NovelToon NovelToon
"Transmigrasi: Putri Lemah Berhati Bar-Bar!"

"Transmigrasi: Putri Lemah Berhati Bar-Bar!"

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: acep maulana

PENGUMUMAN PENTING!

Saya Acep Maulana memohon maaf kepada para pembaca. Karena satu dan novel ini akan saya Remake Total.
Saya sadar masih banyak belajar sebagai pemula, dan saya ingin memberikan karya yang lebih layak untuk kalian baca. Versi baru akan segera hadir dengan judul yang sama namun dengan kualitas tulisan yang jauh lebih baik.

Sampai jumpa di versi terbaru yang lebih bar-bar!

‎"Sial beneran! Erika, mantan agen rahasia yang energinya tak habis-habis, malah transmigrasi ke dalam novel tragis menjadi Rosalind von Astride, sang Putri Terbuang yang lemah dan sakit-sakitan!
‎Lebih parahnya lagi, keluarganya adalah kumpulan orang 'Tampan tapi Telmi (Telat Mikir)' yang ditakdirkan hancur total dalam dua tahun. Beruntung, Erika punya Sistem Makan Melon (Gosip) yang bisa membongkar semua rahasia musuh.
‎Sambil menikmati martabak diskon dari Ruang Sistem, Erika bertekad merombak takdir tragis keluarganya. Tapi masalahnya... radio batin Erika ternyata bocor ke seluruh keluarganya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 : Kematian yang Tidak Taktis

​Apartemen Orient Lavender yang sejuk menyambut Erika dengan keheningan yang mahal. Setelah nyaris tewas dalam misi penyamarannya yang kacau di pinggiran Beijing tadi siang, suhu ruangan yang stabil ini adalah kemewahan pertama yang ia rasakan. Erika menyandarkan kepalanya pada pintu baja apartemennya yang dingin, memejamkan mata rapat-rapat sampai deru napasnya yang memburu perlahan stabil.

​"Sialan," bisiknya parau. Tenggorokannya terasa kering, seperti baru saja menelan bubuk mesiu.

​Tadi siang, maut benar-benar mencium ujung hidungnya. Di dalam unit Orient Lavender ini, semuanya sunyi—jenis sunyi yang hanya bisa dibeli dengan harga sewa selangit. AC yang mendesis pelan menyentuh kulitnya, seolah berusaha mencuci bersih sisa bau keringat, debu jalanan, dan rasa takut yang sempat terselip di balik topeng profesionalismenya. Erika melemparkan sepatunya ke sembarang arah di lantai ruang tamu. Persetan dengan pemandangan berlian kota Beijing di balik kaca setinggi langit-langit itu. Baginya, gemerlap lampu kota di bawah sana tidak lebih dari koordinat sasaran tembak; hanya mengingatkannya pada kilatan lensa bidikan sniper yang tadi hampir melubangi kepalanya.

​Matanya baru benar-benar berbinar saat menatap tumpukan ayam goreng dan mi instan di atas meja marmer. Di dunia luar, dia adalah Erika sang perfeksionis, agen rahasia yang dingin, tanpa celah, dan mampu melumpuhkan lawan dalam tiga detik.

Namun di dalam sini, dia hanyalah seorang wanita berusia dua puluh delapan tahun yang kelaparan dan rindu menjadi manusia biasa. Persetan dengan standar diet agensi; malam ini, dia siap menghancurkan segalanya dalam satu suapan besar.

​Tanpa desingan peluru yang memekakkan telinga, tanpa bau logam mesiu yang menyesakkan paru-paru, dan yang paling penting—tidak ada suara operator markas yang cerewet di telinganya. Erika menyesap ketenangan itu bersamaan dengan gigitan besar pada Jianbing—crepe gurih khas Tiongkok—miliknya. Tekstur renyah kulit krep dan tendangan saus hoisin yang gurih membuat bahunya yang kaku perlahan turun. Matanya terpejam nikmat.

Bagi seorang agen yang terbiasa bertahan hidup dengan batang protein bar hambar saat mengintai target di atap gedung selama berhari-hari, kehangatan makanan nyata ini terasa lebih berharga daripada bayaran jutaan dolar di rekening rahasianya.

​Sanggul taktis yang biasanya menjamin efisiensi dalam bergerak kini berganti dengan kunciran asal-asalan yang nyaris lepas. Erika mengendus dalam-dalam; uap jahe dari Xiaolongbao di depannya terasa jauh lebih menggoda daripada aroma minyak senjata yang biasanya menempel di jemarinya. Saat ia menyumpit satu pangsit, kaldu gurih meledak di lidahnya—sebuah ledakan yang jauh lebih ia sukai daripada ledakan granat.

