❤️ CINTA DI LANGIT TAJ MAHAL 🕌✨
AARYAN, CEO muda yang dingin dan playboy, hidupnya berubah total saat bertemu MAHEERA, gadis suci yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Meski ditentang keras oleh Ny. Savitri, ibu Aaryan yang angkuh, cinta mereka tetap bersemi. Bahagia sempat terjalin indah, hingga takdir berkata lain. Maheera harus pergi meninggalkannya lebih dulu.
Bertahun-tahun Aaryan hidup dalam kesepian, menyimpan rindu yang tak pernah mati. Hingga akhirnya, ia pun menyusul kekasih hatinya.
Kisah cinta abadi yang membuktikan, kematian pun tak mampu memisahkan dua jiwa yang saling memiliki. 🥹🕊️🖤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: PERJUANGAN DAN MANJA DI MASA KEHAMILAN
Hari demi hari berlalu, kehamilan Maheera kini sudah memasuki usia yang semakin matang. Perutnya yang dulu rata, kini mulai tampak membuncit sedikit meski masih terlihat kecil, namun siapa sangka di dalamnya tersimpan dua nyawa yang sedang tumbuh dan berkembang dengan sangat aktif.
Karena mengandung dua janin sekaligus, beban yang ditanggung tubuh Maheera terasa dua kali lipat lebih berat dibandingkan ibu hamil pada umumnya.
Suami yang Tak Pernah Lupa
Aaryan Singhania, pria yang dulu dikenal dingin dan berwibawa, kini berubah menjadi sosok suami yang paling perhatian, paling manja, dan paling disiplin di dunia.
Rutinitas pagi mereka selalu dimulai dengan penuh kasih sayang.
Pagi-pagi sekali, saat matahari baru mulai menyelinap masuk lewat celah gorden, Aaryan sudah bangun lebih dulu. Dengan langkah pelan dan hati-hati, ia mengambil kotak obat dan segelas air hangat yang sudah disiapkannya di meja samping tempat tidur.
"Sayangku... bangun yuk cantik..." bisiknya lembut sambil mengusap pelan rambut panjang istrinya. "Minum vitamin dulu ya. Ini obatnya harus diminum rutin biar kamu dan dede bayi sehat."
Maheera yang masih mengantuk dan matanya masih berat pun perlahan membuka mata. Ia melihat wajah tampan suaminya yang begitu dekat, menatapnya dengan cinta yang tak terhingga.
"Iya Mas..." jawabnya pelan dengan suara serak khas baru bangun tidur.
Aaryan pun dengan telaten menyuapi istrinya. Satu per satu butiran obat ditelan Maheera dengan patuh. Ada vitamin penambah darah, ada asam folat, ada kalsium, dan obat tambahan khusus dari dokter karena kehamilan kembar ini.
"Nah, habis itu minum airnya dulu biar nggak kegelian di tenggorokan," ucap Aaryan lembut sambil menopang kepala istrinya agar mudah menelan.
Belum cukup sampai di situ, tak lama kemudian ia sudah menyiapkan segelas besar susu khusus ibu hamil.
"Ini susunya Sayang... rasanya enak kan? Vanilla manis gitu. Minum yang banyak ya. Ini nutrisi penting banget buat otak kedua pangeran kita di dalam sana. Biar nanti lahir pintar-pintar kayak Ayahnya," katanya sambil tersenyum bangga.
Maheera pun meminumnya dengan senang hati. Setiap tetes susu dan setiap butir obat yang masuk ke tubuhnya, terasa begitu manis karena disiapkan dengan cinta yang luar biasa.
"Masih sayang banget sih sama aku..." celetuk Maheera manja.
"Pasti dong! Kamu itu istriku, dan kamu lagi bawa harta terbesar aku di perutmu. Harus aku jaga sebaik mungkin," jawab Aaryan tulus sambil menempelkan telinganya ke perut bundar itu, mencoba mendengar gerakan kecil di dalam sana.
Reaksi Tubuh yang Sensitif
Namun, dibalik kebahagiaan itu, ternyata rasa lelah dan sakit yang dirasakan Maheera juga semakin meningkat.
Hormon kehamilan untuk bayi kembar membuat tubuhnya bekerja ekstra keras.
Suatu siang, saat Ny. Savitri sedang duduk berbincang dengannya, tiba-tiba wajah Maheera berubah pucat.
"Bu... ugh... perutku rasanya melilit sakit sekali..." keluhnya sambil memegang perutnya.
"Lho? Kenapa Nak? Kram ya?" tanya Ny. Savitri langsung panik dan memijat pelan punggung menantunya.
Belum sempat dijawab, rasa mual yang luar biasa langsung menyerang.
"Blaaagh!!"
Maheera langsung memuntahkan semua sarapan yang baru saja dimakannya. Badannya gemetar hebat, keringat dingin keluar membasahi dahi.
"Ya Allah... kasihan sekali anakku..." isak Ny. Savitri sedih. "Hamil kembar ternyata memang berat ya beban tubuhnya. Sampai lemas begini."
Aaryan yang mendengar suara istrinya langsung berlari datang. Wajahnya panik bukan main.
"Sayang! Ya Allah... kenapa lagi ini? Mual lagi ya?"
Aaryan langsung memeluk bahu istrinya, memberikan tisu, dan menyiapkan air kumur. Ia mengusap punggung itu perlahan dengan penuh kasih sayang.
