NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Elva

Rumah Untuk Elva

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: elanut

Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.

Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”

Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10

BAB 10: Langkah Baru di Lorong Sekolah dan Goyahnya Istana kertas

Satu minggu telah berlalu sejak malam mencekam di gudang bawah tanah itu. Selama tujuh hari penuh, apartemen penthouse milik Zayn Dominic bertransformasi menjadi tempat perlindungan yang paling aman sekaligus paling hangat bagi Elva Ileana.

 Di bawah pengawasan ketat Dokter Dika dan perawatan penuh perhatian dari Zayn—yang rela menjelma menjadi sosok super protektif—kondisi fisik dan mental Elva pulih dengan sangat cepat. Trauma di matanya perlahan memudar, digantikan oleh binar kehidupan yang selama belasan tahun ini padam akibat penindasan keluarganya sendiri.

Pagi itu, udara Jakarta terasa sedikit lebih bersahabat saat mobil sport hitam milik Zayn berhenti di area parkir khusus SMA Pelita. Begitu mesin mobil yang menderu garang itu dimatikan, suasana di sekitar area parkir mendadak sunyi. Puluhan pasang mata murid-murid yang baru turun dari kendaraan mereka langsung tertuju pada mobil tersebut.

 Semua orang di SMA Pelita sudah tahu tentang hilangnya Elva selama seminggu penuh, dan mereka juga tahu siapa sosok yang membawanya pergi dari rumah keluarga Ileana.

Zayn turun terlebih dahulu. Penampilannya pagi ini tampak luar biasa intimidatif. Dia mengenakan seragam sekolah dengan kancing atas terbuka, dipadukan dengan jaket kulit hitam andalannya yang beraroma maskulin. Rambut hitam acak-acakan nya bergerak tertiup angin sore saat dia berjalan memutari kap mobil untuk membukakan pintu di sisi penumpang.

Begitu pintu terbuka, desah napas tertahan terdengar secara serentak dari murid-murid yang menyaksikan.

Elva Ileana melangkah turun dari mobil. Dia tidak lagi mengenakan seragam sekolah yang lecek atau rambut yang berantakan seperti minggu lalu.

 Pagi ini, Elva tampil sangat anggun dan memesona. Rambut hitam panjangnya yang halus digerai dengan rapi hingga mencapai punggung, membingkai wajah polosnya yang kini terlihat segar, bersih, dan memancarkan kecantikan alami tanpa polesan kosmetik berlebih. Sweater rajut putih tipis yang dia kenakan di dalam almamater sekolahnya memberikan kesan lembut yang sangat kontras dengan aura dingin Zayn di sebelahnya.

"Z-Zayn... orang-orang melihat kita," bisik Elva lirih, merasa sedikit gugup saat menyadari ratusan pasang mata tertuju padanya. Jemari tangannya refleks meremas ujung almamaternya.

Zayn tidak menjawab dengan kata-kata. Sebagai gantinya, dia mengulurkan tangan kekarnya, lalu menggenggam jemari tangan Elva yang kecil dengan sangat erat di depan semua orang. Genggaman tangan itu begitu kokoh, seolah-olah mengirimkan pesan mutlak kepada seisi sekolah bahwa gadis itu berada di bawah kepemilikan dan perlindungan penuh seorang Zayn Dominic.

"Biarin mereka liat," sahut Zayn rendah, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan kekuasaan. "Mulai hari ini, jalan dengan kepala tegak, Elva. Lo nggak perlu takut lagi sama siapa pun di sini."

Tepat saat mereka hendak melangkah menuju koridor utama, suara langkah kaki yang terburu-buru mendekat dari arah koridor gedung IPS. Leo, Arkan, dan Kevin berjalan beriringan dengan gaya kasual mereka yang populer, langsung membentuk formasi barisan di sekeliling Zayn dan Elva.

"Woi, Tuan Muda dan Ibu Negara baru sampai nih!" seru Kevin dengan cengiran lebar khasnya, sengaja mengeraskan suaranya agar murid-murid lain mendengar.

 "Gila ya, Elva... seminggu nggak masuk sekolah, lo makin cantik aja. Si manusia es di sebelah lo ini pasti ngasih makan yang enak-enak terus ya di apartemen?"

Wajah Elva seketika merona merah sempurna mendengarnya.

 "K-Kak Kevin... apa sih," cicitnya malu, mencoba menyembunyikan wajahnya di balik pundak tegap Zayn.

Zayn melemparkan tatapan tajam yang mematikan ke arah Kevin.

"Diem lo, Vin. Atau mulut lo gue jejali bola basket siang ini."

Leo dan Arkan langsung tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Zayn yang sangat defensif jika menyangkut soal Elva.

