NovelToon NovelToon
Rahasia Terbesar

Rahasia Terbesar

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Misteri / Epik Petualangan
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Lin Tian sadar dari tidur panjangnya selama 200 tahun dan mendapati tubuhnya masih seperti pemuda 18 tahun. Satu hal yang paling mengganjal: di istana ratu ular, semua makhluk memiliki tubuh ular, tapi ia berkaki dua sempurna. Siapa ayahnya? Siapa sebenarnya Kakek Han yang begitu ia rindukan? Ibunya, Ratu Medusa, mengurungnya berabad lamanya hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Kini Lin Tian pergi ke dunia manusia. Bukan untuk bertualang, tapi untuk menggali satu rahasia yang ibunya lebih memilih membekukannya daripada mengakuinya. Rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RATU ISTANA NAGA LANGIT

Malam turun di Lembah Sungai Selatan. Suara jangkrik dan gemericik air sungai menjadi satu-satunya iringan bagi kelompok kecil yang duduk mengelilingi api unggun. Lidah api berkedip-kedip, menerangi wajah-wajah lelah mereka setelah pertempuran sore tadi.

Tetua Chen duduk bersila di batu datar, matanya menatap kegelapan di luar lingkaran cahaya.

"Kita akan bergiliran berjaga malam ini. Makhluk kegelapan lebih aktif saat bulan purnama seperti sekarang."

Bai Feng menguap lebar. "Berapa lama kita akan bertahan di sini, Tetua?"

"Hingga fajar. Setelah itu kita akan bergerak ke selatan untuk bergabung dengan tim lain," jawab Tetua Chen singkat.

Lin Tian mendengarkan sambil memutar-mutar ranting kecil di tangannya. Ia tidak terlalu lelah, tapi tubuhnya terasa berat karena udara malam yang lembab. Pikirannya melayang ke makhluk kegelapan yang ia bunuh siang tadi. Tubuh kabut hitam itu hancur seperti debu saat terkena pedangnya. Tapi ada satu hal yang mengganjal. Sebelum mati, makhluk yang ia tebas sempat mengucapkan kata yang sama seperti kemarin.

"Neraka."

Lin Tian menggeleng, membuang pikiran itu.

Percakapan berlanjut tentang formasi pertempuran, tentang cara terbaik melawan musuh yang jumlahnya lebih banyak. Tetua Chen menjelaskan beberapa taktik bertahan yang belum pernah mereka latih.

Semakin larut, kantuk mulai menyerang. Bai Feng sudah beberapa kali mengantuk sambil duduk. Dua murid lain juga mulai menguap tak henti.

"Kalian tidur. Biar aku yang berjaga," ucap Tetua Chen dengan nada tidak bisa ditawar-tawar.

"Tapi, Tetua..." Bai Feng mencoba protes.

"Tidur. Itu perintah."

Lin Tian dan yang lainnya mengangguk patuh. Mereka merebahkan diri di atas tikar darurat yang terbuat dari daun-daun kering. Dalam beberapa menit, suara dengkuran Bai Feng sudah terdengar nyaring. Lin Tian memejamkan mata, namun pikirannya tetap terjaga cukup lama sebelum akhirnya ia tenggelam dalam tidur ringan.

---

Bruk!

Suara kayu patah.

CRAAASH!

"Serangan!!! Makhluk kegelapan datang, banyak sekali!" teriak Tetua Chen dengan suara memekakkan telinga.

Lin Tian melompat terkejut. Matanya langsung menyesuaikan dengan kegelapan yang diterangi cahaya bulan. Di luar lingkaran api unggun yang hampir padam, puluhan pasang mata merah menyala menatap mereka dari segala arah.

Satu... dua... sepuluh... dua puluh... lima puluh lebih.

Bai Feng berdiri dengan pedang lebar di tangan, wajahnya pucat pasi.

"Ini... ini gila!"

Tetua Chen sudah berdiri di depan, kedua telapak tangannya mengeluarkan cahaya biru.

"Mereka semua setara Pendirian Fondasi. Jangan panik! Ingat formasi!"

Lin Tian tanpa ragu melesat cepat ke sayap kiri. Pedang peraknya terhunus dalam sekejap. Serangan pertama ia lancarkan ke arah makhluk terdepan, sebuah tebasan diagonal dari bahu kanan ke pinggul kiri. Makhluk itu terbelah dua, tubuhnya meleleh ke tanah.

Syuuut!

Tiga makhluk lain menyerang dari samping.

