NovelToon NovelToon
Ranting Kaku Yang Di Peluk Badai

Ranting Kaku Yang Di Peluk Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Kaya Raya / Romantis / Perjodohan
Popularitas:996
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Violet Aolani, mahasiswi tengil yang tak kenal kata mundur, nekat mengejar Arden Elio Bayu, CEO kaku yang hidupnya sedingin es. Di mata Arden, Violet hanyalah anak kecil yang mengganggu; namun bagi Violet, Arden adalah takhta yang harus ia taklukkan. Ini adalah kisah tentang "badai" muda yang meruntuhkan tembok beku sang penguasa korporat dengan keberanian yang nyaris lancang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Protokol kencan yang berantakan

Danantya adalah pria yang hidup dengan jam atom. Baginya, keterlambatan adalah dosa besar. Tepat pukul 18.55, ia sudah berdiri di parkiran Bayu Group di samping mobil sedan hitamnya yang mengilat. Ia mengenakan kemeja kasual berwarna abu-abu gelap dengan lengan yang digulung—tampilan paling santai yang pernah ia tunjukkan dalam lima tahun terakhir.

Tepat pukul 19.05, Evara Swastamita muncul dengan lari-lari kecil. Ia memakai gaun bunga-bunga pendek dengan jaket denim, tampak kontras dengan aura kaku yang dipancarkan Danantya.

"Maaf, Kak! Tadi ada drama dikit di lift," ucap Evara sambil terengah-engah.

Danantya melirik jam tangannya. "Sepuluh menit, Evara. Dalam dunia bisnis, sepuluh menit bisa berarti kehilangan kontrak miliaran."

Evara justru tertawa sambil masuk ke mobil. "Tapi ini dunia kencan, Kak Danan. Dalam dunia kencan, sepuluh menit itu namanya 'membuat penasaran'. Ayo jalan, keburu filmnya mulai!"

Bioskop dan Teori Logika

Sepanjang perjalanan, Danantya hanya diam fokus pada jalanan. Namun, tangannya beberapa kali mengetuk setir mengikuti irama lagu yang diputar Evara dari ponselnya. Evara terus berceloteh tentang banyak hal, mulai dari warna cat kuku barunya sampai gosip terbaru tentang Violet yang katanya habis membelikan Arden dasi warna pink.

Di bioskop, Danantya terlihat sangat tidak nyaman. Ia memilih film thriller detektif, sementara Evara sebenarnya ingin menonton komedi romantis.

"Kenapa detektifnya nggak langsung panggil bantuan saja? Itu kan prosedur standarnya," komentar Danantya dengan suara rendah saat film berlangsung.

"Kak, kalau dia langsung panggil bantuan, filmnya selesai dalam lima menit. Nggak ada seninya!" bisik Evara gemas. Ia kemudian meraih tangan Danantya yang sedang memegang kotak popcorn.

Danantya tersentak. Tangannya kaku seperti kayu. Namun, ia tidak menarik tangannya. Ia membiarkan jemari mungil Evara menggenggam punggung tangannya yang besar. Untuk pertama kalinya, fokus Danantya tidak lagi pada layar bioskop, melainkan pada detak jantungnya sendiri yang berdegup melampaui batas wajar.

Avyana Hazel dan Percakapan di Ruang Maket

Sementara Danantya sedang "disiksa" oleh perasaan baru di bioskop, Kenzo masih berada di kantornya. Ia sedang memperbaiki maket perumahan elit sesuai dengan kritik dari Avyana Hazel sore tadi.

"Kak Kenzo belum pulang?" sebuah suara lembut mengagetkannya.

Itu Avyana. Ia membawa dua gelas kopi hangat. "Aku tadi lewat depan, lihat lampu ruangan Kakak masih nyala."

Kenzo menghentikan aktivitasnya. Ia mengambil salah satu kopi. "Aku baru sadar, kisi-kisi kayu yang kamu maksud memang bikin desainnya jadi lebih hidup. Bukan cuma soal panas, tapi teksturnya jadi lebih kaya."

Avyana berdiri di samping Kenzo, memperhatikan jari-jari pria itu yang sangat teliti mengolah kayu balsa. "Arsitektur itu seperti puisi, Kak. Kalau cuma megah tapi nggak bisa ditinggali dengan nyaman, itu namanya cuma monumen."

Kenzo menatap Avyana. Ada rasa kagum yang tumbuh perlahan. "Kamu... kenapa nggak ambil jurusan arsitektur kalau sangat paham hal ini?"

"Aku lebih suka melihat prosesnya dari jauh, Kak. Lagipula, kalau aku jadi arsitek, nanti nggak ada yang bisa mengkritik Kakak dengan jujur, kan?" Avyana tersenyum tipis.

Kenzo terkekeh pelan. "Mungkin kamu benar. Besok, aku ada kunjungan ke lokasi proyek. Kamu mau ikut? Aku butuh mata kedua untuk melihat apa yang mungkin aku lewatkan."

Avyana tertegun. Itu adalah ajakan paling eksplisit yang pernah keluar dari mulut Kenzo. "Boleh. Kabari saja jam berapa."

Makan Malam yang Jujur

Setelah film selesai, Danantya mengajak Evara makan di sebuah restoran ramen kecil, bukan restoran mewah yang biasa dikunjungi para CEO.

"Aku kaget Kakak ajak ke sini," ujar Evara sambil menyeruput kuahnya.

"Mewah itu melelahkan, Evara," jawab Danantya jujur. "Seharian aku sudah harus bersikap sempurna di depan Arden dan klien. Di sini, aku hanya ingin jadi Danantya yang biasa."

Evara meletakkan sumpitnya. "Lalu, Danantya yang biasa itu... suka nggak sama kencan malam ini?"

Danantya terdiam cukup lama. Ia menatap mata Evara yang menuntut jawaban. "Awalnya, aku pikir ini hanya gangguan jadwal. Tapi ternyata... rasanya tidak buruk. Kamu membuatku sadar kalau ada dunia di luar dokumen-dokumen itu."

"Hanya 'tidak buruk'?" Evara mengerucutkan bibirnya.

Danantya menghela napas, lalu perlahan ia tersenyum—senyum yang sangat jarang terlihat. "Oke, jujur saja. Ini malam terbaikku dalam satu tahun terakhir. Puas?"

Evara tertawa puas. "Sangat puas, Kak Robot!"

Bayang-Bayang Badai

Di sisi lain kota, Arden sedang berdiri di balkon apartemennya bersama Violet. Suasana sangat tenang, namun ponsel Arden bergetar. Sebuah pesan dari tim keamanannya masuk.

"Pak, ada aktivitas mencurigakan di pelabuhan. Pengiriman material untuk proyek Bali sepertinya sedang disabotase. Kami menemukan jejak bahwa Arjuna terlibat di balik ini."

Violet yang menyadari perubahan ekspresi Arden langsung mendekat. "Ada apa, Tuan Bos?"

Arden mematikan ponselnya, mencoba tersenyum meskipun hatinya waspada. "Hanya masalah kecil di kantor, Violet. Kamu istirahatlah dulu. Aku harus menelepon Danantya."

"Danan kan lagi kencan sama Evara, Tuan! Jangan diganggu dulu!" seru Violet protektif.

Arden tertawa kecil. "Benar juga. Biarlah dia menikmati malamnya sebentar lagi. Musuh kita tidak akan lari ke mana-mana."

Namun, di dalam kepalanya, Arden sudah menyusun rencana. Jika Arjuna ingin bermain api lagi dengan proyek terbesarnya, maka Arden akan memastikan Arjuna terbakar oleh apinya sendiri.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!