NovelToon NovelToon
Satpam: Kekuatan Setara Seribu Tahun

Satpam: Kekuatan Setara Seribu Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Penyelamat / Action
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Aldiaza Ahyani

Kaito Nakamura, pemuda keturunan penjaga warisan energi kuno dari pegunungan Jepang, datang ke Malang, Indonesia untuk memulai hidup baru sebagai orang biasa. Ia menyembunyikan kekuatan luar biasa yang terakumulasi selama lebih dari seribu tahun, memilih bekerja sebagai satpam di Gedung Surya Pratama agar tetap tenang dan jauh dari sorotan.

Namun kedamaiannya terganggu saat ia bertemu Anindya Prameswari, pewaris perusahaan tempat ia bekerja, serta kedatangan Rafael Wijaya—tunangan Anindya yang angkuh dan berkuasa. Saat terlibat dalam perselisihan, rahasia kekuatan Kaito perlahan mulai tercium, menjadikannya sasaran kebencian dan rencana jahat Rafael.

Di tengah tugas menjaga keamanan, menyembunyikan jati diri, dan tumbuhnya perasaan pada Anindya, Kaito harus memilih: tetap hidup dalam bayang-bayang, atau mengeluarkan kekuatan seribu tahun itu untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi—meski berarti membongkar semua rahasianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiaza Ahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Piknik di Bawah Rindang Pohon

Sore hari itu, langit di Malang terlihat sangat bersih. Awan putih bergerak perlahan terbawa angin sejuk, dan sinar matahari mulai meredup menjadi keemasan yang lembut, tidak lagi menyengat seperti siang hari. Di halaman belakang Gedung Surya Pratama yang biasanya sepi, kini berubah menjadi tempat yang ramai dan penuh warna.

Beberapa karyawan sudah menyiapkan tikar-tikar anyaman yang dihamparkan di bawah pohon trembesi tua yang rindang. Meja-meja kecil dipasang, lalu diisi dengan berbagai macam makanan dan minuman — mulai dari nasi kuning, ayam goreng, tempe mendoan, rujak buah, hingga kue basah dan es teh manis yang banyak disukai semua orang. Suara tawa dan obrolan ringan terdengar memenuhi udara, menciptakan suasana yang santai dan akrab, jauh berbeda dari suasana kantor yang biasanya sibuk dan tegang.

Aku datang bersama Budi dan Pak Suryo, membawa sekotak kue tradisional yang dibuat oleh istri Pak Suryo sebagai tambahan hidangan. Begitu sampai, banyak orang menyapa kami dengan ramah, tidak lagi memandangku sebagai orang yang istimewa dan jauh, melainkan sebagai teman dan rekan kerja biasa.

“Wah, Kaito akhirnya datang juga! Kami sudah menunggu, takut kamu sibuk bertugas dan tidak mau ikut,” sapa Rina sambil melambaikan tangan.

“Mana mungkin aku menolak undangan yang sudah disampaikan dengan baik,” jawabku sambil tersenyum, lalu meletakkan kotak kue itu di atas meja. “Ini tambahan dari kami, semoga cukup untuk semua orang.”

“Bagus sekali! Ayo duduk, jangan berdiri terus,” ajak salah satu karyawan lain sambil menepuk tempat kosong di atas tikar.

Kami baru saja duduk, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang lembut namun pasti. Semua orang menoleh, dan terlihat Anindya berjalan mendekat bersama Sari. Hari ini dia tidak memakai pakaian kerja yang rapi dan kaku seperti biasanya. Sebaliknya, dia mengenakan baju katun berwarna krem dengan motif bunga halus, dipadukan dengan rok panjang berwarna biru muda. Rambutnya yang biasanya diikat rapi kini dibiarkan terurai jatuh lembut menutupi bahunya, membuatnya terlihat lebih segar, muda, dan jauh lebih dekat dengan semua orang.

Wajahnya berseri-seri, dan begitu matanya bertemu dengan mataku, senyumnya melebar lebih lebar dari biasanya. Jantungku tanpa sadar berdegup sedikit lebih kencang, merasakan ada perbedaan halus dalam tatapannya hari ini — ada kehangatan yang lebih dalam, ada perhatian yang lebih terasa.

“Selamat sore semuanya! Maaf datang agak terlambat,” sapanya dengan suara lembut namun terdengar jelas.

“Selamat sore, Mbak Anin!” jawab semua orang serempak.

Anindya melangkah mendekat, lalu dengan sengaja memilih tempat duduk tepat di sampingku, bukan di tempat yang biasanya disiapkan untuknya di tengah keramaian. Hal itu membuat beberapa orang yang melihatnya saling berpandangan dan tersenyum kecil, termasuk Budi yang langsung menyenggol lenganku pelan dengan siku, matanya berkedip-kedip memberi isyarat.

“Kaito, kamu sudah lama datang?” tanya Anindya sambil menata ujung bajunya agar rapi.

