NovelToon NovelToon
Sistem Sekretaris Kecil

Sistem Sekretaris Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Berpantang

Tiga hari kemudian.

The Royal Lounge—tempat hiburan kelas atas yang tersembunyi di balik pintu baja tebal di pusat kota.

Udara di dalam ruangan pribadi itu berat, dipenuhi aroma cerutu premium, wiski mahal, dan parfum wanita yang menyengat namun manis.

Arjuna Pratama duduk di tengah sofa kulit hitam yang luas, dikelilingi tiga sahabatnya: Raka Hadiputra, Galih Pradita, dan Satya Wira. Mereka tampak seperti raja-raja tanpa mahkota yang menguasai kota ini dari singgasana mereka masing-masing.

Raka, dengan kemeja kancingnya terbuka longgar, tertawa lepas sambil digoda dua model muda di sisinya. Galih bahkan lebih tak terkendali, membiarkan seorang gadis bersandar manja di pangkuannya. Satya, yang biasanya paling tenang, terlihat berbincang akrab dengan seorang wanita berpenampilan elegan di sampingnya.

Arjuna, sebaliknya, tampak terpisah dari keramaian. Kemeja putihnya rapi, lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah yang sederhana. Ia memegang cerutu yang setengah terbakar, asap tipis mengepul—mengaburkan ekspresi wajahnya yang sulit dibaca.

"Ck, Arjuna."

Raka mendorong gadis di pelukannya sedikit menjauh, mengambil gelasnya, dan tersenyum menggoda. "Melihatmu, sepertinya kau tidak terlalu tertarik malam ini?"

"Apa, kamu masih merajuk karena frustrasi dicium oleh Nona Shafira beberapa hari yang lalu?" Raka mengaduk es di gelasnya, nada suaranya penuh kegembiraan jahil. "Jangan ditahan. Aku sengaja mencarikan seseorang untukmu hari ini agar kau bisa... melepaskan penat."

Ia menjentikkan jari.

Pintu ruangan terbuka, dan seorang gadis muda masuk dengan langkah ragu-ragu. Ia mengenakan gaun putih sederhana, rambutnya terurai lembut, riasannya sangat tipis. Ia tampak polos—matanya melebar seperti rusa kecil yang tersesat di tengah kawanan serigala.

"Kemari lah," perintah Raka.

Gadis itu patuh mendekati Arjuna dan duduk di tepi sofa, kepalanya menunduk malu, memperlihatkan lehernya yang ramping.

"Bagaimana rasanya?" Raka menganggukkan dagu ke arah Arjuna, bangga. "Aku menyimpannya khusus untukmu. Gadis baru, sangat bersih. Suaranya merdu, pinggangnya lentur... aku jamin dia lembut dan segar."

Namun tatapan Arjuna hanya sekilas melintas pada gadis tersebut sebelum kembali acuh tak acuh. Ia menghisap cerutunya tanpa minat.

*Bersih? Lembut? Murni?*

*Dulu, tipe seperti ini mungkin akan menarik perhatiannya sebagai variasi sesaat. Tapi sekarang...*

Pikirannya tanpa sadar melayang pada wajah Citra Lestari.

Usia yang sama. Gaya yang sama-sama polos. Namun ada perbedaan mendasar yang membuat gadis di depannya terasa hambar.

Di balik kepura-puraan polos Citra, tersimpan kecerdasan dan ketajaman yang menawan. Mata almond Citra mungkin tampak jernih, tetapi ketika tersentuh emosinya, mata itu akan berkaca-kaca, memerah, memancarkan vitalitas yang hidup. Bukan kepolosan kosong—melainkan kemurnian yang memiliki jiwa.

Gadis di depannya? Matanya datar. Kosong. Hanya berisi ketakutan dan keinginan untuk menyenangkan.

*Hidung gadis ini mungil, tapi tidak seindah hidung Citra yang mancung dan lembut saat dimiringkan. Dagu gadis ini bulat, kekanak-kanakan, tidak memiliki lekukan tajam yang membuat Arjuna ingin membelainya dengan ujung jari.*

Gaun putih itu membalut lekuk tubuh gadis itu dengan baik. Tapi bagi Arjuna, itu terasa kaku. Dibandingkan dengan kelenturan alami Citra—tubuh yang bisa melengkuk pas di pelukannya, yang gemetar nyata saat disentuh, yang merespons setiap sentuhan dengan erangan tulus—gadis ini terasa seperti boneka plastik.

