NovelToon NovelToon
The Baskara'S Bride

The Baskara'S Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Sore itu, suasana di kediaman lama keluarga Wijaya terasa mencekam namun penuh dengan ketergesaan yang sunyi.

Gea, dengan sisa-sasa tenaga dan memar yang mulai menyamar di sudut bibirnya, mengemasi tas kecil berisi pakaian seadanya.

Ia tidak membawa barang mewah; baginya, keselamatan janin di rahimnya dan nyawa orang tuanya jauh lebih berharga daripada koleksi tas yang kini sudah digadaikan Jayden.

"Ma, Pa, cepat! Kita harus pergi sekarang sebelum Jayden pulang," bisik Gea dengan nada gemetar namun tegas.

Sinta dan suaminya hanya bisa mengangguk pasrah. Wajah mereka yang dulu angkuh kini tampak kuyu dan penuh ketakutan.

Begitu mereka melangkah keluar dari pintu belakang, dua pria berbadan tegap dengan setelan safari gelap sudah berdiri menunggu di samping sebuah van hitam yang mesinnya menyala tanpa suara.

"Nona Gea? Kami utusan Tuan Thomas. Mari, waktu kita terbatas," ucap salah satu anak buah Thomas dengan nada dingin namun profesional.

Tanpa banyak bicara, mereka masuk ke dalam mobil.

Van itu segera melesat membelah jalanan kota, menuju sebuah wilayah terpencil di pinggiran provinsi yang jauh dari jangkauan radar Jayden.

Di sana, sebuah rumah kecil yang asri namun kokoh dengan modal usaha yang dijanjikan Baskara telah menanti mereka—sebuah kesempatan kedua yang dibayar dengan harga sebuah "penghilangan diri".

Satu jam kemudian...

Deru mesin mobil tua Jayden terdengar memasuki halaman rumah yang sepi.

Jayden melangkah masuk dengan botol minuman keras di tangannya, berniat melampiaskan kekesalannya lagi pada Gea setelah hari yang buruk di jalanan.

"Gea! Sinta! Mana makanan? Aku lapar!" teriak Jayden sambil menendang pintu depan hingga terbuka lebar.

Hening dan tidak ada jawaban.

Jayden mengernyitkan dahi.

Ia melangkah ke dapur, kosong. Ia berlari ke kamar utama, lemari pakaian sudah terbuka dan isinya ludes.

Rumah itu kini benar-benar kosong melompong, menyisakan debu dan kenangan pahit dari keluarga yang baru saja ia hancurkan sendiri.

Jayden terdiam sejenak di tengah ruang tamu yang gelap.

Alih-alih marah atau panik, sebuah seringai mengerikan muncul di wajahnya yang kusam.

Ia melemparkan botol minumannya ke dinding hingga hancur berkeping-keping.

"Jadi, kalian pikir bisa lari dariku? Kalian pikir pria kursi roda itu bisa menyembunyikan kalian selamanya?" gumam Jayden dengan suara serak yang mengerikan.

Tiba-tiba, ia tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya menggema di ruangan kosong itu, terdengar seperti suara iblis yang sedang merencanakan pembalasan.

"Larilah sejauh mungkin, Gea! Bersembunyi lah di lubang semut sekalipun! Aku akan menemukan keberadaan kalian. Jangan pernah bermain-main dengan Jayden, karena aku tidak akan melepaskan milikku begitu saja!" ucap Jayden sambil terus tertawa terbahak-bahak, matanya berkilat penuh kegilaan di bawah temaram lampu jalan yang masuk melalui jendela.

Jayden memacu mobil tuanya menuju gerbang megah kediaman Mahendra.

Ia mencengkeram kemudi dengan urat-urat tangan yang menonjol, niatnya hanya satu: melabrak Baskara dan menuntut di mana Gea disembunyikan.

Ia yakin, pria kursi roda itu adalah otak di balik hilangnya "aset" berharganya.

Namun, sesampainya di depan gerbang raksasa yang tertutup rapat, ia dihadang oleh barisan penjaga keamanan yang jauh lebih ketat dari biasanya.

Thomas memang sudah mengantisipasi ini; ia meninggalkan perintah tegas pada tim penjaga rumah untuk menutup rapat semua informasi medis.

