Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 25
Amelia pernah memiliki pernikahan impian. Sebuah pernikahan sederhana yang diadakan di taman, halaman, atau venue terbuka dengan dekorasi bunga segar, elemen kayu, dan pencahayaan hangat dari matahari pagi. Namun, ia berhenti memimpikan pernikahan semenjak orangtuanya meninggal. Lalu ketika Olivia tidak henti menyebabkan masalah, Amelia mengubur impiannya.
Dalam pikiran Amelia, seorang yatim piatu, dengan tumpukan hutang, dan tanggung jawab mengurus satu keponakan perempuan, tidak bisa memimpikan pernikahan. Logika saja, pria mana yang mau masuk ke kubangan masalah sementara banyak wanita single tanpa buntut masalah tersedia di luaran sana.
Ternyata, takdir berkata lain. Ketika Amelia berpasrah, keajaiban itu datang. Caelan Harrison masuk ke dalam kehidupan Amelia dan kini akan menjadi bagian permanen. Caelan memang datang dengan kondisi khusus yang mengharuskan pria itu hadir dalam hidup Amelia. Keadaan khusus bernama Emi.
Apa pun alasan yang menjadi awal masuknya Caelan dalam kehidupan Amelia, semua itu tidak lagi menjadi penting. Karena alasan yang membuat Caelan bertahan adalah Amelia.
Bunga mawar menjadi bunga dekorasi utama yang digunakan. Mawar putih, merah muda, dan merah paling banyak digunakan untuk menghias meja tamu, pagar dan panggung untuk pengantin. Buket yang Amelia pilih pun menggunakan mawar merah dan putih yang dirangkai cantik dengan tambahan baby’s breath.
Amelia memilih gaun vintage sebagai gaun pengantinnya. Sentuhan kuno dan klasik dalam warna putih beraksen biru di bagian rok itu menyempurnakan pernikahan sederhana yang diimpikan Amelia. Namun, yang paling sempurna adalah pria yang menunggunya di pelaminan. Caelan terlihat menawan dengan setelah biru navy. Tampilan pria itu memang mencolok dengan warna terang, memberi kesan cerah dan meriah, tapi masih serasi dengan gaun Amelia yang juga diberi sentuhan warna yang sama.
Simon menggandeng Amelia, membawanya menghampiri Caelan yang menunggu dengan senyum cerah sambil menggendong Emi. Saat melihat Amelia, Emi meminta turun dari gendongan Caelan. Dengan langkah tertatih Emi menghampiri Amelia, lalu menggenggam erat bagian rok gaun, mendongak pada Amelia minta digendong.
Amelia meminta Simon memegangi buketnya, lalu menggendong Emi, kemudian melangkah ke sisi Caelan.
Anna mencoba mengambil Emi dari Amelia, tapi gadis kecil itu bergeming dan mengeratkan pelukan di leher Amelia. Untungnya, Emi tidak mengarahkan tangan ke rambut Amelia yang sudah ditata dalam sanggul yang rapi.
“Kuharap kau tidak keberatan,” ujar Amelia pada Caelan.
“Sama sekali tidak,” sahut Caelan. Pria itu meminta bunga dari Simon dan memegangi buket mawar itu, lalu menatap Amelia dan Emi. “Aku seperti menikahi dua wanita sekaligus.”
Amelia tertawa. “Kau menemukan Emi, lalu mendapatkanku,” ujarnya.
Caelan menggeleng. “Yang benar, kau menemukanku, lalu aku mendapatkan kalian berdua.” Caelan mencium kening Amelia lalu pipi Emi.
Amelia tersenyum cerah. Hari ini kebahagiaannya terasa sempurna. “Berikan bunganya padaku,” pintanya.
“Boleh aku memegangnya? Bunga ini cocok denganku.”
Jawaban Caelan membuat Amelia tertawa. “Memang terlihat serasi.”
Kemudian khutbah pernikahan yang berisi nasihat-nasihat pernikahan menjadi pembuka sebelum janji suci antara Caelan dan Amelia dilakukan. Setelahnya, mereka berdua sudah sah menjadi suami dan istri. Selama prosesi, Emi tenang berada di pangkuan Amelia seolah mengerti sedang berada dalam prosesi sakral sehingga tidak membuat keributan.
Setelah upacara pernikahan dilanjutkan dengan resepsi, para tamu memberikan selamat dan berfoto bersama. Sebuah band yang disewa untuk mengisi acara menyanyikan lagu-lagu pernikahan di bagian sudut taman. Beberapa tamu undangan juga menyumbangkan suara sebagai hiburan.
Acara hari itu berlangsung dengan baik, menyenangkan, dan penuh suka cita. Amelia tidak henti tersenyum meskipun tidak mengenali sebagian besar tamu. Amelia hanya mengenali tamu-tamunya sendiri dan sisanya tidak dikenalnya sama sekali, kecuali beberapa rekan kerja Caelan yang sempat ia temui dan keluarga Weston.