*Dan kaki gadis ini simetris dan panjang. Tapi Arjuna teringat bagaimana kaki Citra, seputih giok dan halus, secara naluriah melingkari pinggangnya saat puncak kenikmatan. Harmoni alamiah yang tidak bisa dipalsukan.*

Gadis di depannya terlalu disengaja. Terlalu dibuat-buat.

Jakun Arjuna bergerak saat ia meneguk sisa wiski nya. Rasa pedas alkohol itu tidak mampu membakar rasa jijik yang tiba-tiba muncul di dadanya.

Semakin ia membandingkan, semakin hampa rasanya.

Ingatan tentang Citra yang cemberut kesal, atau saat ia melingkarkan lengan di leher Arjuna untuk bermanja, jauh lebih menghibur daripada pemandangan di hadapannya.

Arjuna telah berjanji. Untuk saat ini, hanya ada dia.

Dan Arjuna Pratama selalu menepati janjinya. Apalagi, jika Citra tahu ia berada di sini dengan wanita lain—reaksi gadis itu, entah tangisan memohon atau sikap dingin yang menyakitkan, akan menjadi kerugian besar baginya.

Arjuna lebih memilih mengingat bagaimana tubuh mungil Citra menjadi lemas di pelukannya, bagaimana sudut matanya memerah, dan bagaimana ia harus membujuk gadis itu minum air hangat di sela-sela intensitas mereka. Keintiman yang nyata—bukan pertunjukan murahan seperti ini.

"Arjuna? Apa yang kau lamunkan?" suara Raka menyela. "Aku membawanya kepadamu. Tidak sesuai seleramu?"

Arjuna tersadar. Ia mematikan cerutunya di asbak kristal dengan gerakan tegas.

Ia mendongak, menatap Raka dengan mata elangnya yang dingin. Suaranya rendah, lesu, namun final.

"Akhir-akhir ini... aku berpantang."

Ia bersandar kembali ke sofa, kakinya disilangkan santai. Tatapannya menyapu gadis di sampingnya yang masih menatapnya dengan harapan—namun kali ini tatapan itu penuh penghinaan dingin.

"Adapun 'burung oriole' ini," kata Arjuna datar, "Raka, pelihara lah dia agar kau bisa mendengarkannya sendiri. Aku tidak butuh."

Musik di ruangan itu seolah terhenti sejenak.

Senyum Raka membeku. Tangan Galih terhenti. Bahkan Satya mengangkat alis di balik kacamatanya, terkejut.

*Arjuna Pratama berpantang?* Itu lebih langka daripada fenomena alam. Pria yang dikenal paling rakus dalam hal ini tiba-tiba menolak hidangan gratis?

Mereka saling bertukar pandang. Tidak ada yang benar-benar percaya—tetapi karena nada Arjuna tidak memungkinkan debat, mereka memilih diam.

Arjuna mengabaikan tatapan mereka. Ia menuangkan minuman lagi untuk dirinya sendiri, matanya tertuju pada pemandangan kota yang gemerlap di luar jendela. Namun pikirannya sudah jauh dari sana.

*Hmph.* Ia menyesap minumannya pelan. *Lebih baik pulang. Memeluk cupcake kecilku yang harum dan lembut jauh lebih memuaskan daripada sampah-sampah ini.*

1
cipung
makin seru thotlr👍👍
cipung
semangat thor
cipung
keren...lanjut👍👍
Friska trisna
Tema perjuangan: Bab ini bisa jadi fondasi untuk tema besar — Citra membangun karier dengan usahanya sendiri, meski berada di bayang-bayang kekuasaan Arjuna.
Friska trisna
Bab ini berhasil menunjukkan dinamika pasangan: Citra yang polos dan keras kepala, Arjuna yang arogan tapi luluh oleh ketulusan.Ada keseimbangan antara romansa manis dan ketegangan ringan. Pembaca bisa ikut tersenyum melihat kegembiraan Citra, sekaligus merasa hangat melihat Arjuna akhirnya mendukungnya.
cipung
semangat kak🤭
Ayu Ning
semangat thor
Ayu Ning
secepat itukah,menyerah.
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir moga suka
cipung
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!