Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
BAB 24
Setelah kesalahpahaman konyol yang nyaris membuat Kakek Ezra jantungan, kami akhirnya dipersilakan masuk.
Tepat saat melangkah melewati ambang pintu, mataku yang jeli menangkap sebuah pemandangan kecil. Kakek Ezra mengangkat tangan kanannya, menyentuh pelan sebuah tabung kayu mungil yang dipaku miring pada kusen pintu, lalu mencium ujung jarinya sendiri. Di belakangnya, Goran yang harus menunduk sangat rendah agar kepalanya tidak menabrak bingkai pintu, nyaris saja menyundul tabung kecil itu.
Begitu pintu kayu tebal ditutup, hawa hangat dari perapian batu di tengah ruangan langsung menyergap, mengusir hawa beku salju yang menempel di mantel kami. Rumah kayu ini beraroma kayu pinus bakar, roti gandum, dan... aroma kertas kulit tua yang khas.
Kakek Ezra dengan cepat menjelaskan kepada wanita hamil yang masih gemetar itu tentang siapa sebenarnya Goran, aku, dan Mila. Pria tua itu juga menjelaskan tujuan kedatangan kami, lalu langsung menyuruh menantunya itu untuk segera menyiapkan air rebusan, madu, dan batu garam yang kubutuhkan.
Karena melakukan pengobatan secepat mungkin adalah prioritas saat ini, kami langsung membagi tempat. Tubuh Goran terlalu masif dan bisa membuat sesak napas jika ikut masuk ke kamar pasien. Jadi, raksasa itu terpaksa menunggu di ruang tamu, duduk bersila di atas lantai papan yang berderit menahan bobotnya bersama si wanita hamil. Sementara aku meracik larutan sambil berjalan, mataku menyapu isi rumah ini. Di satu sisi, rumah ini terlihat seperti rumah penduduk pegunungan biasa di jaman ini. Namun, di sudut ruang tamu yang sedikit lebih terang, jantungku tiba-tiba berdegup lebih kencang.
Di sana terdapat sebuah meja kayu miring dan rak-rak rapi yang dipenuhi oleh belasan gulungan perkamen kulit. Di atas mejanya, terdapat sebuah wadah tinta kecil dari tanah liat, ditemani beberapa batang pena yang diraut runcing dari gelagah.
'Harta karun!' batinku bersorak. Sebuah ruang belajar milik seorang ahli kitab. Rencanaku untuk mencari guru membaca yang dulu sempat tertunda, kini tiba-tiba terbuka lebar di depan mata!
Aku menahan senyum gembiraku dan segera masuk ke kamar tempat anak laki-laki Ezra terbaring bersama Dia dan Mila.
Udara di dalam kamar itu terasa pengap, dipenuhi bau keringat asam khas orang yang sedang sakit parah. Pintu kamar sengaja kubiarkan sedikit terbuka agar udara segar bisa masuk. Dari tempatku duduk di dekat dipan, aku masih bisa mendengar jelas percakapan canggung antara Goran dan wanita itu di ruang tamu.
"Maafkan saya, Tuan Goran," terdengar suara wanita itu bergetar penuh rasa bersalah. "Saya sama sekali tak bermaksud menghina penyelamat ayah mertua saya."
"Tak apa. Aku sudah terbiasa dengan hal itu," potong Goran diiringi dengusan tawa pelan.
"Ah... saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya adalah Ruth," ucap wanita itu, disusul suara tarikan napas gugup. "Tapi... apa benar putri terkecil Anda bisa menyembuhkan suami saya dengan bahan-bahan dapur itu?"
"Hahaha, Qatilah sebenarnya bukan putri kandungku, atau bahkan putri angkatku," jawab Goran santai. Suara baritonnya menggema pelan memenuhi ruangan kayu itu. "Dia bahkan tak pernah mau memanggilku ayah. Dan meski tubuhnya lebih kecil dari putriku Mila, sebenarnya mereka masih seumuran. Yah, Qatilah mungkin bahkan lebih tua."
"Oh, begitu..." gumam Ruth terdengar bingung.
"Dia adalah budak yang tak sengaja kutemukan. Dia juga sebenarnya anak bangsawan di wilayah asalnya. Karena itu dia pintar, meski kadang aku merasa dia sama sekali tak terlihat seperti anak-anak. Hahaha."
"Wah... Anda orang yang baik ternyata," puji Ruth tulus. "Bahkan meski anak yang Anda rawat tak mau memanggil Anda ayah, Anda tak mempermasalahkannya. Tapi... apa hubungannya dengan sihir Nona Qatilah?"
"Hahahaha! Kau salah sangka soal itu," tawa Goran menggelegar tertahan. "Justru dialah yang merawat kami berdua selama ini. Dan untuk sihir itu, anakku Mila juga pernah menderita penyakit yang sama dengan suamimu, dan Qatilah-lah yang menyembuhkannya."
