Riana terpaksa menjadi Sekertaris Zayn Abimanyu yang gila kerja dan sangat ketat karena Sekertaris sebelumnya memilih Resign karena tak kuat menanggung beban kerjanya. Namun bukan hanya itu masalahnya, Riana menemukan sesuatu yang lebih gila dari Bosnya itu.
Lima kepribadian dalam satu tubuh. Zayn, Ares, Dewa, Rayan dan Bram, setiap nama punya karakter masing-masing.
Dewa si penggoda ulung - Miss I Love You.
Ares - Kakak cantik, tubuh Kakak wangi sekali.
Rayan - si culun yang pemalu.
Bram - Ketua Geng motor rahasia.
Sedang Zayn, si bos dingin yang entah sejak kapan mulai tertarik dengan Riana, wanita yang menjadi pelindungnya, pemegang rahasianya yang seluruh dunia tidak boleh tahu, termasuk keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - Bukan kencan
“Riana, gimana cara pakai benda ini?” tanya Bram sambil mencoba membuat simpul dasi di lehernya di depan cermin.
“Jangan aneh-aneh deh Pak. Mana mungkin Bapak gak bisa pasang dasi,” tanggap Riana tak peduli.
“Kamu lupa kalau aku bukan Zayn,” dia menoleh dengan wajah cemberut.
“Wajah kalian satu, jadi bagi saya kalian itu sama,” jawabannya masih tetap sama, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya, usai sarapan.
“Gak sama lah sayang, aku suka kamu sedangkan Zayn enggak. Kamu mau gak pacaran sama aku?” diiringi kedipan menggoda.
“Enggak, makasih. Udah belum siap-siapnya kita harus pergi sekarang,” Riana menutup laptopnya hingga menghasilkan bunyi prak, nyaring.
“Udah aku bilang aku gak bisa pake dasi sendiri, tolongin ya please,” Ucapnya dengan nada membujuk manja, hal yang tak pernah Zayn lakukan seumur hidupnya, jika Zayn tahu sikapnya sebagai Bram di depan Riana seperti ini dia pasti malu parah.
Mau tak mau Riana tetap menurutinya dan membantu Bram memasang dasi di lehernya, “Riana, aku serius. Aku suka sama kamu, ini bukan tentang Zayn tapi tentang perasaanku sendiri, aku suka sama kamu saat pertama kali kita bertemu,” suaranya rendah dan berat.
Riana mendongak, kemudian tersenyum miring, dia menarik simpul dasi itu hingga batas leher Bram, ugh.... Pekiknya.
“Terimakasih untuk perasaannya Pak, tapi saya tetap tidak mau, jadi bapak simpan saja perasaan bapak untuk diri bapak sendiri. Ops...maaf ikatannya terlalu kencang ya, saya longgarkan sedikit ya,” Riana kembali melonggarkannya.
Bram terkekeh, “itulah mengapa aku suka kamu sayang, kamu unik,” bisiknya.
Riana memutar mata jengah, dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ini sudah saatnya mereka berangkat.
***
Riana dan Bram tiba di lokasi kantor cabang di pinggiran kota, bangunan dua tingkat yang tidak terlalu besar, hanya berisi sekitar sepuluh karyawan. Namun Dibelakangnya terdapat bangunan pabrik tempat produk mereka dibuat.
Kehadiran mereka yang tiba-tiba cukup membuat para pekerja terkejut.
“Tidak papa santai saja, aku hanya ingin melihat cara kalian bekerja,” Bram tersenyum menyeringai, senyum sebelum eksekusi mati terjadi.
Bram duduk di kursi Manager, tempat posisi tertinggi di tempat ini, kakinya ia taruh di atas meja. Riana hanya bisa menghela nafas melihat tingkahnya.
“Saya ingin laporan keuangan, beberapa bulan ke belakang, laporan keluar masuk barang juga, saya ingin tahu semuanya,” ujarnya nampak santai, kontras dengan raut tegang para pekerja disana.