 "Sudah, sudah, jangan digodain terus, kasihan Elva-nya makin malu," sela Leo bijak, meskipun matanya ikut berkilat jahil. Dia kemudian menatap sekeliling koridor, di mana murid-murid yang tadinya berbisik sinis langsung buru-buru membuang muka saat mata Leo dan Zayn menyapu area tersebut.

 "Hari ini skenario koridor udah bersih, Zayn. Clarissa dan antek-anteknya bahkan nggak berani keluar dari kelas mereka sejak pagi tadi."

"Bagus," jawab Zayn singkat. Formasi pengawalan dari geng paling berkuasa di SMA Pelita itu membuat perjalanan Elva menuju kelas IPS terasa seperti karpet merah bagi seorang putri raja.

Tidak ada lagi yang berani menyenggol bahunya, tidak ada lagi yang berani melempar tatapan meremehkan. Semua orang sadar, menyentuh seujung kuku Elva sama saja dengan menandatangani surat kematian bagi reputasi mereka di sekolah itu.

...----------------...

Namun, jika di SMA Pelita Elva menemukan kedamaian barunya, hal yang bertolak belakang justru sedang terjadi di kediaman mewah keluarga Ileana. Atmosfer di dalam rumah megah itu kini terasa begitu mencekam, pekat oleh rasa panik dan keputusasaan yang mendalam.

Narendra Ileana duduk di kursi kerja jatinya dengan penampilan yang sangat berantakan. Kemeja kerjanya kusut, dasinya sudah ditarik lepas, dan rambutnya tampak acak-acakan karena terus-menerus dia jambak sendiri sejak semalam. Di atas meja kerjanya, bertumpuk belasan berkas laporan keuangan berwarna merah—tanda bahwa semua perusahaan properti miliknya sedang berada di ambang kebangkrutan total.

"Pa... bagaimana ini? Bank Central tadi pagi menelepon Mama, mereka bilang pengajuan dana darurat kita ditolak secara sepihak tanpa alasan yang jelas!" Larasati masuk ke dalam ruang kerja dengan wajah pucat pasi dan mata yang sembap karena terlalu banyak menangis. Topeng sosialita elegannya kini hancur lebur berganti menjadi kepanikan seorang wanita paruh baya yang takut kehilangan kemewahannya.

Narendra tidak menjawab. Dia hanya menatap kosong ke arah layar laptopnya yang menampilkan grafik penurunan tajam saham gabungan mereka di bursa efek.

 "Ini semua karena Dominic Group," bisik Narendra, suaranya terdengar serak dan bergetar hebat.

"Satu telepon dari asisten pribadi ayah Zayn kemarin sore... mereka menarik semua investor asing dari proyek Jakarta Barat. Rekan-rekan bisnis kita langsung memutus kontrak secara massal karena takut ikut terseret dalam kemarahan keluarga Dominic."

"Hanya karena anak sialan itu?!" jerit Larasati histeris, merujuk pada Elva.

"Bagaimana bisa seorang anak kecil seperti Zayn Dominic punya kekuasaan sebesar itu untuk menghancurkan kita dalam waktu seminggu?!"

"Kamu yang bodoh, Larasati!" bentak Narendra, emosinya yang tertahan sejak semalam akhirnya pecah. Dia berdiri dan menggebrak mejanya dengan keras.

"Sudah aku katakan berkali-kali, jangan pernah main fisik pada Elva sebelum kita berhasil mendapatkan tanda tangan investasi mereka! Tapi apa yang kamu lakukan?! Kamu menamparnya di depan matanya sendiri, mengurungnya di gudang bawah tanah seperti binatang! Zayn melihat semuanya dengan mata kepala sendiri! Laki-laki dari keluarga Dominic tidak pernah bermain-main dengan ucapan mereka, dan sekarang kita sedang membayar harga dari kebodohanmu!"

Dion yang sejak tadi berdiri diam di sudut ruangan dengan wajah ketakutan, ikut angkat bicara dengan suara yang bergetar.

 "Pa... tadi pagi di sekolah, aku liat Kak Elva datang bareng Zayn. Penampilannya berubah banget, dia kelihatan... kelihatan terawat dan semua anak populer menjaganya. Zayn sempat liat aku di koridor, Pa... dan tatapan matanya... tatapan matanya seolah-olah mau membunuhku di tempat." Dion menelan ludahnya dengan susah payah, ketakutan setengah mati mengingat cengkeraman tangan Zayn di lehernya seminggu lalu.

"Gimana kalau kita samperin aja ke apartemen Zayn? Kita minta maaf, kita paksa Kak Elva buat bicara sama Zayn biar dia mencabut tuntutan bisnisnya pada perusahaan Papa."

Narendra terdiam, mengatur napasnya yang memburu. Otak bisnisnya yang sudah buntu mencoba mencari celah terakhir untuk bertahan hidup.

