IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Sebentar, Mama telpon Paulina dulu. Jadi nanti pas ke Paris, kamu hadir sebagai calon menantu Mama. Bukan sebagai PA Paulina." Regina mengerling bergantian pada Anin dan Naufal.
Lincah jari jemarinya membuka layar ponsel, secepatnya menelpon video.
Di layar ponsel yang sudah tersambung itu, tampak wajah Paulina tengah duduk, santai.
"Oh ... Hai, baru satu jam yang lalu kita mengobrol bersama, rasanya nggak mungkin dong kamu telpon aku karna kamu rindu." ujar Paulina di awal sambungan mereka.
Regina tertawa renyah, "Kamu tahu, aku punya kabar baik. Kamu harus jadi orang pertama yang aku kasih tahu."
Paulina menegakkan punggung, "Apa, apa, apa?" tanyanya tak sabaran.
"Kamu lihat ini, ah ... Aku akan segera memiliki menantu." ujar Regina, sambil mengganti arah kamera menjadi kamera belakang.
Sengaja ia arahkan pada Naufal dan Anin. Senyum tengil Naufal mengembang, Anin tersenyum tipis.
"Hai ... Tante Paulina." Naufal sengaja merangkul bahu Anin. Lantas melambaikan tangannya.
"Ha? Jadi, kalian?!"
Regina kembali mengarahkan kamera ke wajahnya. "Entahlah mereka berdua ini, bisa-bisanya tadi menyembunyikan kabar baik ini. Hampir saja tadi aku dekatkan dengan Elena."
"Kenapa bisa? Jadi selama ini mereka berdua pacaran?"
Regina mengangguk, senang.
"Astaga! Kenapa nggak bilang sih, dari tadi juga."
"Makanya aku bilang, bisa-bisanya mereka mau backstreet di belakang kita."
"Terus itu, gimana bisa tahunya?"
"Jadi, tadi Frans mengajakku ke saung di pinggir danau. Siapa sangka, ternyata mereka berdua sedang pegangan tangan. Langsunglah aku dekati mereka. Nggak bisa mengelak dong, akhirnya mereka ngaku kalo pacaran. Kamu tahu kan, aku akhir-akhir ini sering menghawatirkan..." Regina melirik Naufal,
"Ma, masih mau bilang kalo aku sama Albie ada hubungan gila?!" sahut Naufal, kesal.
Regina tertawa, Paulina di seberang telepon pun ikut tertawa.
"Ya, gimana ya. Kalian itu terlalu mesra jika di sebut sahabatan. Dari dulu, di mana ada Albie di situ ada Naufal. Sampe tu, waktu itu. Inget nggak sama Naomi? Anaknya Thom." timpal Paulina.
"Iya, waktu itu uring-uringan. Sampe minta putus sama Naufal. Gara-gara Naufal lebih banyak waktunya sama Albie ketimbang dia." Regina dan Paulina kelepasan membahas Naomi, mantan pacar Naufal.
Namun detik berikutnya, Regina menyadari kesalahannya. Ia melirik Anin, namun aneh. Gadis itu biasa saja. Tidak ada perubahan sama sekali di wajahnya.
"Apa sih, bahasannya. Malah Naomi." sungut Naufal.
Regina terkekeh, "Maaf, kami keceplosan. Anin sayang, maafin Mama ya. Yang penting kan sekarang Naufal sama kamu. Kalo soal Naomi, mereka juga sudah sama-sama melupakan."
Anin mengangguk, "Anin biasa aja Ma, Anin tahu kok, Naufal punya banyak mantan pacar. Masa nih, di hari pertama jadian. Mama tebak, ada berapa cewek yang nangis gara-gara lihat kami jalan berdua?"
"Masa?!" Paulina di seberang telpon berseru. Dan semakin serius mendengarkan.
"Iya tahu Ma, ada tuh yang namanya ... Ecel-ecel, dih nuduh Anin jadi pelakor. Padahal kan Naufal nya sendiri nggak nganggep mereka pacaran. Tapi entah, mungkin karna Naufal serakah, nggak mau kehilangan Fans dan mau ambil keuntungannya aja. Jadi di ladenin sama dia, eh pas Ecelnya baper, bilangnya mereka ngga pacaran. Kasian tahu Ma si Ecel itu." tutur Anin.
"Dih ...Apaan sih, bahasannya. Kenapa malah bahas cewek-cewek itu!" Sela Naufal.
"Ya, karna kamu tuh dulunya brengsek sama cewek-cewek itu. Setia nya malah sama Albie." Bentak, Frans ikut menimpali.