"Buka gerbangnya! Aku tahu Baskara ada di dalam! Suruh dia keluar dan kembalikan istriku!" teriak Jayden dari jendela mobilnya, suaranya parau karena amarah.

Seorang kepala keamanan melangkah maju dengan wajah sedatar tembok.

"Tuan Mahendra tidak ada di kediaman, Tuan Jayden. Beliau sedang melakukan perjalanan bisnis mendadak ke luar negeri untuk waktu yang tidak ditentukan."

Jayden tertegun. "Luar negeri? Bohong! Dia pasti menyembunyikan Gea di dalam sana!"

"Anda dipersilakan pergi sekarang, atau kami akan menghubungi pihak berwajib atas gangguan ketertiban," balas penjaga itu tanpa emosi.

Jayden memukul setir mobilnya dengan keras. Ia tidak tahu bahwa saat ini, di sebuah rumah sakit internasional di jantung kota, Baskara sedang bertaruh nyawa di bawah pisau bedah Om Edward.

Tim Mahendra telah menyusun skenario sedemikian rupa agar musuh-musuh mereka mengira Baskara sedang berada di Eropa untuk urusan saham, demi menjaga privasi dan keamanan proses operasi yang sangat berisiko tersebut.

"Luar negeri, ya?" gumam Jayden dengan tatapan nanar. "Dia pikir dia bisa lari dariku dengan uangnya?"

Jayden tertawa pendek, tawa yang terdengar hambar dan penuh dendam.

Ia memutar balik mobilnya dengan kasar, meninggalkan debu yang mengepul di depan gerbang emas itu. Ia tidak akan berhenti.

Jika Baskara tidak ada, maka ia akan mencari titik lemah lainnya.

Jayden memacu mobilnya dengan ugal-ugalan di jalanan kota.

Pikirannya kalut dan penuh kebencian. Setelah diusir dari depan gerbang rumah Baskara, ia singgah di sebuah bar kumuh untuk menemui salah satu informan lamanya—seorang mantan sopir yang pernah bekerja di lingkungan Mahendra Corp.

"Bisnis ke luar negeri? Jangan mau dibodohi, Jay," bisik informan itu sambil meneguk minumannya.

"Aku dengar dari orang dalam, ada pergerakan medis besar-besaran semalam. Iring-iringan mobil hitam itu tidak menuju bandara, tapi ke Rumah Sakit Internasional Medika."

"Rumah sakit?" ulang Jayden, suaranya terdengar seperti desisan ular.

"Apa si lumpuh itu akhirnya mati?"

Informan itu menggeleng.

"Entahlah. Tapi yang pasti, penjagaan di sana seperti markas militer. Ambar juga ada di sana."

Mendengar nama Ambar, mata Jayden berkilat setan. Ia segera melemparkan beberapa lembar uang lusuh ke atas meja dan berlari menuju mobilnya.

"Rumah sakit, ya? Jadi kalian bersembunyi di sana sambil berpura-pura sakit?" gumam Jayden dengan seringai mengerikan.

Ia membanting setir mobilnya dengan kasar, membelokkan kendaraannya ke arah jalur menuju Rumah Sakit Internasional Medika.

Ban mobilnya berdecit keras di atas aspal saat ia melanggar lampu merah tanpa peduli keselamatan orang lain.

"Aku akan mencari jawabannya sendiri. Kalau Baskara memang sedang sekarat, itu berita bagus. Tapi kalau dia sedang menyembunyikan Gea dan hartaku di sana, aku akan menghancurkan tempat itu bersama kalian!"

Jayden tertawa terbahak-bahak di dalam kabin mobil yang pengap, sementara di kejauhan, gedung rumah sakit yang megah mulai terlihat di cakrawala.

Jayden menarik tudung jaketnya dan mengenakan masker medis yang ia curi dari meja resepsionis di lantai bawah.

Ia menundukkan kepala, berjalan dengan langkah gontai dan sesekali terbatuk kecil, berpura-pura menjadi pasien yang sedang mencari ruang administrasi.

Di tengah hiruk-pikuk rumah sakit internasional yang luas itu, penyamarannya berhasil mengecoh para penjaga di lobi utama.

Ia menaiki tangga darurat untuk menghindari lift yang dijaga ketat, lalu menyelinap ke koridor sayap bedah saraf.

Dari balik pilar besar, mata Jayden yang kemerahan menangkap sosok yang sangat ia kenali.

