mau? Gue cuma mastiin klausul di dalam sini gak ada yang merugikan Sienna."
Sienna menahan senyumnya, menopang dagunya dengan kedua tangan sambil memperhatikan wajah serius Declan yang sedang membaca draf dokumen pernikahan mereka. Ada rasa hangat yang luar biasa yang merayap di dadanya. Pria kaku ini, dengan segala kegengsian dan sifat menyebalkannya, ternyata tidak pernah melepaskannya sejak dulu.
"Gimana, Dec? Ada klausul yang aneh?" tanya Sienna lirih.
"Ada," jawab Declan datar, matanya masih menatap kertas di depannya.
Sienna mengerutkan kening. "Apa?"
"Di sini tertulis kita harus tinggal di rumah utama keluarga Bryer setelah menikah," Declan mendongak, menatap langsung ke dalam mata kucing Sienna. "Gue gak mau. Gue mau kita tinggal di penthouse gue sendiri. Gak boleh ada orang luar yang mengganggu, termasuk pengawal jas hitam dari Papa lo."
Vincent duBois menaikkan sebelah alisnya. "Lo berani ngatur pengawal gue, Bryer?"
"Selama dia di rumah gue, dia istri gue, Om. Keamanan dia adalah mutlak tanggung jawab gue," balas Declan tegas, tidak gentar sedikit pun berhadapan dengan sang Ketua Mafia.
Vincent terdiam selama beberapa detik, sebelum akhirnya sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis—senyuman persetujuan dari seorang ayah yang tahu putrinya telah berada di tangan pria yang tepat. "Oke. Penthouse lo bakal dijaga dari luar area saja. Deal?"
"Deal," jawab Declan singkat. Dia mengambil pulpen hitam dari saku jasnya, lalu membubuhkan tanda tangan besarnya di atas materai tanpa ragu-ragu sedikit pun. Setelah selesai, dia menggeser pulpen dan dokumen itu ke hadapan Sienna. "Sekarang giliran lo, Rose. Tanda tangan, dan lo resmi jadi milik gue seutuhnya."
Sienna menatap pulpen di depannya, lalu menatap wajah Declan yang kini memandangnya dengan tatapan yang begitu dalam, penuh kepemilikan dan cinta yang selama ini tersembunyi di balik debat-debat masa lalu mereka. Dengan tangan yang sedikit gemetar namun penuh keyakinan, Sienna meraih pulpen itu.
"Jangan nyesel ya, Kanebo kaku. Setelah ini lo gak bakal bisa lepas dari cegil kayak gue," bisik Sienna dengan senyum manisnya.
"Gue gak pernah nyesel buat hal yang udah gue tunggu selama belasan tahun, Sienna," balas Declan sangat rendah, nyaris seperti bisikan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua di tengah kehangatan meja makan malam itu.