“B-baik Pak, akan segera kami bawa kemari,” ucap sang Manager yang wajahnya nampak dipenuhi keringat.
“Bu, kenapa Pak Zayn tiba-tiba datang kemari tanpa pemberitahuan,” ucapnya dengan nada rendah pada Riana.
“Tenang saja Pak, jika tidak ada kesalahan bapak tidak usah takut. Sebenarnya Pak Zayn kemari ingin mengontrol langsung pembangunan pabrik baru dan proses pengerjaan produk. Pasalnya kami menemukan barang yang tidak sesuai dari kantor cabang yang lain,” terang Riana.
“Baiklah saya mengerti. Saya pikir saya melakukan kesalahan, saya sangat takut Bu.”
“Nggak ko, laporan yang Bapak berikan selalu akurat, bapak tidak perlu khawatir.”
“Sayang, gimana akting aku, keren kan? Aku lebih keren dari si Zayn, pastinya,” kekehnya. Kini mereka sudah pergi meninggalkan kantor cabang karena pekerjaannya disana telah selesai.
“Ya, lumayan,” komentar Riana sambil tetap fokus pada kemudi.
“Cuma lumayan? Hais, padahal menurutku aktingku ini bisa mendapat penghargaan,” Ucapnya sombong.
“Terserah kamu lah.”
Riana singgah di Kafe untuk membeli makanan dan minuman untuk makan siang, namun Bram ingin makan di tempat lain yang suasananya adem katanya.
Tepi Danau tempat yang mereka pilih, hawa sejuk dan nuansa alam yang memanjakan mata, serta air yang begitu jernih memantulkan pohon-pohon disekitar membuat rasa lelah sedikit terangkat.
“Nona sekertaris, kau sudah punya pacar?” tanya Bram tiba-tiba.
“Saya tidak pernah menjawab pertanyaan yang bersifat pribadi,” sahut Riana, sambil memakan makanannya.
Bram berdecak pelan, satu hal yang mengejutkan ia lakukan, membuat Riana tersentak, “B-bapak, ngapain?” sentak Riana dengan tangan terangkat seperti sedang di todong pistol.
“Saya mau istirahat sebentar, saya pinjam pangkuan kamu,” sahutnya sambil mencari posisi nyaman untuk kepalanya di pangkuan Riana.
“Hah. G-gak bisa Pak, kita–,”
“Shut, diem. Kamu mau Zayn sadar kembali kan?”
Riana mengangguk pelan.
“Kalau gitu biarin aku tidur di pangkuan Kamu sebentar,” ucapnya sambil tersenyum tipis.
“T-tapi–,” Riana melirik sekitar, beruntung hanya ada mereka berdua di tempat ini, kalau tidak, orang lain akan salah faham dan mengira mereka pasangan kekasih yang sedang berkencan.
riana kan pawang zayn..
🤣🤣😄😄💪💪❤😍😍
❤❤❤😍😍😍
itu bukan ketergantungan..
tapi ..
cemburu berat...
🤣😄😄😍😍❤💪💪💪❤❤
😍😍❤❤💪💪💪
zayn cemburuuuu..
😄😄😍❤💪💪
akankah Riana ninggkain zayn saqt ada mamanya..
😍😍❤❤💪💪💪
jadi senyum2 bacanya..
😄😄😄😄😄😍😍❤💪💪💪
zayn mulai ada rasa..
mereka berdua deh..
😄😄😍😍❤💪💪💪
😍😍❤💪💪
bener2..
kasihan zayn..
dirawat tapi diundat2...
😍😍😍❤❤💪💪
klai gk takut..
minggat aj azayn..
😄😄❤❤💪💪
❤😍😍💪💪💪
❤❤😍💪💪💪
spesies baru lagi ini..
😄😄😄😄❤❤😍💪1
❤❤❤❤❤❤😍😍😍😍😍💪💪💪
🤣🤣😄😄❤❤😍💪💪
❤❤😍😍💪
🤣🤣😄❤❤😍💪
bukan aruna ya kak..
😄❤😍💪
😄😄😄