Note: Ini cuma sekedar novel santai aja, kemungkinan besar dari kalian akan bosan membacanya. karena alurnya yang lambat, jadi jangan tanya author masalah debeh, aksi gelut gelut dan semacamnya yaa...😀
Xiao Yan bereinkarnasi ke dunia kultivasi modern sebagai bayi dengan status dan keahlian maksimal menyentuh angka 9999. Di tengah tragedi serangan monster yang merenggut nyawa ayahnya dan mengancam ibunya, dia tanpa sengaja melepaskan satu tembakan energi mematikan yang menghapus sang monster beserta daratan sejauh tiga kilometer dalam sekejap. Demi kehidupan yang damai dan tenang, Xiao Yan memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya, meski takdir dan sistem di kepalanya seolah terus memaksanya untuk bertindak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Lin Fan berdiri di depan bantalan mesin. Dia memejamkan mata, mengepalkan kedua tangannya erat-erat, dan memukul bantalan hitam itu sambil berteriak keras.
"Hiaaa!"
Brak.
Suaranya tidak terlalu keras. Mesin itu memproses pukulannya.
"Nilai: 1050 poin," ucap mesin tersebut.
Lin Fan membuka matanya. Dia melihat angka di layar. Air mata langsung menggenang di matanya.
"Syukurlah! Aku lolos! Aku tidak perlu ikut berdagang sayur di pasar!" teriak Lin Fan sambil melompat-lompat kegirangan.
"Lulus. Kelas Biasa. Cepat minggir, giliran selanjutnya," perintah panitia dengan nada bosan.
Lin Fan berlari ke area peserta yang lulus. "Aku menunggumu di sana, Xiao Yan!"
Xiao Yan berjalan maju. Dia berdiri berhadapan dengan mesin berukuran besar tersebut. Bantalan hitam di depannya memiliki bekas cekungan tipis akibat ribuan pukulan dari peserta sebelumnya.
Xiao Yan tidak langsung memukul. Dia mematung selama tiga detik. Di dalam kepalanya, proses perhitungan matematis akhir sedang berlangsung dengan kecepatan melebihi superkomputer modern.
"Total peserta yang sudah memukul ada sembilan ratus orang," batin Xiao Yan. "Tersisa seratus orang lagi di belakangku. Berdasarkan distribusi normal dari nilai sembilan ratus data yang masuk, nilai rata-rata keseluruhan berada di angka 2245 poin. Untuk mendapatkan peringkat tepat di tengah, yaitu peringkat lima ratus dari seribu peserta, aku harus mencetak nilai yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah dari angka median."
Xiao Yan menatap bantalan itu.
"Jika aku menggunakan 0,001 persen kekuatanku, mesin ini akan meledak dan aku akan mencetak sepuluh ribu poin maksimal. Jika aku menggunakan 0,0001 persen, aku akan mencetak lima ribu poin dan masuk ke Kelas Unggulan. Itu juga merepotkan."
Dia menggerakkan pergelangan tangan kanannya perlahan.
"Target nilai: 2250 poin. Dibutuhkan keluaran tenaga sebesar 0,000045 persen."
"Hei, peserta nomor 901! Cepat pukul! Jangan melamun!" tegur panitia dengan keras. "Masih banyak yang antre di belakangmu!"
"Ya, Pak," jawab Xiao Yan datar.
Xiao Yan tidak mengambil kuda-kuda. Dia tidak menarik napas panjang. Dia tidak memusatkan energi Qi di tangannya. Dia hanya berdiri biasa, lalu mengayunkan tangan kanannya ke depan layaknya orang yang sedang mengetuk pintu.
Ayunan itu terlihat sangat lambat dan tidak bertenaga sama sekali.
Puk.
Tangan Xiao Yan menyentuh bantalan hitam itu. Suaranya terdengar sangat pelan, nyaris tidak ada bunyi benturan keras seperti peserta lainnya. Bagi orang luar, Xiao Yan terlihat seperti anak lemah yang belum makan seharian.
Panitia ujian memutar bola matanya.
"Hah... Pukulan macam apa itu? Pasti nilainya di bawah tiga ratus. Langsung gugurkan saja anak ini," gumam panitia itu sambil melihat ke arah layar digital.
Layar digital mesin itu berkedip sesaat. Sistem sensor di dalam bantalan merespons tekanan absolut yang terfokus pada titik sekecil jarum, lalu menghitung total konversinya.
Layar berhenti berkedip. Angka menyala terang.
"Nilai: 2250 poin," suara mekanis mesin terdengar jelas.
Panitia itu membelalakkan matanya. Dia menatap layar, lalu menatap Xiao Yan, lalu kembali menatap layar.