​Jari telunjuknya yang kapalan—jejak permanen dari ribuan pelatuk yang pernah ia tarik—mengusap layar tablet dengan gerakan malas. Erika sedang tidak ingin melihat pergerakan satelit di Timur Tengah atau laporan harian tentang fluktuasi saham global yang membosankan. Ia butuh sesuatu yang sama sekali tidak berguna bagi otaknya yang sudah lelah menyusun strategi kematian.

​Setelah beberapa kali menggulir layar, pilihannya jatuh pada sebuah iklan novel online dengan sampul bunga pastel yang warnanya terlalu cerah hingga membuat matanya sakit. Judulnya pun tak kalah mencolok: "Cinta Abadi di Kerajaan Astasura".

​"Cinta abadi, ya?" Erika mendengus sinis, jempolnya yang kapalan ragu sejenak sebelum akhirnya mengetuk layar. "Mari kita lihat berapa lama mereka sanggup bertahan sebelum pengkhianatan politik menghancurkan segalanya."

​Ia menyandarkan punggungnya ke sofa kulit yang empuk, siap memberikan dosis kemanisan palsu pada otaknya agar ia bisa tidur tanpa bermimpi tentang mayat malam ini. Baginya, fiksi picisan adalah satu-satunya tempat di mana dunia bisa berakhir bahagia tanpa perlu ada darah yang tumpah di tangan.

​Namun, dua jam berlalu, dan keheningan mewah Orient Lavender pecah berantakan. Bukan oleh serangan teroris, melainkan oleh teriakan frustrasi Erika.

...****************...

...----------------...

​"Penulis gila! Apa-apaan logika sampah ini?!"

​Meja marmer itu bergetar saat tinju Erika menghantamnya, membuat sumpitnya melenting ke lantai. Wajahnya yang semula tenang kini merah padam. Nadi di pelipisnya berdenyut kencang—sebuah respons fisiologis "siaga satu" yang biasanya hanya muncul saat ia terkepung di gang sempit. Tapi kali ini, musuhnya bukan senapan, melainkan deretan kalimat di layar tabletnya.

​Alih-alih dosis gula yang menenangkan, novel itu ternyata ladang ranjau penderitaan. Fokus kemarahan Erika tertuju pada satu nama: Rosalind Adiwangsa. Seorang putri Adipati yang kecantikannya dipuja di seluruh Kerajaan Astaurat, namun memiliki kepribadian selembut tahu sutra—alias naif yang sudah di tahap membahayakan nyawa.

​"Rosalind, kau ini kurang gizi atau memang otaknya hilang?" Erika mengomel sendiri, jarinya menunjuk-nunjuk layar tablet seolah ingin menembus dimensi dan mencekik karakter itu.

"Pelayan mencuri jatah makananmu, dan kau hanya diam sambil berdoa agar mereka 'bertobat'? Kakak-kakakmu memperlakukanmu seperti pajangan rusak, dan kau cuma bisa menangis di pojokan sambil menulis puisi sedih? Dan puncaknya... kau mati kedinginan di paviliun megah karena tidak punya keberanian meminta kayu bakar?! Benar-benar gila!"

​Erika tertawa hambar, suara yang biasanya ia gunakan untuk mengejek target yang terjepit. "Ini bukan lagi tragedi. Ini penghinaan total terhadap naluri bertahan hidup! Bahkan kecoak saja tahu cara mencari lubang hangat agar tidak mati kedinginan. Kamu ini manusia atau keset kaki?"

​Erika menyesap tehnya dengan kasar, namun panasnya cairan itu justru menambah bara di kepalanya. Secara otomatis, otaknya yang terbiasa membedah profil diktator kini bekerja liar, menyusun analisis taktis seolah keluarga Adiwangsa adalah target operasi yang harus segera dieksekusi demi kemanusiaan.

​"Adipati Lyon Adiwangsa... Target utama kegoblokan!" Erika mendengus, menunjuk layar dengan ujung jari yang bergetar karena geram. "Ayah macam apa yang membiarkan putrinya sendiri mati kelaparan di bawah atapnya sendiri? Dua tahun lagi dalam alur novel ini, kau akan ditipu mentah-mentah oleh Pangeran Ketiga. Dokumen pengkhianatan dipalsukan, dan kau akan berakhir di bawah pisau algojo tanpa sempat membela diri. Dasar tua bangka tidak berguna!"

​Semangat menghujatnya kian membara. Ia menggeser layar dengan kasar, beralih ke deretan karakter pendukung yang tak kalah menyebalkan.

