Blurb
"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"
Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.
Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."
Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.
Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.
Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.
Semuanya terlambat Alina sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: KETAKUTAN DAN KEPUTUSAN
...BAB 24...
...KETAKUTAN DAN KEPUTUSAN...
Sudah hampir setengah bulan berlalu sejak kejadian mengerikan yang menimpanya. Selama itu, Alina tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya di sekolah elit SMA ternama di JAKARTA. Bukan karena ia malas belajar, melainkan karena rasa takut yang masih membekas kuat di hatinya. Setiap kali membayangkan harus melewati gerbang sekolah itu, bayangan wajah Raka yang jahat, tatapan tajamnya, dan cengkeraman tangannya yang kasar langsung terlintas jelas di pikirannya. Mereka satu sekolah, dan Alina tahu betul bahwa jika ia kembali, kemungkinan besar ia akan bertemu lagi dengan pemuda itu—sesuatu yang tidak berani ia hadapi.
Pagi hari Minggu itu, Alina memutuskan untuk berjalan kaki menuju pasar yang tidak terlalu jauh dari rumah kontrakannya. Ia ingin membeli beberapa bumbu dapur dan sayuran segar untuk keperluan memasak nanti. Berjalan sendirian di pagi hari yang masih sejuk terasa cukup menenangkan, meski hatinya tetap waspada.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Saat ia baru saja keluar dari area pasar dan berjalan menyusuri jalan yang agak sepi, sebuah suara yang sangat tidak asing terdengar memanggil namanya dari arah belakang.
"Alina? Jadi kau tinggal di sekitar sini?"
Jantung Alina seolah berhenti berdetak. Ia menoleh perlahan, dan tubuhnya langsung menegang kaku. Di sana, berdiri Raka bersama dua orang temannya yang juga dikenal sebagai anak-anak nakal di sekolah. Wajah Raka tersenyum licik, matanya menatap Alina dari atas hingga bawah dengan pandangan yang membuat bulu kuduknya meremang.
"Kau menghilang begitu saja dari sekolah. Ternyata pindah tempat tinggal juga ya? Rumahmu yang mewah di mana?" tanya Raka mendekat perlahan, seolah ingin memojokkan lagi.
Alina menelan ludah, berusaha menahan gemetar di kakinya. "Tidak ada urusanmu. Pergi!"
"Kenapa begitu dingin? Dulu kau sombong sekali, sekarang terlihat menyedihkan," ejek salah satu teman Raka sambil tertawa kecil.
Raka melangkah lebih cepat, hendak meraih lengan Alina. "Jangan lari. Kita bisa mengobrol baik-baik. Atau kau mau kejadian seperti di gang itu terulang lagi?"
Ancaman itu langsung memicu naluri bertahan diri Alina. Tanpa berpikir panjang, ia berbalik badan dan berlari secepat kakinya bisa melangkah.
"Kejar dia! Jangan sampai kabur!" teriak Raka di belakangnya, diikuti suara langkah kaki yang mengejar.
Alina berlari menerobos jalanan yang agak ramai, menyelinap di antara pedagang dan pembeli, berbelok ke gang-gang kecil yang ia lewati tadi. Napasnya tersengal-sengal, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, namun ia terus memaksakan diri berlari lebih cepat. Ia tidak boleh tertangkap lagi. Ia tidak mau mengalami hal buruk yang sama untuk kedua kalinya.
Beruntungnya, ia hafal seluk-beluk jalanan di sekitar situ. Ia menyelinap di balik truk barang yang sedang berhenti, lalu bersembunyi di balik tumpukan karung di sebuah toko kelontong besar. Hingga suara langkah kaki dan teriakan Raka perlahan menghilang, berganti dengan suara bising pasar yang biasa.
Alina menunduk, memegang dadanya yang berdegup kencang seolah ingin melompat keluar. Air matanya menetes tanpa sadar, bukan hanya karena takut, tapi juga karena merasa betapa tidak berdayanya dirinya saat ini. Ia tahu, selama ia masih bersekolah di tempat yang sama, rasa takut ini tidak akan pernah hilang.
Sesampainya di rumah, Alina segera mengunci pintu dan bersandar di belakangnya. Matanya kemudian tertuju pada seragam sekolah yang tergantung di sudut kamar. Seragam itu masih terlihat rusak—bagian bahunya sobek, dan kancingnya belum terpasang sempurna meski sudah ia coba jahit sendiri.
