🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.
Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.
"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."
Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.
Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?
Yuk, cari jawabannya di sini 🍀
°°°°°°°°
Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24. Titipan Untuk Dokter Galang (1)
Pagi itu rumah mereka dipenuhi aroma sop ayam hangat.
Uap tipis mengepul dari mangkuk putih di atas meja makan, bercampur harum bawang goreng dan lada yang membuat suasana terasa nyaman. Dari dapur, Sekar masih sibuk menuangkan air hangat ke gelas sambil sesekali melirik jam dinding.
Pukul enam lewat sedikit.
Di kursi makan, Galang sudah rapi mengenakan kemeja gelap dengan jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya. Rambutnya masih sedikit lembap setelah mandi cepat tadi.
Meski baru tidur kurang dari dua jam, laki-laki itu tetap terlihat siap bekerja seperti biasa.
Namun Sekar tahu Galang pasti sangat lelah.
Terlihat dari matanya yang sedikit sembab dan cara memijat pelipis pelan sebelum mulai makan.
"A...sop-nya jangan cuma kuahnya aja."
Galang yang baru menyuap dua sendok mengangkat pandangan.
"Hm?"
"Ayamnya dimakan'."
Galang menatap isi mangkuknya beberapa detik lalu mengangguk kecil seperti anak sekolah ketahuan pilih-pilih lauk.
Sekar menahan senyum tipis.
Suasana pagi itu sebenarnya terasa hangat.
Tenang.
Sederhana.
Bahkan sempat berpikir mungkin hari ini Galang bisa makan dengan tenang sebelum pergi kerja lagi.
Namun baru dua suapan, ponsel Galang berdering.
Suara ringtone itu langsung membuat ekspresi laki-laki tersebut berubah. Sekali lihat layar, Galang segera mengangkat telpon.
"Halo."
Sekar yang duduk di depannya otomatis diam.
"Hm."
Wajah Galang perlahan serius.
"Kapan?"
Lalu beberapa detik kemudian ia langsung berdiri dari kursi makan.
"CT scan ulang?"
Nada suaranya berubah cepat menjadi fokus dan tegas.
Sekar melihat suaminya berjalan mondar-mandir kecil sambil mendengarkan penjelasan dari seberang sana.
"Siapkan kamar operasi sekarang."
"Hubungi Dokter bedah saraf."
"Saya jalan."
Telpon di tutup.
Galang langsung mengambil jas dokter yang tergantung di kursi ruang tengah dengan gerakan cepat.
Sekar spontan ikut berdiri.
"Kenapa?"
"Pasien ICU," Galang memasukkan ponselnya ke saku. "Pendarahan otaknya muncul lagi. Harus operasi ulang sekarang."
Nada bicaranya cepat sekali.
Tidak ada ruang untuk santai.
Sekar langsung bisa merasakan kalau situasinya serius.
Galang mengambil kunci mobil tanpa sempat duduk lagi.
"Makan dulu sedikit..."
"Nggak sempat."
"Tapi A Galang baru makan--"
"Aku nanti cari waktu."
Kalimat itu terdengar otomatis, seolah sudah terlalu sering ia ucapkan. Galang berjalan cepat menuju pintu depan.
Sekar ikut mengantarnya sampai ruang tengah.
"A..."
Galang berhenti sebentar sambil mengenakan sepatu.
"Hm?"
"Hati-hati."
Galang mengangguk kecil.
Tatapannya sempat jatuh sekilas pada wajah Sekar sebelum pada akhirnya membuka pintu rumah.
"Iya."
Lalu laki-laki itu pergi begitu saja.
Suara mobilnya menghilang di ujung jalan yang masih dingin oleh udara pagi.
Rumah kembali sepi.
Sekar berdiri beberapa saat di dekat pintu sambil memandangi mangkuk sop ayam Galang yang bahkan belum habis seperempatnya.
Kuahnya masih hangat. Sendoknya masih tergeletak begitu saja. Entah kenapa dada Sekar terasa sedikit sesak melihat itu. Pekerjaan Galang benar-benar seberat itu rupanya.
Hari ini bahkan hari Jumat.
Setahunya jadwal operasi biasanya lebih padat karena banyak tindakan dimajukan sebelum akhir pekan.
Sekar perlahan kembali duduk dan melanjutkan makan sendirian.
Namun selera makannya ikut hilang.
Pikirannya terus membayangkan Galang yang berangkat terburu-buru dengan kondisi kurang tidur dan perut kosong.
Setelah selesai makan, Sekar mencuci piring di dapur. Air mengalir pelan sementara pikirannya masih melayang kemana-mana.
Ia baru selesai mengeringkan tangan ketika berjalan menuju ruang tengah dan melihat sesuatu di atas nakas.