"Dan kalian, kakak-kakak tampan berotak udang! Xander Adiwangsa, putra mahkota keluarga, kau akan difitnah oleh Lady Seraphina bahwa tunanganmu sendiri karena terlalu sibuk mengejar 'cahaya palsu' si tokoh utama wanita, Seraphina. Lalu kakaknya yang kedua, Evelyn, baru tujuh belas tahun tapi sudah menyerahkan kunci gudang senjata rahasia keluarga pada pria bermuka dua hanya karena diberi setangkai bunga mawar? Keluarga ini benar-benar kumpulan jenius dengan IQ negatif!"

​Erika melemparkan tabletnya ke sofa seolah benda itu adalah granat aktif yang siap meledak. Ia merasa lelah secara mental—jauh lebih terkuras daripada saat melakukan infiltrasi ke markas pemberontak di pedalaman Kongo.

​"Aku menyesal! Benar-benar menyesal membuang waktu cutiku yang berharga untuk sampah literasi ini!" gerutunya sambil memijat pelipis yang berdenyut hebat. "Jika aku adalah Rosalind, aku tidak akan menangis. Aku akan membakar paviliun itu untuk menghangatkan diri, lalu menggunakan abunya untuk meracuni setiap orang yang berani meremehkan ku."

​Dengan sisa emosi yang masih meluap-luap dan kepala yang pening karena plot novel yang berantakan, ia melangkah lebar menuju kamar mandi. Ia butuh mandi air panas untuk membilas kekesalannya. Namun, kemarahan ternyata adalah racun yang paling efektif untuk melumpuhkan kewaspadaan—sebuah dosa mematikan bagi seorang agen profesional sepertinya.

​Erika terlalu sibuk mengutuk kebodohan alur cerita hingga ia tidak menyadari lantai marmer di depan kamar mandi berkilat aneh.

​Sret!

​Sisa sabun mandi cair yang lupa ia bersihkan pagi tadi menjadi jebakan paling efisien yang pernah ia hadapi sepanjang kariernya. Dunia seolah melambat saat keseimbangan Erika hilang. Insting taktisnya berteriak, tangannya mencoba menggapai udara kosong untuk mencari pegangan, namun hukum gravitasi jauh lebih cepat daripada refleks manusianya.

​Kaki Erika tergelincir hebat. Tubuhnya melayang sesaat—sebuah detik yang terasa abadi bagi seorang agen yang terbiasa terjun payung dari pesawat tempur—sebelum gravitasi menariknya jatuh dengan kecepatan brutal ke arah benda keras di bawahnya.

​BRUK!

​Sudut tajam bathtub porselen yang dingin menghantam tengkuknya dengan akurasi yang lebih mematikan daripada peluru penembak runduk. Pandangan Erika meledak—kilatan cahaya putih menyilaukan berganti dengan kegelapan yang pekat dan dingin. Rasa sakit itu hanya terasa sekejap sebelum kesadarannya mulai meluruh, seperti tinta yang terkena air.

​Di ambang kematiannya yang konyol, ego sang pembunuh bayaran terbaik dunia masih sempat membisikkan satu kutukan terakhir dalam benaknya :

​Sial... Aku ini agen rahasia kelas satu... Mati konyol hanya karena sisa sabun dan novel picisan? Sejarah intelijen dunia akan menertawakanku seumur hidup... Kalau ada kehidupan selanjutnya, jangan biarkan aku mati semudah ini...

......................

...****************...

...----------------...

Tajam sekali mata si elang,

Terbang tinggi ke arah utara.

Nyawa di Beijing sudah melayang,

Kini saatnya Erika mengacak-acak Astasura!

Berikan pendapat dan saran kalian di kolom komentar ya! Jangan lupa taburan bintangnya biar author semangat revisi! ✨

#TagRemekeNovel sebelum nya

1
acep maulana
hari ini author izin tidak tayang mungkin jam 9 malam tayangan nya hehe
Manusia Ikan
sistem b like :
Manusia Ikan
ooh ada sistem nya😏👍
Manusia Ikan
bro kena mag :v
Manusia Ikan
jangan remehkan kekuatan dari lantai yang licin di kamar mandi😂
Manusia Ikan
ah biasa ini mah😏
Rina Yuli
celana dalam lagi 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rina Yuli
urusan celana dalam pakek mau dibongkar segala lagi 🤣🤣🤣🤣🤣
Rina Yuli: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
acep maulana
sama 2 kk maaf kalau cerita sebelumnya saya hapus 🤣🤣🤣🤣
acep maulana: rekomendasi untuk bab berikutnya hehehe
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Manusia Ikan: hadir thor
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!