Wanita itu duduk sendirian di deretan kursi tunggu yang sepi.

Wajahnya pucat, jemarinya terus memainkan cincin pernikahan—dua cincin yang terpasang di satu jari—sambil menatap lampu merah di atas pintu ruang operasi yang masih menyala terang.

Di kejauhan, Thomas tampak sibuk berbicara melalui telepon genggamnya, membelakangi posisi Ambar.

"Jadi benar, si lumpuh itu ada di dalam sana," desis Jayden di balik maskernya.

Ia melangkah perlahan, berpura-pura duduk di kursi tunggu yang berjarak beberapa meter dari Ambar, menyembunyikan wajahnya di balik brosur rumah sakit.

Ia menajamkan pendengarannya, mencoba menangkap setiap bisikan atau percakapan perawat yang lewat.

"Operasinya sudah berjalan empat jam lebih. Semoga dr. Edward bisa menyambung saraf motoriknya," bisik seorang perawat yang melintas di depan Ambar.

"Menyambung saraf? Jadi ini bukan operasi penyakit biasa. Baskara sedang mencoba untuk bisa berjalan lagi?" gumam Jayden.

Seringai licik muncul di balik masker Jayden. Jika operasi ini berhasil, Baskara akan menjadi ancaman yang lebih besar baginya. Namun, jika ia bisa mengacaukan konsentrasi Ambar atau menciptakan keributan di sini, mungkin saja fokus tim medis akan terganggu.

Jayden memperhatikan Ambar yang tampak sangat rapuh.

Ia meraba saku jaketnya, memastikan pisau lipat kecil yang selalu ia bawa masih ada di sana.

"Kamu pikir kamu bisa bahagia setelah menghancurkan hidupku, Ambar?" gumam Jayden sangat lirih, suaranya tertelan oleh suara mesin pendingin ruangan.

Ia mulai bangkit berdiri, perlahan melangkah mendekati Ambar yang masih tertunduk lemas, sementara Thomas masih berada cukup jauh di ujung lorong.

Satu langkah, dua langkah. Jayden semakin dekat dengan sasarannya.

1
falea sezi
g perawan. kah kok. ambar. langsung ke atas g skit kah/Smug/
tiara
waduh thor bikin deg-degan aja nih,akhirnya Badkara kembali sadar semoga Jayden tertangkap segera ya
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
tiara
semoga Jayden dapat di hadang oleh pengawal Ambar yah.dan dibuat tidak bisa berulah lagi
tiara
sabar Ambar berdoa saja semoga lancar operasinya dan cepat bisa berjalan lagi
tiara
lanjuut thor semangat upnya
my name is pho: ok kak
total 1 replies
tiara
keluarga Wijaya masih terus membuat Ambar ga nyaman sepertinya,
my name is pho: iya kak
total 1 replies
tiara
apa keluarga Wijaya menginsyafi kesalahannya atau tabah tetpuruk ya,lanjuut
tiara
cepat sembuh Ambar biar bisa lihat kejutan apa yang dibuat oleh suamimu yang kaya
tiara
wah pa Baskara ko bisa kecolongan sih
Alex
sambil nahan nafas Thor bacanya
tiara
lanjuut thor
tiara
nasi sudah jadi.bubur, bekerjalah kalian pa Wijaya jika ingin punya uang
tiara
dimulainya kehancuran keluarga wijaya,lanjuut thor semangat upnya
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
tiara
perjanjian pra nikah mulai di hapus satu demi satu hingga akhirnya mungkin dihapus semua 😄😄😄
tiara
bagus pa Baskara hempaskan mantan sejauh mungkin
tiara
wah mantan Bastian mau melakukan apa ya terhadap Ambar.lanjuut thor
tiara
pa Wijaya nikmatilah hasil kejahatanmu pada anak kandung sendiri dan lebih membela anak tirimu
tiara
lanjuut thor semangat upnya,ga sabar lihat kehancuran keluarga Wijaya.agak aneh juga sih mengapa ayahnya begitu benci sama anaknya atau karena Gea dan ibunya yang sudah menghasut ps Wijaya ya
tiara
lanjuut thor seru niih, jadi deg-degan aku nunggu reaksi keluarga wijaya
tiara
Mereka mulai saling terbuka dan saling membutuhkan semoga kebahagian selalu menyertai tuan Baskara dan istrinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!