"Dua ribu dua ratus lima puluh poin?" ucap panitia itu dengan nada tidak percaya. "Bagaimana mungkin pukulan selemah itu menghasilkan nilai setinggi itu? Apakah sensor mesin ini rusak?"
"Mesinnya tidak rusak," kata Xiao Yan datar. "Aku memukul di titik tengah bantalan dengan dorongan pinggang yang tepat."
Xiao Yan memberikan alasan teknis yang masuk akal namun sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali.
Panitia itu memeriksa kabel dan layar mesin sebentar. Semuanya normal.
"Ugh... Baiklah. Mesin tidak menunjukkan tanda kerusakan," kata panitia itu pada akhirnya. Dia mencatat nomor peserta Xiao Yan. "Lulus. Masuk Kelas Biasa."
"Terima kasih," ucap Xiao Yan. Dia segera berjalan menjauh dari mesin itu sebelum panitia tersebut berpikir untuk memintanya memukul ulang.
Xiao Yan berjalan menuju area peserta yang lulus. Lin Fan langsung menghampirinya dan merangkul bahunya.
"Xiao Yan! Kau lulus! Pukulanmu tadi terlihat sangat santai tapi nilaimu dua kali lipat dariku! Kau ternyata menyembunyikan kekuatanmu ya?" tanya Lin Fan penuh semangat.
"Tidak. Itu hanya kebetulan," jawab Xiao Yan.
"Apanya yang kebetulan? Ah, sudahlah. Yang penting kita berdua masuk Kelas Biasa. Kita pasti akan sekelas!" ucap Lin Fan.
"Ya," balas Xiao Yan singkat.
Xiao Yan melihat ke arah papan pengumuman elektronik raksasa di dekat panggung. Papan itu menampilkan peringkat sementara seluruh peserta berdasarkan nilai pukulan mereka.
Nama Zhao Wei berada di urutan nomor dua dengan nilai 6800. Ada seorang gadis dari keluarga militer yang mencetak nilai 7100 di peringkat pertama. Sementara itu, nama Xiao Yan terus bergerak naik turun saat peserta lain menyelesaikan ujian mereka.
Xiao Yan menyilangkan tangannya di dada. Dia menunggu dengan tenang.
Setelah setengah jam berlalu, ujian akhirnya selesai. Seluruh peserta telah memukul mesin. Kepala Pengawas menekan tombol di komputernya untuk mengunci hasil akhir.
Papan pengumuman elektronik berkedip sekali lagi, menyusun peringkat akhir dari nomor satu hingga nomor seribu.
Mata Xiao Yan menyisir daftar tersebut dari tengah ke atas.
"Peringkat 498: Li Ming, 2260 poin."
"Peringkat 499: Wang Jin, 2255 poin."
"Peringkat 500: Xiao Yan, 2250 poin."
"Peringkat 501: Chen Tao, 2245 poin."
Xiao Yan membaca barisan nama itu.
"Hah..." desah Xiao Yan pelan dari mulutnya.
Namun kali ini, desahan itu bukan karena beban. Ujung bibir Xiao Yan terangkat satu milimeter. Itu adalah senyuman kemenangan yang sangat tipis, yang tidak bisa dilihat oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri.
"Peringkat lima ratus pas," batin Xiao Yan dengan sangat puas. "Sempurna. Rencanaku berjalan dengan sempurna. Tidak ada satu pun guru atau siswa unggulan yang akan memperhatikan murid yang berada persis di tengah-tengah daftar. Kehidupan masa SMA-ku akan berjalan dengan sangat damai."
"Perhatian!" Kepala Pengawas kembali bersuara lewat pengeras suara. "Pengumuman pembagian kelas akan dikirim ke ponsel pintar kalian masing-masing malam ini! Besok, kalian wajib datang ke sekolah untuk mengikuti orientasi pengenalan area akademi! Ujian selesai, silakan bubar!"
"Ayo pulang, Xiao Yan!" ajak Lin Fan sambil menarik lengan baju Xiao Yan. "Aku akan mentraktirmu es krim di depan gerbang untuk merayakan kelulusan kita!"
"Tidak perlu. Aku mau langsung pulang. Ibuku menyuruhku menyapu kedai," tolak Xiao Yan datar.
"Ugh, kau ini membosankan sekali. Ya sudah, sampai jumpa besok!" Lin Fan melambaikan tangannya dan berlari ke arah gerbang.
Xiao Yan berjalan keluar dari gerbang Akademi Awan Putih dengan langkah tenang. Langit sore berwarna jingga menemani perjalanannya. Dia berhasil melewati rintangan pertama. Target selanjutnya adalah menjaga peringkat lima ratus ini di setiap ujian kelas selama tiga tahun ke depan.
Itu akan membutuhkan perhitungan matematika yang lebih rumit, tetapi demi kedamaian, Xiao Yan rela menghitung probabilitas alam semesta sekalipun.