Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: AKTING YANG SEMPURNA
Bab 3: Akting Yang Sempurna
Suara deru mesin mobil Ayah perlahan memudar, tenggelam di balik derasnya rintik hujan yang mulai mengguyur jalanan kompleks. Rumah dua lantai itu mendadak berubah menjadi kuburan yang sunyi. Revan masih berdiri kaku di tengah ruang tamu, menatap ubin kosong tempat di mana beberapa menit lalu kakaknya terkapar. Di atas meja, surat panggilan dari sekolahnya masih tergeletak, terabaikan begitu saja.
Sebuah tawa hambar, penuh dengan kegetiran, perlahan lolos dari sela-sela bibir Revan. Ia berjalan mendekati sofa, lalu mengempaskan tubuhnya dengan kasar. Kepalanya mendongak, menatap langit-langit rumah yang remang-remang.
"Luar biasa," gumam Revan sinis pada ruangan yang kosong. "Akting lo emang selalu dapet piala oscar, Bang. Selalu tahu kapan harus tumbang di waktu yang tepat."
Di dalam kepala Revan yang sudah diracuni oleh kabut kecemburuan bertahun-tahun, pingsannya Arka malam ini adalah sebuah kesengajaan yang terencana dengan rapi. Tepat di saat Revan mulai berani menyuarakan ketidakadilan yang ia rasakan, tepat di saat Ibu mulai disudutkan oleh kenyataan bahwa beliau pilih kasih, Arka tiba-tiba ambruk.
Bagi Revan, itu bukan karena Arka sakit benaran. Itu adalah taktik andalan sang kakak untuk memotong pembicaraan, merebut kembali sorot lampu utama di rumah ini, dan secara otomatis membuat Revan kembali terlihat sebagai anak nakal yang egois, keras kepala, dan tidak punya hati nurani.
Setiap kali Arka mimisan atau pingsan karena "stres belajar kebanyakan ambisi", seluruh isi rumah akan berputar mengelilinginya. Ayah akan mengambil lembur demi biaya vitamin mahal Arka, dan Ibu akan menghabiskan waktu berjam-jam di dapur untuk memasak makanan khusus yang bergizi tinggi demi menjaga stamina si anak jenius. Sementara Revan? Dia hanya perlu diam, mengalah, dan jangan menambah beban pikiran orang tua.
Revan bangkit berdiri, melangkah menuju dapur dengan emosi yang masih naik-turun. Ia membuka tudung saji di meja makan. Di sana, mangkuk sup ayam kampung khusus untuk Arka masih setengah penuh, mengeluarkan aroma kaldu yang gurih. Di sebelahnya, ada segelas air putih yang sudah mendingin.
Melihat sisa makanan itu, rasa muak kembali bergejolak di dada Revan. "Saking ambisiusnya mau dapet beasiswa, lo sampai tega gunain fisik lo sendiri buat bikin Ibu panik, Bang? Egois."
Dengan gerakan kasar, Revan mengambil gelas air putih di meja, meneguknya hingga tandas untuk meredakan tenggorokannya yang terasa panas. Namun, saat ia hendak menaruh kembali gelas tersebut, matanya tidak sengaja menangkap selembar tisu yang tergeletak agak merosot di bawah kursi yang tadi diduduki Arka.
Tisu itu agak teremas, dan di bagian tengahnya, ada noda merah kecokelatan yang sudah agak mengering.
Revan mendengus ketus, melempar tisu itu ke tempat sampah di sudut dapur menggunakan ujung kakinya. Halah, paling cuma mimisan biasa karena dia kelelahan begadang ngapalin rumus fisika, batin Revan, mengacuhkan instingnya yang sempat merasa aneh. Di mata Revan—dan siapapun yang melihat pola hidup Arka yang gila belajar—mimisan adalah hal yang lumrah bagi seorang siswa ambisius yang kurang tidur.
Revan berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua. Setiap derit kayu yang diinjaknya seolah menyuarakan rasa frustrasinya yang mendalam. Ia masuk ke dalam kamarnya, membanting pintu dengan cukup keras, lalu menguncinya dari dalam.
Ia melepas seragam SMA-nya yang kotor karena jatuh dari motor tadi siang, menyisakan kaos dalam hitam yang melekat di tubuhnya. Revan duduk di tepi ranjang, meraba lebam di pipinya yang kini mulai terasa nyut-nyutan. Perih, tapi hatinya jauh lebih perih.
Pikiran Revan melayang ke masa beberapa tahun lalu, saat mereka masih duduk di bangku SMP. Arka juga pernah pingsan tepat di hari ulang tahun Revan yang ke-14. Hari itu, Ibu sudah berjanji akan membuatkan nasi kuning kesukaan Revan. Namun, begitu Arka mendadak ambruk di kamarnya karena "kelelahan ujian", acara ulang tahun itu menguap begitu saja. Ibu dan Ayah panik melarikan Arka ke klinik, meninggalkan Revan sendirian di rumah merayakan pertambahan usianya dengan sebungkus mi instan dingin.
Sejak hari itu, Revan bersumpah tidak akan pernah peduli lagi jika kakaknya mengeluh sakit. Baginya, sakitnya Arka adalah senjata utama untuk menyingkirkannya dari perhatian orang tua.
"Besok paling lo udah pamer piala lagi di sekolah, sambil pasang muka lemes biar dikasihani orang-orang," bisik Revan tajam ke arah dinding kamar yang membatasinya dengan kamar Arka.
Revan mematikan lampu kamar, membiarkan kegelapan menelan tubuhnya. Ia menarik selimut tinggi-tinggi, mencoba memejamkan mata dan mengusir rasa bersalah yang samar-samar sempat mengetuk pintu hatinya. Di bawah guyuran hujan yang semakin lebat di luar sana, Revan tertidur dengan dendam yang semakin membatu di dalam dada.
.
.
.
Bersambung.....