Lin Tian memutar tubuh, menghindari cakar pertama, memblok cakar kedua dengan bilah pedang, lalu menusuk cakar ketiga tepat di pusat kabutnya. Gerakannya lincah seperti belut, tidak pernah diam di satu tempat.

Bai Feng di tengah formasi memukul mundur dua makhluk dengan ayunan pedang lebar.

BAM! BAM!

Tubuh makhluk itu terpental dan hancur saat menyentuh tanah. Dua murid lain di sayap kanan bekerja sama dengan rapi, satu menangkis serangan, satu menusuk dari bawah.

Tetua Chen bergerak seperti angin puyuh. Jubah birunya berkibar setiap kali ia berpindah posisi. Tiga makhluk tewas dalam satu ayunan tangan. Lima makhluk berikutnya hancur oleh gelombang Qi biru yang menyapu bersih area di depannya.

"Sayap kiri maju dua langkah! Sayap kanan mundur! Bentuk setengah lingkaran!" teriak Tetua Chen.

Lin Tian bergerak maju.

Dua makhluk kegelapan berlari ke arahnya bersamaan. Ia melompat ke udara, berputar 180 derajat, lalu menebas horizontal saat mendarat. Satu tebasan, dua kepala makhluk kegelapan melayang. Tubuh mereka jatuh bersamaan.

Sret!

Bai Feng di posisi tengah mulai menemukan ritmenya. Ia tidak lagi bergerak kaku. Setiap ayunan pedang lebarnya diikuti dengan langkah kaki yang mantap. Satu makhluk mencoba menyergap dari belakang, Bai Feng membalikkan badan, menendang perut makhluk itu lalu menghantam kepalanya dengan gagang pedang.

DOR!

Kerja sama yang diarahkan Tetua Chen membuat mereka mendominasi pertempuran. Gelombang pertama yang terdiri dari lima puluh lebih makhluk kegelapan, habis dalam waktu lima belas menit. Tidak ada satu pun yang lolos.

Tapi kegembiraan itu tidak berlangsung lama.

Dari balik bukit, sekelompok makhluk baru muncul. Cara mereka berjalan berbeda. Lebih teratur, lebih... cerdas. Mata merah mereka tidak liar seperti sebelumnya. Mereka membentuk barisan rapi, bergerak maju dengan formasi silang.

Tetua Chen mengerutkan kening. "Mereka... ini tingkat Inti Emas."

Lin Tian merasakan tekanan yang berbeda. Tubuh makhluk-makhluk ini lebih padat, hampir seperti manusia biasa dengan kulit abu-abu gelap. Mereka bahkan memegang senjata. Pedang hitam yang terbuat dari tulang.

Shing! Shing! Shing!

Tiga makhluk Inti Emas menyerang bersamaan.

Tetua Chen menghadapi mereka dengan Qi biru yang membara, tapi gerakannya mulai terbebani. Satu tebasan dari pedang tulang mengenai lengan kirinya. Darah merah segar menetes ke tanah.

"Tetua!" teriak Bai Feng.

"Jangan pedulikan aku! Bertahan!"

Lin Tian mencoba menyerang salah satu makhluk Inti Emas dari samping. Pedang peraknya menebas punggung makhluk itu, tapi hanya meninggalkan goresan tipis. Makhluk itu berbalik, menatap Lin Tian dengan mata merahnya, lalu mengayunkan pedang tulang.

KREEEET!

Lin Tian memblok dengan pedang peraknya, tapi dorongan kekuatannya terlalu besar. Ia terpental tiga meter, punggungnya menghantam pohon tumbang. Makhluk itu mendekat perlahan, seolah menikmati ketakutannya.

Bai Feng menghantam makhluk itu dari belakang dengan pedang lebar.

BRAK!

Makhluk itu terhuyung, tapi tidak jatuh. Ia berbalik dan menangkis serangan Bai Feng dengan mudah.

"Sial... mereka terlalu kuat!" Bai Feng mundur sambil memegang gagang pedang yang mulai retak.

Dua murid lain juga terdesak. Formasi mereka tidak lagi efektif karena musuh datang dengan taktik yang lebih pintar. Makhluk-makhluk Inti Emas itu bekerja sama, mengepung satu per satu target.

Tetua Chen terluka cukup parah. Jubah birunya robek di tiga tempat, darah membasahi kainnya. Beliau masih bertahan, melawan lima makhluk sendirian, tapi napasnya mulai terengah-engah.

