Pernikahan yang Ayra perjuangkan selama bertahun-tahun ternyata hanyalah kebohongan yang dibungkus cinta.
Dia begitu mencintai Arga, suaminya. Pria itu terlihat sempurna dimatanya—dewasa, perhatian, dan selalu mampu membuat Ayra merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Hingga suatu hari, semuanya hancur dalam sekejap.
Ayra menemukan fakta menyakitkan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Arga. Suaminya ternyata memiliki wanita lain dibelakangnya. Bukan orang asing… melainkan sekretaris pribadinya sendiri.
Yang lebih menghancurkan, hubungan terlarang itu telah melahirkan seorang anak laki-laki.
Anak yang selama ini Ayra rawat sepenuh hati. Anak yang dia peluk setiap malam. Anak yang dia anggap sebagai pelipur lara karena rumah tangganya belum juga dikaruniai buah hati.
Namun nyatanya… putra kecil itu adalah darah daging suaminya bersama wanita simpanannya.
Hati Ayra runtuh seketika. Semua kasih sayang, pengorbanan, bahkan cintanya terasa dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35 ~ Surat Pengunduran Diri
Pagi hari, cahaya matahari lembut menembus kaca jendela, menerangi ruangan luas yang sejuk itu. Perlahan namun pasti, kelopak mata Ayra bergerak, lalu terbuka pelan menampakkan manik matanya yang masih terasa berat. Pandangannya sempat kabur sesaat, sebelum perlahan menyesuaikan diri dengan suasana sekitar ruang rawat VVIP yang besar dan hening.
Tubuhnya terasa begitu lemas seolah sakit samar masih terasa menghujam di bagian bawah perutnya. Wajahnya masih sangat pucat, bibirnya kering dan kehilangan rona, namun napasnya kini sudah terdengar jauh lebih teratur.
Saat pandangannya jatuh ke sisi ranjang, ia melihat Oma Gloria duduk di kursi empuk tepat di samping tempat tidurnya. Wanita tua itu tertidur terpejam dengan posisi agak membungkuk, tangan keriputnya masih erat menggenggam jemari Ayra. Lingkaran hitam samar terlihat di bawah mata tuanya, raut wajah dan pakaiannya pun terlihat kusut dan penuh kelelahan. Jelas beliau tak beranjak pergi semalaman hanya untuk menjaga cucunya ini.
Di detik Ayra mengerakkan sedikit jarinya, mata Oma Gloria seketika terbuka. Dalam sekejap rasa kantuk dan lelahnya lenyap berganti kelegaan yang luar biasa. Beliau segera bangkit mendekat, air mata bahagia mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Ayra... syukurlah, kamu akhirnya sadar juga," bisik Oma Gloria lirih, suaranya bergetar menahan tangis. Segala penat dan kekhawatiran berat yang dipikulnya semalam serasa terhapus sepenuhnya saat melihat cucunya kembali membuka mata. Semuanya terasa terbayar lunas, lebih dari cukup.
Seketika ingatan mengerikan itu berputar cepat di kepala Ayra. Rasa nyeri hebat, cairan hangat yang terus mengalir, dan noda merah yang membanjiri pakaiannya. Tubuhnya menegang, tangan gemetar itu perlahan bergerak turun, menekan lembut perut rata yang kini terasa begitu asing dan kosong. Matanya membelalak, penuh ketakutan yang mulai menjalar ke seluruh urat sarafnya.
"Oma..." panggilnya parau, suaranya pecah menahan isak tangis yang sudah menggenang di tenggorokan. "Bagaimana... bagaimana dengan kandunganku? Apakah bayiku selamat?"
Oma Gloria memejamkan mata sejenak, air matanya akhirnya luruh menetes membasahi pipi keriputnya. Ia mengusap pelan pucuk kepala cucunya, lalu menggenggam erat tangan dingin itu di atas perut Ayra.
"Maafkan Oma, Nak..." jawabnya lirih namun tegas, berusaha menahan kepedihan agar suaranya terdengar kuat. "Janin itu sudah terlalu lemah sejak awal, dan guncangan kemarin terlalu berat untuknya. Dokter sudah berusaha sekuat tenaga, tapi Tuhan berkehendak lain... anak itu tidak tertolong, Ayra."
Hati Ayra terasa diremas kuat seolah hancur berkeping-keping. Air matanya langsung tumpah membasahi bantal. Perasaan hampa yang luar biasa menyerang seluruh jiwanya. Bagian kecil yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan selama ini, yang menjadi harapan di tengah kekacauan rumah tangganya, kini lenyap sudah pergi meninggalkannya.
"Tidak... tidak mungkin, Oma..." Ayra menggeleng kuat berulang kali, air matanya tumpah seketika membasahi bantal di bawah kepalanya. Tubuh lemahnya bergetar hebat, rasanya ia ingin berteriak keras namun suaranya tertahan tercekik kepedihan.
"Kenapa harus begini? Kenapa Tuhan tega mengambil satu-satunya harapanku?" Air mata itu terus mengalir deras, menelusuri pelipis hingga hilang masuk ke rambut, ada yang menetes turun membasahi leher dan bahu pucatnya. Rasanya dunianya runtuh total. Bagian kecil yang selama ini melindunginya dari rasa sepi dan kejamnya dunia, kini lenyap tanpa sisa.