Ia tahu, seragam sekolah di sana bukanlah barang murah. Harganya sangat mahal, terbuat dari bahan khusus dan disesuaikan dengan standar sekolah elit itu. Membeli satu set baru saja membutuhkan biaya yang besar, apalagi untuk mengganti bagian yang rusak. Mengingat keadaan ekonomi ayahnya yang kini hanya mengandalkan pendapatan dari toko kelontong kecil, Alina tidak sanggup meminta uang sebesar itu. Ia tidak mau menjadi beban lebih berat bagi Ayah Aditya yang sudah berjuang keras memutar roda hidup mereka.
Siang harinya, suasana di rumah berubah saat dua orang datang berkunjung. Itu adalah Kepala Sekolah dan salah satu wali kelas Alina. Wajah mereka tampak prihatin sekaligus ingin tahu.
"Selamat siang, Pak Aditya. Kami datang karena mengkhawatirkan Alina. Sudah hampir dua minggu ia tidak masuk sekolah dan tidak ada kabar," ujar Kepala Sekolah dengan sopan.
Aditya yang sedang membereskan barang dagangan segera menyambut mereka dan mempersilakan duduk. "Maaf, Pak. Sebenarnya kami sedang ada sedikit kesibukan dan penyesuaian tempat tinggal. Saya juga sedang menasihati Alina agar segera kembali."
Mendengar percakapan itu, Alina yang berada di kamar merasa hatinya bergejolak. Ia keluar dengan langkah pelan, menundukkan wajah.
"Alina, kami senang melihatmu sehat. Apakah ada masalah? Kami bisa membantu jika ada hal yang menghalangimu untuk belajar," tanya wali kelasnya dengan lembut.
Alina mengangkat wajahnya sedikit, menatap Ayahnya yang tampak berharap agar putrinya kembali bersekolah di tempat yang dulu bergengsi itu. Namun, ia tahu kebenarannya akan menyakiti hati Ayahnya. Sekolah itu memang diperuntukkan bagi anak-anak orang kaya, dengan segala fasilitas dan lingkungan yang mewah—sesuatu yang kini jauh dari jangkauan mereka. Dan di balik itu, ada ketakutan yang tidak bisa ia ungkapkan.
Dengan napas yang ditarik panjang, Alina akhirnya membuka suara.
"Maaf, Pak, Bu. Saya... saya ingin pindah sekolah saja."
Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Aditya menatap putrinya dengan mata terbelalak, terkejut mendengar pernyataan itu. "Alina, apa maksudmu? Sekolah ini sekolah terbaik, lho."
"Alina tahu, Pah. Tapi... Alina merasa tidak betah lagi di sana. Lingkungannya terlalu berbeda, dan Alina merasa tidak nyaman untuk melanjutkan belajar di sana," jawab Alina dengan suara pelan namun tegas. Ia tidak bisa menceritakan kejadian sebenarnya dan keberadaan Raka, karena takut Ayahnya akan marah dan membuat masalah yang justru memperumit keadaan. Ia memilih menjaga perasaan Ayahnya, daripada mengatakan bahwa sekolah itu kini terasa asing dan menakutkan baginya.
Kepala Sekolah mengangguk paham. "Kalau begitu, kami menghormati keputusanmu. Kami akan urus surat pindah dan administrasi lainnya. Semoga kamu mendapatkan tempat belajar yang lebih baik."
Setelah tamu itu pergi, suasana di rumah menjadi agak sunyi. Aditya duduk di kursi, menatap Alina dengan tatapan campur aduk—sedih, namun juga mengerti. Ia tahu betul bahwa kehidupan mereka sudah berubah drastis, dan mungkin lingkungan sekolah lama memang tidak lagi cocok untuk putrinya.
"Alina, Papa mengerti. Kalau itu yang membuatmu merasa lebih tenang, Papa setuju. Nanti kita cari sekolah yang dekat dan biayanya terjangkau, ya," ucap Aditya lembut.
Alina mendekat dan memeluk lengan Ayahnya. "Terima kasih, Pah. Maaf kalau membuat Papa kecewa. Alina janji, di sekolah baru nanti Alina akan tetap belajar dengan giat, tidak kalah dengan yang lain."
Malam itu, saat berbaring di kasurnya, Alina merasa beban berat sedikit terangkat. Meskipun ia harus meninggalkan sekolah yang dulu menjadi kebanggaannya, setidaknya ia tidak perlu lagi hidup dalam ketakutan terus-menerus. Ia berharap, di tempat baru nanti, ia bisa memulai lembaran baru—tanpa bayang-bayang masa lalu yang kelam, dan tanpa rasa takut yang menghantui setiap langkahnya.
Bersambung...
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