Lin Tian bangkit dari balik pohon. Ia menyentuh cincin penyimpanannya. Ao Mo bergetar di dalam sana, memintanya untuk keluar. Tapi Lin Tian menahan diri. Bukan sekarang.

"Kita harus mundur!" teriak salah satu murid.

"Ke mana? Mereka mengepung kita!" jawab yang lain.

Situasi semakin buruk. Jumlah makhluk terus bertambah. Seratus... seratus lima puluh... mereka terus muncul dari kegelapan seperti air bah yang tidak pernah berhenti. Lin Tian dan Bai Feng sudah kebingungan, bertahan sebatas kemampuan mereka. Dua murid lain sudah babak belur.

Tetua Chen terjatuh. Sebuah pedang tulang menembus bahu kirinya. Darah menyembur.

"TETUA!"

Tidak ada yang bisa membantu. Semua sibuk dengan pertarungan masing-masing. Lin Tian melihat sekeliling. Api unggun sudah padam. Hanya cahaya bulan yang tersisa. Dan di bawah cahaya itu...

WHOOSH!

Sesuatu yang putih melesat dari langit.

BRAAKKK!

Semua makhluk kegelapan di sekitar Tetua Chen hancur seketika. Tubuh kabut mereka meleleh seperti lilin terkena api. Tidak ada sisa maupun bekas.

BOOM! BOOM! BOOM!

Ledakan beruntun terjadi di seluruh area pertempuran. Setiap kali cahaya putih menyambar, puluhan makhluk hilang dalam sekejap. Makhluk-makhluk Inti Emas yang tadi begitu menakutkan kini tidak berbeda dengan serangga yang diinjak kaki raksasa.

Dalam waktu tiga napas, semua makhluk kegelapan mati. Lembah itu kembali sunyi. Hanya suara angin malam yang terdengar.

Lin Tian berdiri terpaku.

Di atas bukit kecil di hadapannya, sesosok wanita melayang beberapa jengkal dari tanah. Ia mengenakan pakaian putih yang bersinar lembut di bawah cahaya bulan. Rambut hitamnya tergerai indah, tertiup angin malam. Wajahnya... sempurna. Tidak ada cela, dan tidak memiliki kekurangan.

Liu Mei.

Lin Tian mengerjap. Wanita itu... kecantikannya hampir menyamai ibunya. Hampir. Tapi belum melampaui.

Tetua Chen yang berlumuran darah langsung berlutut meskipun bahunya masih tertusuk pedang tulang. Kedua tangannya ditangkupkan di depan dada, kepalanya menunduk dalam-dalam.

"Ra... Ratu! Kenapa Ratu Istana Naga Langit datang ke tempat yang kotor seperti ini?"

Bai Feng dan dua murid lain juga segera berlutut. Wajah mereka campuran antara kagum dan takut. Ratu Istana Naga Langit. Sosok legendaris yang konon berada di puncak dunia kultivasi. Tidak ada yang tahu seberapa kuat beliau. Yang jelas, tidak ada satu pun di Benua Lingzhao yang berani melawannya.

Liu Mei menatap ke bawah dengan tatapan dingin. Suaranya lembut tapi setiap kata terdengar jelas meski tanpa berteriak.

"Aku ingin melihat sendiri bagaimana makhluk kegelapan ini bertindak. Jadi aku turun langsung dari istana. Laporan dari bawahanku tidak cukup jelas."

Tetua Chen menangkupkan tangan lebih dalam.

"Ratu, kami sangat bersyukur. Jika Ratu tidak datang tepat waktu, kami semua pasti sudah tewas. Terima kasih, Ratu. Terima kasih."

Liu Mei tidak menjawab. Matanya beralih ke sekeliling, membaca sisa-sisa energi dari pertempuran tadi.

Sementara itu, Lin Tian masih berdiri. Sejak tadi ia tidak bergerak, tidak berlutut, maupun menangkupkan tangan. Ia hanya berdiri tegak dengan pedang peraknya masih di tangan.

Tetua Chen menyadari itu. Beliau menoleh ke belakang dengan ekspresi kaget, lalu tergesa-gesa memberi isyarat.

"Lin Tian! Cepat berlutut! Hormati Ratu! Kau tidak tahu siapa dia? Ini Ratu Istana Naga Langit, penguasa tertinggi Benua Lingzhao!"

Lin Tian menggelengkan kepalanya pelan. Wajahnya tenang, tidak ada rasa takut atau gentar.

