"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat
Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.
Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.
Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.
Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24. Hari kepulangan
Sejak menemukan buku catatan itu, ketenangan yang selama ini ia cari akhirnya datang. Leon tidak lagi memandang pengalaman di dunia cerita sebagai sesuatu yang mustahil atau sekadar khayalan otak yang sedang sakit. Buku itu menjadi bukti nyata, jembatan yang menghubungkan dua kenyataan yang berbeda namun sama-sama menjadi bagian dari dirinya.
Hari-hari berikutnya berjalan lebih tenang. Dokter terus memeriksa kondisinya dan semakin takjub melihat perkembangan yang luar biasa. Dalam waktu seminggu, Leon sudah bisa berjalan tanpa bantuan, nafsu makannya pulih total, dan tidak ada keluhan fisik lagi.
“Kalau terus begini, Bapak, Ibu, kemungkinan besar minggu depan Leon sudah boleh pulang ke rumah,” ujar dokter saat melakukan pemeriksaan rutin, dengan senyum lega. “Ini benar-benar keajaiban. Pasien yang terbaring koma selama lima tahun biasanya butuh waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk bisa beraktivitas seperti sedia kala, tapi Leon justru pulih secepat ini.”
Mendengar kabar itu, Bu Ina dan Pak Indra saling berpandangan, mata mereka berkaca-kaca karena rasa syukur yang meluap. Mereka memegang tangan Leon dengan erat, seolah tak percaya bahwa mimpi terbesar mereka akhirnya menjadi kenyataan.
Saat sendirian lagi di kamar, Leon kembali membuka halaman buku catatannya. Ia membaca kembali setiap baris tulisan, melihat sketsa pemandangan yang ia buat: Gunung Es Abadi yang megah, Hutan Kenangan yang rindang, Pegunungan Suara yang penuh alunan nada, dan wajah Liora yang ia gambarkan dengan hati-hati. Setiap kali ia menatap sketsa itu, samar-samar ia bisa merasakan kehangatan, seolah Liora sedang tersenyum padanya dari kejauhan.
“Gue nggak akan melupakan kalian,” bisiknya pelan. “Gue janji, suatu saat nanti kita akan bertemu lagi.”
Hari kepulangan pun tiba. Leon keluar dari rumah sakit dengan berjalan tegap, didampingi oleh kedua orang tuanya. Udara luar terasa segar, terasa berbeda dari yang ia ingat atau mungkin karena ia melihat segalanya dengan pandangan yang baru. Ia menyadari bahwa dunia nyata ini juga memiliki keindahannya sendiri, meski tidak sepenuhnya seperti dunia yang ia ciptakan.
Sesampainya di rumah, suasana terasa hangat dan akrab. Meskipun ingatannya tentang lima tahun terakhir kosong, ia masih mengenal setiap sudut ruangan, setiap benda yang ada, dan aroma rumah yang sudah ia kenal sejak kecil. Kamarnya pun masih sama persis seperti yang ia tinggalkan, hanya saja ada tumpukan debu tipis yang menandakan sudah lama tidak ada yang menempatinya.
Setelah membereskan barang-barangnya, Leon duduk di meja belajarnya. Ia meletakkan buku catatan itu di atas meja, lalu mengambil pulpen. Kali ini, ia tidak menulis cerita fiksi untuk mengisi kekosongan dunia lain. Ia mulai menuliskan kenyataan yang sedang ia jalani tentang kebangkitannya dari koma, tentang rasa syukur kepada orang tuanya, dan tentang dua dunia yang kini hidup berdampingan di dalam hatinya.
Malam itu, saat rumah sudah sunyi, Leon terbangun karena merasakan angin lembut yang berhembus masuk melalui celah jendela. Cahaya bulan masuk menerangi ruangan, dan di atas halaman buku catatannya, ia melihat cahaya samar berwarna keperakan muncul perlahan. Cahaya itu membentuk tulisan yang terlihat jelas namun hanya bisa ia baca sendiri.
“Kami menunggumu. Selama kamu mengingat, jalan di antara dua dunia akan selalu terbuka. Istirahatlah, dan pulihkan kekuatanmu. Sampai saatnya tiba kita bertemu kembali.”
Saat tulisan itu memudar, Leon tersenyum lebar. Rasa rindu yang tadinya terasa berat kini berubah menjadi harapan yang menenangkan. Ia tahu, perjalanannya belum selesai. Ia harus menjalani hidupnya di dunia ini sebaik mungkin, menebus waktu yang terlewat bersama orang tuanya, sambil menjaga ingatan dan ikatan yang ia miliki di dunia cerita itu.
Ia memejamkan matanya dengan hati yang tenang. Kini ia tidak lagi merasa terbelah atau bingung. Ia memahami bahwa seseorang bisa memiliki lebih dari satu tempat untuk pulang, lebih dari satu keluarga untuk dicintai, dan lebih dari satu kisah untuk dijalani.
Dan di tempat yang jauh, di tengah keindahan Dunia Cerita Sembarangan, Liora, Zarek, dan Valgus juga merasakan kehadiran Leon kembali. Mereka tersenyum, menunggu saat yang tepat, yakin bahwa suatu hari nanti, sahabat dan orang yang mereka cintai itu akan kembali melangkah di antara mereka, melanjutkan lembaran cerita yang tak akan pernah berakhir.
kecuali kalau Si Bimo udah di ajak ke dunia menakjubkan itu jadi dia punya niat mau berkuasa. 😶
Di real life... kalau kita baca cerita, ceritanya bagus. Tokohnya hidup. Pokoknya bagus lah. Itu pasti pas udah ada kata “Tamat/End/Selesai” itu sebagai pembaca kita masih bisa membayangkan kehidupan mereka setelah itu. Itu ’kan definisi sebenarnya dari “Menciptakan dunia yang cukup kuat untuk terus bercerita meski pena sudah diletakkan”. Karena penulis udah gak lanjutin ceritanya lagi, tapi kita bisa membayangkan kalau gimana kehidupan tokoh-tokoh di cerita yang kita baca setelah itu. Makanya ceritanya gak pernah benar-benar berakhir meskipun ceritanya dah ada label “Tamat”.
Ya enggak? Karena kita gak mungkin masuk novel kayak Leon dan membebaskan aturan dunia cerita itu kan makanya ceritanya tidak pernah benar-benar berakhir. Wkwkwk. 😁