“Baru saja tiba, Mbak. Tadi membantu sedikit mengangkat barang,” jawabku sopan.

“Jangan terlalu banyak bekerja hari ini ya. Hari ini waktunya bersantai, bukan bertugas,” katanya sambil menatapku dengan pandangan lembut, lalu mengambilkan piring bersih dan menyuapkan sedikit nasi serta lauk ke dalamnya. “Ini coba dulu. Nasi kuningnya dimasak oleh Ibu Karyati di bagian dapur, katanya rasanya enak. Kamu harus mencobanya.”

Dia menyodorkan piring itu tepat di hadapanku, lalu segera mengambilkan segelas es teh manis dan meletakkannya di samping piring. Gerakannya terasa sangat alami, tidak dibuat-buat, seolah sudah menjadi kebiasaan untuk melakukannya.

Aku terasa sedikit malu sekaligus tersentuh. “Terima kasih banyak, Mbak. Kamu terlalu baik padaku.”

“Bukan apa-apa. Kita kan teman, bukan?” jawabnya sambil tersenyum, matanya menatapku lekat-lekat. “Lagipula, kamu sering membantu orang lain tanpa pamrih. Sekarang giliran kami yang melayani kamu sedikit saja.”

Saat aku mulai makan, Anindya tidak langsung sibuk dengan makanannya sendiri. Dia duduk di sampingku, sesekali bertanya apakah rasanya cocok, apakah kurang sesuatu, atau apakah aku ingin menambah porsi. Setiap kali aku mengangkat gelas untuk minum, dia sudah siap menawarkan untuk mengisinya lagi. Perlakuan itu terasa sangat lembut dan penuh perhatian, jauh berbeda dari sikapnya yang tegas dan resmi saat berada di dalam ruang kerja.

Budi yang duduk di seberang kami tidak bisa menahan godaan untuk mencairkan suasana, sambil tersenyum menggoda.

“Wah, sepertinya hari ini Kaito dapat layanan istimewa ya! Biasanya kita harus ambil sendiri, tapi hari ini piring dan gelasnya sudah terisi otomatis saja,” katanya sambil tertawa kecil.

Anindya hanya tersipu malu, lalu menoleh ke Budi dengan nada bercanda. “Siapa bilang hanya dia saja? Kalau kamu mau, nanti aku ambilkan juga. Tapi jangan minta terlalu banyak, nanti kamu tidak bisa menghabiskannya!”

Semua orang tertawa mendengar jawaban itu, tapi aku bisa melihat senyum di bibir Anindya tetap terarah padaku, dan tatapannya tidak pernah terlalu lama berpaling ke orang lain.

Saat suasana makin santai, orang-orang mulai bercerita, bercanda, bahkan ada yang memainkan gitar kecil dan menyanyikan lagu-lagu daerah yang lembut. Angin sore berhembus membawa wangi bunga dan daun kering, membuat suasana terasa sangat damai.

Di tengah keramaian itu, Anindya mendekatkan badannya sedikit ke arahku, suaranya dibuat lebih pelan agar hanya terdengar olehku saja.

“Kaito… apakah kamu merasa nyaman di sini? Maksudku, setelah semua yang terjadi kemarin, dan semua orang tahu siapa dirimu sebenarnya. Apakah rasanya tidak ada yang berubah untukmu?” tanyanya dengan nada penuh perhatian.

Aku menoleh menatapnya, lalu menjawab dengan jujur dan lembut. “Sebenarnya aku sempat khawatir. Aku pikir mereka akan menjauh, atau memandangku sebagai orang yang berbeda, sehingga rasanya tidak lagi akrab seperti dulu. Tapi ternyata dugaanku salah. Semua orang tetap sama, bahkan lebih baik lagi. Dan yang paling membuatku merasa tenang… adalah sikapmu, Mbak.”

Anindya terkejut sedikit, matanya terbuka lebar menatapku. “Sikapku? Kenapa begitu?”

“Karena kamu tidak mengubah cara bicara atau cara bersikap padaku. Kamu tetap melihatku sebagai orang biasa, bukan sebagai seseorang yang memiliki kekuatan atau kedudukan istimewa. Itu membuatku merasa benar-benar diterima, bukan hanya dihormati karena hal yang aku miliki,” jawabku tulus.

Wajah Anindya memerah samar, senyumnya terlihat lebih bahagia. Dia meletakkan tangannya perlahan di atas tikar, tidak jauh dari tanganku, seolah ingin mendekat namun tetap menjaga batas.

“Karena bagiku, Kaito tetaplah Kaito. Orang yang datang ke sini dengan tangan kosong, yang bekerja keras, yang jujur, yang menolong orang lain tanpa pamrih. Kekuatan apa pun yang kamu miliki tidak mengubah siapa dirimu yang sebenarnya. Dan justru karena sifatmu itulah… aku merasa sangat nyaman berada di dekatmu,” ucapnya perlahan, suaranya bergetar sedikit karena gugup.