"Ah... saya sedikit kurang paham dengan hubungan keluarga Anda," rutuk Ruth kebingungan.
"Tak apa, yang pasti kami adalah keluarga sekarang," balas Goran. Terdengar suara kayu berderit keras saat ia mengubah posisi duduknya. "Ngomong-ngomong, rumah kalian ini cukup besar juga. Biasanya aku akan sangat kesulitan untuk masuk ke rumah orang lain, tapi meski di sini aku memenuhi seluruh ruangan, aku masih tetap bisa masuk. Aku rasa suamimu memang suka memanjakan istrinya, ya?"
"Ah, Anda bisa saja," suara Ruth terdengar sedikit sendu. "Sebenarnya kami dulu tinggal bertiga. Karena itu suami saya membangun rumah ini seluas yang ia bisa. Ayah mertua saya juga orang yang rajin berdoa, jadi dia minta agar rumahnya tak terlalu sempit."
"Bertiga?" tanya Goran heran.
"Iya... Dulu saya memiliki seorang putri. Namun, dia sudah pulang lebih dulu ke sisi HaShem."
"Apa karena penyakit?" tanya Goran melembut.
"Iya, sebenarnya dia memang sudah sakit-sakitan sejak kecil, jadi..."
"Ah, sudah, sudah. Tak perlu diteruskan, aku jadi tak enak," sela Goran canggung namun penuh empati. "Aku memang tak mengerti, tapi aku juga seorang yang memiliki putri, jadi pasti itu berat."
Di dalam kamar, tanganku yang sedang menyuapkan larutan ke mulut pasien itu terus bergerak stabil. Pria muda yang terbaring di depanku ini wajahnya sepucat perkamen di ruang tamu tadi, namun perlahan ia menelan cairan hangat yang kuberikan tanpa memuntahkannya.
"Apa sudah selesai, Nona?" bisik Kakek Ezra yang berlutut cemas di samping dipan, memeras tangannya sendiri.
Aku menoleh. "Untungnya ini penyakit yang sama dan belum terlalu parah. Sepertinya menantu Kakek juga melakukan hal yang benar dengan membersihkan terus-menerus kotorannya, jadi tidak menambah parah situasinya."
Kakek Ezra menghela napas lega, raut wajah tuanya perlahan mengendur. "Jadi dia sudah sembuh?"
"Tentu saja belum, Kek," balasku. "Metode ini butuh ketelatenan, jadi kita akan melakukan ini terus-menerus sampai beberapa hari ke depan. Kondisinya akan membaik, jadi Kakek tenang saja."
Mila yang berdiri di sampingku ikut mengangguk mantap. "Iya, Kek! Dulu aku juga butuh beberapa hari disuapi Kak Qatilah sampai akhirnya bisa bangun dari tempat tidur."
"Syukurlah... sihir Nona Qatilah membuatnya membaik."
"Sudah kubilang ini bukan sihir," tegasku merengut pelan. "Ini hanya teknik pengobatan."
"Wah... saya tak tahu bangsawan macam apa Nona dulunya," gumam Kakek Ezra menatapku penuh kekaguman. "Tapi bisa mengobati penyakit ini, pasti orang tua Anda keluarga yang hebat."
Deg.
Dadaku seketika sakit saat mendengar kata orang tua. Kehangatan rumah ini tiba-tiba mengingatkanku pada paviliun batu di Mekah. Ingatanku melayang pada Abi Naufal yang selalu tertawa lebar dan Umi Hindun yang begitu lembut membelaiku. Kenangan-kenangan indah bersama mereka menghantam dadaku tanpa ampun. Aku hampir menangis, namun segera kualihkan pandanganku, berkedip cepat untuk menekan emosi itu dalam-dalam.
"Yuk, kita ke depan," ajakku cepat, bangkit dari kursi kayu. "Aku takut Goran menghancurkan sesuatu dengan ukurannya."
Kami bertiga pun keluar menuju ruang tamu.
Begitu melihat kami, Ruth yang sedari tadi mengelus perut hamilnya langsung berdiri. "Bagaimana kondisi Boaz, Ayah?" tanyanya cemas.
Ah, jadi nama suaminya Boaz, batinku mencatat informasi itu.
"Dia sudah membaik, sekarang dia tertidur," jawab Kakek Ezra tersenyum lega.
"Oh, syukurlah. Terima kasih, Nona Qatilah."
"Pengobatannya belum selesai jadi tetap berhati-hati," pesanku, melipat tangan di depan dada layaknya tabib senior.
"Sekarang masalahnya adalah penyebab sakitnya. Aku lihat, Tante..."
"Ruth. Nama saya Ruth, Nona," potongnya dengan senyum canggung.
"Baiklah, Tante Ruth," ulangku. "Aku lihat Anda menjaga kebersihan rumah ini dengan sangat baik, jadi pasti ini dari makanan atau minumannya."