"Kamu benar, Dion. Elva itu anak yang polos dan penurut. Sejak kecil dia selalu mengalah dan tidak tegaan. Kalau kita mengemis padanya, menangis di depannya, dia pasti akan merasa kasihan dan bersedia memohon pada Zayn untuk melepaskan keluarga kita."

Narendra menyambar jas kerjanya dengan terburu-buru. "Ayo kita ke apartemen Zayn sore ini setelah jam pulang sekolah mereka selesai. Kita harus membawa Elva kembali ke rumah ini, bagaimana pun caranya. Masa depan keluarga kita... ada di tangan anak pembawa sial itu sekarang."

...----------------...

Sementara itu, bel tanda pulang sekolah telah berbunyi di SMA Pelita. Elva baru saja selesai memasukkan buku-bukunya ke dalam tas saat dia mendapati Zayn sudah berdiri di ambang pintu kelas IPS, menunggunya dengan kesabaran yang luar biasa tinggi untuk ukuran seorang cowok dingin seperti dia.

"Udah selesai?" tanya Zayn saat Elva berjalan mendekat.

"Sudah, Zayn. Maaf ya membuatmu menunggu agak lama," jawab Elva lembut, memberikan senyuman murni yang selalu berhasil mencairkan kekakuan di wajah tampan Zayn.

"Nggak masalah. Yuk, balik ke apartemen. Gue udah pesen makanan kesukaan lo buat makan siang," ucap Zayn, merangkul pundak Elva santai saat mereka berjalan menyusuri koridor menuju parkiran mobil.

Perjalanan pulang siang itu terasa sangat menenangkan bagi Elva. Dia bersandar di kursi mobil sport milik Zayn, menikmati alunan musik instrumental lembut yang sengaja dipasang Zayn untuk menjaganya tetap rileks.

Namun, ketenangan itu mendadak menguap tanpa sisa saat mobil Zayn berbelok masuk ke area lobi utama gedung apartemen mewah mereka. Dari kejauhan, di dekat pintu kaca lobi, tiga sosok yang sangat familier bagi Elva sedang berdiri berdebat dengan petugas keamanan apartemen. Mereka adalah Narendra, Larasati, dan Dion.

Tubuh Elva seketika menegang sempurna. Wajahnya yang tadinya segar mendadak berubah menjadi pucat pasi dalam sekejap. Jemari tangannya mulai bergetar hebat saat memori tentang tamparan keras dan kegelapan gudang bawah tanah kembali menyerang isi kepalanya bagai kilatan petir.

"Z-Zayn... itu... itu Papa dan Mama," bisik Elva, suaranya bergetar hebat menahan tangis ketakutan yang mendadak menyerang pertahanan mentalnya.

Zayn melirik ke arah lobi. Begitu melihat tiga sosok keluarga Ileana tersebut, sepasang mata elang milik Zayn seketika berkilat memancarkan kemarahan murni yang luar biasa mengerikan.

Rahangnya mengeras, dan aura iblis yang sangat intimidatif kembali menguar kuat dari tubuh tegapnya. Dia memarkir mobilnya tepat di depan lobi, lalu menoleh ke arah Elva yang kini sudah menunduk sambil meremas tangannya sendiri karena trauma. Zayn meraih kedua tangan Elva, menggenggamnya dengan sangat lembut namun memberikan kepastian yang mutlak.

 "Elva, dengerin gue. Tatap mata gue sekarang," perintah Zayn dengan nada suara yang sangat menenangkan.

Elva perlahan mendongak, menatap mata tajam Zayn yang kini dipenuhi oleh kilat protektif yang teramat sangat.

"Lo tetap di dalam mobil. Jangan keluar, jangan dengerin apa pun yang mereka omongin," ucap Zayn tegas, jemarinya mengusap pipi Elva yang halus.

"Gue yang akan beresin sampah-sampah ini di depan sana. Lo aman di sini, oke?"

Elva mengangguk pelan dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya. "I-iya, Zayn... tolong jangan biarkan mereka membawaku kembali ke sana..."

"Nggak akan pernah," janji Zayn mutlak.

Zayn membuka pintu mobilnya, lalu melangkah keluar dengan gerakan yang sangat tenang namun mematikan. Dia sengaja membanting pintu mobilnya dengan keras, memicu perhatian Narendra, Larasati, dan Dion yang langsung menoleh ke arahnya dengan binar keputusasaan yang sangat kentara.

 Dengan kedua tangan kembali terkubur di dalam saku jaket kulit hitamnya, sang penguasa muda itu berjalan mendekati mereka, siap untuk meruntuhkan sisa-sisa topeng kesombongan dari istana kertas milik keluarga Ileana sekali dan untuk selamanya.

1
anggita
like👍 iklan☝, Elva... Zayn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!