Anin, Regina dan Paulina tertawa. Hanya Naufal yang cemberut, tak suka.
"Jadi wajar dong, kalau kita curiga. Kamu tuh sebenarnya ada hati sama Albie." Ujar Paulina di sela tawanya.
"Dih apaan, Naufal sama Albie tuh ngerasa cocok. Secara umum kami berdua sama-sama tertarik sama dunia medis. Lagi pula dari SMA sampe FK kita selalu barengan. Pas di London juga barengan. Apalagi sekarang kita sama-sama di Rumah sakit Pusat. Kan wajar kalo kita sedekat itu." sanggah Naufal.
"Ya itu wajar, yang membuat kami janggal. Albie pacarannya cuma sama Alya. Mana ketemunya jarang-jarang, soalnya Alya model. Timing mereka buat ketemu tuh susah. Nah kamunya, nggak jelas pacarnyanya yang mana. Dan kemana-mana berdua aja..." Timpal Regina.
Anin terkekeh mendengar pembahasan yang tak habis-habisnya soal tuduhan hubungan terlarang antara Albie dan Naufal.
"Kamu jangan ketawa aja kenapa sih sayang? bantuin ngomong kek sama, Ibu-ibu ini. Mana ada back up nya pula." Naufal melirik Frans.
"Apa?!" bentak Frans, lantas terkekeh pelan.
"Iya, iya aku bantuin." ujar Anin, "Mama Regina, Ibu Paulina. Sekarang Naufal ini sayangnya sama aku. Jadi tuduhan memiliki hubungan sama Albie, semua terbantahkan."
Naufal tersenyum, senang. "Makasih, Sayang."
Anin mengangguk dengan kerlingan.
"Iya deh iya, percaya!" seru Paulina.
"Jadi, Pau." Regina menyela, "Aku mau bilang, nanti di Paris ijinin Anin jadi calon mantu aku. Bukan sebagai PA nya kamu. Kamu nggak keberatan kan?"
"Oke deh, nggak masalah. Nanti Anin cariin gantinya ya. Soalnya aku mau bawa cucu. Takut riweh."
"Cucu?" Regina bertanya, "Anaknya Niko sama Alied?"
"Ya, Alied lagi prepare persalinannya yang kedua. Aku kasihan sama Aubrey, sekarang aja dia kelihatan cemburu banget, Mamanya hamil."
Naufal lega mendengarnya. Tidak bisa ia bayangkan jika Anin ke Paris sebagai PA Paulina. Betapa repotnya, dan itu pasti membuatnya tidak bisa berduaan dengan kekasihnya.
"Ya udah deh, kalian lanjutin aja. Sebentar lagi Fredrick, mau mengajakku mengunjungi acara pergelaran lukis. Lukisan Bryan di pajang. Rencananya mau di ikutkan di Gala Estetika nya Henry."
"Oh ...iya, aku hampir lupa. Acar gala untuk memperingati satu tahun kematian Devan kan?"
Paulina mengangguk, "Oke deh, selamat ya sudah menemukan calon menantu. Frans, selamat ya!" serunya.
"Oke, By" sahut Regina, dan Frans ikut tersenyum bersamanya.
Lantas panggilan telepon itu terputus.
"Selasai!" seru Regina. Lantas meraih tangan Anin di atas meja. "Sayang, besok makan siang Mama jemput. Kita makan di Star."
Naufal terlonjak, teringat dengan manajer di sana yang tidak lain adalah mantan pacarnya.
"Nggak usah sayang, jangan mau!" sergah Naufal cepat.
Regina dan Anin sontak menatapnya heran. Namun insting Anin selalu berjalan cepat, dan tepat.
Ia memukul lengan Naufal, "Mantan kamu juga ada di sana?!" bentaknya.
Naufal terdiam. Melirik Frans, dengan maksud meminta bantuan. Tapi Frans serta Merta mengalihkan pandangannya.
"Satu sayang, satu doang ... benaran." rengek Naufal.
Regina tertawa, "Pasti kamu takut sama Niken kan?" tebaknya, dan Naufal tak bisa menyanggahnya.
Anin mencebik, "Niken mana lagi?!"
"Ya... Allah, cuma mantan sayang. Nggak ada hubungan apa-apa lagi."
Frans berdehem pelan, "Yang kamu beliin apartemen kan?"
Naufal menoleh, "Pa, harus banget balas dendam nya lewat Anin?"
Frans menaikkan pundaknya.
Tuk!
Anin memukul punggung Naufal, tanpa ampun.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