Dan semua ini terjadi karena satu orang bersembunyi dibalik nama cinta tapi justru kenyataannya menghancurkan setiap potongan bingkai kebahagiaannya.
••
••
Sementara dikamarnya, Arga baru saja membuka matanya, rasa pening berat langsung menyerang kepalanya seolah dipukul palu besar. Ia mengerang pelan, tangan besarnya otomatis menekan pelan pelipis yang terasa berdenyut nyeri sisa mabuk berat semalam yang masih tersisa.
Namun detik berikutnya, kesadarannya kembali utuh. Tatapannya terkunci pada sosok Shella yang sudah duduk rapi di menatap kearah cermin, mengenakan pakaian yang tersusun apik. Berbeda jauh dengan dirinya yang masih terbaring telanjang dada, kulitnya hanya tertutup tipis oleh selembar selimut hingga pinggang.
"Shella... Kenapa kamu ada di kamarku?" tanyanya parau, penuh kebingungan. Ingatannya tentang kejadian semalam terputus-putus, kabur tak jelas.
Shella tersenyum miring, senyum yang terasa getir. Dia berdiri lalu berbalik menatap wajah Arga yang masih kusut. Ia berjalan perlahan mendekati pinggir ranjang, menatap lurus ke manik mata Arga.
"Apa kamu sudah lupa Mas? Semalam kita baru saja bercinta... sangat intim," jawabnya pelan namun tegas, seolah melemparkan bom besar ke dada Arga.
Mata Arga membelalak lebar. Tubuhnya menegang kaku.
"Apa?!" serunya hampir berteriak, tak percaya mendengar kalimat itu. Ia meraba ingatannya yang samar, hanya terbayang wajah Ayra, nama istrinya itu terus terngiang di kepalanya sepanjang malam.
Shella mendengus kasar, emosinya yang tertahan sekian lama akhirnya meluap. Ia melipat kedua tangannya, menatap penuh kekesalan.
"Oh, tentu saja kamu tidak ingat! karena yang ada dipikiranmu itu cuma Ayra, Ayra, dan Ayra saja!" suaranya meninggi penuh rasa cemburu dan sakit hati. "Aku yang selalu ada untukmu, dan rela mengorbankan segalanya cuma demi bisa bersamamu. Tapi tidak pernah kamu anggap!"
Amarahnya memuncak. Shella berbalik meraih selembar kertas yang sudah ia persiapkan sejak kemarin sore, lalu melemparnya keras tepat ke dada Arga hingga jatuh ke atas selimut.
"Apa ini?" gumam Arga bingung, segera meraih dan membaca tulisan di atas kertas itu.
"Ini surat pengunduran diri!" seru Shella lantang. "Mulai detik ini juga, aku berhenti menjadi sekretarismu. Aku sudah muak harus bekerja keras melayani, mengatur jadwal, dan berlari ke sana ke mari seolah aku hanya karyawan rendahan. Padahal aku istrimu! Aku berhak mendapatkan perlakuan sama seperti apa yang dirasakan Mbak Ayra dulu. Hidup tenang dengan kemewahan tanpa perlu bersusah payah bekerja seperti ini!"
Arga terdiam terpaku, kertas di tangannya terasa begitu berat. Kata-kata Shella menusuk tepat ke titik terlemahnya. Di satu sisi ia masih merindukan Ayra, tapi di sisi lain, perbuatan semalam dan posisi Shella kini membuatnya terperangkap dalam jaring takdir yang ia buat sendiri.
Setelah puas mengucapkan kalimat tersebut, Shella langsung berbalik mengambil tasnya.
"Kamu mau kemana?!"
"Ke rumah mama! Setidaknya aku bisa menenangkan pikiranku disana dari pada harus pusing mendengarkan Samuel yang terus menangis setiap hari dan Mamamu yang cerewet itu!" desisnya. "Bisa-bisa aku jadi gila!"
Begitu langkah dan suara Shella menghilang di balik pintu, Arga dengan kasar melempar surat pengunduran diri itu melayang jatuh ke lantai. Ia mendengus keras, tangannya mengepal menahan amarah yang meluap.
"Bajingan!" umpatnya penuh rasa muak.
Di keheningan kamar itu, perlahan kesadaran menyusup masuk ke kepalanya. Arga baru benar-benar mengakui satu fakta, jika tak ada wanita mana pun yang bisa menandingi Ayra.
Bahkan saat mengurus Samuel, anak yang sama sekali bukan darah dagingnya sendiri, Ayra mampu menyayangi dan merawat bocah itu jauh lebih baik daripada ibu kandungnya. Kasih sayang yang Ayra berikan terasa tulus, hangat. Sedangkan Shella? Meski darah daging mengalir sama, tapi wanita itu selalu menganggap anak itu beban, suara tangisnya saja sudah membuatnya marah dan mengeluh setengah mati.
Arga menutup matanya rapat, rasa penyesalan mulai menggerogoti hatinya lebih parah dari sebelumnya. Ternyata butuh kehilangan segalanya dan melihat sifat asli orang di sekelilingnya seperti ini, baru ia paham betapa beruntungnya dirinya dulu memiliki Ayra. Namun sayang, keindahan itu sudah ia hancurkan sendiri dengan kedua tangannya.
tapi sekarang sudah terlambat.. hanya menunggu kehancuran kalian semua😏😏