Dompet hitam milik Galang.
Di sebelahnya ada sarung yang terlipat berwarna abu tua yang tadi mungkin disiapkan untuk shalat Jumat nanti.
Sekar langsung berhenti.
"Ya Allah."
Galang lupa membawa dompet.
Ia mengambil dompet itu perlahan.
Karena takut ada uang penting atau kartu rumah sakit yang dibutuhkan, Sekar tanpa sadar membukanya sedikit.
Di dalamnya tersusun rapi berbagai katu.
SIM.
Kartu anggota rumah sakit.
ATM.
Dan KTP.
Tatapan Sekar berhenti di sana beberapa detik.
Naman Galang tercetak jelas, lalu matanya turun pada tanggal lahir.
Hari ini.
Hari ini ulang tahun Galang.
"Eh...?"
Ia mengerjap beberapa kali memastikan dirinya tidak salah baca.
Benar.
Hari ini tanggal lahir suaminya.
Namun sejak pagi Galang tidak mengatakan apa pun. Tidak ada cerita, atau bahkan ucapan. Bahkan laki-laki itu malah pergi operasi dalam keadaan belum sarapan.
Sekar menatap dompet itu lama. Perasaannya tiba-tiba aneh. Terasa campur aduk, merasa kasihan dan merasa bersalah dan entah kenapa ada rasa ingin melakukan sesuatu.
Akhirnya tanpa pikir panjang , Sekar masuk dapur lagi.
Ia kembali memanaskan kembali sop ayam, menyimpan nasi, lauk sederhana, dan air minum kedalam wadah makan.
Tidak lupa ia mengupas buah mangga, kiwi, dan buah naga. Serta tidak lupa ia membuat beberapa potong sandwich.
Setelah itu ia memasukkan semuanya ke tote bag bersama dompet dan sarung Galang, tidak lupa juga yogurt rasa blueberry yang waktu itu dipilih Galang.
"Yang penting dia harus makan..."
🍁🍁🍁
Rumah sakit sudah ramai ketika Sekar tiba.
Suasana pagi dipenuhi suara langkah kaki tenang medis, bunyi roda panjang pasien, dan keluarga pasien yang berlalu-lalang dengan wajah cemas.
Sekar memegang tote bag erat sambil berdiri kikuk di lobby.
Jujur saja ia masih belum terbiasa datang sendiri ke rumah sakit tempat Galang bekerja.
Apalagi suasananya sibuk sekali.
Ia akhirnya memberanikan diri mendekati satpam di dekat pintu masuk.
"Maaf Pak..."
"Iya neng?"
"Dokter Galang lagi operasi ya?"
Satpam itu langsung mengangguk. "Oh dokter Galang? Lagi di lantai operasi, neng."
"Saya mau nitip ini..."
Belum sempat lanjut, kebetulan dari arah koridor muncul seorang dokter laki-laki memakai jas putih sambil membaca tablet di tangan.
Satpam langsung memanggil.
"Dokter Ardi!"
Dokter itu menoleh cepat.
"Iya Pak?"
"Ini ada titipan buat dokter Galang."
Ardi menjalan mendekat dengan langkah cepat. Wajahnya masih terlihat sibuk, sepertinya sedang mengejar visit pagi.
Sekar spontan sedikit menunduk sopan.
Ardi sekilas melihat perempuan di depannya, lalu tote bag di tangan Sekar.
"Titipan?"
"Iya Dok," jawab satpam. "Katanya dokter Galang ketinggalan barang."
"Oh."
Ardi langsung menerima tote bag itu tanpa banyak tanya.
"Galang lagi masuk operasi besar, nanti saya kasih."
Sekar mengangguk kecil lega.
"Terima kasih, Dok."
"Iya sama-sama."
Satpam itu kemudian nyeletuk santai, "tenang neng, dokter Ardi mah sahabat dekatnya dokter Galang."
"Oh, begitu ya..."
Sekar diam sesaat, lalu teringat nama Ardi dan koleksi film di folder laptop milik suaminya.
Sekar melirik Dokter itu, tatapan mereka bertemu sebentar lalu Sekar kembali tertunduk.
Sementara Ardi sudah melihat jam tangan lagi dengan ekspresi terburu-buru.
"Kalau begitu, saya masuk dulu."
"Ya, Dok. Makasih," ucap Sekar sopan seraya tersenyum.
Ardi menatap wajah cantik nan asing itu sebentar lalu mengangguk singkat dan lalu berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit sambil membawa tote bag tersebut.
Dan Sekar, sama sekali tidak memberitahu siapa dirinya.
°°°°°°°°°°°°°°°
Apakah setelah ini bakalan ada gosip besar di rumah sakit????
Tunggu kelanjutannya
Bersambung....