Setelah Andra menikah lagi, Armila berubah. Ia menjadikan suaminya ini ada, tapi tiada. Sapaan, rayuan dan keberadaanku serupa angin lalu.
Diamnya armila membuat Andra stres.
Pernikahannya dengan resti pun menjadi tidak harmonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAKIN MENJADI
ANDRA
Aku tak bisa menghadiri sidang pertama sebab mengalami hambatan yang cukup besar. Sebenarnya bingung, mengapa kejadian tersebut muncul di saat momeri paling darurat. Selama ini tak pernah sekalipun mengalami hal semacam itu.
Untunglah luka yang diderita tak serius. Perampok itupun hanya mengambil uang dan Jam tangan. Untuk ponsel, aku hanya bawa satu dan itu kusimpan di dalam mobil. Entah mengapa mereka tak menggeledahnya. Bisa jadi tak sempat sebab keburu ada yang melihat.
"Polisi sedang mengusut aksi perampokan itu, Mas. Semoga cepat ketemu pelakunya. Syukurlah mereka gak melukai Mas sampai parah. Aku benar-benar khawatir, Mas!"
Entahlah mengapa saat ini ujian terus datang silih berganti. Seakan kesialan jadi teman dekatku. Kadang ingin mengakhiri drama derita ini. Ingin seperti dulu, hanya hidup dalam ketenangan bersama Armila.
Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Aku tak mungkin mengulang kembali ketenangan itu kecuali melepas Resti. Hal tersebut terlalu sulit, apalagi ia baru saja mendapat musibah keguguran.
"Aku sudah menghubungi mba Armila, tapi tak pernah diangkat.
Pesanku juga gak dibalas, Mas!"
Sesibuk apa Armila hingga tak baca pesan dan menerima panggilan Resti.
Atau memang sengaja mendiamkannya?
"Biar aku yang hubungi!"
*
Rupanya kesialan hidup masih senang berdekatan denganku. Saat akan pergi ke sidang kedua, rem mobil blong. Untunglah mobil belum masuk jalan raya, masih dekat perumahan.
Aku memang jarang mengecek kondisi kendaraan sebab memang masih bagus
Pikirku benda itu belum akan mengalami kerusakan apapun. Ternyata salah.
Resti merawat luka-lukaku setelah siuman. Saat itu jadwal sidang telah usai. Dan, aku harus menelan kekecewaan kedua kali sebab tak bisa menghadiri.
Tapi, kekecewaan itu masih ringan dibanding berita yang dibawa Resti. Ia mengatakan pada keesokan harinya.
"Mas, ada info dari polisi, tapi Mas jangan marah, ya! Janji!"
Resti bicara seperti ragu-ragu.
Sikapnya yang seperti itu justru membuatku penasaran.
"Info apa? Udah bilang biar mas gak penasaran!"
Resti terdiam sebentar. Mulutnya kemudian terbuka, tapi ditutup lagi, begitu terus sampai akhirnya benar-benar bicara.
"Janji dulu jangan marah-marah. Mas'kan harus banyak istirahat dan gak boleh stress biar cepat sehat."
Kali ini Resti memegang tanganku menggoyang-goyangkannya beberapa kali kemudian menepuk nya.
"Iya, cepat bilang!"
"Mmm, polisi bilang, perampoknya sudah ditemukan. Menurut pengakuan awal, perampok itu disuruh mba Armila. Mereka dibayar untuk pura-pura merampok."
"Apa? Jangan ngaco kamu. Armila tak "Apa? Jangan ngaco kamu. Armila tak mungkin berbuat seculas itu!"
"Aku juga gak percaya pada pernyataan perampok tersebut. Tapi ' kan mereka mengaku begitu di depan polisi. Masih akan diselidiki lagi, sih Mas apakah berbohong atau tidak. Sekedar ucapan' kan tidak bisa membuktikan apapun. Kalau memang benar, aku sangat menyayangkan sekali. Masa demi memuluskan gugatan cerai, mba Armila membuat drama seperti itu. Aku juga takut dengan pikiranku sendiri. Jangan jangan rem blong itu. Ah tapi tak mungkin!"
Meski belum yakin sempurna akan berita itu, dadaku tetap bergemuruh. Jika berita tersebut nyata, kelakuan Armila sungguh keterlaluan. Perempuan itu makin tak punya perasaan. Sampai-sampai berniat mencelakai suaminya sendiri.
"Mana ponselku?"
"Mas jangan marahin mba Armila. Dia mungkin gak niat serius. Perampok itu juga 'kan bilang cuma pura pura!"
"Kamu jangan membela Armila terus. Dia akan makin melunjak. Sudah sini mana HP nya!"
"Tapi, Mas-!"
"Resti jangan membuatku makin marah!"
"I, iya, Mas sebentar kuambil HP nya."
Setelah HP di tangan, aku langsung menghubungi Armila. Dalam kondisi emosi, aku bicara. Nadanya seperti komandan membentak prajuritnya.
Kesabaranku pada Armila sudah habis.
Kebenciannya padaku dan Resti sampai menutup akal dan hatinya. Dia sudah tidak memiliki lagi kebeningan pikiran dan kelembutan perasaan.
Yang ada hanya Bagaimana melampiaskan dendam dan emosi.
Fitnah apalagi ini, Mas? Senang sekali gundikmu itu ngadu domba? Kapan kamu mau sadar? Apa setelah hancur berkeping-keping!"
Amarahku meledak pada wanita itu.
Bukannya minta maaf, malah menyalahkan Resti. Sudah jelas menurut informasi perampok itu mengaku dibayar olehnya. Kenapa malah menuduh Resti mau memfitnahnya.
"Mengapa kamu menyalahkan Resti? Jelas-jelas perampok itu mengatakan bahwa kamulah yang telah menyuruh mereka berpura-pura merampok.
Kalau dipikir jelas alasannya, kamu tak ingin aku datang hingga sidang bisa mulus berjalan. Begitu'kan?"
Napasku memburu sebab emosi tingkat tinggi. Bahkan tangan ikut menunjuk-nunjuk padahal kami sedang bicara di telepon.
"Terserah kamulah, Mas. Percaya pada siapa yang pasti percuma juga aku bela diri. Kamu akan tetap yakin bahwa akulah pelakunya. Jadi, tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi!"
"Armila, aku belum selesai bicara!"
Armila mematikan teleponnya secara sepihak. Artinya dia sudah tidak mau lagi mendengarkan omongan siapapun. Aku harus segera menyelesaikan masalah ini sebelum berlarut-larut. Jika memang sikapnya terus membahayakan, terpaksa diambil tindakan tegas.
"Mas, sudah nanti saja kita selesaikan secara damai dengan mba Armila. Sudah, jangan terlalu emosi nanti mas lama sembuhnya."
Kata-kata Resti serupa air yang menyiram tubuh panas ini. Sekarang justru wanita ini yang bisa menenangkan. Armila justru seperti bara api yang tidak bisa disentuh lagi.
Dia bukan hanya membakar dirinya, tapi juga menghancurleburkan orang lain termasuk suaminya sendiri.