"Sabar ya Sayangku... sabar ya. Itu tandanya dede bayi lagi tumbuh kuat. Mereka sehat makanya bikin ibunya begini," ucap Aaryan berusaha menenangkan meski hatinya juga ikut sakit melihat istrinya menderita.
"Pusing sekali kepalaku Mas... rasanya mau pecah. Terus baunya apa saja jadi terasa menyengat dan bikin mual," keluh Maheera lemas.
Indra penciumannya memang menjadi sangat sensitif. Sedikit saja ada bau masakan yang kuat, bau parfum, atau bau deterjen, langsung bisa memicu rasa ingin muntah.
Aaryan pun segera memerintahkan seluruh staf rumah tangga.
"Mulai sekarang, kalau mau masak pastikan asap dan baunya tidak sampai ke sini. Jangan pakai parfum yang menyengat di sekitar Ibu. Semuanya harus yang wangi-wangian alami saja seperti bunga atau jeruk."
Ia benar-benar menjadi suami yang sangat protektif.
Ngidam yang Aneh-aneh
Selain mual dan pusing, hal lain yang menjadi ciri khas masa kehamilan Maheera adalah NGIDAM.
Dan karena isinya dua bayi, keinginan makannya pun jadi dua kali lipat banyaknya dan kadang sangat aneh atau sulit dicari!
Suatu malam, sekitar pukul dua pagi...
Maheera menggoyangkan bahu Aaryan yang sedang pulas tidur.
"Mas... Mas Aaryan... bangun Mas..."
Aaryan langsung terbangun kaget dengan mata masih mengantuk berat.
"Kenapa Sayang? Kenapa? Ada yang sakit?" tanyanya sigap.
"Enggak Mas... aku lapar... terus aku pengen makan sesuatu..." jawab Maheera dengan wajah memelas.
"Mau makan apa? Bilang aja Sayang. Mau bubur? Mau roti? Aku suruh orang masakin sekarang," tawar Aaryan siap siaga.
"Bukan... aku mau makan Pani Puri yang ada di pasar malam itu lho Mas! Yang isinya kuah asam pedes gitu! Pengen banget... rasanya kepingin banget..." rengek Maheera manja.
Aaryan mengerutkan kening. "Pani Puri? Itu kan jualan di luar sana Sayang. Sekarang kan masih malam, dingin pula."
"Ya aku pengen ituuuu... hiks... kepingin banget..." Maheera mulai memasang wajah sedih dan matanya berkaca-kaca.
Hancur sudah hati Aaryan melihatnya.
"Ya sudah ya sudah... jangan nangis dong Sayang. Aku cariin! Aku beliin sekarang juga!"
Tanpa pikir panjang, Aaryan langsung memakai jaketnya. Ia menyetir mobilnya sendiri keluar rumah di tengah malam buta, mencari-cari gerobak Pani Puri yang mungkin masih buka atau mencari toko khusus yang jual 24 jam.
Dan akhirnya ia berhasil membelinya. Saat kembali ke rumah dengan membawa kotak makanan itu, wajah Maheera langsung bersinar bahagia.
"Makasih ya Mas! Mas terbaik di dunia!" serunya girang lalu memakan jajanan kaki lima itu dengan lahapnya di atas ranjang mewah mereka.
Aaryan hanya tersenyum melihatnya. "Makan yang banyak ya Sayang. Senyumnya jangan hilang."
Tidak hanya itu, ngidam aneh lainnya pun sering muncul.
Pagi harinya tiba-tiba Maheera ingin makan Chicken Tikka Masala tapi kuahnya harus sangat kental dan pedasnya harus sampai bikin keringatan.
Siangnya berubah mau makan Kheer (puding beras) yang dingin-dingin dan manisnya pas banget.
Bahkan pernah suatu saat dia ngidam sesuatu yang sangat unik.
"Mas... aku mau makan Mango Lassi tapi campur sama sedikit bumbu masala gitu lho! Rasanya harus gurih manis segar!"
Awalnya Aaryan bingung, tapi demi membahagiakan istri dan cucu ibunya, dia langsung perintahkan koki untuk bereksperimen membuatkan minuman sesuai selera istrinya yang sensitif itu.
Ny. Savitri pun tak habis pikir melihat tingkah menantunya.
"Wah... anak cucuku ini ternyata pemilih sekali ya makannya. Tapi gapapa Nak, apa pun yang kamu mau, pasti akan diusahakan sama keluarga ini. Yang penting kamu sehat dan bahagia."
Bulan demi bulan, perut Maheera semakin membesar dengan cepat. Karena berisi dua bayi laki-laki yang aktif, perutnya terlihat sangat besar dan bulat sempurna.
Setiap kali Maheera mengeluh sakit, atau mual, atau ingin sesuatu... Aaryan dan Ny. Savitri selalu ada di sana siap melayani dengan setulus hati.
Mereka sadar, bahwa wanita hebat ini sedang melakukan tugas mulia dengan mempertaruhkan kesehatannya demi melahirkan penerus keluarga mereka.
Rasa sayang mereka pada Maheera kini tidak terhingga. Ia adalah ratu di rumah itu, ia adalah pusat dari segalanya.
Dan di dalam kehangatan, kemewahan, dan kasih sayang yang melimpah itu... mereka menanti saat-saat indah di mana kedua pangeran kecil itu akan lahir ke dunia.