Kata-katanya membuat jantungku berdebar kencang. Aku bisa merasakan ketulusan di balik setiap kalimatnya, dan perasaan hangat yang menjalar ke seluruh tubuhku membuatku terdiam sejenak, tidak tahu harus menjawab apa selain menatap matanya dengan pandangan yang sama tulusnya.

Terjadi hening sejenak di antara kami, namun bukan hening yang canggung — justru hening yang penuh pengertian, seolah banyak hal yang bisa disampaikan hanya dengan tatapan mata.

Tidak lama kemudian, ada yang memanggil Anindya untuk melihat hidangan rujak yang baru saja dibuka. Sebelum dia berdiri, dia menoleh padaku lagi dan berkata dengan nada lembut.

“Tunggu sebentar ya. Aku ambilkan rujaknya, rasanya juga segar sekali. Kamu harus mencobanya.”

Dia berjalan ke meja tengah, mengambil piring, lalu memilihkan potongan buah yang paling bagus, menambahkan bumbu rujak secukupnya — tidak terlalu pedas, tidak terlalu manis — seolah sudah tahu persis seleraku. Begitu kembali, dia menyodorkannya padaku dengan senyum yang sangat lembut.

“Ini, coba dulu. Semoga cocok di lidahmu.”

Aku menerimanya, dan saat mencicipinya, rasanya memang pas sekali. “Enak sekali, Mbak. Tepat sekali rasanya.”

Anindya tersenyum puas, lalu duduk kembali di sampingku, kali ini sedikit lebih dekat dari sebelumnya. “Syukurlah kalau kamu suka. Kalau ada yang kurang atau ingin ditambah, bilang saja ya.”

Seiring berjalannya waktu, matahari semakin turun dan langit berubah menjadi warna jingga keunguan yang sangat indah. Beberapa orang mulai pulang perlahan, hanya menyisakan kami berdua, Budi, Pak Suryo, dan Sari yang masih membereskan barang-barang.

Saat kami membantu melipat tikar dan membersihkan sampah, tanpa sengaja tangan kami bersentuhan lagi saat mengambil selembar kertas pembungkus makanan. Kali ini tidak ada yang segera menarik tangannya. Jari-jari kami bersentuhan sebentar, dan rasanya seperti ada aliran kehangatan yang menyatu, membuat napas kami berdua terasa sedikit tertahan.

Anindya baru menarik tangannya perlahan, wajahnya memerah, tapi dia tidak terlihat marah atau tidak nyaman — justru sebaliknya, senyumnya terlihat lebih malu namun bahagia.

“Maaf…” bisiknya pelan.

“Tidak apa-apa,” jawabku dengan suara yang juga lembut.

Saat semua pekerjaan selesai dan orang-orang lain sudah berjalan mendahului kami menuju pintu depan, Anindya berhenti sejenak, menatapku dengan pandangan yang lebih dalam dan berani dari sebelumnya.

“Kaito… terima kasih sudah mau ikut serta hari ini. Rasanya hari ini terasa sangat indah, lebih indah dari hari-hari sebelumnya,” ucapnya tulus.

“Aku juga merasa begitu, Mbak. Terima kasih sudah mengundang dan memperlakukanku dengan sangat baik,” jawabku.

Anindya mengangkat tangannya perlahan, lalu menyentuh lengan bajuku dengan lembut, seolah ingin memastikan aku benar-benar mendengar apa yang akan dia katakan selanjutnya.

“Dan satu hal lagi… mulai hari ini, aku ingin kamu tahu bahwa perhatianku padamu bukan hanya karena rasa hormat sebagai majikan atau rekan kerja. Ada perasaan lain yang tumbuh di hatiku, perasaan yang membuatku ingin selalu melihatmu baik-baik saja, ingin membuatmu merasa nyaman, dan ingin mengenalmu lebih dekat lagi. Aku tidak terburu-buru, dan aku tidak memaksamu untuk menjawabnya sekarang. Aku hanya ingin kamu mengetahuinya saja.”

Setelah mengucapkan itu, dia menarik tangannya kembali, lalu tersenyum malu namun tetap tegas. Dia melambaikan tangan sedikit sebelum berjalan pergi, meninggalkanku yang berdiri terpaku di tempat dengan perasaan yang campur aduk antara terkejut, bahagia, dan hangat.

Aku menatap punggungnya yang menjauh, merasakan detak jantung yang terasa lebih hidup dari biasanya. Di bawah langit senja yang indah itu, aku baru sadar bahwa perasaan yang sama juga mulai tumbuh perlahan di hatiku — perasaan yang selama ribuan tahun ini jarang sekali muncul, namun kini mulai mekar dengan lembut, didorong oleh kebaikan hati dan perlakuan yang tulus dari wanita itu.

Langkah pertama sudah diambil, dan jalan menuju perasaan yang lebih dalam kini terbuka lebar di depan kami berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!