Kakek Ezra mengerutkan kening. "Maksudnya, Nona?"
"Penyakit ini disebabkan bukan hanya oleh lingkungan yang kotor, tapi juga sesuatu yang kotor masuk ke dalam perut," jelasku. Aku menoleh sinis ke arah tempat si raksasa duduk. "Dulu, pria besar ini juga sangat kotor. Bahkan Mila dibiarkan berendam di kotorannya sendiri saat pertama kali aku temukan."
"Heeei?!" protes Goran melotot tak terima aibnya dibongkar.
"Jangan haa hee haa hee," potongku cepat. "Tapi yang aku lihat, Tante Ruth menjaga kebersihan, bahkan terus membersihkan suami Anda. Jadi masalahnya pasti ada di minuman atau makanan yang dikonsumsi Paman. Untuk air, dari mana Anda dapat?"
"Di sekitar sini ada sungai, jaraknya tak jauh. Kenapa?" jawab Ruth bingung.
"Hmm, sungai ya?" Aku mengetuk dagu, berpikir. "Berarti bukan itu. Karena Kakek Ezra dan Tante Ruth tidak kenapa-kenapa, berarti Paman..."
"Boaz," sela Kakek Ezra.
"Ya, Paman Boaz. Berarti mengonsumsi hal yang berbeda dari yang kalian konsumsi biasanya," simpulku telak.
Ruth dan Kakek Ezra saling berpandangan. Mereka terdiam sejenak, mata mereka bergerak-gerak mengingat aktivitas Boaz sehari-hari.
Tiba-tiba Kakek Ezra menepuk dahinya. Matanya membelalak lebar. "Aaah! Anak bodoh itu pasti minum dari ember besi yang ada di bengkelnya!"
Ruth ikut terkesiap, menutup mulutnya. "Iya, pasti karena itu! Dia sering mengeluh kehausan saat menimpa besi panas, tapi dia malas untuk ambil air di dalam rumah kalau sedang bekerja."
"Nanti akan kumarahi dia kalau sudah bangun!" omel Kakek Ezra dengan wajah memerah karena emosi bercampur lega.
"Jangan," cegahku cepat. "Marahinnya nanti saja kalau dia sudah benar-benar sembuh."
Malam itu, seiring dengan kondisi Boaz yang berangsur stabil, ketegangan di dalam rumah menguap sepenuhnya. Kami pun duduk melingkar di depan perapian, berbincang-bincang santai sampai larut malam. Api yang menari-nari menemani kami bertukar cerita hidup tentang semua hal. Kehangatan rumah itu benar-benar terasa mendamaikan hati.
Menjelang tengah malam, saat mata mulai terasa berat, Goran berdiri dan meregangkan tubuh raksasanya.
"Kakek Tua, sepertinya aku tak akan bisa tidur di dalam rumah ini," ucap Goran, melirik tubuhnya sendiri yang memakan banyak ruang. "Jadi aku akan buat tenda dulu di luar."
"Oh, tunggu, Tuan Goran," cegah Ruth buru-buru, menyela dengan sopan. "Kebetulan kandang kuda kami di belakang rumah sedang kosong, dan baru saya bersihkan. Maaf, tapi hanya itu atap luas yang bisa kami tawarkan."
Goran tersenyum lebar. "Ooo, tak apa, itu sudah lebih dari cukup. Kalian berdua tidur saja di sini," Goran menunjukku dan Mila. "Kalau aku keluar, rumah ini akan terlihat lebih luas kan? Hahahah!"
"Ayah tidur di luar?" tanya Mila merengut, tidak rela dijauhkan dari ayahnya.
"Di kandang, bukan di luar!" ralat Goran lembut. "Kamu tidur sama Anak Bangsawan saja di dekat perapian."
Tanpa banyak bicara, aku langsung berjalan ke arah tumpukan barang bawaan di gerobak yang sudah kami masukkan ke dalam rumah. Aku meraup banyak selimut bulu dan kulit hewan, menumpuknya hingga menutupi wajahku, lalu berjalan mendekati Goran dan menjejalkan semuanya ke pelukan pria itu.
"Nih," kataku ketus. "Jangan lupa buat api unggun kecil juga di sana!"
Goran menerima tumpukan bulu itu dengan satu tangan sambil menunduk, menatapku dengan senyum jahil. "Apa kau khawatir padaku? Hahahaha!"
Aku hanya bisa memasang wajah sebal dan membuang muka. Tapi yah... jujur saja, aku memang khawatir.
Meski beberapa hari terakhir kami terus tidur menahan beku di alam liar, dan mendapatkan tempat tidur hangat dengan atap adalah apa yang paling kudambakan... melihat kenyataan bahwa kami harus tidur terpisah malam ini, entah kenapa membuat dadaku terasa agak sedih.
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