"Maaf, Tetua. Saya hanya berlutut pada ibuku."

Suasana langsung membeku.

Bai Feng menoleh dengan mata melotot, mulutnya terbuka lebar. Dua murid lain saling berpandangan, tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Tetua Chen hampir kehabisan kata-kata.

Liu Mei mengangkat alis sebelah. Matanya yang semula dingin kini menatap Lin Tian dengan rasa ingin tahu. Ia mengamati pemuda berjubah putih itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pendirian Fondasi awal. Tidak ada yang istimewa. Tapi ia berdiri tegak di hadapan seorang penguasa benua.

"Kau berani," ucap Liu Mei pelan. Bukan pujian, bukan juga ancaman. Hanya pernyataan.

Lin Tian menangkupkan tangan dengan hormat, membungkuk sedikit, tapi tetap tidak berlutut.

"Saya hanya ingin menjaga hormat pada ibu saya. Tidak bermaksud menghina Ratu."

Liu Mei tersenyum tipis. Senyuman yang tidak bisa ditebak maknanya. Lalu tanpa berkata lebih lanjut, ia berbalik dan menghilang dalam sekejap. Seperti kabut yang tertiup angin. Meninggalkan keheningan yang berat di Lembah Sungai Selatan.

Tetua Chen menghela napas panjang sambil memegangi bahunya yang berlumuran darah.

"Lin Tian... kau nyaris membunuh kita semua dengan mulutmu."

Lin Tian hanya tersenyum kecil. "Maaf, Tetua. Tapi saya tidak bisa melanggar prinsip saya."

Bai Feng menjatuhkan pedang lebarnya yang sudah retak, lalu menepuk pundak Lin Tian dengan wajah setengah menangis setengah tertawa.

"Kau benar-benar gila. Tapi aku kagum."

1
🧚Shi Yin 🧚
Eyu.. Lin Han pernah menyebutnya 🤔🤔
🧚Shi Yin 🧚
jangan2 pemimpin kegelapan itu Lin Han 🤔🤔🤔
🧚Shi Yin 🧚
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🧚Shi Yin 🧚
😎😎😎😎😎😎
🔵༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Hadir..
Aiby Kushina Uzumaki
kalau di bandung mah jigong itu jejak iler kalau bangun tidur 😅🤣🤣🤣
YAKARO: Waduh🤣🤣🤣
Anggota nya tian ada yang jigongan berarti/Facepalm/
total 1 replies
🧚Shi Yin 🧚
udah kehabisan nama ya Thor 😁😁
🧚Shi Yin 🧚: hehe kirain arti yg lain, aroma terapi 🤣🤣
total 2 replies
🧚Shi Yin 🧚
panggillah dia bibi Mu Wan, dia tu seniornya ayahmu 😁
YAKARO: Adik Tian gak tau itu kak🤣
total 1 replies
🧚Shi Yin 🧚
tiap kali baca lavender saya teringat obat nyamuk 🤣🤣 lavender salah satu tanaman pengusir nyamuk 😁
YAKARO: Wkwkwk. Warnanya ungu lavender soalnya😆
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
kau tak merasa... justru kau yg aneh, bocah yg sok dewasa/CoolGuy/
Dragon🐉 gate🐉: kata-kata yg familiar ini, jangan-jangan kau ...../Scare/
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
whaatttt thefff..!!! 🤣🤣🤣🤣🤣 Ji Gong 🤣🤣🤣🤣🤣 Thor... 🤣🤣🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉: tp gw gak kesana pikirannya Thor 🤣 jigong yg ada di otak gw tuh ya jigong yg itu🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Bagas Jionju
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Bagas Jionju
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Dragon🐉 gate🐉
nah kan, kompak... masukin Jiyue ke dlm kelompok Lin Tian biar mereka rame trs tiap hari😁
YAKARO: Nanti masuk dia/Determined/
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
🤣🤣🤣hancur sudah martabat sang Komandan krn julukan 🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉: bestie adu mulut.. mereka😁
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
keluarganya si gadis Lavender... Jiyue 🤔
YAKARO: insting tajam/CoolGuy/
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
M = P
Dragon🐉 gate🐉: siap komandan ✅
total 2 replies
Bagas Jionju
👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Bagas Jionju
👍👍👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Dragon🐉 gate🐉
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣ANJIIIRRR kata kata keramat ini ternyata udh smpe di univers nya dia🤣🤣🤣🤣🤣
YAKARO: Wooo, ya jelas. Kata kata legend ini/Casual/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!