Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANTARA NAPAS DAN DOA
Udara di dalam ruang isolasi Rumah Sakit Mount Elizabeth terasa sangat tipis bagi Clarissa. Akibat penurunan drastis pada sistem kekebalan tubuhnya pasca-kemoterapi siklus kedua, sebuah infeksi paru-paru menyerang tanpa ampun. Kini, bukan hanya sel kanker yang ia lawan, tapi juga setiap helaan napas yang terasa seperti tarikan pisau di dadanya.
Clarissa harus menggunakan masker oksigen. Matanya yang sayu menatap langit-langit ruangan yang putih bersih. Ia merasa tubuhnya sangat berat, seolah ditarik ke dalam kegelapan yang sunyi. Namun, di sampingnya, ada sebuah suara yang terus memanggilnya kembali ke dunia.
"Dengar suara aku, Clar... Terus bernapas untuk aku, ya?"
Adrian duduk di sana, mengenakan baju pelindung medis lengkap (APD) karena protokol isolasi. Genggamannya pada tangan Clarissa tidak pernah longgar, meski terhalang sarung tangan lateks.
Malam itu adalah malam yang paling kritis. Suhu tubuh Clarissa mencapai 40 derajat Celsius. Dalam demam tingginya, ia mulai berhalusinasi. Ia melihat bayangan dirinya yang lama Clarissa yang angkuh dan menyediti orang lain seolah sedang menertawakannya di sudut ruangan.
"Pergi... maafkan aku... pergi..." igau Clarissa dengan napas pendek-pendek.
Adrian yang mendengar itu segera mendekatkan wajahnya ke telinga Clarissa. "Aku di sini, Sayang. Tidak ada siapa-siapa di sana selain aku. Semua orang sudah memaafkan kamu. Tuhan sudah memaafkan kamu. Jangan menyerah sekarang."
Adrian mulai membacakan ayat-ayat kursi dan salawat dengan suara yang bergetar karena menahan tangis. Ia sadar, di titik ini, medis hanya bisa memberikan obat, namun hanya takdir Tuhan yang bisa menentukan napas selanjutnya.
Bastian mematung di balik kaca ruang isolasi. Ia tidak diperbolehkan masuk agar ruangan tetap steril. Ia hanya bisa melihat sahabatnya, Adrian, yang sedang bertarung melalui doa demi nyawa adiknya. Bastian menyadari bahwa Adrian benar-benar telah menjadi separuh nyawa bagi Clarissa.
Saat jam menunjukkan pukul tiga pagi, keajaiban kecil itu terjadi. Keringat mulai membanjiri tubuh Clarissa, sebuah pertanda bahwa demamnya mulai turun. Napasnya yang tadi tersengal-sengal perlahan mulai teratur.
Clarissa membuka matanya sedikit. Ia melihat siluet Adrian yang tertidur dalam posisi duduk sambil tetap memegang tangannya. Dalam keheningan itu, Clarissa merasa sebuah kedamaian yang luar biasa. Ia menyadari bahwa cinta Adrian bukan hanya ciuman romantis di bawah hujan, tapi juga kesetiaan di ambang maut.
"Ad... rian..." bisiknya sangat pelan di balik masker oksigen.
Adrian langsung tersentak bangun. Matanya yang merah karena tidak tidur selama 48 jam seketika berbinar melihat kesadaran Clarissa. "Aku di sini, Sayang. Aku di sini. Kamu hebat, kamu sudah melewati masa kritisnya."
Adrian segera memanggil dokter. Setelah pemeriksaan singkat, dr. Chen mengonfirmasi bahwa infeksi tersebut mulai mereda berkat antibiotik dosis tinggi yang diberikan. "You are a fighter, Clarissa," puji dr. Chen singkat sebelum keluar.
Setelah matahari terbit, Clarissa sudah diizinkan melepas masker oksigen dan menggantinya dengan selang nasal biasa. Ia menatap Adrian yang kini sudah melepas baju pelindungnya namun tetap memakai masker.
"Adrian," panggil Clarissa, suaranya masih parau.
"Iya, aku di sini, Sayang."
"Maafkan aku... aku hampir saja menyerah tadi malam."
Adrian mengusap kepala Clarissa yang tertutup jilbab rumah sederhana berwarna biru muda. "Aku yang minta maaf karena nggak bisa nanggung rasa sakit itu buat kamu. Tapi janji sama aku, ya? Jangan pernah lepas tangan aku, seberat apa pun rasanya. Aku butuh kamu buat nemenin aku lulus kuliah."
Clarissa tersenyum, sebuah senyuman yang sangat tipis namun tulus. "Aku janji. Aku mau lihat kamu pakai toga... dan aku mau ada di samping kamu sambil pakai jilbab pemberian Bianca."
Bastian masuk membawa kabar baik dari Jakarta. Pak Gunawan telah mengatur semuanya; jika kondisi Clarissa stabil dalam dua minggu ke depan, ia boleh menjalani fase pemulihan rawat jalan di rumah singgah Novena sebelum siklus terakhir.
"Dan satu lagi," kata Bastian sambil melirik Adrian. "Gue sudah urus surat-surat lo, Dri. Lo bisa ikut ujian susulan lewat daring dari sini. Jadi lo nggak perlu takut telat lulus."
Adrian tertawa lega, ia menatap Clarissa dengan penuh kebahagiaan. Di tengah dinginnya ruang isolasi Singapura, sebuah harapan baru kembali tumbuh. Clarissa menyadari bahwa setiap kesulitan memang disertai kemudahan. Jilbabnya kini bukan hanya sekadar identitas hijrahnya, tapi menjadi lambang martabatnya sebagai wanita yang dicintai dengan sangat terhormat oleh Adrian.
"Adrian," panggil Clarissa lagi.
"Iya?"
"Nanti kalau kita sudah di rumah singgah lagi... kamu mau kan bacain aku buku-buku agama lagi? Aku mau hati aku sesiap tubuh aku buat sembuh."
"Apapun buat kamu, Sayang. Apapun."
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah serangan infeksi, Clarissa bisa tidur dengan nyenyak. Ia tahu, perjalanan menuju "sembuh total" masih panjang dan berliku, tapi dengan tangan Adrian yang selalu siap menangkapnya jika ia jatuh, ia tidak lagi merasa takut.