Omong-omong soal keluarga Weston, Joan memasang wajah jutek sepanjang pesta, hanya tersenyum jika bertemu dengan orang yang dikenal dan para tetangga. Sisanya selalu memasang wajah tidak senang, terutama ketika melihat Amelia. Bahkan sampai siang, Joan tidak kunjung memberikan selamat pada Amelia.
Lalu ada Clara yang terlihat cantik dalam balutan gaun putih. Wanita itu benar-benar berniat untuk menyaingi Amelia. Selain menggunakan gaun warna putih yang terlihat seperti short wedding dress, Clara juga menggunakan make up heboh yang lebih tebal dibandingkan pengantin wanita. Sudah jelas, Clara datang untuk merebut perhatian tamu dari Amelia.
“Haruskah aku mengusirnya?” bisik Anna yang berdiri di samping Amelia. Caelan sedang berbicara dengan beberapa rekan kerja tidak jauh dari Amelia sehingga Anna langsung berdiri di sebelah Anna. Sejak awal, Caelan, Simon, dan Anna memang tidak meninggalkan Amelia. Selalu ada salah satu yang berada di sisinya sehingga Amelia tidak merasa canggung ketika ada tamu yang tidak dikenalinya.
Perhatian kecil seperti ini seringkali ditunjukkan oleh Caelan dan kedua orangtua pria itu. Membuat Amelia terharu dan makin menyayangi keluarga barunya itu.
“Tidak apa-apa, Ma. Dia sama sekali tidak menggangguku,” jawab Amelia.
“Dia sebenarnya sedang mempermalukan dirinya sendiri,” kata Anna kesal. “Entah apa yang dipikirkannya sehingga memakai pakaian seperti itu.”
Amelia ingin memberi tanggapan pedas mengenai penampilan Clara, tapi mengingat Anna sudah menganggap Clara seperti anak sendiri, ia memberikan jawaban yang diplomatis. “Maklumi saja, dia patah hati karena pria yang diinginkannya menikah dengan wanita lain.”
Anna tiba-tiba memeluk Amelia. “Terima kasih sudah bersabar dengannya,” bisik Anna.
Kemudian Simon datang bersama Emi yang terlihat mengantuk. “Sepertinya, gadis kecil ini perlu istirahat,” ujar Simon.
“Aku akan memberikannya pada Sandra untuk ditidurkan.” Anna mengambil Emi dari gendongan Simon dan membawa gadis kecil itu masuk ke dalam rumah.
Setelah Anna pergi, Simon tetap di sisi Amelia dan mengajak bicara. “Hari ini cukup ramai, ya.”
Amelia mengangguk. Tamu undangan memang cukup banyak dan sebagian besar sudah bertahan lama di pesta. Karena kebanyakan adalah keluarga dan kenalan keluarga Harrison.
“Banyak wajah asing bagimu, bukan?” ujar Simon, dan lagi-lagi Amelia mengangguk, lalu menanggapi.
“Kalian punya banyak keluarga dan kenalan, aku cukup kewalahan berkenalan dengan mereka hari ini. Kurasa, hanya sebagian kecil yang bisa kuingat namanya.” Amelia mengucapkan kalimat terakhir dengan lebih pelan.
“Yah, keluarga kami memang punya cukup banyak relasi dan keluarga. Untuk pesta ini, kami berusaha hanya mengundang orang-orang yang cukup dekat,” Simon mengakui.
“Aku benar-benar minta maaf, Pa. Karena keinginanku dan Caelan membuat pesta sederhana, Papa dan Mama harus membatasi tamu undangan,” ujar Amelia.
“Justru kami yang harus minta maaf, karena membuat kalian harus berkompromi,” kata Simon. “Ini pesta kalian, tapi justru tamu undangan kami yang lebih banyak. Ini murni keegoisan orangtua yang ingin membuat pesta pernikahan meriah untuk anak-anaknya. Dan kami hanya punya satu kesempatan ini.”
Ketika Amelia melihat Simon, pria itu terlihat sedih. Sepertinya, Simon teringat pada Henry.
Amelia tersenyum pada Simon. “Aku menikmati pesta hari ini, keramaian tidak selalu buruk. Hari ini aku bersenang-senang dan bisa berkenalan dengan banyak orang baru.”
“Terima kasih, Sayang. Kau sangat pengertian,” ujar Simon. “Terutama pada Keluarga Weston. Mereka membuat pesta ini jadi kurang menyenangkan.”
“Untuk yang satu itu aku setuju, mereka memang sedikit merusak mood-ku,” Amelia mengakui.
“Haruskah aku mengusir mereka?”
Amelia mengerjap beberapa kali, lalu tertawa. Pertanyaan Simon sama dengan Anna beberapa saat lalu. Salah satu alis Simon terangkat karena bingung.
“Mama juga mengatakan hal yang sama tadi,” ujar Amelia geli.
Simon ikut tertawa. “Itu bukti kalau kami sehati.”
Amelia mengangguk setuju.
“Amelia, senang melihatmu begitu bahagia.”
Amelia menoleh ke arah suara dan seketika membeku.